Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP105. Serangan fajar


__ADS_3

"Keluarga Dinda tak mau ke sini." ucap Adi dengan mengambil buah yang sudah dipotongkan.


"Kata Mak cek sih… lebih baik udah aja, mending adain syukuran kecil-kecilan aja. Ngundang ibu-ibu jami'ah, untuk doain Dinda dan anaknya. Biar persalinannya normal dan dimudahkan. Bukannya Mak cek tak mau direpotkan, tapi karena memang harusnya ada orang tua Dindanya juga. Belum lagi umi kau pun harus hadir juga." ungkap ibu Handa, mengutarakan pendapatnya.


Adi terdiam memikirkan ucapan bibinya tersebut. Lalu ia mengangguk samar, "Ya udah, Mak cek. Tentuin aja harinya, buat ngundang ibu-ibu jami'ah untuk ngaji di rumah. Nanti biar makanannya catering aja." putus Adi, setelah memikir ulang segalanya.


"Ya udah, nanti Mak cek omongin sama pak cek dulu." sahut ibu Handa.


"Oh iya, Mak cek. Adik bungsu Adi ada di sini, dia tinggal sementara sama Adi." ucap Adi memberitahu, dengan memakan buah yang bibinya potongkan.


"Suruh mainlah ke sini, mana tau ada cocok sama Safar. Dari pada ngegilain temennya Dinda yang bahenol itu." sahut ibu Handa dengan mengelap tangannya dengan tisu tersedia.


"Siapa memang?" tanya Adi dengan menoleh ke arah pintu masuk, karena ia merasa ada seseorang yang menutup pintu.


"Siapa itu, yang janda anak satu. Katanya mantan suaminya kawan kau." jawab ibu Handa mengikuti arah pandangan Adi.


Ternyata Liana yang datang, namun ia langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Ohh, Sukma. Memang kenapa tak bolehkah?" sahut Adi kemudian.


"Bukannya tak boleh, Sukma itu lebih tua dari Safar. Terus juga menurut pengamatan Mak cek, si Sukma itu ngehindar terus. Macam tak mau didekati Safar. Kan nampak tuh dari bahasa tubuhnya. Safarnya ngejar-ngejar Sukma terus, tapi Sukmanya malah menghindar. Jadi tak bakal ketemu sampai jodoh menurut Mak cek." jelas ibu Handa, setelah memakan buah yang tadi ia potong.


"Adik Adi masih 19 tahun. Dia juga ada masalah, makanya Adi bawa ke sini. Cari perempuan yang lebih baik dari adiknya Adi aja, Mak cek. Dia banyak minusnya." ujar Adi bercerita. Memang Adi sering bercerita banyak pada bibinya, maupun pamannya.


"Kenapa memang dia?" tanya ibu Handa heran.


"Gele juga, balap juga….." jawab Adi dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Tau abangnya macam kau, malah kau bawa dia ke sini. Pasti tambah susah dia lepas kalau di sini. Apa lagi beberapa kawan kau masih aktif makek juga kan? Jangan-jangan kau pun sama juga." sahut ibu Handa dengan melirik curiga pada Adi.


"Sembarang, Adi udah insaf. Udah bermutasi menjadi manusia yang lebih baik dan berakhlak mulia." elak Adi dengan wajah tidak sukanya, karena dituduh masih mengonsumsi narkotika.


Ibu Handa terkekeh geli, "Ya udah nanti Mak cek main ke sana. Oh iya, Di. Itu asahin parang di belakang, udah ketul kali tak bisa dipakek." ujar ibu Handa dengan bangkit dari duduknya.


Lalu Adi mengikuti langkah kaki bibinya ke halaman belakang. Kemudian Adi segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh bibinya tersebut.


~


~


~

__ADS_1


Pagi ini, Adi mendapat serangan fajar. Ia tak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi, karena ia sudah teramat lama tak berhubungan i*tim. Terakhir ia berhubungan intim dengan Adinda, saat dirinya akan bertolak ke kota C. Namun saat ia kembali lagi ke provinsi A, ia tak mendapatkan penyaluran lagi sampai sekarang.


Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, karena bingung akan berbuat apa.


'Apa minta aja kah sama Dinda? Tapi… takut sakit hati karena tolakannya.' gumam Adi dalam benaknya.


Namun, ia langsung keluar dari kamarnya dan menemui istrinya yang tengah mencuci beras.


'Bissmilah.' gumamnya begitu pelan, lalu melanjutkan langkah kakinya untuk menemui istrinya.


"Ekhem…." Adi berdekhem untuk menarik perhatian Adinda.


Benar saja, Adinda langsung mencari sumber suara.


Adinda melanjutkan aktivitasnya lagi, setelah mengetahui bahwa suaminya berada di dapur, "Ada apa?" tanyanya kemudian.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Adi langsung memeluk istrinya dari belakang. Dengan menekan miliknya, pada bongkahan part belakang istrinya.


Lalu Adi mengunci pergerakan istrinya, dengan pelipis yang ia tekan ke samping kanan. Sehingga membuat kepala istrinya menoleh ke arah kiri dan bibir istrinya langsung disambar olehnya.


Adinda reflek melepaskan tubuhnya dari tindakan suaminya. Setelah terlepas, ia memutar tubuhnya agar bisa melihat suaminya.


"Apa? Ngomong coba! Maen serobot-serobot aja!!!" seru Adinda penuh peringatan.


"Abang, Abang pengen Dek. Lama kita tak campur." ungkap Adi dengan memberanikan diri untuk menatap mata istrinya.


"Pengen apa?" tanya Adinda dengan berbalik badan dan melanjutkan aktivitasnya.


Adi maju satu langkah, ia kembali memeluk tubuh istrinya dengan ragu-ragu.


"Abang pengen minta hak Abang." jawab Adi tepat di telinga istrinya. Dengan ia meloloskan tali hijab yang berada di bawah dagu istrinya dan menarik hijab berwarna hitam itu begitu saja.


Adinda diam, tak merespon suaminya. Sejujurnya ia pun amat menginginkannya. Hanya saja ia masih kesal pada Adi.


"Maen sendiri aja." sahut Adinda yang membuat Adi begitu kecewa mendengarnya.


"Oh, macam itu ya Dek?" balas Adi, lalu Adinda hanya mengangguk samar.


Dengan rasa egois yang menguasai diri Adi, ditambah dengan rasa nafsu yang sudah berada di ujung kepala intinya. Membuat Adi langsung membawa Adinda dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Abang ngapain sih!!! Kan aku tak mau." sewot Adinda setelah Adi membaringkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ssttttttt….." ucap Adi, agar Adinda diam dan tak mengeluarkan protes lagi.


Adi langsung mengungkung istrinya, kemudian mengunci pandangan istrinya. Dengan satu tangannya lagi, ia gunakan untuk mengeluarkan miliknya.


Adinda melengos, saat Adi hendak mencium bibir istrinya. Dengan demikian, membuat Adi langsung mengincar leher jenjang istrinya.


Adi membubuhkan beberapa tanda merah di sana, lalu berlanjut ia menegakkan tubuhnya dengan langsung meloloskan kaosnya.


Adi begitu buas, terlihat Adinda yang kewalahan karena mendapat serangan dari suaminya.


Sampai wajah Adi tepat berada di depan milik Adinda, dan bersiap menjulurkan lidahnya.


"Uhhhhhhhhh……" lengguhan Adinda, saat Adi menyapu daging kecil yang rupanya sudah mengeras tersebut.


Ia ingin membuat istrinya benar-benar menginginkannya. Sampai ia mempertahankan kepalanya tetap di inti istrinya, hingga beberapa saat. Namun, Adinda sejauh ini tak menolak atau memohon untuk disegerakan. Membuat Adi ragu sendiri untuk melanjutkan aksinya.


"Boleh Abang masuki, Dek?" tanya Adi setelah menegakkan tubuhnya, lalu beralih mencium mata istrinya yang terpejam.


Adinda membuka matanya dan langsung menemukan manik suaminya, yang tengah memandangnya penuh harap.


Ia berpikir sejenak, Adi pun memahami pandangan mata istrinya yang terlihat sedang dilema.


Adi berinsiatif untuk menggesekan kepala intinya di permukaan milik istrinya saja, sembari menunggu jawaban dari istrinya.


"Boleh tak Abang masuki, Dek?" tanya Adi kembali, terlihat urat wajah Adi yang sudah sangat tidak sabaran. Namun, ia tetap ingin meminta persetujuan dari istrinya. Ia tak mau memaksa dan membuat istrinya semakin marah padanya.


Lelah menunggu dengan rasa sabar yang semakin mengikis. Adi mulai mendorong miliknya ke daging keras istrinya.


Membuat Adinda merasa geli bercampur nyeri, karena daerah sensitifnya ditekan dengan benda tumpul yang mengeras tersebut.


Adi sengaja tak menekan langsung pada goa kenikmatan Adinda, karena ia sadar. Ia tak akan bisa mencabutnya kembali, saat mulai membelah milik Adinda.


Adi menggelengkan kepalanya berkali-kali, dengan memejamkan matanya. Mencoba menikmati gesekan di luar inti istrinya.


Keringatnya sudah membasahi pelipisnya, karena siksaan yang istrinya berikan padanya tersebut.


"Dinda, tatap mata Abang… Sayang.. " ungkap Adi tepat di depan wajah istrinya. Karena Adinda membuang muka ke samping kanan.


......................


Aduh Hay 😆

__ADS_1


Pegangan ya, awas oleng 😝


__ADS_2