Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP89. Cut Naya Maulida


__ADS_3

"Adi!!!" suara umiku memberi peringatan, "Udah ayo ke depan, temenin Harisnya." lanjut umi mengajakku.


Aku pun mengikuti langkah kaki umi, untuk kembali ke ruang depan.


"Ini nih bayi Adi." ujar umi dengan senyum yang mengembang, setelah melihat Haris tengah duduk sendirian di ruang tamu.


"Wah, boleh gendong?" sahut Haris dengan bangkit dari duduknya, lalu meminta izin untuk mengambil alih Naya dalam gendongan umi.


"Boleh, boleh." balas umi kemudian.


Lalu Haris mendekap Naya, dengan menghembuskan sebuah doa yang ditiupkan di ubun-ubun kepala Naya.


"Siapa namanya ni, Mi?" tanya Haris dengan menoleh pada umi. Lalu ia duduk kembali, di kursi yang tadi ia duduki.


"Namanya Cut Naya Maulida." jawab umi dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya. Aku duduk di sebelah Haris, karena Kin menunjuk-nunjuk bayi yang abinya gendong.


"Aneuk Nanggroe ini? Hmm? Aneuk Nanggroe, ya? Nama khas tanoh rencong. Cut-cutan." tutur Haris dengan menciumi Naya.


Aku dan umi terkekeh geli mendengar ucapan Haris. Cut-cutan katanya, apa ia tak mengerti arti sakral dari nama cut itu?


"Kenapa ya, kalau orang dari provinsi A banyak namanya cut?" tanya Haris padaku.


"Tak juga lah. Banyak juga yang namanya siti, ayu, sama nama modern lain." jawabku menyahutinya.


"Yum, yeh?" ucap Kin dengan mata polosnya, aku gemas betul padanya. Ngomong apa pula dia ini? Yum yeh apaan lagi itu?


"Boleh dong. Nih cium pipinya." tutur Haris dengan menyodorkan Naya pada Kin.


"Apa katanya, Ris?" tanya umi kemudian. Baru saja aku akan menanyakan hal itu, umi ternyata lebih dulu menyuarakannya.


"Cium boleh, gitu katanya." jelas Haris memberitahu. Aku dan umi tertawa renyah mendengar penjelasan Haris.


"Kok kau paham ucapan anak kau, Ris. Padahal kek apa aku dengarnya." sahutku menimpali.


"Nanti kalau masanya anak kau belajar ngomong juga, kau pasti dibuat pusing sendiri. Perhatikan isyaratnya, dan ia memperhatikan apa. Tinggal sambungin sama ucapannya yang tak jelas itu. Kalau kau bilang, 'ngomong apa sih?' yang ada anak kau jadi kurang percaya diri untuk ngomong lagi. Kalau kau tanggapin, pasti dia pun jawab terus dan lanjut ngomong terus meski ucapannya tak jelas. Tak bikin kepercayaan dirinya runtuh." ungkap Haris menjelaskan.


Aku manggut-manggut, ilmu juga lah. Bisa aku terapin untuk keturunanku di masa mendatang.


"Tuh dengerin. Adi tuh tuanya aja, ngutamainnya nafsu terus. Emosi aja yang digedein. Anak ngomong tak jelas nanti, bukannya mau nanggapin. Yang ada dia udah emosi duluan." sahut umi mengomentariku.

__ADS_1


Haris terkekeh kecil, "Maklum, Umi. Udah sifat nyatu sama watak. Memang dia dari dulu kan nada tinggi terus." balas Haris.


"Iya sih, abinya juga begitu. Ngomong, marah, nyuruh-nyuruhan kadang tak ada bedanya. Memang nadanya tinggi terus. Yang tak biasa dengar kan, jadinya kek lagi berantem." ucap umi, bertepatan dengan Zulfa dan Jefri datang.


"Assalamualaikum…" ujar Jefri dan Zulfa bersamaan.


"Wa'alaikum salam." sahut kami serentak.


"Ehh, udah duluan aja. Pantesan di rumah cuma ada Ken sama pengasuhnya aja." tutur Jefri, setelah mencium tangan umi.


"Ken kenapa tak kau ajak aja, Ris?" tanyaku pada Haris.


"Males gitu jawabnya anak itu. Entahlah anak itu susah betul diminta berbaur sama dunia luar." jawab Haris dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi dia mau ya kalau ada Dinda, ngikutin terus. Udah kaya buntutnya." timpal Jefri dengan duduk di sebelah Zulfa.


Aku langsung menoleh ke arah Jefri. Bisa-bisanya anak ini menyebutkan nama Dinda, rasanya jantungku berpacu dua kali lipat dari sebelumnya.


"Iya, ngikut terus. Ke mall, ke toko buku. Bahkan kalau Dinda lagi punya event buat bukunya, dia selalu minta hadir. Mau jagain mamah Dinda katanya. Aku Abang yang paling besar katanya, harus bisa jagain mamah aku dan adik-adik aku." ungkap Haris bercerita.


"Sekarang di mana itu Dinda? Perasaan dia kek ngilang gitu aja." sahut umi. Sudah kuduga, pasti umi ingin tahu lebih dengan Dinda.


"Diculik ke pedalamanan. Dihamili pulak itu dia, Mi." balas Jefri, menjawab pertanyaan umi. Kenapa ia beritahu umi macam itu, jelas umi nanti malah semakin penasaran.


Jefri dan Haris tertawa terbahak-bahak, saat mendengar respon sewotku.


"Tak terima dia mantannya udah nikah." tukas umi menimpali, "Malah pernah mereka ketemuan, meski sama-sama udah pada punya pasangan." lanjut umi.


"Ye memang sering ketemu. Tiap hari ya, Di?" ujar Jefri dengan kekehan menyebalkan.


Aku memberi pelototan tajam pada Jefri, bisa-bisanya ia mengatakan hal itu. Tak habis pikir aku padanya.


"Ya sering, tiap hari, tiap waktu, tiap detik." jawabku ketus. Lalu aku melangkah ke luar rumah, dengan masih menggendong Kin. Bisa maraton jantung aku, kalau terus bertahan di dalam sana.


Apa mereka tak tau, bahwa aku tengah menyelesaikan masalahku satu persatu.


Entahlah, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan lagi. Aku mengajak Kin ke warung, agar ia tak diam saja.


Sesampainya di warung, Kin menunjuk sesuka hatinya. Persis Dinda jika diajak jalan-jalan. Apa karena Kin dari bayi sudah sering dibawa-bawa oleh Dinda kah? Jadi sifat boros dan banyak permintaan itu turun ke Kin.

__ADS_1


"Ni yes ta.. ni yes ta… ni yes ta…" ucap Kin sepanjang perjalanan. Ngomong apa ini dia?


Aku menggaruk kepalaku berulang kali, bingung bukan main. Katanya tak boleh ngomong, 'ngomong apa?' Jadi aku harus bagaimana aku menanggapinya?


"Nanti ya sama abi." sahutku, lalu Kin langsung menganggukan kepalanya.


Setelah aku sampai di depan rumah, aku mendudukkan Kin di teras. Dengan memberinya jajanan yang ia minta.


"RIS…." seruku dengan menoleh ke arah ruang tamu.


"Apa? Aku dengar lah. Tak perlu kuat-kuat kau panggil aku." sahut Haris dengan berjalan ke luar, masih dengan menggendong Naya.


"Anak kau itu ngomong apa, aku tak paham. Sejalan-jalan dia bilang, 'ni yes ta, ni yes ta.' tak paham aku." jelasku kemudian.


Haris tersenyum geli, "Apa, Dek?" tanya Haris pada Kin.


"Ni yes ta." jawab Kin, dengan kata-kata yang sama.


Haris duduk di sebelah Kin, "Nih anak kau, pegang dulu." ujarnya dengan memberikan Naya padaku.


"Sini Abi bukain." lanjutnya berbicara pada Kin.


"Ini loh, Di. Dia minta seresnya dibuka. Nih seres buka, gitu katanya." jelas Haris.


Ya ampun, Kin. Aku tertawa geli setelah mendengar penjelasan dari Haris. Sejalan-jalan ia berkata itu. Sederhana, tapi begitu sulit aku artikan.


"Papah kau ini, Kin?" tanya Jefri yang ikut nimbrung. Kin langsung menganggukan kepalanya.


"Oon ya Papah Di?" lanjutnya, Kin pun hanya mengangguk saja.


Jelas saja anggukan kepala dari Kin membuat Jefri dan Haris tertawa puas.


Sampai tangis Naya pecah, karena kaget mendengar suara mereka berdua.


"Suruh istri kau susuin itu." ucap Haris.


"Dia tak mau nyusuin. Katanya luka jahitnya sakit betul, jangan ditambah-tambah sakit karena nyusuin kata dia." jawabku dengan berdiri dari posisiku, dan menimang bayi ini. Agar tangisnya mereda.


"Hmm, salah itu. Udah cepat sana suruh susuin." sahut Haris terdengar tak bisa dibantah. Aku jadi penasaran kenapa memangnya sampai harus disusuin ibunya? Malah yang ada nanti Naya sulit lepas dari Maya.

__ADS_1


......................


Ada yang anaknya baru bisa ngomong? 😅 Sama kek Kin gak nih 🤭


__ADS_2