Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP74. Tidak disangka


__ADS_3

Aku menemukan cafe milik Seila. Dan aku langsung memarkirkan mobilku di parkiran yang tersedia.


Sembari berjalan masuk, aku berniat menghubungi Seila kembali.


"ADI…." teriak Seila dengan melambaikan tangannya. Gila memang dia! Macam tak tahu tentang sopan santun. Orang-orang yang berada di sini tertuju padaku semua, jelas lah aku malu menjadi pusat perhatian macam ini.


Lalu aku melangkah cepat menuju meja mereka, "Hei, lama tak jumpa. Gagah betul kau sekarang." sapa Tasya dengan meninju pelan lenganku.


Dan aku berjabat tangan dengan mereka, dan menduduki kursi yang berada di sebelah Seila.


"Udah nikah dia, istrinya ok betul. Mana dia punya nama lagi." ungkap Seila memberitahu mereka.


"Pantas kau betah di sana. Eh, tapi kau nikah tak ngundang-ngundang sih." ucap Tika Putri. Dia adalah seorang wanita yang berada di arena dulu, dia juga orang yang Seila sebutkan waktu ia berkunjung ke rumahku. Entahlah, ia sudah berapa lama menikah dan bermutasi menjadi hijabers macam itu. Namun menurut cerita yang aku dapat dari Seila, ia belum memiliki keturunan. Karena dulu ia mengkonsumsi gele dengan rutin, alias kecanduan. Gele biasa kami sebutkan untuk menyebutkan ganja.


"Nanti diundang kok." sahutku ringkas.


"Isu punya isu, katanya mereka masih di bawah tangan." ungkap Seila, lalu ia tertawa lepas setelahnya. Sialan memang Seila ini.


"Sengketa ya, Di. Sama aku pun cuma bisa nikah di bawah tangan." timpal Nova, yang sedari tadi ia asik dengan rokoknya.


"Dia bukan sengketa, dia murni karena restu. Tak macam kau, hidup kau bikin pusing sendiri." balas Seila. Sengketa adalah sebutan jika kita menjadi rebutan.


"Memang kau kenapa?" tanyaku ingin tahu.


"Dia udah beristri, dia dijodohkan kan sama orang tuanya. Terus dia nikah lagi sama pacarnya. Dia nikah tanpa sepengetahuan istri sahnya dan orang tuanya, tapi sepakat untuk nikah siri dengan pacarnya. Jahat betul kan dia? Mana dua-duanya tengah hamil lagi." jelas Tika. Kasusnya mirip denganku. Tapi aku lebih kejam, karena aku menyembunyikannya dari kedua belah pihak. Menyembunyikan pernikahanku dari orang tuaku juga.


"Kau tak pernah ngerasain nahan cinta, Coy. Tanya Adi yang lebih berpengalaman tuh, kalau kau cakap aku jahat." tutur Nova membela dirinya.


"Cinta itu pembodohan sebetulnya." sahutku yang membuat mereka cekikikan. Karena rasa cintaku pada Dinda. Aku sampai berkali-kali dikatain bucin, budak, takut istri, kalah sama istri dan ejekan lain sebagainya. Aku sejenis orang bodoh yang diperbudak oleh pasangan. Nyatanya nampak macam itu, tapi kenyataannya aku hanya berusaha membuat istriku bahagia.


"He'em, sampai kissmark kau bertebaran." ledek Seila, yang rupanya ia menyadari tanda merah pada sekitar leherku.


Semua orang yang mendengar ucapan Seila, menoleh padaku. Dan kawan-kawanku ini malah mentertawakanku dengan puas.

__ADS_1


"Kau tau. Alasan istri aku bagi aku tanda merah banyak macam ini? Dia kata biar perempuan enggan dekatin aku. Biar orang tau kalau aku udah punya perempuan. Tak habis pikir aku kalau udah di hadapi dengan tingkah absurd pujaan hati." ungkapku yang membuat mereka semakin kencang tertawa. Aku pun ikut menyuarakan tawaku dengan mereka.


"Parahnya lagi, kau dihantam, kau dinaikin, kau pasrah aja. Bodohnya kau di situ, Di." respon Nova, yang membuat tawa kami semakin menjadi-jadi.


Aku menggelengkan kepalaku, "Nah itulah, makanya tadi aku cakap cinta itu pembodohan. Sebetulnya rugi besar aku dihantamnya habis-habisan. Malu aku dibuatnya, orang-orang tak ada yang tak merhatiin tanda ini. Coba ditutupin pun rasanya sulit betul." jelasku yang membuat bahasan kami semakin asik.


Lalu pelayan mengantarkan makanan untukku. Padahal aku sedari tadi belum memesan, mungkin Seila sudah memesankan untukku.


Dengan perlahan aku menikmati makananku, diselingi canda tawa. Dan obrolan yang tak berfaedah. Sampai tak terasa, hingga di cafe ini hanya tinggal kami berlima.


"Jangan balik dulu, Di. Nonton bentar, yuk." ajak Tasya dengan memegang pinggangku. Saat kami sudah berada di parkiran mobil. Risih betul aku padanya, karena sedari tadi ia mencuri-curi kesempatan untuk bisa menyentuhku.


Aku melepaskan tangannya, yang berada di pinggangku.


"Nonton apaan?" tanyaku.


"Balap, bentar aja. Yuk, Di." ajak Seila.


"Ada aku, Di. Takut betul kau disantap mereka." ucap Nova kemudian.


"Aku tak bisa ikut, nih. Suami udah nunggu di depan tuh." ujar Tika, sambil menunjuk pada motor matic yang berada di depan cafe Seila.


"Oh, ya. Ati-ati ya." sahut Seila. Lalu mereka bercipika-cipika ria, dan Tika melambaikan tangannya pada kami. Lalu ia pergi menjauh dengan motor yang dikendarai suaminya.


"Ayo, Di. Tak maen uang, cuma tengok aja kita nonton." ajak Nova kembali.


Ya sudahlah, Itung-itung penyegaran sebentar. Lagi pula aku udah lama sekali tak menonton balap liar. Terakhir kali aku melihatnya, saat Dinda maju di arena balap. Dan terjadi kecelakaan kecil padanya. Sampai di situ, aku semakin kapok berada di arena. Aku sudah pernah kecelakaan sendiri, aku pun pernah diringkus polisi saat berpesta gele saat ajang balap dimulai, dan ditambah lagi menyaksikan wanita yang mulai aku cintai kecelakaan kecil. Membuatku cukup trauma berada di sana.


"Jauh tak?" tanyaku pada Nova.


"Tak, kau ikuti aja mobil aku." jawab Nova. Aku pun mengangguk, dan masuk dalam kendaraanku.


Dengan melewati beberapa jalanan yang mulai sepi, karena sekarang hampir pukul sebelas malam. Kami membelah jalanan dengan tiga mobil yang berbaris rapi.

__ADS_1


Gila memang, mobil mewah semua yang terpajang di sini. Sepertinya anak orang kaya semua yang berada di sini. Dan aku mengikuti mobil Nova, yang menepikan mobilnya di depan toko yang sudah tutup.


Lalu kami berjalan masuk ke dalam kerumunan itu, agar bisa melihat lebih jelas. Dan tentunya mencari referensi, untuk memperoleh informasi tentang modifikasi mobil.


Tak hanya anak muda, muda-mudi, om-om, tante-tante, nona-nona, abang-abang pun ada di sini. Entahlah, aku masuk dalam kategori apa, dengan memakai kemeja panjang yang digulung lengannya. Dan celana jeans panjang hitam, dipadukan dengan sepatu model slip on shoes berwarna coklat kehitaman. Membuatku tampil layaknya orang berduit. Coba kalau tadi memakai sarung, sepertinya aku tak pede jika diajak mereka ke sini.


"Sedan mewah nih, Di." tunjuk Nova. Aku mengangguk dan mengikuti langkah kaki Nova. Entahlah, dua wanita itu hilang ke mana.


"Mau maju kah ini?" tanya Nova pada orang-orang yang berada di sana.


"Ya, Bang. Sama mobil yang di depan noh." jawab laki-laki tanggung tersebut.


Aku mengamati mobil ini. Sepertinya aku pernah melihat mobil ini. Tapi di mana ya?


Oh iya, aku ingat. Saat aku baru sampai di kediaman umi tadi. Mobil ini terpakir di halaman rumah umi. Tapi siapa pemilik mobil ini?


"Minggir-minggir."


Riuh beberapa orang. Karena dua mobil ini akan bersiap mengambil posisinya.


Ada seseorang yang berjalan, dengan menghisap rokok yang terselip di bibirnya. Sepertinya ia hendak memasuki sedan mewah ini.


Dan, orang tersebut melihat ke arahku. Dengan pandangan kagetnya. Ia terlihat begitu gugup dan langsung masuk dalam kemudinya.


Aku pun tak kalah terkejutnya melihat dia berada di tempat ini. Dan apa laki-laki tanggung tadi katakan? Mobil ini akan maju? Jadi beginikah tingkah alimnya yang selalu ia pasang? Beginikah kelakuannya jika berada di luar?


Aku marah, aku kecewa, aku sedih. Aku tak mempercayai kehidupan nyata ini. Kenapa semuanya terjadi dalam jangka waktu yang tak lama? Aku tak menyangka ternyata…..


TBC.


1400 kata lagi...


siapa ya kira-kira 🤔 kok Adi bilang tingkah alim yang selalu di pasang di rumah?

__ADS_1


__ADS_2