Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP169. Penjelasan Adi


__ADS_3

"Waktu itu… Abang bangun tidur, tapi Zulfa dan umi lagi pergi ke pasar. Maya datang, dengan bawa nasi uduk buat sarapan katanya. Terus Abang bilang, buat taruh aja di dapur. Karena Abang masih males gerak. Pas mata melek sempurna, Abang nampak perempuan yang lagi lenggak-lenggokin tubuhnya. Abang bereaksi lah, apa lagi bangun tidur Adi's bird pasti ikut bangun. Waktu itu Maya agresif betul, terus tanpa dibujuk lagi dia mau. Abang minta dia naik, tapi sebelumnya Abang udah ambil kond*m terus langsung Abang pakek. Abang kan masih ada kon*om yang waktu itu, Abang pakek sama Devi. Kan dapat tiga tuh, Dek. Yang satu pack fi*sta itu nah, Dek. Abang sadar, Abang bengek waktu itu. Abang tak kuat mompa, makanya Abang minta dia di atas. Terus…" ungkap Adi bercerita. Namun, ia berhenti sejenak. Karena merasa bahunya disandari oleh seseorang.


Adi menundukkan kepalanya, ia tersenyum bahagia melihat istrinya menyandarkan kepalanya pada dirinya.


"Terus apa?" tanya Dinda lirih.


"Terus ya kejadian, tapi Abang tak lama. Pas udah selesai, Abang langsung ke kamar mandi. Terus buang sarung yang udah ada cairan Abang itu ke koslet. Udah macam itu, Abang minta Maya pulang. Terus Abang langsung istirahat, karena Abang ngerasa capek kali. Siangnya Abang jatuh pas lagi jalan mau ke kamar, terus tidur satu bulan itu." jawab Adi kemudian.


"Terus? Itu anak siapa? Masa iya sekali langsung jadi? Sekalipun Abang lepas pengamanannya tak betul, kecil kemungkinan m*ni itu masuk lagi ke m*ki." sahut Adinda dengan mengusap ujung matanya yang basah. Ia sadar, ia merasa semakin sakit mendengar suaminya bercerita seperti itu. Tapi ia sadar, jika ia menunda terus penjelasan suaminya. Tentu ia tak akan mengetahui cerita yang sebenarnya.


"Nah itu… tiga bulan setelahnya, Abang dikabarin Maya bahwa dia hamil. Terus Abang pulang ke kota C, untuk carikan laki-laki buat tanggung jawab ke Maya. Tapi besok paginya, pas Abang baru pulang nginep dari rumah orang tua Adek. Abang langsung disidang, terus ayah mutusin buat nikahin Abang sama Maya. Percaya atau tak, pas denger itu Abang langsung pingsan." balas Adi dengan mengusap lengan istrinya.


"Terus?" ujar Adinda kemudian.

__ADS_1


"Terus siang setelah akad nikahnya, Abang langsung dikeroyok Haris, Jefri, a Arif sama a Afan. Lucunya, Dek. Pas Abang udah ambruk, Abang dibawa ke rumah sakit." jelas Adi dengan terkekeh geli.


Adinda menegakkan punggungnya, kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah suaminya.


"Terus sejak saat itu, Abang mutusin buat bohongin aku?" tutur Adinda dengan pandangan dinginnya, membuat tawa geli Adi hilang seketika.


"Abang tak mau jadi pembunuh. Abang paham, bahwa ibu hamil tak bisa punya beban pikiran yang berat. Jadi Abang mutusin, untuk tutup semua itu sampek Adek sama Maya melahirkan. Sebelumnya pun, Maya udah curiga. Adek pun sama kan?" tukas Adi dengan menghapus bulir bening yang membasahi wajah istrinya kembali.


"Tapi aku macam orang bodoh. Bang… aku ini lumayan cantik, aku pun cukup memuaskan. Aku berusaha bikin suami nyaman di rumah, aku berusaha memperbaiki diri aku sebagai seorang istri. Aku kurang apa sih, Bang? Tapi balasan Abang macam itu sama aku." ungkap Adinda dengan menatap mata suaminya.


"Tapi aku macam mana, Bang? Aku ngerasa jijik, Bang. Aku tak bisa bayangin Abang nyatu sama yang lain." balas Adinda dengan menghempaskan tangan suaminya yang berada di wajahnya.


"Tapi demi Allah, Dek. Abang tak pernah campuri Maya, sejak Abang nikah sama dia. Memang pernah dia ngerayu Abang, pas Abang lagi kangen sama Adek. Terus memang hampir terjadi, tapi Abang malah nyebutin nama Adek pas dia udah di dada Abang. Terus udah gitu, dia kabur ke kamar mandi. Besok paginya, Abang ditegur umi. Karena dia orangnya tukang lapor, apa pun dia laporin ke umi." ucap Adi dengan bersungguh-sungguh. Ia menginginkan Adinda mempercayai ucapannya.

__ADS_1


"Aku tau macam mana Abang kalau udah di kamar sama aku. Bukan kali ini aja aku bilang macam ini sama Abang, kan? Aku larang Abang untuk maen, keluar atau keluyuran macam itu. Karena aku tau, kelemahan Abang itu perempuan. Dulu aja Abang pasrah aja, waktu aku bercandain. Karena Abang udah ke arah se*s pikirannya, jadi berpikir itu pasti terjadi. Sama aku sebelum nikah pun, Abang pasti mesum aja. Aku wanti-wanti Abang, biar rumah tangga kita tak ada orang ketiga. Tapi ternyata, orang ketiga itu malah udah punya keturunan sama Abang. Terus kalau di pikir ulang, aku ini siri terus Maya resmi. Saat semua terbongkar nanti, tetap aku yang salah, tetap aku yang kalah. Jadi… lebih baik kan, aku yang mundur dari awal. Sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya terbongkar. Udah aja Abang lepasin aku, lepasin anak-anak Abang. Aku tak masalah anak ikut aku, yang penting tolong buatkan aktenya dengan ayah kandungnya Abang. Rumah tangga tak perlu dibikin rumit, Bang. Masalahnya bagaimana pun ceritanya, tetap aku yang dirugikan di sini. Meski keturunan aku dengan Abang, adalah anak laki-laki. Kedudukan anak aku tak mungkin bisa menang, karena dia pun tak punya kuasa apapun atas ayahnya. Dia tak punya akte, yang memperjelas asal usulnya. Kalau hanya omongan, tak mungkin semua orang akan percaya tanpa bukti yang jelas. Abang paham kan maksud aku? Tolong yang kasian sama aku!" ungkap Adinda, dengan menatap netra suaminya.


"Abang tak mau kita pisah, Dek." sahut Adi lirih, dengan memutuskan pandangan mereka.


"Kenapa? Apa Maya di sana tak bisa muasin Abang kah? Apa kalau cuma satu istri aja tak cukup kah?" balas Adinda dengan menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya.


"Ini tentang perasaan. Abang cinta sama Adek, Abang sayang sama Adek, cuma Adek tempat Abang pulang. Adek yang paham tentang Abang. Tolong pikirkan keadaan Abang sedikit aja, karena cuma Adek tujuan hidup Abang." ujar Adi dengan suara yang bergetar. Ia tak mampu menahan hantaman gelombang perasaannya.


"Dengerin aku! Cinta itu bisa datang karena terbiasa. Sayang itu bisa hadir, karena saling mengasihi. Yang penting Abang ikhlas, biar tak berat jalaninnya. Bukan aku minta cerai, karena ada laki-laki lain. Bukan, Bang. Bukan macam itu! Aku minta cerai, karena aku masih punya harga diri. Karena aku mikirin masa depan anak-anak juga, kalau tentang perasaan pasti tak akan ada habisnya. Aku tak masalah, di akte lahir anak-anak aku, perempuan lain yang dicantumkan di situ. Yang penting, nama ayahnya ya Abang. Karena Abang ayah kandungnya, ayah satu nashabnya." tutur Adinda dengan mendekap suaminya, lalu menghadapkan wajah suaminya tepat berhadapan dengan wajahnya.


"Bukan rahasia lagi, Adek memang lagi dekat sama laki-laki lain. Abang diem, karena Abang ngerasa nyakitin Adek. Abang diem, karena Adek bilang Adek tak bahagia di rumah sama Abang." tukas Adi kemudian.


"Terserah Abang mau ngomong apa, terserah Abang mau percaya sama siapa. Yang jelas, memang aku tak ada main sama laki-laki lain. Ya, Bang… jadi lepas aku melahirkan nanti, tolong talak aku ya." ujar Adinda dengan membingkai wajah suaminya.

__ADS_1


......................


__ADS_2