
Aku memperhatikan mutasi yang tercetak di buku rekeningku. Memang Dinda juga mengendalikan rekening yang aku pegang. Karena sumber dana keuangannya, awalnya bersumber dari buku rekeningku ini. Ditambah lagi sebelumnya aku membuatkan surat kuasa atas nama Dinda, pada bank yang bersangkutan. Jadi dia bebas mengakses buku tabunganku. Aku terdiam sejenak. Memikirkan alasan yang tepat.
"Kirim ke Seila itu. Abang buat beli perhiasan buat Adek. Abang pengen kasih surprise buat Adek. Tapi Abang lupa taruh di mana. Mana mata perhiasan itu dari berlian, Dek. Abang beli di Seila yang barusan datang itu. Orang tuanya punya bisnis perhiasan, sekarang pun Seila ikut jejak orang tuanya." ungkapku jujur. Semoga saja setelah aku mengalihkan pembicaraan tentang Seila. Dinda lupa untuk bertanya kenapa aku kirim uang pada Maya.
"Bohong." sahutnya memanyunkan bibirnya.
"Betul, Sayang. Adek tau macam mana sifat Abang. Yang dulu Adek bilang Abang pelit itu. Sebetulnya Abang bukan pelit, tapi memang sedikit perhitungan aja. Harusnya Adek paham dari situ. Dengan sifat Abang yang macam itu. Rasanya tak mungkin, Abang bagi-bagi uang pada orang tanpa alasan yang jelas." jelasku padanya.
"Jadi kotak warna dongker itu buat aku? Bukan buat simpanan Abang?" tanyanya yang langsung kuangguki.
"Iya, Sayang. Bukanlah, Abang mana punya simpanan." jawabku lembut, berharap Dinda melupakan pertanyaannya tentang Maya.
"Maaf ya. Akhir-akhir ini aku tak mau layanin Abang. Aku cemburu tak jelas, pas liat di saku jaket Abang ada kotak perhiasan itu. Soalnya setelahnya Abang tak nanyain kotak itu. Jadi aku yakin, kotak itu bukan buat aku. Melainkan memang buat simpanan Abang." ungkapnya dengan memelukku erat.
Istriku sepandai itu. Ia tak memberiku jatah dari kemarin gara-gara kotak perhiasan itu. Pandai juga dia sampai datang ke bank untuk mencetak mutasi keuanganku.
Semoga rekeningku, yang ada jejak aku mengirimkan sejumlah uang pada Haris tak sempat diperiksanya juga. Bisa repot urusannya, apa lagi kalau sampai ia langsung bertanya pada Haris.
"Abang tak tanya, sengaja karena mau bikin surprise buat Dinda. Berharap Abang inget di mana Abang simpan. Terus Abang kasiin ke Adek." ucapku dengan mengelus surainya yang terawat juga.
"Maaf ya Bang. Pasti tidur Abang tak nyenyak. Kepala Abang pun pasti sering sakit, gara-gara nahan itu." ujarnya, dengan mendongakan kepalanya.
Aku sebetulnya ngeri juga membayangkannya. Bagaimana nanti kalau ia tau di madu? Aku khawatir ia tak mau kutiduri lagi.
"Lain kali tanya dulu, ok? Pastikan dulu. Jangan langsung tak bagi Abang jatah. Abang tersiksa loh, Dek." sahutku dengan membingkai wajahnya.
Dinda mengangguk mengerti. Aku langsung mencium bibir istriku sekilas. Dan kemudian aku berkata padanya, "Gih ambil perhiasannya. Abang pakekkan."
Dinda mengiyakan, dan langsung berjalan menuju kamar. Pantas saja kotak itu tak aku temukan. Eh, tak taunya disimpan oleh istriku.
Tak lama dia kembali, dengan kotak perhiasan berwarna dongker di tangannya.
"Nih, Bang." ucapnya, dengan memberiku kotaknya.
"Abang pakekkan, ya?" sahutku, yang mendapat anggukan darinya.
__ADS_1
Aku langsung membuka kotak perhiasan itu, dan mengambil kalung bermatakan berlian kecil itu. Segera aku pasangkan pada sang pemilik perhiasan itu. Istriku tercinta, Adinda.
"Coba tengok sertifikatnya." ujarku, dengan menyibakkannya busa untuk dudukan kalung tadi. Dan aku mengambil secarik surat yang cukup tebal dari dalam sana.
Dinda mengangguk, dan menoleh padaku dengan tersenyum manis. Pastilah tersenyum, ini berlian. Coba emas, pasti dia enggan memakainya.
"Sering-sering ya, Bang." tuturnya kemudian. Aku mengangguk dengan terkekeh geli. Dasar betina!
"Jadi, malam ini Abang dapat dong Dek." tukasku dengan tersenyum penuh arti. Aku sudah tak bisa berbasa-basi lagi. Rasanya cairanku sepertinya sudah berubah menjadi agar-agar.
"Tunggu dulu. Aku mau cerita." ucapnya, menahan tanganku yang akan merengkuh tubuhnya.
"Cerita apa lagi, Dek?" tanyaku sedikit ketus. Aku sebetulnya kesal, kenapa ia mengundur-ngundur waktu terus.
"Yang jadi dokter kecantikan tadi itu… Nurul Hikmah, mantan Abang." ungkapnya membuatku kaget.
"Biasa aja dong." lanjutnya, dengan meraup wajahku dengan tangannya.
"Itukan tempat Adek biasa perawatan. Kok Adek baru tau sekarang?" tanyaku padanya. Pantas saja tadi dia bertanya tentang Nurul, saat ia baru sampai tadi.
"Padahal dulu dia jadi model." sahutku sambil menyibakkan roknya. Dan mengelus pahanya. Aku ingin sekali bersarang. Segala ngajak ngobrol dulu lah Dinda ini. Mengulur-ulur waktuku saja dari tadi.
"Mantan Abang kok cantik-cantik kali. Aku jadi minder." balasnya, tanpa terganggu dengan tanganku yang meraba-raba pahanya.
"Itu Shasha biasa aja." ujarku, dengan merapatkan tubuhku padanya.
"Oh, iya. Heh Bang, Abang tau tak?" ucapnya, dengan menepuk tanganku yang tadi sempat meraba selang*angannya.
"Hm, tak tau." jawabku asal cepat. Aku ingin segera menyudahi sesi mengobrol ini. Namun dari nada suaranya, Dinda sepertinya akan mengajakku berghibah kembali. Tadi kami sudah menghibahkan Haris dan Sukma. Sekarang entah siapa lagi yang akan ia bicarakan.
"Kak Shasha jadi janda, suaminya turunin talak kemarin." sahutnya dengan nada bicara yang ia rendahkan.
"Hah? Perempuan hamil mana bisa diceraikan. Istri hamil, istri yang baru disetubuhi, istri nifas dan lagi haid tak bisa dijatuhkan talak setau Abang." balasku, yang terpaksa mengurungkan niat jariku yang akan masuk dalam lubang kenikmatannya tadi.
"Memang begitu?" tanya Dinda terdengar heran. Aku mengangguk mantap.
__ADS_1
"Aku ditalak Mahendra, pas lagi nifas adiknya Givan yang keguguran itu." jelasnya dengan memperhatikan wajahku.
"Berarti dulu, talak dia tak sah ya Bang?" lanjutnya membuat moodku kacau.
"Sahhhhhhh. Kan sekarang Adek udah jadi istri Abang. Udah hamil anak Abang juga. Jadi tak payah bahas-bahas Mahendra lagi." seruku menegaskan. Lalu aku mematikan televisi. Dan membawanya dalam gendonganku.
Dalam gendongan mesraku, aku langsung meraup bibirnya. Menyesapi sisa rasa buah, yang tersisa di mulutnya. Dan aku membawanya ke kamar yang bersebrangan dengan kamar yang kami bertiga tempati.
"Tak sabaran betul. Main langsung angkat-angkat aja." ucapnya, setelah aku meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu aku langsung membuka baju, beserta sarungku. Dan meloloskan celana dalamku juga. Pandangan Dinda langsung tertuju pada Adi's birdku. Ia tersenyum samar dengan menggelengkan kepalanya.
"Pegang, Dek." pintaku dengan meraih tangannya, dan mengarahkannya pada Adi's bird yang sudah mengacung keras.
Dan aku langsung menindihinya, dengan bertumpu pada lututku dan siku tanganku.
"Heran Abang. Cuma Adek tinggal ngangkang aja tapi banyak cakap betul. Segala ngajakin ngobrol tak udah-udah." ucapku tepat di depan wajahnya.
Dinda terkekeh kecil, dengan menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Aku memang tak lagi berselera." sahutnya kemudian.
"Memang biasanya macam mana? Tak berselera alasan aja." balasku yang langsung mengajaknya berciuman. Karena biasanya pun aku akan merangsangnya habis-habisan. Kenapa dengan Adindaku? Kenapa pikiranku tertuju pada Maya. Di sana Maya yang teramat menginginkanku sekali, dan aku yang selalu menolaknya. Kini giliranku yang ditolak Dinda, padahal aku amat menginginkannya sekali.
"Aww, jangan remas terlalu kuat. Sakit loh ini Bang." ujarnya protes. Saat tanganku bermain di atas tutup tekonya, yang masih terbungkus rapih.
Ok, aku menurutinya. Aku tak meremasnya, aku hanya merabanya dan memilin pucuknya saja.
"Aduh, jangan dipilin. Aku tak nyaman." protesnya kembali. Laku aku harus macam mana? Remas tak boleh, dipilin tak boleh. Apa ia tak tahu, bahwa aku begitu gemas dengan tutup tekonya gandanya itu.
Aku menghela nafasku, dan menegakkan tubuhku.
TBC.
Sepandai itu laki-laki mengalihkan pembicaraan. Agar Dinda lupa untuk tanya tentang Maya.
Hmm, masih aman nampaknya rahasia itu. Tapi aku yakin Dinda mulai curiga.
__ADS_1
Apa nih? Adi keburu kesal kah? Terus maksain ngajak Ng W? 😆