Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP225. Kawan lama Adinda


__ADS_3

Setelah satu minggu aku berada di rumah istriku, dengan aku yang sudah akrab dengan para tetangga istriku. Bukan satu, atau dua orang yang memuji tentang aku yang mau mengasuh anak-anak. Namun, aku pun beberapa kali mendengar ucapan jelek yang mereka katakan tentang istriku. Mereka tak tau, pekerjaan istriku di rumah, tapi mereka sudah mengklaim istriku tak sayang anak-anaknya. Dasar manusia!


"Bang, Rozi mau ke sini. Katanya mau main, sekalian mau ngobrol soal puyuh." ucap Dinda dengan penampilan yang sudah sempurna. Ia baru selesai mandi sore, setelah ia menyuapi dan memandikan anak-anak kami.


Baru juga aku dan Dinda menikmati sedikit kebahagiaan, dengan rasa Dinda yang sudah diupgrade. Sekarang malah datang laki-laki yang sempat membuatku cemburu, karena penuturan Salma kemarin.


"Biar ngobrol sama Abang aja. Adek di dalam aja, sama anak-anak." sahutku dengan menerima handuk dari Dinda.


"Tapi Bang, dia pengen nengok anak-anak kita." balas Dinda yang mengusik pikiranku kembali.


Perkataan Salma yang masih kuingat, kini berputar jelas di pikiranku. Dinda liburan ke luar negeri, dengan mereka yang umrah bersama. Aku pernah sekali umrah dengan keluarga besarku, saat aku masih kuliah. Yang membuatku iri bercampur cemburu, Dinda umrah tak denganku dan malah dengan laki-laki lain. Ya memang, saat itu kami mungkin belum bertemu. Tapi yang menjadi pertanyaanku, kenapa Dinda tak pernah mengajakku umrah?


"Abang tak suka sama Rozi." ujarku dengan memperhatikan istriku dari atas ke bawah.


"Pastilah, Abang kan sukanya sama aku." tutur istriku dengan santainya.


"Udah cepet sana mandi! Terus sholat." lanjutnya dengan menghampiri anak-anakku yang berkumpul di ruang tengah.


Naya sudah berani menggerakkan tubuhnya untuk berpindah tempat, seperti ingin merangkak tapi kakinya masih belum siap. Dinda mengatakan hal itu, dengan sebutan onggong-onggong. Ia hampir satu tahun, tapi ia baru akan mulai merangkak. Memang Naya sudah bisa diajak berbicara, ia pun sudah bisa memanggil papah dan mamah. Dinda pun sudah tak keberatan lagi, disebut dengan mamah oleh Naya. Tapi entah mengapa ia lambat sekali, dalam perkembangannya?


Beberapa saat kemudian, mobil mewah sudah terpakir di halaman rumah Dinda. Givan langsung berlari ke luar, untuk menemui orang tersebut. Sepertinya mereka sudah saling akrab, terlihat dari interaksi Givan dan si bos puyuh tersebut.


"Om Rozi… Om udah kenal belum sama Papah baru aku? Papah besar loh, Om. Panjang juga, aku nanti juga panjang macam Papah." ucap Givan begitu terdengar ambigu.


"TINGGI! GIVAN!!! BUKAN PANJANG!" seru istriku dengan menggendong Ghifar. Sedangkan anak-anakku yang lain, berada di ruang tamu dengan mainan yang menarik perhatian mereka.


"Iya tau, besar panjang. Makanya mamah kamu mau." sahut Rozi, dengan suara derap sepatu yang semakin mendekat ke ruang tamu ini.


"Assalamualaikum…" suara Rozi yang membuatku menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat ia tengah melepaskan sepatunya, dengan cara menginjak salah satu bagian tungkainya. Dengan satu tangannya yang menggandeng Givan, juga satu tangan lain berpegangan pada kusen pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." sahutku dengan Dinda secara bersamaan.


Terlihat Rozi memandang Dinda dengan begitu intens, tatapan matanya seolah tengah menatap dengan prihatin. Apa yang membuatnya, melihat istriku dengan pandangan demikian?


"Kurusan kamu, Din. Lagi sakit?" tanyanya begitu saja, ia tetap menatap ke arah istriku. Tanpa menoleh ke arahku, yang sedari tadi memperhatikannya.


"Nyusuin dua soalnya, A. Masuk aja, A." suara Dinda mempersilahkan Rozi masuk.


Detik itu juga, Rozi mungkin baru menyadari kehadiranku. Ia menoleh ke arahku dengan pandangan kagetnya, kemudian ia langsung menyunggingkan senyum ramahnya padaku. Memang aku bukan kali ini saja, bertemu dengan Rozi secara langsung. Namun, sekarang sudah berbeda situasinya. Karena aku baru mengetahui ternyata Rozi punya hubungan yang dekat dengan Dinda, apa lagi ia mengatakan hal yang menyinggungku tentang Dinda sekarang. Ya, aku tersinggung saat ia mengatakan bahwa Dinda sekarang kurus. Dia seolah menuduhku, bahwa aku tak bisa memelihara Dinda dengan baik.


"Ehh, Bang. Gimana kabarnya?" sapa Rozi dengan mengulurkan tangannya ke arahku.


Aku menyambut baik uluran tangannya, dengan membalas senyum ramahnya itu. Aku tak mau terlihat angkuh, apa lagi Dinda dikenal sebagai orang yang supel.


"Baik, alhamdulilah." sahutku kemudian. Lalu Rozi beralih menatap anak-anak kami, ia langsung menggendong salah satu kembar.


"He'em, hasil ternak aku jantan semua. Ini nih jagoan, paling berisik, paling heboh." balas Dinda dengan menciumi Ghifar.


Rozi duduk di kursi yang tersedia, dengan pandangannya langsung terarah pada Naya.


"Aku ambil minum dulu ya." tutur Dinda dengan berlalu pergi.


"Mak….. arghhhhhh…" seru Ghifar, dengan mengesot mengikuti ibunya.


"Oh iya, lupa. Om tadi bawa buah, ketinggalan di mobil." ucapnya dengan berjalan ke luar rumah, dengan menggendong Ghavi.


"BANG… GHIFAR INI…" seru Dinda dari arah dapur. Ada apa lagi dengan Ghifar?


Rozi langsung masuk kembali, dengan memberikan kantong plastik berukuran cukup besar pada Givan. Dengan aku yang langsung berlalu pergi, untuk memenuhi panggilan Dinda.

__ADS_1


Ghifar tengah merengek, dengan memeluk kaki ibunya. Ia mengucek matanya, yang ternyata hidungnya berair. Pantas saja ia selalu mengikuti ibunya, ternyata ia tengah tak enak badan rupanya.


"Bang Dih… Mak, Mak…" celotehan Ghifar saat melihatku mendekatinya.


"Yuk sama Papah, nanti Mamah nyusulin ke depan." ucapku dengan mengangkat tubuhnya.


Ia langsung bermanja di dadaku, dengan rengekannya dan aktivitas mengucek wajahnya tersebut.


"Bang Ghifar pilek kah? Mamam ya, minum obat, terus bobo." ujarku dengan mengusap punggungnya.


Saat aku kembali ke ruang tamu, ternyata Givan tengah mengobrol dengan Rozi. Saat aku duduk di kursi yang tadi aku tempati, aku mendengar ucapan Givan yang menyebutkan Naya adalah anak seorang tante gemoy yang dititipkan.


Aku akui, aku pernah mengatakan hal itu pada Givan. Tapi entah mengapa, aku tak menyukai ucapan Givan barusan. Aku ingin Givan tetap menganggap Naya seorang adik, bukan anak orang yang dititipkan pada keluarga kami.


"Gimana, Din? Lancar puyuhnya? Kok kamu lama gak nambah lagi? Stuck di situ aja kenapa? Lagi ada hambatan ya?" pertanyaan-pertanyaan yang terus-menerus terucap dari mulut Rozi, saat Dinda muncul dengan teh manis yang asapnya mengepul.


Dinda menuju ke teras rumah, dengan diikuti dengan Rozi yang menyusul Dinda. Apa yang ingin mereka bicarakan? Sampai-sampai Dinda secara tak langsung, mengajak Rozi untuk bicara empat mata.


"Sana gangguin mamah! Minta gendong sama mamah ya." ucapku lirih, pada Ghifar yang berada di dekapanku.


Sayang sekali, Ghifar menggelengkan kepalanya. Ia tak mau turun dari dekapanku ini.


"Itu Kak Naya minta gendong, gantian dong Adek Ghifar." lanjutku kemudian.


Ghifar memperhatikan wajahku, lalu ia merosot turun dari dekapanku.


Ghifar mengesot ke arah Naya, tanpa diduga putraku….


......................

__ADS_1


__ADS_2