
Aku hanya terdiam memperhatikan mereka semua. Dengan adanya Maya dan ibu Rokhayah di sini. Jangan-jangan mereka tengah membicarakan anakku yang berada di dalam kandungan Maya.
Kalau benar macam itu, artinya memang mulut Maya tak bisa dipercaya.
"Sini, duduk." ucap ayahku menyuruhku duduk di sebelahnya.
Aku langsung berjalan dan duduk di tempat yang ayah minta.
"Ayah tak pernah mengajarkan kau untuk jadi pengecut macam ini. Jika memang kau merasa berbuat, kenapa kau malah melemparkan tanggung jawab kau. Betul kau nyuruh seseorang buat tanggung jawab, atas anak yang Maya kandung?" jelas ayah. Sudah kuduga pasti ini masalahnya. Pikiranku langsung membayangkan Dinda yang menangis sesenggukan, dengan menunjuk benci padaku.
Mungkin aku memang tak waras. Aku malah lebih memikirkan nasib Adindaku, ketimbang nasib Maya dan anaknya.
Setelahnya, aku hanya mengangguk pasrah. Karena memang itulah kebenarannya.
"Kau berbuat?" tanya ayah. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Itu anak kau?" lanjut ayah yang kuangguki lagi.
"Lalu kenapa kau malah seegois itu? Kau tak pikirkan macam mana nanti nasib anak kau? Kau tak pikirkan tentang perasaan Maya?" ujar ayah yang sepertinya begitu marah. Terdengar dari ucapannya yang tak menyebutku dengan sebutan Abang lagi.
"Sebetulnya, Abang…" jawabku ragu, apa sebaiknya aku ungkapkan saja tentang pernikahanku dengan Dinda.
"Mana KTP kau?" sela ayah. Sepertinya sekarang bukan waktunya untukku ceritakan tentang hubunganku dengan Dinda.
Aku merogoh dompetku, dan mengeluarkan KTP milikku. Jelas statusku di sini tertulis, belum kawin. Karena memang aku dan Dinda hanya menikah agama saja.
"Memang untuk apa, Yah?" tanyaku dengan menyerahkan KTPku.
"Proses pernikahan kau dan Maya." jawab ayah kemudian.
Mataku langsung membulat sempurna, jantungku serasa ditikam. Dan terasa begitu sakit di ulu hatiku.
Aku menghela napas sebanyak mungkin, begitu sesak kurasakan. Bagaimana ini? Bagaimana nasib pernikahanku dengan Dinda? Aku tak mungkin mengatakan padanya, jika aku ingin menikah lagi. Aku tak mungkin bisa menjatuhkan talak pada Adindaku. Aku tak mungkin bisa untuk meninggalkannya. Dia hidupku, dialah semangatku.
Aku hanya terdiam membisu, mendengar percakapan ayah dan ibu Rokhayah yang membahas tanggal pernikahanku dan Maya.
Segala bayangan buruk tentang kehidupanku tanpa Dinda dan Givan terlintas di kepalaku. Aku tak sanggup, aku tak akan pernah bisa hidup tanpa mereka.
Mataku memanas, ulu hatiku begitu sesak. Menahan rasa yang akan segera tumpah melalui netraku.
__ADS_1
Aku mengencangkan rahangku, agar aku tak sampai membuat diriku malu di depan keluargaku. Namun apa, nafasku malah menyempit. Dan mataku perlahan terpejam, dengan air mata yang berhasil lolos dari pelapuk mata yang sedari tadi membendungnya.
Tubuhku melemah dengan perlahan ambruk dalam posisi tersungkur.
Semoga ini hanya mimpi. Semoga saat mataku terbuka kembali, aku sudah berada di sisi anak istriku yang begitu aku rindukan.
"ADIIIIII…." suara terakhir yang bisa kudengar.
~
~
~
Mataku terbuka perlahan, aku membiasakan diri dari cahaya yang masuk ke dalam. . . kamarku. Betulkah aku sampai tak sadarkan diri, hanya karena membayangkan hidupku tanpa Dinda dan Givan?
Aku merasakan leherku begitu sakit. Aku menggeliatkan tubuhku perlahan. Dan menoleh pada seseorang yang duduk di sisiku.
"Nih, minum dulu." ucap umi dengan membantuku bangkit dari posisiku.
Aku menyambut gelas berisi air itu, dan meminumnya sedikit. Lalu aku merebahkan diriku lagi, di tempat tidurku ini. Tempat tidur yang menjadi tempat pertama kali aku menyumbui Dinda, dan saat itu pula aku mengetahui warna rambut Dinda yang sengaja diwarnai di balik hijabnya.
"Kenapa pas denger mau dinikahin langsung pingsan aja? Abang mikirin apa?" tanya umiku dengan memijat kepalaku, terasa begitu nyaman aku merasakannya.
Belum lagi permasalahannya sekarang begitu rumit, pasti umi akan memintaku untuk menceraikan Dinda. Dan tetap akan memaksaku untuk bertanggung jawab pada Maya.
"Bang…" panggil umi saat aku kedapatan tengah melamun.
"Abang belum siap menikah dengan Maya. Abang tak mau menikah, hanya karena Maya hamil." jawabku sambil menatap kosong jendela kamarku, yang tertutup tirai putih menerawang.
"Terus mau nunggu anak itu dilahirkan dulu? Abang tak kasian sama Maya? Abang yakin mau mempermalukan keluarga ibu Rokhayah, pasti berimbas pada keluarga kita juga." sahut umi dengan halus. Aku paham, umi seperti ini hanya agar aku membuka mulut dan bercerita saja. Aku tahu bagaimana umiku.
"Percuma aku nikahin dia juga. Nashab anaknya tetap ikut Maya. Sekalipun Abang ayah biologis anak itu." balasku yang mengingat kembali tentang nasihat Dinda, saat aku membujuknya untuk menanam benihku pada rahimnya.
"Nah tuh, Abang tau hukumnya. Tapi kenapa malah macam itu." ujar umi dengan menjewer telingaku pelan.
"Entahlah Umi, Abang pun masih kurang yakin." tuturku dengan melepaskan jeweran umi di telingaku. Dan tidur menyamping, dengan memunggugi umi.
"Sama halnya waktu Edi. Tapi bedanya adik kau tak lari dari tanggung jawab." tukas umi yang sengaja menyindirku.
__ADS_1
Kemudian umi lanjut menasehatiku. Aku hanya sesekali menyahut, mengangguk dan menggelengkan kepalanya saja untuk merespon umi.
Dan umi juga memberitahukanku, bahwa aku dan Maya akan menikah dua hari lagi. Ya secepat itu, dan semudah itu.
Mengelak seperti apa pun rasanya percuma. Lari sekali pun rasanya tak mungkin. Karena orang tuaku terlanjur mengetahui ini semua.
~
Saat malam tiba, aku mencoba menghubungi istriku. Aku amat merindukannya. Aku ingin sekali dimarahinya, saat menduduki tempat duduknya. Sungguh, aku lebih baik melihatnya memarahiku. Dari pada melihatnya menangis karenaku.
Namun sepertinya amarah Dinda tak main-main. Ia betul tak mengangkat panggilan telepon dariku.
Bagaimana aku akan pulang nanti? Dan apa alasan yang harus aku berikan pada Maya? Dan aku harus berbohong apa lagi pada Dinda? Rasanya aku takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada Dinda. Tapi aku berat, jika harus membohonginya lebih jauh.
Rasanya aku mau gantung diri saja. Tapi jika aku mati, Dinda malah akan menjadi janda kembali. Dan aku tak menginginkan itu.
Aku begitu putus asa menyikapi ini semua. Sebetulnya aku tak mau menikahi Maya. Dan aku pun tak mau meninggalkan Dinda juga. Aku membayangkan betapa kacaunya Dinda saat ia mengetahui dirinya dimadu. Sungguh, dek. Abang pun tak berkenandak atas semua ini.
~
~
~
Ini adalah hari yang sudah ditentukan. Hari di mana aku akan mengucapkan qobul untuk Maya.
Selama dua hari ini aku mengurung diri di kamar. Aku keluar kamar hanya untuk mandi dan mengambil wudhu. Untuk makanan, umi selalu mengantarkannya ke kamarku.
Pernikahan yang dilangsungkan dengan sederhana ini, hanya dihadiri oleh keluarga Maya dan keluargaku saja.
Tak ada rasa deg-degan, aku tak tegang. Tak gemetaran juga. Aku menyikapi ini dengan biasa saja. Karena memang aku tak merasakan apapun. Pikiranku hanya tertuju pada Adinda yang beberapa hari tak kuhubungi. Aku takut keceplosan, dan mengatakan bahwa aku akan menikah dengan Maya.
Dinda pun entah mengapa, masih enggan untuk menghubungiku.
Aku dan keluargaku, berjalan beriringan menuju ke rumah ibu Rokhayah. Karena di situlah akan dilakukan ijab qobulnya.
TBC.
Sialan kau, Di! 😫
__ADS_1
Tapi aku kasian juga sama kau. Mana sampek pingsan-pingsan lagi. Laki-laki tak selemah itu. Tapi kenapa kau bisa selemah itu? Jika sudah ada sangkut pautnya dengan Adindamu.
Semoga keajaiban datang 😭