Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP148. Sebelum penerbangan


__ADS_3

Flashback on


Setelah sholat dhuhur, Jefri memutuskan untuk melaporkan tentang hasil pekerjaannya pada istri bosnya. Ia berjalan menyusuri jalanan beraspal baru, yang terlihat begitu mulus.


Setelah membuka pintu pagar rumah megah itu, Jefri lanjut mengayunkan langkah kakinya menuju pintu utama rumah tersebut.


Tok, tok, tok…


Jefri mengetuk pintu rumah Adinda, tak lama kemudian pintu terbuka dengan muncul anak laki-laki kecil yang tersenyum padanya.


"Ayah… papah aku belum pulang, ditelepon aja kalau mau ngobrol." ucap Givan dengan tersenyum lebar.


"Mamah aja ada tak? Soalnya ada sedikit masalah, sekalian mau minta saran juga." sahut Jefri kemudian.


Givan mengangguk, lalu ia berbalik dan meneriaki ibunya.


"Deungo, Bang…." sahut Adinda dari dalam rumah.


"Tuh Mamahnya. Aku tinggal dulu ya, aku mau lanjut makan sambil liat dua plontos." tutur Givan sebelum dirinya berlari pergi.


Jefri menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan tersenyum samar. Ia merasa sedikit terhibur dengan tingkah Givan barusan.


"Nyengir terus, macam kena kemat semar mesem aja kau!" ucap Adinda tiba-tiba, yang membuat senyum Jefri lenyap seketika.


"Kaget aku, tiba-tiba ada kau aja." sahut Jefri dengan mengusap dadanya berulang.


"Di luar aja, tak ada laki-laki di dalam. Bisa-bisa kena fitnah kita nanti." ajak Adinda yang melangkah lebih dulu, kemudian ia menduduki kursi besi yang terdapat di teras rumahnya.


"Macam yang iya kau jaga marwah kau!" balas Jefri yang mengikuti langkah kaki Adinda.


"Iya lah, nanti bang Adi salah paham lagi. Masuk penjara lagi, kan tak mau aku tidur sendirian." sahut Adinda yang membuat Jefri terkekeh kecil.


Mereka terdiam sejenak, lalu Jefri menyodorkan ponselnya pada Adinda.

__ADS_1


"Haris lima hari lagi nikah, nih undangannya di foto." ujar Jefri kemudian.


"Udah tau aku! Kau ganggu aku nyus*in cuma buat ngasih tau ini aja? Kesal betul aku!" ketus Adinda yang melirik sekilas pada ponsel Jefri.


"Jadi begini Bu bos, Ada yang ngasih saran. Katanya perbatasan ladang itu dipagar bambu aja, biar kita tau batasnya. Soalnya tanah di sebelah juga kan isinya pohon kopi." ungkap Jefri langsung, karena ia paham akan sifat Adinda yang tak suka diganggu. Saat dirinya tengah bersama anak-anak.


"Ya udah, minta ke Jul aja. Dia yang ngolah keuangan." jawab Adinda cepat, Jefri merasa tidak yakin dengan jawaban Adinda yang terdengar begitu cepat tanpa pikir panjang.


"Main ya udah aja, kau tak mau tau kah berapa banyak bambu dan seberapa panjangnya pagar yang dibutuhkan nanti?" sahut Jefri dengan memperhatikan wajah Adinda yang menatap lurus ke depan.


"Tak taulah, pikiran aku lagi kacau. Aku tak bisa berpikir jernih, aku lagi rindu betul sama bang Adi." balas Adinda yang malah curhat pada Jefri.


"Adi hitam aja kau cinta setengah mati nampaknya!" respon Jefri yang membuat Adinda menoleh dengan memberikan tatapan tajamnya.


"Macam kau putih aja! Kau pun tak ganteng, tak manis pulak! Sok kali kau! Kadang heran aku sama kau, Zulfa cinta sama kau karena apanya? Karena bird-nya kan tak mungkin, karena kau punya barang pasti seukuran ganjal pintu aja." tutur Adinda yang mendapat lemparan tutup toples dari Jefri.


Lalu Adinda tertawa puas, saat melihat raut wajah Jefri yang berubah menyeramkan.


"Udah selesai kerjaan sih. Cuma masalah pager ini, belum mateng gitu rencananya. Soalnya Safar bilang dibeton aja, sedangkan umumnya orang sini kan pakek pager dari bambu macam itu Dek." jawab Jefri dengan mengambil satu kue kering dari dalam toples, yang tutupnya ia lemparkan pada Adinda.


"Nanti aja itu sih, diomongin langsung sama bang Adi aja. Karena kalau beton kan biayanya tak sedikit, kalau bikin pager bambu kan cuma modal bambu sama paku aja. Biar suruh orang yang kerja sama bang Adi aja gitu kan." sahut Adinda kemudian.


Jefri mengangguk mengerti, "Terus ngapain kau pulang? Ini rumah kau, kau mau pulang ke mana lagi?" tanya Jefri yang teringat akan ajakan Adinda tadi.


"Pulang ke rumah aku yang di kota C. Aku mau nyusulin bang Adi, aku kangen udah pengen ketemu sama dia." jawab Adinda yang membuat Jefri merasa aneh, karena Adinda sebelumnya tak pernah membicarakan tentang laki-laki padanya. Apa lagi berkata tentang yang ia rasakan dengan laki-lakinya pada Jefri.


"Kau kenapa, Dek? Tumben-tumbenan kau kangen sama laki-laki kau." balas Jefri dengan memegang toples tersebut, lalu memindahkannya ke pangkuannya.


Adinda melirik sekilas pada aktifitas Jefri, ia menyadari Jefri lapar karena sekarang adalah jam makan siang.


"Tak tau, aku rasanya kangen aja. Padahal aku sering teleponan, video call, malah chatting setiap hari." aku Adinda tanpa malu.


Jefri menepis pemikiran yang ada di benaknya, "Terus kau mau nyusulin Adi? Kau, aku, Givan sama Ghifar?" tutur Jefri memastikan.

__ADS_1


"Ya, Bang. Zuhra tak mau pulang, nanti biar Liana diminta nginep di sini buat nemenin Zuhra. Kalau Zuhra mau pulang sih, dari kemarin aku udah pergi. Cuma keknya kau aja kali ya, Bang. Soalnya kan aku bawa bayi nih, kalau ada apa-apa sama Ghifar pas di penerbangan kan. Ada kau yang ngasih pertolongan pertama sama Ghifar." ungkap Adinda dengan tersenyum kuda.


"Pandai ya kau? Ada maunya itu." tukas Jefri yang malah mendapat tawa renyah dari Adinda.


Adinda mengangguk, "Oke, Bang? Aku udah siapin penerbangannya. Sore ini kita terbang, terus mungkin dini hari besok udah di kota C. Kan paginya aku bisa ngasih surprise kecil-kecilan gitu sama bang Adi. Tapi keknya sebelumnya kita ke butik dulu, buat beli baju couple-an. Aku juga mau beli buat Bang Adi, aku, Givan sama Ghifar. Minta bang Haris ketemu di butik aja, terus kita langsung cus ke rumah aku yang di kota C." jelas Adinda dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


Hanya dengan membayangkan dirinya bertemu dengan suaminya saja, sudah membuatnya begitu senang.


Jefri menganggukkan kepalanya, "Ya udah, terserah kau. Yang penting penerbangan aku dibayarin, terus juga aku dikasih makan." sahut Jefri yang membuat Adinda terkekeh kecil.


"Jangan khawatir, kau ikut aku tak bakal kelaparan di jalan Bang." balas Adinda kemudian.


Lalu mereka melanjutkan sedikit obrolan, kemudian Adinda masuk ke dalam rumahnya. Bermaksud untuk memberikan Jefri sepiring makan siang, karena terlihat Jefri begitu kelaparan.


Flashback off


"Macam itu loh, Di. Sebelum Dinda mutusin untuk nyusulin kau. Bukan karena pernikahan Haris, tapi dia udah kangen sama kau. Aneh kan? Karena setau aku, Dinda itu susah untuk kangen sama seseorang. Karena dia bisa ngalahin pikirannya, Di. Apa lagi jelas, dia sibuk sama anak-anaknya." ucap Jefri, setelah ia selesai menceritakan sepenggal cerita sebelum mereka memutuskan untuk terbang melintasi pulau tersebut.


"Dulu pun aku pernah dengar ucapannya sendiri. Dia kata dia tak bisa kalau nahan lapar, tapi dia mampu untuk nahan rindu." sahut Adi sembari menimang anaknya.


Karena Ghifar sudah cukup banyak disuapi ASIP dan menurut Adi, sudah waktunya untuk bayi tersebut tidur.


"Tapi kenapa dia rindu, tapi ngusir aku terang-terangan? Aku sakit hati dengan sikapnya siang tadi. Dia istri aku, tapi hari ini aku dibuat tak kenal dengan sikapnya." lanjut Adi dengan menunduk dan menciumi wajah anaknya.


Rasa haru menyelimuti Jefri, akan Adi yang terus menangis saat menatap wajah Ghifar.


Tanpa disangka, air mata Jefri pun kembali menetes. Hanya karena menceritakan sedikit sebelum kejadian buruk ini menimpa sahabatnya.


TBC.


Entah kenapa, aku mewek terus kalau ngebayangin Adi yang tak tega sama anaknya 🥺


Soalnya aku pernah ngerasain ninggalin bayi aku sama mamah aku, karena aku harus nginep di rumah sakit untuk tindakan lanjutan setelah satu minggu dari masa persalinan. Pas pulang dari rumah sakit, aku nangis-nangis bombay sambil dekap si kecil. Karena tak ketemu si kecil selama beberapa hari. Udah ah, tuh kan jadi curhat. 🤭

__ADS_1


__ADS_2