
ADI POV
Apa ini? Dinda bermain aplikasi video berlatar musik. Dinda mainan toktok, rasanya aku ingin menelannya hidup-hidup.
Saat aku membuka akunnya, ia memiliki beberapa video buatannya sendiri. Dan terlebih lagi, aku pun ada di sana.
Aduh, bisa mati aku kalau umi tau ternyata aku hidup bersama Dinda.
"Ada apa, Bang?" tanya Dinda yang membuatku terhenyak kaget.
"Sini duduk!" pintaku dengan menepuk tempat di sebelahku.
Dinda langsung menduduki tempat di sebelahku. Dan ia langsung bersandar pada bahuku.
"Dek…"
"Hmm, apa Bang?" sahut Dinda, saat mendengar panggilanku. Ia menoleh pada layar ponselnya yang tengah aku mainkan.
"Adek maenan ini?" ucapku. Ia tak mengelak sedikit pun, ia langsung mengangguk mengiyakan. Ya ampun, Dinda. Apa ia tak tahu, bahwa suaminya tengah ketar-ketir macam ini.
"Ada Abang di sini. Adek kapan buat?" tanyaku padanya.
"Aku edit. Itu video seru-seruan kita, terus aku masukin ke situ." jawabnya kemudian.
"Kenapa Abang Adek publish? Kan sebelumnya kita udah sepakat, bahwa tak usah publish satu sama lain. Takut-takut…" ucapku belum selesai. Namun ia langsung mengambil ponselnya yang berada di tanganku, dan ia mengajak anaknya pulang.
"Yuk Bang, pulang aja." ajaknya pada anaknya. Lalu mereka berdua pergi, meninggalkan aku sendirian di tempat makan ini.
Aku langsung bergegas mengikuti langkah kaki mereka. Yang benar saja, masa ia aku ditinggalnya. Aku bahkan tak memegang uang sepeserpun, untungnya tadi Dinda belum sempat memesan. Dan aku pun masih memilih menu, namun terganggu dengan bunyi notifikasi dari ponsel Dinda.
Kalau malu, jelas aku malu sekali. Mana tempat tadi ramai sekali.
"Dek… Adek…" panggilku berulang. Sepertinya aku dan Dinda akan perang lagi di rumah. Haduh... rasanya aku mau menyerah pada kehidupan ini, jika sudah cekcok dengan istriku-Adinda.
Aku berlari kecil, untuk bisa menyetarakan langkah kakiku.
Aku langsung menggenggam tangannya erat. Sampai beberapa kali ia mencoba menghempaskan pun, masih tak terlepas. Mungkin tangganya akan sedikit memerah, jika aku melepaskannya nanti.
__ADS_1
"Maaf, Sayang. Marah ya?" tanyaku pelan. Karena kami masih berada di sekitar mall.
"Pikir aja sendiri!" sahutnya ketus.
Setelah kami berada di parkiran mobil. Ia meminta kunci mobilku. Aku berfirasat, aku akan ditinggalkannya.
"Mana kuncinya?" ucapnya berulang, dengan sorot mata tajam.
"Abang tak mau bagi. Adek mau tinggalin Abang di sini kan? Ngeri-ngeri sedap, mana Abang tak pegang uang lagi." sahutku kemudian.
Aku langsung membukakan pintu untuknya. Dan memaksanya masuk. Dengan aku langsung mengitari mobil, dan menempati ruang kemudi.
"Pah… Kita tak jadi makan kah?" tanya anakku. Ia terlihat kebingungan dengan situasi sekarang ini.
"Keknya kita makan di rumah aja, Bang." sahutku. Givan langsung mengerucutkan bibirnya, ia terlihat begitu menggemaskan. Sama seperti ibunya, tentu saja kalau ia tengah manja.
"Mana hp Papah? Sini Papah simpan." lanjutku dengan meminta ponselku.
"Hp Abang, aku yang pegang!" ujar Dinda. Aduh, bagaimana ini? Rasanya aku ingin menghilang saja. Atau kabur ke pedalaman hutan, kenapa terdengar begitu mengerikan sekali ucapan istriku? Bagaimana kalau ia sampai menemukan nomor Maya yang masuk ke dalam daftar blokir?
Sakit kepala sebelahku mulai kambuh. Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit kepala sebelah, sejak aku begitu banyak memikirkan ini itu. Dan terlebih lagi kalau sudah memikirkan tentang Adindaku.
Aku sesekali menjambak rambutku, dan memijat pelipisku. Karena sungguh, sakit kepala cukup mengganggu aktifitas menyetirku.
~
Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di rumah juga. Dinda langsung memasuki rumah, dengan mulut yang mengerucut tajam. Tak usah memasang wajah seperti itu pun, aku paham bahwa ia tengah marah. Dengan bibirnya ia majukan macam itu. Malah membuatnya nampak lucu.
"Papah, gendong." ucap anakku yang ditinggalkan ibunya di halaman rumah.
Aku langsung mengangkat tubuh Givan, dan membawanya dalam gendonganku.
"Mamah nih mau ngamuk, Abang bobo ya di kamar. Ditutup ya pintunya. Atau mainan aja di dalam kamar, pura-pura tidur gitu. Biar tak kena marah mamah." ujarku pada Givan.
"Papah kenapa sering diamuk mamah? Papah salah apa?" tanya Givan, ia masih belum mengerti apa-apa. Ia begitu polos, namun sayang sekali. Beberapa kali ia harus melihat kami beradu argumen.
"Papahnya tak nurut sama mamah. Makanya Abang yang nurut sama mamah, biar tak dimarahi macam Papah." jelasku padanya. Givan menganggukan kepalanya, tanda dirinya mengerti maksud ucapanku.
__ADS_1
Dan aku membawanya masuk ke dalam kamarnya. Aku memberinya pengertian lagi. Kemudian aku keluar dan langsung menutup pintu kamarnya.
Aku ingin segera menuntaskan masalahku dengan Dinda. Bisa-bisa aku semakin merasa sakit kepala, jika masalah ini tak kunjung diselesaikan.
Aku mencari keberadaan istriku. Sebelumnya, aku memasuki kamar mandi. Untuk menuntaskan rasa ingin buang air kecilku.
Ternyata Dinda tengah terisak di atas tempat tidur. Dengan memeluk bantal guling, yang sepertinya sudah basah oleh air matanya.
Aku menaiki tempat tidur dengan perlahan, dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang. Apa lagi yang bisa kulakukan, jika ia sudah menangis macam ini. Aku hanya bisa menenangkannya, sembari membawanya dalam dekapanku. Biarkan dia menumpahkan rasa sesaknya, dalam air matanya.
"Aku macam perempuan peliharaan. Tak sedikit yang bilang aku wanita simpanan. Apa lagi dengan beberapa fotoku akhir-akhir ini, dengan perut yang udah nampak buncit macam ini." ungkapnya dengan sesenggukan.
"Kalau macam itu, tinggal Adek tak usah unggah foto Adek lagi. Biar tenang hidup Adek, tak dihujat sana-sini." sahutku memberikan pendapatku. Sebetulnya aku pun mengetahui bahwa dirinya mendapat komentar buruk. Aku selalu membaca satu persatu, komentar netizen yang berada di unggahan foto istriku.
"Aku makhluk sosial, terus juga aku mau hiburan. Aku jenuh, aku bosan dengan aktifitas sehari-hari. Untuk maen sosial media pun aku tak boleh kah?" balasnya dengan suara kencang dan tak stabil. Tentu saja karena air matanya yang masih berderai-derai.
"No coment. Terserah Adek aja, mau publish Abang terserah. Abang udah tak bakal ngelarang lagi, yang penting tau batas. Jangan sampai orang-orang berpikiran bahwa kita ini kumpul kebo." ucapku, sebetulnya aku hanya mengancam saja. Dinda pun terlihat tengah berpikir.
Pastilah orang-orang akan berpikir macam-macam. Apa lagi sebelumnya Dinda tak pernah mengunggah foto pernikahan kami. Atau mungkin ia berniat untuk mengunggahnya? Tapi rasanya tak mungkin, karena jelas dia pasti malu jika menggunakan pakaian ala kadarnya waktu menikah. Dan foto-foto pernikahan kami pun hanya foto keluarga yang menggunakan ponsel saja, jelas kualitas fotonya tak sebagus foto-fotonya yang lain.
"Abang seneng, aku dibilang perempuan peliharaan?" tutur Dinda dengan begitu sedihnya.
"Ya tak macam itu lah, Sayang. Abang pengen hidup tentram bahagia sama Adek. Kalau dengan mereka hujat, malah bikin Adek stres. Mending kita nutup diri dari sosial media." tukasku cepat. Karena menurutku, pendapatku sudah paling benar.
"Abang tak berani kan publish aku? Takut ketahuan keluarga Abang kan?" ujarnya kemudian.
Sebetulnya iya, tapi rasanya jawabanku pasti membuatnya lebih menangis kejar.
"Kok diam aja? Abang takut ketahuan calon istrinya kah?" tanyanya yang membuat kepalaku kembali berdenyut sebelah.
Aku harus menjawab apa?
Rasanya aku pusing sekali.
TBC.
Ini scene lagi berantem ya. Tolong jangan ada yang senyum-senyum, apa lagi ketawa geli bacanya 😂
__ADS_1