
Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Adinda masih melengkungkan sudut bibirnya ke bawah, dengan air mata yang mengalir deras.
"Sakit sekali loh, Bang." ucapnya disela tangisannya. Lalu ia menghapus air matanya, dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Aku lebih sakit. Tapi aku tak nangis." ujar Givan yang berada di bangku belakang.
"He'em, Mamah tuh cengeng." sahut Adi, dengan melirik cemen pada istrinya.
"Pantaslah dulu tak pakek KB. Takut kan Adek disuntik setiap bulannya?" lanjut Adi, memulai melajukan mobilnya.
"Iyalah, Bang. Aku takut kali disuntik dokter. Mana efek KB serem betul." balas Adinda, dengan membuka jaket army yang ia kenakan.
"Yang betul coba, Dek. Nanti orang nampak Adek, macam orang gila. Pakek kerudung, tapi keteknya nampak jelas." tutur Adi tidak suka.
"Di dalam mobil ini. Aku mau tengok tangan aku tadi, aku khawatir nanti boncos pulak." tukas Adinda dengan memeriksa tempat yang sempat ditusuk jarum suntik tadi.
Adi menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya tersebut.
"Tapi Adek udah mulai nampak berisi. Tak begitu kurus macam awal-awal hamil." ucap Adi berkomentar.
"Aku bengkak maksud Abang?" tanya Adinda sewot.
"Bukan, bukan macam itu. Adek... semoxxxxx." jawab Adi, dengan melafalkan huruf x dari kerongkongannya. Ia berkata menoleh pada istrinya, dengan mengedipkan sebelah matanya. Apa lagi dengan senyum manisnya yang begitu menggoda kaum wanita.
Adinda tak merespon ucapan suaminya, ia memperhatikan Adi dari samping. Lalu ia memperhatikan penampilan dirinya, dengan jaket army yang belum ia pakai lagi. Memperlihatkan penampilannya begitu aneh.
"Abang macam belum punya anak. Mana status di KTP masih belum kawin kan? Orang mana kira Abang ternyata mau punya anak dan udah beristri." ungkap Adinda begitu saja.
Adi terdiam, perasaannya campur aduk. Adinda belum mengetahui, bahwa status dalam KTP Adi ternyata sudah menikah.
Adi tersenyum, menyamarkan perasaan kacaunya. Lalu ia menyahuti ucapan istrinya, "Adek macam gadis delapan belas tahun. Malahan pas awal Abang liat Adek, Abang kira Adek sama Givan kakak beradik. Bukan ibu dan anak."
"Masa? Abang udah suka belum sama aku? Pas pertama kali kita ketemu di depan masjid itu." balas Adinda, ia tak menaruh curiga pada sikap suaminya. Yang tersenyum kaku sedari ia melontarkan ucapannya.
"Belum lah. Tapi Abang udah mulai mikirin Adek terus. Apa lagi pas Adek akrab sama Jefri dan Haris. Abang udah nyangkanya jelek aja." ujar Adi dengan menoleh sekilas pada spion tengah. Ia melihat aktifitas anaknya, dari pantulan kaca spion.
"Oh macam itu. Aku udah mulai suka sama Abang. Pas Abang senyum manis sama aku, sambil balikin sepatu itu." tutur Adinda dengan pipi yang memerah. Ia tak menyangka, ia akhirnya bisa menikah. Dengan laki-laki yang menarik perhatiannya dulu. Laki-laki hebat, yang tanpa memberi bunga, atau cincin emas. Tapi bisa menaklukkan hati Adinda, hanya karena senyuman mautnya saja.
"Gampangan betul, disenyumin aja udah suka. Apa lagi kalauβ¦" Adi sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
"Kalau apa?" tanya Adinda penasaran.
__ADS_1
"Kalau diajak Ng W." jawab Adi lirih.
Plak...
Adi mendapatkan pukulan dari telapak tangan istrinya, tepat di paha kirinya.
"Aww⦠enak, Sayang." ucap Adi, dengan mengelus pahanya yang tak sakit seberapa.
"Dodol!" maki Adinda kesal. Tawa Adi pecah melihat istrinya kesal.
Beberapa saat terdiam, hanya terdengar deru mesin mobil Adi saja.
Berbeda dengan mobil milik Adinda, yang gasnya begitu ringan beserta deru mesinnya yang sepadan dengan kecepatannya. Mobil Adi memiliki deru mesin yang cukup mengusik telinga. Meskipun Adi membawanya tidak begitu cepat, tapi suara mobilnya lumayan kuat terdengar. Seperti mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.
"Pah, belanja ranjang aku kapan?" suara Givan memecahkan keheningan di dalam mobil tersebut.
"Sekarang juga bisa. Coba lobi mamahnya." jawab Adi kemudian.
Givan berdiri dari duduknya, dan ia mengambil tempat tepat di antara bangku Adi dan Adinda. Namun posisinya masih berada di bangku belakang.
"Mamah, Mamah Dinda pujaan hate long. Kita jalan-jalan dulu, yuk." rayu Givan yang sebelumnya sudah diajarkan oleh ayah sambungnya itu.
Adi tertawa terbahak-bahak, mendengar suara anaknya.
"Ajarin anak suruh ngerayu segala. Tak becus betul Abang." ujar Adinda sewot.
"Aku ngomong macam ini cuma sama Mamah aja." Givan menyahuti ucapan ibunya.
"Jangan ngomong macam ini. Abang masih kecil." balas ibunya, dengan sedikit memutar tubuhnya menghadap anaknya.
"Tuh Pah dengerin!" ucap Givan pada Adi.
"Berarti harus macam mana?" tanya Adi kemudian.
"Aku ngomong macam itu cuma sama Mamah aja." ujar Givan untuk ibunya lagi.
Adinda memusatkan perhatiannya pada Givan. Ia tak mengerti, kenapa anaknya malah mengulangi kalimatnya.
"Hah?" suara Adinda yang merasa bingung.
"Tadi katanya tak boleh ngomong macam ini. Jadi aku ulangin dengan macam itu." jelas Givan. Adinda terdiam memikirkan, ia masih tidak mengerti dengan maksud anaknya.
__ADS_1
Tawa Adi pecah, saat ia memahami maksud anaknya. Ia menepikan mobilnya agar lebih aman dalam menjelaskan tentang hal tadi.
"Ketawa pulak! Aku tak paham. Ngetawain apa?" tanya Adinda pada suaminya.
"Ya betul lah Givan. Tadi kan dia kata, aku ngomong macam ini cuma sama mamah aja. Adek kata, jangan ngomong macam ini. Karena Givan masih kecil. Jadi Givan ngomongnya, aku ngomong macam itu cuma sama mamah aja. Macam ininya, ia ganti dengan macam itu." jelas Adi perlahan.
Adinda baru mengerti ucapan anaknya tadi. Ia pun menyuarakan tawa renyahnya. Mereka bertiga tertawa bahagia, hanya karena guraun kecil.
Setelah selesai dengan tawanya, mereka langsung menuju ke pusat pembelanjaan. Adinda pun berencana membeli perabot baru untuk di rumah mereka. Karena menurut prediksi suaminya, rumah mereka sudah siap huni dalam waktu satu minggu lagi.
Tanpa disengaja, Adi dan Adinda melupakan orang tua masing-masing. Karena kebahagiaan yang terus menghampiri mereka. Adi yang melupakan janjinya, dan Adinda yang melupakan untuk menceritakan tentang kehidupannya sekarang pada orang tuanya.
~
Beberapa hari sudah berlalu. Dengan berdatangannya beberapa furniture, dan perabotan lainnya.
Mereka begitu sibuk, mengatur barang-barang yang ingin mereka tempatkan sesuai keinginannya. Givan pun sudah baik-baik saja. Ia sudah beraktifitas seperti biasa.
Dalam beberapa hari terdekat. Adi merencanakan untuk membuat acara syukuran, untuk rumah barunya. Namun kali ini, ia memesan makanan catering saja. Ia khawatir kejadian kemarin hari terulang kembali.
Adi melupakan seseorang yang memiliki status resmi dengannya. Karena saking takutnya ia ketahuan. Ia memblokir sementara kontak Maya. Ia yakin Maya dan anaknya pasti baik-baik saja. Jika terjadi yang tak diinginkan pun, Zulfa pasti mengabarinya.
"Lancar terus ya, Di? Tak mau coba usaha baru kah? Nampaknya sejak kau nikah, rejeki kau berlipat ganda. Mana Dinda bisa muternya pulak." ucap pamannya, Pak Akbar. Ayah dari Safar dan Liana. Seseorang yang biasa ia panggil dengan sebutan pak cek oleh Adi.
Ia sengaja datang ke ladang Adi. Karena ia pun masih ikut campur tangan dalam usaha Adi. Ia menganggap Adi sudah seperti anaknya sendiri. Apa lagi sejak ibu Meutia menikah kembali, dan Adi memilih ikut tinggal beserta kakek dan neneknya saja. Meski Adi sempat ikut dengan kakak dari ayah kandungnya saat mengemban pendidikan. Tapi jelas, Adi begitu akrab dengan keluarga besarnya.
"Alhamdulillah, Pak cek. Usaha apa Pak cek?" sahut Adi dengan memperhatikan wajah pamannya. Wajah yang begitu mirip dengan ayah kandungnya.
TBC.
Ini ceritanya berbelit-belit dan episodenya banyak, soalnya namanya novel. Kalau baru kenal terus langsung waheho terus tamat, dan habis dalam 1000 kata, itu namanya cerpen.
Atau mungkin ini kekuranganku juga? Soalnya kadang beberapa episode, setting tempatnya masih di situ aja.
Tapi jujur, aku memang nyaman nulis macam ini π
Dari season 1 pun ini cerita punya alur lambat ya. Karena memang aku gak bisa langsung kl*maks kalau baru masuk. π gak nyambung Makkkk π
Intinya alurnya lambat sekali, maen kita perlahan-lahan. Resapi dan nikmati aja. Namanya juga kan hiburan ye kan, bukan kebutuhan pokok.
Salam hangat dari author yang baik budi dan tidak sombong π₯°
__ADS_1
Sehat-sehat ya, semangat terus untuk hari-hari kalian para emak π