
Aku mengangguk pada Maya. Dan mengisyaratkannya agar masuk ke dalam mobilku kembali.
"Bukan siapa-siapa, Sayang. Hmm, bentar ya Abang mau keluar dulu. Nanti Abang telpon lagi, ok?" ucapku pada Dinda. Namun terdengar suara Dinda yang terisak. Apa dia menangis sekarang? Aku membuat istriku menangis lagi? Ya ampun, yang benar saja.
"Aku benci sama Abang. Abang bohong aja. Udah sana pergi, h'fun ya?" ujar Dinda yang langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia marah sekarang, runyam ini masalahnya. Dinda pasti tengah menangis kacau di sana. Kenapa sebetulnya dengan istriku, yang menyikapi segala sesuatu dengan lebay macam ini?
Aku membuka pintu mobilku, lalu aku duduk dengan menyimpan ponselku pada dasbor mobil.
"Biasa kau periksa di mana?" tanyaku dengan menoleh pada Maya.
"Abang udah punya pacar?" ucap Maya yang menundukkan kepalanya. Jelas ini bukan jawaban atas pertanyaanku tadi.
"Jangan terlalu mencampuri. Fokus aja pada nasib anak kau nanti." tuturku, dengan mengenakan kacamata hitam yang aku bawa dari rumahku.
"Aku berhak tau segala sesuatu tentang suamiku." tukasnya yang membuatku langsung menoleh padanya. Apa dia kata tadi? Suamiku? Aku begitu maksudnya?
"May, jangan menghendaki apa yang tak semestinya." ungkapku dengan memperhatikannya dengan tajam.
Aku menemukan ide. Semoga jika ini benar, dan Dinda bisa memahami ini semua.
"Kalaupun memang itu anakku. Biar nanti aku cari jalan keluarnya, May. Untuk masalah kebutuhan hidupnya kelak, biar aku yang nanggung. Bila perlu, biar anak itu hidup bersama aku." jelasku kemudian. Karena demi apa pun. Alasan apa pun. Sesalah apa pun aku. Aku tak akan pernah meninggalkan istriku-Adinda. Aku tak akan pernah menceraikannya. Biarkan perlahan Dinda menganggap anakku dengan Maya, anaknya juga.
"Maksud Abang, Abang gak mau nikahin aku? Abang pengen lepas tanggung jawab atas anak ini?" tanya Maya terlihat begitu syok, mendengar ucapanku tadi.
"Kau dengarin aku, Maya!" seruku dengan memegang kedua bahunya.
"Aib kau tetap tertutup rapih. Nanti aku minta seseorang untuk nikahin kau. Syukur-syukur nanti kalian bisa saling mencintai. Untuk masalah anak, biar nanti aku yang besarin. Kau jangan khawatir, apa pun kebutuhannya pasti terpenuhi. Tapi sungguh May. Aku tak bisa nikahin kau. Aku udah ada perempuan idaman. Aku cinta mati sama dia. Kami sama-sama mencintai, May. Aku tak mungkin minta dia untuk ninggalin aku. Dan aku pun tak bisa, dan tak akan pernah sanggup untuk ninggalin dia." terangku penuh arti. Aku harap ia mengerti keadaan ini.
Oke, aku akui. Aku begitu egois. Aku hanya memikirkan diri sendiri. Tapi aku tak mau aku dan Dinda sampai harus pisah.
Maya menjatuhkan air matanya. Aku juga mengerti ini pasti sangat menyakiti perasaannya. Tapi aku harus bagaimana lagi? Aku tak mungkin berpoligami.
"Abang tega banget sama aku. Abang gak punya hati. Bisa-bisanya Abang bicarakan tentang hubungan Abang sama perempuan lain, di saat aku lagi ngandung anak Abang." sahut Maya, dengan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Aku membuang wajahku. Aku begitu bingung dengan keadaan ini. Dengan Maya yang masih menangis, perlahan aku menjalankan mobilku menuju ke tempat dokter kandungan, yang informasinya aku dapatkan dari go*gle.
Aku enggan buka suara. Aku pun tak ingin memintanya untuk berhenti menangis. Biarkan dia menumpahkan rasa sakitnya dengan air matanya. Semoga ini tak membuatnya setres, aku takut malah berpengaruh pada janin yang ia kandung.
Setelah aku berhasil menemukan tempat tujuan. Aku langsung masuk, dengan diikuti oleh Maya yang berjalan di belakangku.
Aku mendaftar Maya, dan duduk di tempat tunggu di kursi yang tersedia.
Maya sudah tak menangis lagi. Tapi dari matanya, begitu kentara bahwa ia habis menangis.
"Jangan setres, May. Kasian anak kau, kalau kau setres. Kau tenang aja. Abang tak mungkin ninggalin kau gitu aja." ujarku memberikan kalimat penenang. Maya hanya mengangguk menanggapiku.
Dan tak lama, nama Maya disebutkan. Aku ikut masuk ke dalam dengannya. Tentu saja karena aku mengaku sebagai suaminya.
Ternyata benar foto USG yang Maya berikan. Terlihat janin mungil itu anteng di tempatnya.
Aku dijelaskan secara mendetail tentang kandungan Maya. Entahlah, aku tak begitu paham. Tapi yang jelas Maya hamil, karenaku. Itulah yang aku mengerti. Itulah yang aku pahami.
Karena dokter itu mengatakan, tidak ada jenis alat kontrasepsi yang menjamin 100%. Kehamilan ibu rahasia Allah. Kita tidak bisa menolak atau pun memaksanya.
Dan alhasil, dokter itu menjelaskan dengan gamblang.
"Disyukuri aja ya Pak, Bu. Ini rezeki, tidak semua orang bisa memiliki anak. Untuk Ibunya, yang sehat-sehat Bu. Jangan setres, bila perlu minum susu hamil juga. Ini saya resepkan vitamin untuk Ibunya." ungkap dokter tersebut, saat kami akan permisi pergi.
Betul apa yang dokter itu katakan. Tapi masalahnya, aku dan dia bukan suami istri.
Kenapa kehidupanku begitu rumit. Aku dijodohkan dengan Retno, wanita pilihan orang tuaku. Aku menikah dengan Dinda, wanita yang aku cintai. Tapi aku malah menghamili Maya, cinta pertamaku dulu.
Setelah aku menebus resep dokter, di apotek terdekat. Aku langsung menjalankan mobilku, menuju mall yang terdekat dari posisi kami. Anggaplah ini proses suap, agar Maya bisa kulobi dengan ide egoisku itu.
"May, aku harap orang tuaku tak sampai mendengar kabar kehamilan kau. Kau paham kan maksud aku?" ucapku dengan berjalan beriringan begitu keluar dari mobil.
"Bang, cepat atau lambat. Perut aku pasti membesar nanti. Dan gak mungkin ibu aku bakal diam aja." sahut Maya yang ada benarnya juga. Bagaimana ini? Aku khawatir umi dan ayah kecewa padaku, jika mengetahui hal ini.
__ADS_1
"Aku belum nemu seseorang yang tepat untuk nikah dengan kau." balasku dengan memasuki mall tersebut.
"Kenapa gak Abang aja yang nikahin aku? Kenapa harus dibuat serepot itu, jika Abang bisa melakukannya sendiri?" ujar Maya dengan menggandeng tanganku. Aku langsung melepas gandengan tangannya. Aku beristri, dengan aku jalan dengan perempuan macam ini saja. Pasti sudah sangat menyakiti hati istriku, jika ia tahu. Apa lagi jika gandeng-gandeng seperti ini. Bisa-bisa aku langsung dihadapkan dengan neraka yang berada di dunia. Yaitu berperang dengan istriku sendiri.
"Pilih yang kau mau. Dan masalah ini jangan sampai ada yang tau dulu. Pandai-pandai kau nyimpan rahasia aja lah." terangku yang langsung membuat langkah Maya terhenti.
"Kenapa, May?" tanyaku heran. Dengan memperhatikan wajahnya yang menurutku ia seperti akan menangis.
"Abang iming-imingin aku belanjaan, biar aku tutup mulut begitu?" ucap Maya kemudian. Ternyata ia bisa menebaknya.
"Bukan macam itu juga. Sebaiknya kan aib harus disimpan rapat-rapat." elakku padanya. Lalu Maya terdiam dan melanjutkan langkah kakinya lagi.
Dia membeli beberapa produk kosmetik untuk wajahnya saja. Hal yang tak pernah Dinda minta. Pasti jika istriku, ia akan meminta uangnya saja. Biar dia pergi ke tempat perawatan kecantikan sendiri.
Kadang aku hanya mengantarnya saja, kadang aku hanya di rumah saja dan menjaga Givan. Dinda juga bercerita tak hanya wajahnya saja yang diberi perawatan. Tapi seluruh tubuhnya, sampai ke bagian sensitifnya juga. Terlihat dari bagian tersebut yang bersih, putihnya rata, dan tentunya selalu menarik perhatianku.
"Bang, itu totalnya." ucap Maya dengan menggoyangkan lenganku. Aku menoleh pada alat yang terdapat di bagian kasir itu.
Waduh….
TBC.
Kasian juga sama Maya.
Kenapa harus Adi orangnya?
Adi tega betul sih, kau lepasin ibunya untuk orang lain. Dan kau ambil anaknya, untuk keegoisan kau sendiri.
Kan, apa aku kata. Alat kontrasepsi tidak ada yang menjamin 100%.
**AYO SUPPORT AUTHOR 😅
LIKE, VOTE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, TAP ❤️ FAVORIT, DAN KOMENTAR TERBAIKNYA JUGA 🙏😁
__ADS_1
TERIMA KASIH 🙏**