
"Jawab, SIALAN!" pekik Afan, dengan mencengkram kerah kemeja Adi.
Adi langsung tersentak dan tertarik cengkraman Afan.
"A, diomongin baik-baik." ucap Jefri, dengan menarik tubuh Afan agar menjauh dari Adi.
"Dia hamil karena Adi. Itu anak Adi." jawab Adi terdengar pelan.
Dengan gerakan cepat Afan memberontak pada Jefri. Dan membubuhkan hantaman keras pada wajah Adi.
"Ajak pulang dulu aja, A Arif!"
"Biar Adi, kami yang urus."
seruan Haris dan Jefri yang menjagal Afan.
Lalu Afan dibawa pergi oleh Arif. Dengan umpatan kasar yang masih terlontar dari mulutnya.
Haris langsung mengecek keadaan Adi. Ia terlihat begitu kesakitan, dengan munutupi wajahnya yang terkena bogeman kembali.
"Mati aja kau, Di. Dari pada bonyok macam ini!" ucap Haris, dengan melihat luka Adi satu persatu.
Lalu Haris berlalu, bermaksud untuk mengambilkan antiseptik dan kapas.
Jefri memandangi Adi dengan begitu prihatin. Lalu ia mengeluarkan suaranya kembali.
__ADS_1
"Kau ceraikan aja Dinda. Jangan khawatir dia tak bahagia. Kalau bukan aku, mungkin Haris yang bakal nikahin dia. Sebagai pelarian agar bisa lupain kau. Karena dia tipe orang yang mudah jatuh cinta, mudah lupanya juga. Aku dan Haris tak masalah meskipun dia udah bekas kau juga." ungkap Jefri yang membuat Adi membulatkan matanya. Kalau kondisinya memungkinkan, mungkin ia akan turun dari ranjangnya dan menjotos teman bang*atnya itu.
"Gila kah kau? Mudah betul kau cakap macam itu! Kau kawan aku bukan? Aku lagi dirundung masalah. Malah kau mau kawinin istri aku. Punya otak tak kau ini, Jef?" seru Adi dengan penuh amarah.
Haris muncul dengan barang yang ia butuhkan, "Tak perlu ngotot macam itu, Di! Nyatanya memang itu adalah solusi terbaiknya." sahut Haris menimpali.
"Solusi terbaik macam mana? Jelas-jelas kalian malah berniat nikahin istri aku." balas Adi dengan sorot mata tajam.
"Kau dengarin aku! Mending macam itu. Kau talak dia, terus dia selesai masa iddahnya. Lalu dia aku kawinin, dijamin kawin resmi. Karena kalau dia lepas begitu aja. Kemungkinan besar dia kehilangan arah lagi, Di. Dinda tak bisa hidup teratur tanpa laki-laki yang membimbingnya. Dia tipe orang yang cepat kebawa arus kawan-kawannya. Dari pada dia lepas menjanda dia bakal lebih rusak lagi. Mending kan langsung aku kawinin." jelas Haris dengan mengobati luka Adi.
Adi tampak tak begitu merasakan sakit pada luka luarnya. Namun ia merasakan begitu perih pada hatinya. Saat temannya mengatakan hal yang tak pernah terlintas dipikirannya.
Ya benar, Adi tak memikirkan akibatnya jika nanti Dinda ia ceraikan. Namun ia pun tak akan pernah sanggup melihatnya menjadi istri temannya. Ia Adindanya, Adinda bukan piala bergilir. Adi hanya mau Adinda miliknya seorang. Dan tak ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya. Ia benar-benar bertekad dalam hati. Untuk tidak akan pernah menceraikan istrinya, Adinda.
"Kenapa? Takut miskin mendadak gara-gara ladangnya atas nama dia dan anaknya semua?" tanya Jefri.
"Masalah itu, jika memang aku berniat ninggalin dia. Udah konsekuensinya aku bakal hidup miskin. Masalahnya kan memang aku tak berniat ninggalin dia. Bukan karena ladang itu. Tapi aku memang tak bisa kalau tanpa dia. Kalian tau, dia semangatku untuk sembuh. Kalian tau, sejauh mana aku cinta sama dia. Sampai prinsip hidupku dulu dan orang tua pun, aku berani melanggarnya. Tak satu dua orang yang mengejekku, giliran istri dapatnya janda ya Di. Sampai saat aku kena grebek. Aku tak berniat untuk memberitahu umi, karena apa? Karena aku tak mau itu malah gagal dilangsungkan. Kalian tau, macam mana sedihnya menikah tanpa restu orang tua. Belum lagi setelah menikah, aku pulang ke orang tua Dinda. Mereka tak nyambut aku baik-baik. Afan langsung hajar aku habis-habisan. Belum lagi dengan makian yang Arif berikan. Kalian tak tau perjuangan aku dan Dinda untuk sampai di titik ini. Aku tak mau ninggalin dia saat perjuanganku sudah sejauh ini. Aku masih bermimpi untuk hari bahagiaku dengan Dinda datang. Di mana seluruh keluarga begitu bahagia memberikan restunya." ungkap Adi, dengan pelapuk mata yang sudah tak tahan lagi membendung air yang semakin banyak mengumpul di sana.
"Tak apa Dinda sakit hati sedikit. Aku bakal terima apa pun perlakuan Dinda, setelah mengetahui ini semua. Tapi tetap aku berpegang pada pendirianku. Apa pun yang terjadi, aku tak akan pernah meninggalkannya. Sekalipun maut memisahkanku dan dia. Aku tak pernah ikhlas jika ia harus hidup dengan penggantiku yang lain." lanjut Adi, dengan mengusap cepat air mata yang lolos begitu saja.
Ia selemah ini jika dihadapkan dengan masalah yang sangkut paut dengan Adinda. Ini bukan kali pertamanya Adi menangis karena wanita itu.
Haris menepuk bahu Adi. Sedikit banyaknya tentang permasalahan rumah tangga, ia pernah merasakannya. Ia paham Adi tengah memperjuangkan rumah tangganya yang diambang kehancuran ini.
"Aku tak pernah ingin perempuan itu hamil. Aku tak berkehendak saat kejadian itu, yang aku lakukan dengannya. Aku laki-laki normal, dan dia datang untuk menggoda. Aku berani sumpah, kejadian ini saat aku belum menikah dengan Dinda. Setelah menikah dengan Dinda, aku tak pernah sedikitpun menyentuh perempuan lain. Aku tak pernah ingin menduakannya. Aku selalu menuruti keinginan, perintahnya, dan tak pernah melanggar apa yang ia larang. Katakanlah aku seperti budaknya. Sampai pada saat aku selalu salah di matanya pun, aku tak pernah bisa mengelak dari tuduhannya yang hanya hal sepele saja. Sampai aku yang meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Aku yang selalu mengalah, jika pertengkaran itu datang. Bukan karena aku takut padanya. Aku hanya ingin, aku dan dia tetap baik-baik saja. Tak ada yang lebih buruk, saat ia menangis dan mendiamkanku karena permasalahan yang belum terpecahkan. Aku selalu mencoba untuk menjadi tempat ternyamannya, aku selalu mencoba membuatnya betah hidup bersamaku. Hanya satu pintaku, tolong jangan berkata agar aku menceraikannya. Dan mengikhlaskannya hidup dengan salah satu di antara kalian." ungkap Adi, dengan air mata yang beberapa kali ia hapus dengan kasar.
__ADS_1
Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka lagi. Mereka hanya terdiam membisu dengan pikirannya masing-masing.
Sampai dering ponsel Jefri membuyarkan lamunan mereka semua.
"Ya, Dek." ucap Jefri yang bisa didengar oleh Adi dan Haris.
Lalu Jefri melirik pada Adi sekilas. Dan ia melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Entah siapa yang menelepon, dan entah apa yang Jefri bicarakan dengan seseorang yang meneleponnya itu.
Tapi itu cukup membuat Adi tegang. Ia khawatir istrinya, Adinda. Mendengar kabar pernikahannya dengan wanita yang sudah ia hamili.
Adi belum siap bercerita pada Adinda. Adi belum siap, untuk bertemu dengan Adinda. Ia begitu khawatir dan ketakutan. Terlebih lagi keluarga Adinda sudah mengetahui pernikahannya dengan Maya.
Terdengar langkah kaki Jefri yang memasuki ruangan kembali.
"Siapa, Jef?" tanya Haris pada Jefri yang terlihat tegang itu.
"Dek Dinda...
TBC.
Jangan-jangan aanya Adinda langsung ngabarin 😱
Aku mewek nulis part ini.. terlalu terbawa alur ceritanya 🤭
__ADS_1