Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP155. Perasaan Adinda


__ADS_3

'Macam anak kecil yang pernah aku lihat dulu, tapi siapa ya? Di mana ya?' gumam pak Dodi dalam hati.


Sebenarnya anak yang pak Dodi maksud adalah, Adi kecil yang selalu dibawa-bawa oleh temannya. Yaitu pak Ali, almarhum ayah kandung Adi. Hanya saja, ingatan pak Dodi tak sekuat itu. Karena di alam bawa sadarnya, ia mempercayai bahwa Adi dan Adinda sudah tak pernah berhubungan kembali. Jadi, ia tak bisa melihat dengan nyata bahwa Ghifar begitu mirip dengan Adi. Karena hal itu, tak pernah terlintas di pikiran pak Dodi.


"Lihat, Mi. Anak orang digendongnya dari tadi, abang gak komplen. Giliran gendong Naya, udah sewot dia sama aku. Segala bilang inilah, itulah." ujar Maya pada ibu mertuanya.


"Itulah, Umi bilang gitu aja. Suami kau udah langsung masam macam itu mukanya, tak terima betul dia anak Dinda dibilang macam itu." balas ibu Meutia, dengan mengamati Adi yang berjalan ke arah pintu yang menghubungkan dengan halaman yang luas.


"Tapi kok, anak Dinda hitam ya Mi? Padahal Dinda itu bening gitu kulitnya." sahut Maya merasa heran dengan anak yang suaminya dekap tersebut, karena memiliki kulit hitam manis seperti suaminya.


"Iya ya, Naya aja bening. Padahal ayahnya hitam kek gitu." ujar ibu Meutia, yang disambut kekehan ringan dari anggota keluarganya.


Berbeda dengan Edi, ia tersenyum samar dengan menggelengkan kepalanya. Entah mengapa, pikirannya mengarah bahwa Adi tengah mendekap anaknya. Karena perhitungan waktunya tepat, sejak Adi memutuskan untuk tinggal di provinsi A dan menetap di sana. Namun, Edi tak mengungkapkan prasangkanya tersebut. Ia lebih memilih memendam, agar tak membuat kekacauan pada hubungan kakaknya tersebut.


~


Adi bisa menemukan Adinda di parkiran mobil, terlihat Adinda tengah berbincang dengan seseorang dengan memamerkan senyum manisnya.


"Sayang, mana sulung kita?" ucap Adi dengan menghampiri istrinya tersebut.


Ia sengaja mengatakan hal itu, karena ia cemburu pada seorang laki-laki yang diberikan senyum manis oleh istrinya tersebut.


"Suaminya kamu, Din?" tanya orang tersebut, yang langsung diangguki Adinda.

__ADS_1


"Givan sama Ken dan Kin, di ruang istirahat sana. Lagi pada mainan mereka." jawab Adinda, saat Adi sudah berada di sebelahnya.


Orang tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Adi, "Maulana." ujar laki-laki tersebut.


"Adi." balas Adi kemudian.


"Siapa ini, Dek?" tanya Adi dengan menoleh pada istrinya.


Ghifar mencoba menegakkan lehernya, karena ia merasa dirinya dalam jangkauan ibunya.


Ia mengeluarkan suara nyaringnya, ia ingin ibunya mendengar seruannya.


"Iya, Sayang. Ini Mamah, yuk sama Mamah." ucap Adinda dengan mengambil alih anaknya.


Ghifar langsung menggosok wajahnya dengan tangannya, lalu mengeluarkan tangis manjanya. Agar dirinya diperhatikan lebih oleh ibunya.


"Ini anak kalian, Din?" lanjut Maulana, bertanya pada Adinda.


Adinda mengangguk mengiyakan, "He'em, tak mirip aku ya? Heran aku ini anak siapa sih? Mamah jadi ragu nih sama Adek, jangan-jangan Adek salah masuk rahim lagi." ujar Adinda dengan menegakkan tubuh anaknya, dengan disangga oleh tangannya.


Maulana dan Adi terkekeh kecil mendengar gurauan Adinda pada anaknya, berbeda dengan Ghifar yang merasa kesal karena dipermainkan. Sebab dari tadi ia sudah amat menginginkan ASI dari ibunya.


"Wah, marah dia. Sampek hitam kemerahan gitu mukanya." timpal Maulana yang melihat Ghifar mengamuk.

__ADS_1


Lalu Adinda pamit untuk menyusui anaknya, dengan Adi yang mengikuti langkah kakinya.


"Ngapain sih ngintilin terus? Sana bareng sama anak istrinya, foto-foto sana!" ketus Adinda, saat Adi ikut masuk ke dalam mobilnya.


Dengan cepat Adinda menarik resleting gaun yang berada di bagian dadanya, kemudian mengeluarkan payudaranya dan langsung dilahap langsung oleh Ghifar. Lalu Adinda menarik hijabnya, untuk menutup dadanya yang terekspos. Apa lagi pintu mobil yang sengaja tak ditutup rapat, tentu seseorang yang lewat bisa melihat aktifitas Adinda.


"Mau foto sama Adek, sama anak-anak juga. Tapi Naya Abang ajak juga ya, Dek." ucap Adi dengan tersenyum penuh harap.


Adinda menoleh ke arah Adi dengan pandangan tak sukanya, "Tak sekalian ajak itu Maya juga? Itu anak Abang, anak Abang dan perempuan lain. Tak usah bawa-bawa ke kehidupan aku, dia tak ada sangkutannya dengan aku. Jangan pulak berpikir, bahwa dia akan aku anggap anak juga. Aku malah lebih nerima Ken sama Kin, untuk dijadikan anak. Yang jelas-jelas anak orang lain. Dari pada harus nerima anak Abang dengan perempuan lain, terus aku diminta untuk ngajarin dia manggil aku mamah. Itu tak akan mungkin, Bang. Jangan berpikir aku sebaik itu, jangan pikir aku bisa nerima itu semua. Dengan permasalahan macam ini pun, aku tetap minta untuk pisah. Jangan ditambah lagi dengan Naya itu, dia tak ada urusannya sama aku!" ungkap Adinda dengan penuh emosi. Lalu ia mengambil undangan yang berada di dasbor mobilnya, kemudian mengipas-ngipaskannya pada dirinya dan Ghifar.


"Rencananya, Abang mau bawa Naya. Lepas Abang sama Maya cerai, Dek." ujar Adi lirih, dengan memperhatikan wajah istrinya.


"Itu terserah Abang, mau dibawa kek, mau dijual kek. Itu anak, anak Abang. Lagian juga, mau Abang cerai atau tak sama Maya itu. Aku sama Abang tetap pisah kan? Masalah itu tak ngaruh sama kehidupan aku!" balas Adinda dengan menghapus keringat pada dahi anaknya.


"Kalau ceritanya Ghifar yang Abang bawa, atau Abang jual macam mana Dek?" tanya Adi kemudian, dari nada suaranya ia begitu tak suka. Karena Adinda mengatakan bahwa Naya akan dijual.


"Nah, aku kan memang nyuruh Abang untuk bawa Ghifar. Karena pasti begini nih, saat nanti aku sama Abang cerai terus Ghifar sama aku. Pasti Abang recokin aku terus, dengan alasan Ghifar. Kalau Ghifar Abang bawa kan, setidaknya aku tenang. Tak melulu diganggu Abang." sahut Adinda dengan nada suara yang terdengar meninggi.


"Mau Abang jual kek, mau diminta bantuin Abang di ladang kek. Itu terserah Abang, dia kan anak Abang. Harusnya yang jadi ayahnya punya otak, punya pemikiran. Bukan terus-terusan nolak cerai, tapi lambat untuk mutusin yang di sana." lanjut Adinda yang membuat Adi bungkam seketika.


"Kenapa sih, Dek? Kita ini selalu berantem kalau ketemu? Adek bilang ke Jefri, bahwa Adek kangen sama Abang. Tapi malah macam itu nyatanya." ucap Adi, setelah mereka terdiam tanpa suara.


"Aku udah biasa aja sama Abang. Aku udah hambar sama Abang. Jadi, tak mungkin rasa kangen atau yang lainnya itu masih ada! Nyatanya aku udah muak, udah jijik tengok muka Abang." jawab Adinda yang membuat Adi merasa ditikam secara tiba-tiba.

__ADS_1


Ia tak menyangka, perasaan istrinya langsung menghilang saat kebenaran itu terungkap. Ia masih berharap ini adalah sebuah mimpi, yang mana esok pagi pasti lebih baik dari mimpinya sekarang.


......................


__ADS_2