
Setelah melaksanakan shalat dhuhur, Adi berlanjut menemani Adinda dan anaknya sampai terlelap. Kemudian Adi keluar dari kamarnya, lalu masuk ke dalam kamar adiknya.
Terlihat Zuhra tengah menghisap rokoknya, dengan merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia terkejut bukan main, saat kakaknya tiba-tiba masuk dan menyaksikan dirinya yang tengah merokok seperti ini.
"Pakek pakaian yang betul coba!" seru Adi dengan melotot pada adiknya, lalu ia langsung menuju ke jendela kamar, dan membuka beberapa jendelanya.
Zuhra langsung duduk dan menutupi tubuhnya dengan bantal.
Adi berbalik menatap Zuhra kembali, "Kapan terakhir makek?" tanya Adi kemudian.
"Kemarin malam, Bang." jawab Zuhra dengan sangat pelan. Namun masih bisa didengar oleh Adi.
Adi mengangguk mengerti, "Besok ke psikiater, nanti Abang antar." sahut Adi dengan merogoh ponselnya, yang berada di saku celananya.
"Tapi aku gak gila, Bang." balas Zuhra dengan mematikan rokoknya, dan membuangnya pada gelas yang ia gunakan untuk minum.
Lalu ia berjalan dan memakai kembali kemeja putih beserta rok panjangnya. Karena ia hanya mengenakan tanktop berwarna hitam, dengan celana yang super pendek.
"Bukan masalah gila. Dengan kau macam ini pun, kau berarti ingin jadi macam orang gila yang tak punya pikiran." ujar Adi fokus pada ponselnya.
Zuhra hanya terdiam, tak berani menyahuti ucapan kakaknya.
"Jangan ngomong apa pun tentang kak Maya." ungkap Adi dengan merebahkan tubuhnya di tempat tidur adiknya.
Zuhra memperhatikan kakaknya heran, "Maksudnya? Kak Dinda pun gak tau Abang nikah sama…" sahut Zuhra dengan duduk di tepian ranjang sebelah kanan, dengan Adi yang merebahkan tubuhnya di bagian paling kiri tempat tidur.
"Ya, kak Dinda tak tau. Makanya kau jaga mulut kau!!" sela Adi dengan mendelik tajam pada adiknya.
"Ya ampun, Bang. Kak Maya pun gak tau masalah ini?" tanya Zuhra kembali.
Adi hanya mengangguk samar, dengan menengkurapkan tubuhnya.
"Tega banget Abang. Aku gak nyangka Abang setega itu, kek gak punya hati. Tapi beneran kak Dinda sama Abang udah nikah?" tutur Zuhra dengan begitu penasaran.
Adi mengangguk samar, "Ya, Abang udah nikah sama kak Dinda. Meski cuma nikah di bawah tangan." jelas Adi.
Zuhra diam sesaat, ia tak percaya dengan fakta yang kakaknya katakan. Pantas saja kakaknya selalu meninggalkan Maya, itu yang ada di pikiran Zuhra.
"Abang… beneran aku mau dijadikan pembantu di sini?" tanya Zuhra mengalihkan pembicaraannya dengan kakaknya.
__ADS_1
"Siapa bilang kau jadi pembantu?" Adi malah bertanya balik pada Zuhra.
Zuhra begitu bingung, terlihat dari raut wajahnya.
"Kalau buat bersihin rumah sebesar ini. Kak Dinda nyuruh orang, buat lap-lap barang, buat ngepel semua ruangan. Buat bersihin halaman kadang Abang, kadang nyuruh orang. Abang kan cuma minta kau yang ringan tangan. Kak Dinda belum lipat baju, ya kau bantu lipat. Ada piring kotor, ya kau cucikan. Ada lantai basah ya kau lap, pel yang bagian kotornya. Karena Abang tau, kau tak bakal sanggup ngepel semua ruangan." jelas Adi, saat menyadari bahwa adiknya merasa kebingungan.
"Nah, terus… kau bantu jagain Givan, soalnya kak Dinda akhir-akhir ini gampang capek. Apa lagi perutnya jelas udah tambah besar, jadi ruang geraknya terbatas." lanjut Adi kemudian.
Zuhra mengangguk mengerti, "Iya Bang, aku paham. Kirain aku, beneran aku suruh jadi pembantu di sini." sahut Zuhra dengan bersandar pada kepala ranjang.
"Tak, Dek. Kak Dinda pasti masak, kadang dapat kiriman makanan dari bibi Abang." balas Adi dengan bangkit dari posisinya.
"Ingat, dihapus sosmed yang itunya. Tak boleh pasang foto di sosmed, kalau tak pakek hijab. Abang malu betul tengok kau macam itu." tegas Adi sebelum keluar dari kamar.
"Ya, Bang. Udah aku hapus." sahut Zuhra, lalu Adi keluar dari kamar adiknya
'Aku gak nyangka Bang Adi begitu. Segila itu cintanya sama kak Dinda. Dari awal selalu ngelak, dan selalu bilang cuma temenan sama kak Dinda. Eh gak taunya, malah udah berkembang biak aja.' gumam Zuhra, saat kakaknya sudah menutup kembali pintu kamarnya.
~
Adi langsung menuju ke rumah pamannya, pak Akbar. Ia ingin bertukar pikiran dengan pamannya dan bibinya, seputar adat untuk tujuh bulanan Adinda.
"Dek Shasha?" sapa Adi dengan memperhatikan Shasha yang terlihat sudah seperti sedia kala. Dengan tubuh yang sedikit berisi, dan tak terlalu tinggi seperti istrinya.
Shasha menyunggingkan senyumnya, "Ada dek Dindanya tak, Bang?" ungkap Shasha dengan memperhatikan rumah Adi yang begitu sepi.
"Dek Dinda lagi tidur. Satu jam lagi ke sini aja." ucap Adi dengan mengikuti arah pandangan Shasha.
"Oh ya udah, nanti bilangin ke dek Dinda ya Bang." sahut Shasha kemudian. Adi mengangguk mengerti. Kemudian Shasha langsung berlalu dari hadapan Adi.
'Kasian betul dia, diceraikan, anaknya diambil juga. Meski senyum juga, nampak kali dia tak bahagia.' gumam Adi dalam hatinya.
'Eh, tapi kalau Maya aku ceraikan juga. Mungkin sama ceritanya dengan Shasha, Naya pasti aku bawa.' lanjut Adi bergumam, sembari melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ke rumah pamannya.
~
~
Adi langsung memasuki rumah pamannya, lalu ia mencari keberadaan orang-orang di rumah ini.
__ADS_1
"Pak cek mana, Mak cek?" tanya Adi pada ibu bibinya, yang tengah mencuci piring di dapur.
Ibu Handa terhenyak kaget, dengan menjatuhkan gelas plastik yang sedang ia cuci.
Ibu Handa menoleh ke arah Adi, "Ngagetin aja kau!!" serunya dengan delikan tajam.
Adi terkekeh geli, lalu ia pun mengulurkan tangannya untuk membantu bibinya. Ia menaruh piring yang sudah dicuci bersih oleh bibinya, ke rak piring yang berada tak jauh dari situ.
"Aku mau ngobrol, Mak cek. Tentang tujuh bulanan Dinda." ucap Adi dengan masih beraktifitas.
"Tujuh bulanan segala, Di. Yang penting itu empat bulanan, bukan tujuh bulanan." sahut ibu Handa yang masih beraktifitas mencuci piring kotornya.
"Ya tak apa, adat dan budaya harus tetap dilestarikan. Nanti Adi resmikan sama Dinda juga, mau pakek adat A***. Dinda suruh rasain pakek sunting yang beratnya sampek empat kiloan itu." balas Adi dengan tersenyum lebar.
"Halah, rasanya Dinda pun udah malas buat minta resmikan sama kau. Mungkin dia nanti minta resmikannya sama yang lain." ujar ibu Handa dengan mencuci tangannya, lalu mengelapnya pada lap yang tergantung tak jauh dari jangkauannya.
Adi bergegas menyelesaikan pekerjaannya, dan mengikuti langkah kaki ibu Handa yang beranjak dari dapur.
"Jadi macam mana, Mak cek?" tanya Adi dengan duduk di samping ibu Handa, yang berada di ruang keluarga rumah tersebut.
"Peusijuek lueng? Mirip hajatan loh repotnya, Di. Banyak aturan yang berlaku dan harus mengundang sanak saudara yang dituakan juga. Belum bikin lincah mameh juga. Ada beberapa buah yang wajib ada, tapi kek susah dicarinya. Lagian kan itu bukan anak pertama Dinda juga, itu udah anak keduanya Dinda." ungkap ibu Handa, dengan mengupas buah mangga yang terlihat begitu manis.
"Oh, namanya peusijuek lueng?" tanya Adi dengan memperhatikan ibu Handa.
"He'em, Peusijuk lueng itu salah satu tradisi di A*** yang masih eksis sampek sekarang. Semacam acara menepung tawari orang hamil, dengan berdo’a agar orang hamil tersebut selamat dan tidak mendapatkan kesulitan di waktu melahirkan nanti. Acara ini juga biasa nya dilakukan hanya sekali aja, masa kehamilan pertama." jelas ibu Handa dengan menoleh ke arah Adi.
"Beda kah sama tujuh bulanan tradisi orang pulau JB?" tanya Adi kemudian, karena ia sedikit tahu tentang tradisi itu saat mendapat cerita dari ibunda Adinda.
"Ya mungkin sama, tapi peusijuk lueng ini dilakukan saat kehamilan memasuki masa bulan ke 7. Terus acara ini harus dilakukan ketika bulan hijriyah sudah lewat tanggal 15 atau dalam bahasa A*** biasanya dikatakan watee buleun ka tirut." jawab ibu Handa dengan melanjutkan mengupas buah untuk Adi dan dirinya.
"Kenapa harus bulan hijriah udah lewat?" sahut Adi setelah menyimak cerita bibinya.
"Tak tau, Mak cek dulu melakukannya juga karena orang-orang tua dulu macam itu melaksanakannya." balas Mak cek dengan memberikan piring berisi potongan buah mangga pada Adi.
"Langkah-langkahnya macam mana, Mak cek?" tutur Adi ingin tahu. Karena ia teramat ingin melaksanakan acara tersebut.
"Sebelum hari H, pihak keluarga laki-lakinya terlebih dahulu menyerahkan biaya-biaya dan keperluan yang dibutuhkan untuk melaksanakan acara pada pihak keluarga wanita. Terus pas hari acaranya, pihak keluarga laki-laki datang ke rumah keluarga wanita dengan rombongannya membawa bu kulah. Bu kulah itu, nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang bentuknya macam piramida. Lauk pauk juga pakeknya yang enak-enak lah. Macam masakan ayam, bebek, ikan bandeng dan lain-lain. Juga kue-kue seperti meuseukat, bu bajek, dodoi, keukarah, nyap, markee dan kue-kue yang lain. Tak boleh ketinggalan juga buah-buahan misalnya mangga, apel, jeruk, salak dan lain-lain. Satu lagi yang tak boleh terlupakan yaitu rujak, atau lincah mameh itu. Ada juga yang nyebutin peusijuek leung itu jak meu bu kulah." ungkap ibu Handa menjelaskan dengan begitu gamblang.
TBC.
__ADS_1
Ada Zuhra, ibu Handa, Safar, pak cek dan lain sebagainya itu namanya peran pelengkap. Biar hidup ceritanya, kan dunia ini bukan tentang bang Adi saja. Iya tak? 😂