
"Cinta, Dek. Tak perlu Adek raguin itu." jawab Adi begitu pelan. Ia memejamkan matanya, karena ia tak sanggup melihat wajah istrinya.
"Kalau cinta, kenapa Abang tak kasian sama aku? Belum cukupkah senang-senangnya? Belum puaskah dengan apa yang aku berikan?" ucap Adinda dengan menyentuh mata suaminya yang terpejam.
"Tak macam itu, Dek. Dengan Abang di sini, itu udah membuktikan Abang cinta, sayang, kasian sama Adek. Kalau Abang tak kasian, Adek udah Abang tinggalkan gitu aja." sahut Adi dengan membuka matanya perlahan, namun ia sadar. Air matanya malah merembes keluar, lalu secepatnya ia menutup matanya kembali. Berharap bisa membendung rasa cengeng yang memuncak di kelopak matanya.
"Abang pulang ke sini memang karena aku? Atau karena aset Abang? Dengan Abang mengatakan hal demikian kan, berarti memang ada yang Abang sembunyikan di luar sana. Ada sesuatu yang tak beres dengan hubungan kita." balas Adinda. Adi merasa dirinya harus berhati-hati menjawab ucapan istrinya, karena istrinya begitu cerdas memahami semua yang Adi ucapkan.
"Ya memang ada yang Abang sembunyikan. Maaf belum bisa jujur sekarang, Abang begini karena untuk kebaikan kita. Untuk kebaikan keturunan kita, yang Adek kandung. Perlu Adek tau, Abang di sini karena Adek. Karena cinta kita, karena rasa tanggung jawab Abang. Pahami Dek, apapun yang terjadi. Adek tetap tempat Abang untuk pulang. Adek yang selalu Abang pertahankan. Cuma sama Adek, Abang curahkan seluruh perasaan Abang. Tinggal Adeknya aja macam mana? Adek mau tak Abang pertahankan?" ungkap Adi, yang membuat Adinda bingung dan semakin penasaran.
"Apapun itu, entah apa maksud Abang. Kalau itu tentang perempuan lain. Maaf, Bang. Aku bukan pilihan. Aku persilahkan Abang untuk pergi, karena cuma itu yang terbaik untuk aku dan keturunan aku." putus Adinda membuat Adi merasa lehernya seperti ditikam secara tiba-tiba.
Karena dirinya merasa, dengan Adinda mengatakan demikian. Bahwa sudah jelas Adinda tak menginginkan untuk dipertahankan.
Membuat Adi semakin takut untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Membuat Adi semakin egois, dan memilih untuk menyimpan semua rahasia ini saja. Ia tak menginginkan apa pun yang ia lakukan di belakang Adinda, diketahui oleh Adinda. Karena jelas, itu adalah bencana besar untuknya.
Setelah ucapan Adinda barusan, tak ada lagi suara yang keluar. Hanya terdengar hembusan nafas masing-masing.
~
~
Dua hari terlewatkan, dengan Adinda yang selalu menjauh saat didekati suaminya.
Adi pun memaklumi kondisi istrinya, karena Adinda berulang kali berucap ingin tenang tanpa gangguan darinya. Adi sebenarnya merasa begitu kecewa, dengan ungkapan frontal dari istrinya tersebut. Namun ia coba memahami Adinda lebih jauh, mungkin seperti inilah mulut istrinya bila sedang marah.
Pagi ini Adi mendapat telepon dari seseorang, dan ia bergegas menemui istrinya yang tengah berkutat di dapur.
"Dek, Abang mau keluar dulu ya. Abang mau jemput……" ucap Adi dengan senyum lebarnya. Namun, terpangkas dengan suara istrinya.
"Ya, Givan tak usah diajak." ujar Adinda, tanpa melirik pada suaminya sedikitpun.
Adi mengangguk, dan langsung mengambil satu ciuman dari pipi istrinya.
Tentu saja tindakan Adi mendapatkan delikan tajam dari Adinda. Namun, Adi hanya memberikan senyum manisnya saja.
Lalu Adi pergi dari pekarangan rumahnya, dengan mengendarai mobil kesayangan miliknya.
Adi bertolak menuju bandara T******* R******, untuk menjemput seseorang yang tadi menghubunginya.
~
Siang harinya, Adinda tengah asik bercanda dengan Givan di teras rumahnya. Sembari menyuapi anaknya makan, sebenarnya Givan sudah bisa makan sendiri. Hanya saja, memang ibunya yang kelewat batas ingin memanjakan anaknya.
__ADS_1
Deru suara mesin mobil yang berhenti di halaman rumahnya, menarik atensi Givan dan ibunya.
Tak lama kemudian, Adi muncul dengan seorang wanita berumur sembilan belas tahun tersebut. Adi menurunkan koper besar dari dalam mobilnya, dengan Zuhra yang mematung terpesona melihat rumah megah milik kakaknya.
"Zuhra…" ucap Adinda reflek, karena ia merasa terkejut dengan kehadiran Zuhra yang tiba-tiba. Apa lagi Adi tak mengatakan sesuatu, dan tak memintanya untuk bersembunyi juga. Membuat otaknya blank sesaat.
Mata Zuhra membulat, saat Adinda bangun dari posisi duduknya dan menatap kaget ke arahnya. Zuhra pun jelas tak kalah kagetnya melihat seseorang yang pernah menginap di kediamannya, ternyata berada di rumah kakaknya dengan perut besar.
"Bang, Bang…." panggil Zuhra, saat Adi melangkah mendahului Zuhra yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa? Ayo masuk, katanya mau rebahan." sahut Adi begitu santai.
"Kak Dinda kan itu?" balas Zuhra dengan raut wajah herannya.
"Udah, ayo." ajak Adi dengan merangkul Zuhra, dan tangan satunya ia gunakan untuk menarik koper besar milik Zuhra.
Mereka pun melangkah beriringan, dengan Dinda yang merasa panik. Entah mengapa, dirinya merasa akan dihakimi tanpa sebab. Padahal, dirinya dan Adi adalah suami istri yang sah secara agama.
Adi berhenti di depan istrinya, "Hallo Tante, baik-baik ya sama aku. Kalau Tante masih mau hidup tentram." bukan lain adalah Givan. Pelaku yang mengatakan hal demikian.
Membuat suasana tegang tersebut, menjadi suasana yang sulit diartikan. Karena terdengar tawa renyah dari mereka semua.
"Dek Dinda, kenalin ini Zuhra. Adik bungsu Abang." ucap Adi pada Adinda.
"Ya salaman dulu kaunya, tak sopan betul kau sama tuan rumah." sahut Adi dengan pura-pura sewot pada Zuhra.
"Kenalin, Zuhra. Ini Adinda, istri Abang." ujar Adi, saat tangan Zuhra dan Adinda bertautan.
"APA???" pekik Zuhra tidak percaya, dengan dirinya yang menoleh kaget pada kakaknya.
"Biasa aja kali, tersembor Abang." tutur Adi dengan mengusap wajahnya sendiri. Sontak tingkahnya tersebut mengundang tawa renyah dari Adinda dan Zuhra.
"Ayo Tante, masuk. Aku kasih tunjuk kamar Tante. Papah Adi dari kemarin udah bilang, kalau Tante mau tinggal di sini. Katanya Tante mau bantu-bantu Mamah aku buat beres-beres ya? Sama jagain aku dan adik aku nanti? Tante juga jangan lupa cuci piring ya, soalnya Mamah aku sering kelupaan cuci piring. Kadang mau makan, tapi piringnya dadakan dicuci." ungkap Givan dengan menarik tangan Zuhra, untuk masuk ke dalam rumahnya.
Zuhra menggaruk kepalanya, ia merasa bingung dengan fakta tersebut. Namun ia tetap menuruti Givan, yang membawanya masuk ke dalam kamar yang berada di seberang kamar anak laki-laki tersebut.
"Givan Abang bagi tau, tapi aku Abang tak bagi tau. Tega betul, sampai kaget aku." ucap Adinda, saat Zuhra sudah tak terlihat lagi di pandangannya.
"Macam mana Abang mau bagi tau. Di deketin sedikit, Adek pindah duduk. Pas mau tidur, Abang mau bilang. Adek malah buka selimut, terus pindah kamar. Pagi tadi juga mau bagi tau, tiba-tiba omongan Abang disela sama Adek." jelas Adi dengan membawa istrinya dalam rangkulannya.
"Kalau Zuhra bilang sama umi macam mana?" tanya Adinda, dengan mengikuti langkah suaminya yang memasuki rumah.
"Ya bilang tinggal bilang. Adek bukan selingkuhan Abang, Abang tak berniat tutup-tutupin Adek." jawab Adi dengan berani. Padahal sebelumnya…….
__ADS_1
Flashback on
Adi menemukan adiknya tengah duduk di kursi yang terdapat di bandara itu, dengan bermain ponsel.
"Udah lama kah, Dek?" tanya Adi dengan mengusap kepala Zuhra.
Gadis yang memakai kemeja putih yang dimasukkan dalam rok plisket berwarna hijau tua, dengan dipadukan dengan hijab yang berwarna senada dengan roknya tersebut mendongak menatap pelaku yang mengusap kepalanya.
"Abang… lama banget. Sampai pegel aku nunggunya." sahut Zuhra dengan memanyunkan bibirnya.
"Maaf, ya." balas Adi dengan duduk di sebelah adiknya.
"Ayo langsung aja, aku pengen rebahan. Punggung aku udah pegel banget." ujar Zuhra dengan bangkit dari duduknya.
"Nanti, Dek. Sini duduk dulu sebentar." tutur Adi dengan menepuk kursi yang tadi Zuhra tempati.
"Apa, Bang?" tanya Zuhra dengan duduk di kursinya lagi. Dengan badan yang sedikit ia serongkan untuk menghadap pada kakaknya tersebut.
"Kau yang nurut sama Abang. Abang bakal kasih jatah gele, sampai kau bisa lepas dari gele itu. Ya kau memang nantinya sambil berobat juga." ungkap Adi begitu lirih. Ia khawatir ucapannya akan didengar oleh orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Zuhra mengangguk mantap. Dan ia masih menunggu ucapan selanjutnya, karena Adi bersiap untuk mengeluarkan suaranya lagi.
"Yang kau nampak di sini, jangan kau beberkan sama dunia luar. Apa lagi sama umi dan ayah." lanjut Adi memberi peringatan. Zuhra pun langsung mengangguk kembali, karena yang ada di pikirannya adalah Adi yang masih aktif mengkonsumsi narkotika dan masih aktif bermain balap mobil.
"Kau tinggal bilang, kalau kau mau lanjut kuliah. Tapi banyak peraturan yang harus kau patuhi, kalau kau tinggal di rumah Abang. Merokoklah di dalam kamar kau, tak boleh keluar rumah kalau tak pakek hijab dan kalau mau pergi kau harus minta izin dulu sama Abang. Yang ringan tangan, jangan malas. Nanti Abang usir kau! Terus, kau pun harus tutup akun sosial media kau. Yang isinya foto seksi kau itu, nanti juga Abang bawa kau ke tempat penghilang tato. Jadilah anak perempuan yang baik dan sholehah, ok?" lanjut Adi dengan begitu serius.
Zuhra sedikit senang, karena kakaknya begitu pengertian padanya. Ia sudah teramat takut, akan dilarang merokok. Namun tidak, Adi tetap memperbolehkannya merokok tapi tetap di dalam kamar.
"Ada lagi, Bang?" tanya Zuhra dengan memperhatikan wajah Adi yang tengah berpikir keras.
"Ada banyak, intinya yang nurut aja. Jangan bilang apa pun ke umi dan ayah. Dan kau pun harus paham dengan situasi yang ada di sana. Dengan kau ada di sini, ubahlah diri kau jadi yang lebih baik. Bukan lanjutin kekacauan yang udah kau buat di rumah." jawab Adi kemudian.
"Abang gak minta aku kerja atau yang lainnya?" sahut Zuhra dengan memakai tas selempang yang sedari tadi ia amankan di genggamannya.
"Yang penting yang ringan tangan. Kerja atau tak, itu biar urusan nanti. Yang penting pas kau balik ke umi, kau udah sembuh. Kau tak ketergantungan lagi." balas Adi dengan bangkit dari duduknya, dan menarik gagang koper besar milik Zuhra.
Zuhra mengangguk mengerti, dan ia berjalan mengikuti langkah kaki kakaknya.
Flashback off
......................
Panjang kali ini episode, sampai 1500 kata.
__ADS_1
Bang Adi sok iya, kaya yang iya berani aja 😝 padahal kan... kan kan kan kan, ia kan? 🤭