
"Enak loh diperk*sa sama Abang. Adek dapat bonus pe*u Abang yang bergelimang benih saudara anak yang dikandung Adek. Udah gitu, Adek juga dapat tiket istimewa menuju surga. Plus tabungan pahala yang tiada habisnya. Yuk, kita mulaikan saja…" ungkap Adi dengan senyum menggodanya. Ia masih mencekal tangan istrinya, dan mulai membekap mulut istrinya dengan mulutnya.
"Tak mau aku, Bang. Sakit nanti, aku tak nyaman dimasuki itu." tolak Adinda lagi, dengan melepaskan tautan bibir mereka. Namun sepertinya Adi tak menghiraukan penolakan istrinya.
"Sebentar aja, ok? Satu ronde deh. Abang janji tak lama setelah Adek kl*maks." ucap Adi yang belum menyerah.
"Tapi, tapi…" sahut Adinda yang kalah cepat dengan tindakan Adi.
Dengan nafsu yang sudah mencapai ambang batasnya. Adi mencoba memaksakan istrinya untuk mau menerima belaiannya. Adi pun tak setega itu. Ia tetap memberikan pemanasan, agar istrinya tak kesakitan saat ia masuki.
Tak berselang lama, Adi memasukkan perlahan sesuatu yang sudah mengeras sempurna itu. Saat dirinya meyakini, bahwa istrinya sudah cukup basah untuk ia masuki.
"Pelan, Abang…" ucap Adinda dengan menahan dada Adi.
"Maaf ya, Dek. Abang janji maen pelan." ujar Adi, dengan membelai keringat yang mulai merembes dari pelipis istrinya.
Blesh..
Kesempurnaan itu sepenuhnya memasuki tempat yang membuat Adi berada di titik ternyamannya.
Adi menurunkan punggungnya, untuk bisa memeluk tubuh istrinya. Ia menjejakkan kembali ujung lidahnya pada leher jenjang istrinya.
Dan perlahan ia menarik bagian dari tubuhnya, yang berada di dalam inti istrinya.
Tak sampai melepaskan penyatuan mereka, Adi kembali mendorong miliknya untuk lebih dalam bersarang.
"Abang…" rintih Adinda begitu lirih.
"Pinggul aku kek mau pecah. Penuh kali, tolong jangan terlalu dalam." ucap Adinda sambil meringis.
Adi menaikan satu alisnya. Ia merasa Adindanya benar-benar kesakitan.
Adi berhenti memompa istrinya. Lalu ia memandangi wajah istrinya yang tengah menahan sakit itu.
"Kok bisa sampek ke pinggul Adek, Adi's bird Abang? Apa jangan-jangan jebol, Dek." ujar Adi kemudian. Lalu ia terburu-buru melepaskan penyatuannya. Ia khawatir pikiran buruknya benar.
Lalu Adi menurunkan kepalanya, untuk bisa melihat dengan jelas keadaan tempat yang kelak nanti akan menjadi jalan lahir anaknya tersebut.
Nafsunya terkalahkan dengan rasa khawatirnya. Ia meraba bagian luar tempat yang berlendir tersebut.
"Cuci, yuk. Terus Abang mau telepon Haris. Mana tau dia paham tentang ini." ujar Adi dengan menarik tangan istrinya, untuk bangkit dari posisinya yang terlentang pasrah di atas sofa ini.
"Pinggul aku sakit betul. Kek mau pecah." tutur Adinda dengan rintihan tangisnya.
__ADS_1
"Yuk Abang bantu." tukas Adi, dengan membantu istrinya bangkit dari posisinya.
Lalu mereka berdua menuju kamar mandi. Bertujuan untuk mengeluarkan seninya dan mencuci bersih milik masing-masing. Karena menurut ilmu yang Adi miliki, wajib buang air kecil dan membasuh bersih kemal*an setelah beradu. Untuk menghindari penyakit tertentu, dan termasuk dalam adab untuk berhubungan juga.
Setelahnya, mereka berdua beranjak ke kamar mereka. Adi menarikan selimut sebatas dada istrinya. Dan memberikan kecupan mesra di kening istrinya.
"Abang telepon Haris dulu, ya?" ucap Adi, dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Di sini aja. Aku pun mau denger." sahut Adinda. Lalu Adi menganggukkan kepalanya.
Dan ia langsung menggapai ponselnya, yang tersimpan dalam laci nakas.
Adinda menggelengkan kepalanya, mengetahui penyimpanan ponsel suaminya. Seharusnya Adi tak sampai berlaku demikian untuk menyembunyikan sesuatu, karena jelas membuat Adinda semakin penasaran dengan gerak-geriknya.
Adi mulai mencari nama Haris dalam kontak teleponnya. Dan menekan ikon panggil setelahnya.
"Hallo, Ris." ujar Adi. Lalu ia segera meloudspeaker panggilan teleponnya.
"Ya, Di. Apa hal?" sahut Haris kemudian.
"Lagi sibuk kah, Bang?" tanya Adinda menyahuti Haris.
"Lagi tugas malam, Dek." jawab Haris seperlunya.
"Macam tak biasanya aja. Dulu pun Abang lagi tugas malam pernah kau suruh balik, kan?" balas Haris. Adi merasa sedikit cemburu mendengar pernyataan Haris. Haris sampai rela meninggalkan tanggung jawabnya demi Adindanya dulu.
"Jangan ngomong macam itulah, Bang. Ada suami aku di samping." ucap Adinda meresa tak enak pada suaminya. Ia khawatir suaminya cemburu mendengar ucapan Haris tersebut. Meskipun memang dulunya ia dan Haris seperti sebuah keluarga, namun Adinda tak memiliki perasaan lebih pada Haris.
Haris hanya terkekeh puas, mendengar ucapan Adinda tersebut.
"Gimana, Dek?" tanya Haris mengembalikan topik pembicaraan.
"Aku… aku ini kan lepas hubungan badan." jawab Adinda ragu.
"Nah terus kenapa? Mau pamer?" sahut Haris. Adinda menepuk jidatnya sendiri, mendengar sahutan seseorang yang sudah seperti kakak kandungnya itu.
"Iya, mau pamer. Kau tak bisa kan rutin macam aku sama Dinda." tutur Adi menyahuti perkataan Haris tersebut.
Haris terkekeh kecil, "Iya, iya aku kalah. Langsung ke intinya ajalah. Jangan bikin aku oleng, lagu tugas negara ini." tukas Haris cepat.
"Nah lepas hubungan badan, padahal baru masuk. Dinda ngerasa pinggulnya sakit betul. Katanya rasanya kek mau pecah. Sampai sekarang pun masih ia rasa." terang Adi kemudian.
"Berapa bulan usia kandungannya?" tanya Haris serius. Setidaknya Adi lebih memilih bertanya pada Haris, karena jika ia bertanya pada Jefri. Jelas jawaban Jefri akan membuatnya kesal sendiri. Meskipun Haris sama seperti Jefri. Tapi setidaknya Haris lebih bisa diajak berbincang serius, ketimbang dengan Jefri. Adi pun merasa heran, sekaligus penasaran dengan gelar dokter yang Jefri emban. Ia meragukan kinerja Jefri, saat mengobati pasiennya.
__ADS_1
"Satu minggu lagi lima bulan, Ris." jawab Adi tepat. Karena Adi menghitungnya setiap minggunya.
"Catatan dokter waktu terakhir periksa apa?" sahut Haris.
"Bentar eh, aku cek dulu." balas Adi, meminta Haris menunggu sejenak. Sembari dirinya mencari buku hamil milik Adinda.
Adi langsung mengambil buku berwarna pink, yang Adinda dapatkan dari bidan setempat.
Karena satu minggu yang lalu, terakhir Adinda memeriksakan diri di bidan setempat. Dengan keluhan sakit pinggang dan kepala pusing.
Terdengar Haris tengah mengobrol dengan seseorang, yang ia sebut dengan panggilan "Sus."
Mungkin sembari menunggu Adi, dirinya mengerjakan tugasnya.
"Hallo, Ris." ucap Adi, setelah dirinya menemukan buku tersebut. Dan mulai memahami isi tulisan yang tak ia mengerti tersebut.
"Apa, Di?" sahut Haris menimpali. Haris masih tersambung dengan jaringan telepon, dan dirinya masih menunggu penjelasan dari temannya itu.
"Tulisannya tak bisa dibaca." balas Adi dengan menggaruk kepalanya. Ia merasa bingung mengartikan tulisan yang terlihat seperti huruf latin tersebut.
"Apa yang ada di situ?" ujar Haris, "Awal tulisan yang tercetak di buku itu apa?" lanjut Haris, agar Adi memahami.
"Tanggal, terus keluhan, tekanan darah, berat badan, umur kehamilan, tinggi fundus, letak janin, detak jantung janin, terus…" sahut Adi menyebutkan satu persatu. Namun terpangkas dengan pertanyaan dari Haris.
"Tinggi fundus sama letak janinnya aja coba sebutin." sela Haris cepat.
"Tinggi fundusnya dua jari, terus digambarkan panah ke bawah, lanjut dengan kata pusar, Ris. Aku tak bisa baca jelas." jawab Adi. Terlihat ia sampai memicingkan matanya, untuk memahami tulisan tersebut.
"Oh, ya. Terus letak janinnya?" tanya Haris kembali.
"Cuma ada huruf U aja, tak tau V tapi ada garis di tengah agak bawah." jawab Adi mencoba menjelaskan apa yang ia lihat.
"Hah?" suara Haris kaget.
"Kenapa memang?" sahut Adi bingung.
"Besok ke rumah sakit, Di, Dek…" balas Haris.
"Ada apa memang, Bang?" tanya Adinda heran. Karena dirinya merasa baik-baik saja.
TBC.
Semoga kandungan Adinda tak bermasalah 🤲
__ADS_1