
Aku bisa bertahan dengan masalah berat ini, jika aku menikmatinya sedikit. Agar aku lebih tenang dalam menyikapi suatu masalah.
Tapi bagaimana jika aku malah kecanduan?
Barang itu terjatuh, saat seseorang menepuk bahuku.
"Dipanggil-panggil diam aja. Ngobrolin apa, Bang?" tanya Dinda dengan senyumannya.
"Ya ampun, Dek. Baru juga abangnya keluar. Udah dicariin aja." sahut kawanku, sipemilik barang itu.
Aku mengambil linting daun yang terjatuh tersebut, dan memberikannya pada pemiliknya kembali.
"Ambil balik aja. Aku udah lama tak makek." ucapku padanya.
Lalu aku membawa Dinda dalam rangkulan tanganku, dan pergi dari tempat itu. Terdengar beberapa suara siulan yang bersahutan.
Karena dalam seumur hidupku, aku hanya berani mesra di ruang publik. Hanya dengan istriku saja, Adinda. Mungkin mereka pun baru melihatku demikian.
"Maaf ya, Sayang." ucapku setelah aku melewati gerbang rumahku. Lalu aku mencium pucuk kepalanya sekilas.
Aku merasa sangat bersalah padanya. Dengan aku kembali menghisap, orang yang paling dirugikan adalah dirinya. Belum lagi dia pasti akan meninggalkan aku tanpa pikir panjang lagi. Dan aku khawatir anak-anakku mengikuti jejak burukku. Amit-amit pokoknya, jangan sampai.
"Kenapa, Bang?" tanya Dinda heran.
"Tak apa. Ada apa, Dek? Givan tidur di kamar. Abang tak nyaman di rumah ada dua betina itu, berisik aja mereka." ucapku kemudian. Dengan masih merangkulnya mesra.
"Itu mereka mau pamit pulang. Makanya aku panggilin Abang." sahut Dinda, dengan melepaskan rangkulan tanganku. Karena mereka berdua tengah memperhatikan kami dari teras rumahku.
"Ekhmmm, mesra betul kalian. Aku jadi pengen kawin lagi." ujar Sukma dengan menutupi wajahnya. Kami semua tertawa pelan mendengarnya.
"Sering kabarin Akak ya, Dek. Akak tinggal di kota ini kok." tutur Sukma dengan bercipika-cipika ria.
"Mau sun tak, Di?" tanya Sukma. Sontak aku langsung menggeleng cepat. Sungkan betul aku diciumnya.
__ADS_1
"Lihat boleh, sentuh jangan!" ucap Dinda memberi peringatan pada mereka berdua. Kami terkekeh geli mendengar ucapan Dinda.
"Colek boleh tak?" tanya Nurul, dengan posisi telunjuk yang siap mencolekku.
"Aku tak ridho lahir batin ya, Kak. Berani Akak colek-colek, aku colek balik Akak pakek ranting pohon." ancam Dinda tak main-main. Aku jadi semakin takut saja untuk mengungkapkannya.
"Ok, ok. Jaga baik-baik jantan kau. Kita balik dulu, ya. Byeee…." ucap Nurul. Lalu Sukma mengucapkan salam, dan mereka pergi meninggalkan halaman rumahku. Setelah kami menyahuti salam dari mereka.
Aku merangkul mesra istriku, aku membawanya untuk masuk ke rumah. Aku masih sakit kepala, aku ingin dimanjanya. Syukur-syukur aku dapat jatah.
"Dek, Abang sakit kepala." ujarku lemah. Setelah kami sampai di kamar.
Aku membuka kemejaku, dan celananya. Aku menarik sarung yang subuh tadi aku kenakan. Lalu aku memakainya kembali.
"Karena itu? Apa hal lain?" tanya Dinda dengan melepaskan kerudung dan pakaiannya. Ia mengganti pakaiannya, dengan kemejaku yang lain. Seingatku, aku memakai kemeja itu, saat shalat jum'at kemarin.
"Tak tau. Memang udah cukup lama sering sakit kepala sebelah." jawabku dengan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
Lalu Dinda menyusulku naik ke atas tempat tidur. Hanya saja ia tak merebahkan tubuhnya, ia duduk bersandar pada kepala ranjang.
Lalu Dinda mulai memijat lembut pelipisku. Ini terasa nyaman sekali, aku jadi mengantuk dibuatnya.
"Ngomong apa tadi kak Nurul?" tanya Dinda. Sudah pasti dia akan membuatku bercerita.
"Yang tadi di tempat makan?" sahutku bertanya balik. Dinda langsung menganggukkan kepalanya.
Aku mulai bercerita, tanpa ada yang aku tutup-tutupi. Dinda terlihat menyimak ceritaku, dengan dirinya sesekali menganggukkan kepalanya.
"Memang sesusah itu ya jadi model?" tanya Dinda kemudian.
"Tak tau pasti, Dek. Dulu Abang cari info ke kawan-kawan, katanya harus ikut audisi di kota M. Nanti jadi brand ambassador gitu, atau apalah. Tapi si Nurul itu ogah-ogahan, pas Abang bilang macam itu. Katanya sulit betul kalau mesti ikut audisi. Saingan banyak lah, apa lah." jelasku padanya. Dinda tak cemburu, jika aku bercerita macam ini. Kalau aku, pasti moodku langsung berubah buruk.
"Aku dulu pernah jadi model baju batik. Pernah jadi model baju buatan lokal juga." ungkap Dinda. Jelas itu membuatku terkejut, jangan-jangan istriku pernah jadi santapan para calo model lagi.
__ADS_1
"Yang betul? Terus Adek diapain?" sahutku dengan bangkit dari posisiku. Dan menghadap padanya, agar lebih jelas melihat perubahan ekspresi di wajahnya.
"Difoto, buat dijadikan spanduk. Sama ditebar di sosial media. Waktu aku ikut pakaian M*** B*******, tapi bayarannya kecil. Cuma menang aku dapat bajunya juga. Waktu ikut batik lumayan, cuma capek soalnya harus ikut event acara itu. Aku pun tak terlalu tertarik sama dunia permodelan. Lepas itu aku lebih dikenal, soalnya sering post tempat wisata sama post tempat makan yang rame orang datang. Followers naik, ditambah aku udah punya nama karena nulis kan. Jadi banyak tawaran untuk storyin dagangan mereka. Apa tuh namanya, aku lupa." ungkap Dinda bercerita panjang lebar. Oh, aku bisa menyimpulkan. Bahwa istriku tak dipakek oleh para calo model.
"Apa tuh? Selebrg*am?" balasku sambil memikir. Dinda sering sekali lupa dengan sebutan macam itu.
"Selesai apa ya bahasa Inggrisnya? End.. endorse, Bang. Ya ampun, itu aja tak ketemu-ketemu." ujarnya kemudian. Lalu kami tertawa cekikikan bersama.
"Nah, lepas itu.. Aku kesandung kasus penancapan obeng itu. Terus nama aku redup, karena aku off dari sosial media hampir satu bulan lebih. Sebetulnya aku tak sampek satu bulan di sel. Tapi proses sidang itu yang nyita waktu, mana setelah itu repot karena harus wajib lapor. Ikuti pemeriksaan berjam-jam, dan tes ini itu soalnya aku dibilang pemakai. Untungnya kabar buruk itu tak sampek denger di telinganya Mahendra, jadi Givan tak diambil sama dia. Waktu itu bang Haris yang ngurus itu semua. Sampek dadakan dia ambil dua pengasuh, untuk ngasuh Givan, Ken, sama Kin." ungkapnya sejenak mengambil nafas. Pantaslah dulu Haris begitu marah, saat mengetahui aku sering menyumbui Dinda.
"Waktu itu aku bangkrut bener-bener bangkrut. Tak ada pemasukan total, sampek aku rela jadi koki di kedai kopi itu. Eh untungnya ketemu juragan tanah, yang berani bayar lima belas juta. Kesempatan kan aku." lanjutnya, lalu ia terkekeh kecil.
"Dasar, mana Abang ngasih aja lagi. Udah nampak padahal, Dek. Bahwa Abang mabok Adek dari waktu itu." balasku menimpali
"Masa, Bang? Aku tak ngeh dari kapan Abang suka sama aku. Aku cuma ingat nafsunya Abang, kalau liat aku." sahutnya kemudian.
"Sembarangan! Emang nafsu aja? Adek tak bisa nampak kah pandangan yang penuh cinta ini?" tuturku, namun ia langsung menggelengkan kepalanya. Benarkah dulu aku lebih cenderung nafsu ketimbang cinta?
Oh, jadi seperti itu kilas peristiwa kehidupannya. Itu hanya sepenggal saja, belum full version.
Aku jadi memikirkan nasibnya jika harus menjadi janda kembali. Pokoknya Adindaku tak akan pernah jadi janda kembali. Pernikahanku dan dia harga mati, aku harus bisa memperjuangkannya.
"Adek lepas cerai dulu langsung terkenal?" tanyaku ingin tahu lebih.
Dinda menggelengkan kepalanya, "Tak Bang. Aku dulu sempat jadi buruh pabrik, pas masih digantung sama Mahendra. Tak bisa aku kerja di shift, apa lagi aku punya anak dan aku baru tau kalau aku lagi hamil. Terus aku keluar dari pabrik. Waktu itu aku udah nyambi nulis juga, banyak tawaran untuk cetak fisik novel aku. Aku ragu, karena aku masih pemula dalam dunia literasi. Tapi katanya tak apa, coba dulu. Eh tak taunya sampek difilmkan, tapi cuma tayang di yo*t*be. Setting lokasinya di provinsi A. Makanya aku sedikit bisa bahasa daerah sini. Jadi aku tiba-tiba mendadak jadi OKB. Tapi itulah, aku kehilangan adiknya Givan. Pas balik dari provinsi A, entah karena pesawat atau karena perjalanan di mobilnya. Usia kandungan kurang lebih 14 minggu, aku udah bocor ketuban. Untung katanya masih bisa ditanggulangi. Tapi bencana datang dari Mahendra. Aku banyak beban pikiran, dibuatnya aku nangis tiap waktu. Sampek tiba-tiba aku pendarahan hebat, dan udah tak ingat apa-apa lagi." jawabnya bercerita. Aku jadi semakin penasaran. Ia mengatakan perceraiannya dulu, karena dirinya yang bermasalah. Tapi sekarang ia mengatakan, bahwa bencana datang dengan Mahendra. Aku harus sabar, agar Dinda bisa menjelaskan ceritanya sendiri.
Mood Dinda tengah baik jika habis jalan-jalan macam ini. Dia pelipur hatiku, pelipur beban pikiranku. Mendengarkannya berceloteh, membuat senyumku kembali merekah. Membuat sakit kepalku berangsur mereda. Bodohnya aku, sampai berniat menghisap kembali tadi. Untungnya tak jadi, bisa-bisa aku dadakan kecanduan, kalau Dinda telat datang sedikit saja.
"Tapi aku pas itu masih jelek, tak selicin ini Bang. Gigi aku jelek, tak serapih ini. Abang dapat aku barang palsu. Banyak yang aku permak demi kepercayaan diri aku sendiri." ujarnya kembali, namun ia tak melanjutkan kalimatnya tentang Mahendra. Biarlah Dinda perlahan membuka sendiri cerita kehidupannya, karena ia sangat susah jika diminta untuk bercerita.
Kalau hanya itu, jelas aku tahu. Demi ingin tahu tentangnya, aku setiap hari menstalking sosial media miliknya.
"Dada juga dipermak ya? Abang nampak difoto lama Adek. Dadanya dulu pernah besar. Terus pas foto sama Givan kecil, dadanya sedang hampir dibilang kecil lah. Terus pas mulai dikenal lagi, dadanya ok lagi sampek sekarang. Hayo, pasang implan dada ya?" tuduhku dengan menunjuk pada dirinya.
__ADS_1
TBC.
Ati-ati deh kalau dapat laki-laki macam Adi 😆 Segala distalking lah 🤭