
"Heh, Ghifar mau makan. Lagian macam mana nanti Abang kerja, masa Ghifar mau gendong di punggung Abang sambil diikat?" sahut Dinda kemudian.
Si Adi kecil ini seolah paham, bahwa dirinya dilarang untuk ikut. Ia meneriaki ibunya, dengan tangan dan kaki yang seolah ingin meremas-remas wajah ibunya.
"Apa? Apa? Berani kau sama Mamah?!! Mamah kurung kau di kamar mandi, baru tau rasa nanti! Ayo sini, cepet ikut Mamah. Bang Ghifar harus makan dulu!" pinta Dinda yang membuat anaknya seketika menurut padanya.
Entah kenapa aku menahan tawaku, melihat Ghifar yang ketakutan atas bentakan mamahnya. Rasanya tak mungkin juga, Dinda mengurung anaknya di kamar mandi. Tapi Ghifar seolah beranggapan, bahwa Dinda akan melakukan hal itu padanya.
"Abang berangkat dulu ya." ucapku dengan nyosor pada istriku. Namun, dengan gerakan cepat juga anakku memberikan kecupan kecilnya pada ibunya.
Aku dan Dinda terkekeh bersamaan, dengan memandang satu sama lain. Dengan disusul tawa riang Ghifar, yang membuat kami semakin terhanyut dalam tawa.
AUTHOR POV
Adi tengah berkutat dengan keahliannya. Ia begitu fokus dengan pekerjaannya, yang tengah ia kerjakan. Sampai ia tak menyadari, bahwa ada binatang kecil nan panjang yang berada di dekatnya.
Karena Adi ingin berpindah posisi, dengan reflek ia menggerakkan kakinya. Namun, detik itu juga ia mendapatkan gigitan yang cukup mengagetkan jantungnya. Karena ia tak sengaja, menginjak bagian tubuh ular tersebut.
Ia langsung menoleh ke sumber rasa sakitnya, saat itu juga ia langsung menggeser posisinya untuk sedikit menjauhi tempat tersebut.
"JEF!!! BAWA AKU KE RUMAH SAKIT, CEPAT!!!" seru Adi dengan menaruh asal perkakas yang masih ia genggam.
"Kenapa, Di?" tanya Jefri dengan menghampiri bosnya tersebut.
"Kepatok ular. Keknya aku tak sengaja nginjak ular anakan, tak tau aku ada ular di situ." jawab Adi dengan posisi diam mematung. Ia mengingat kembali nasehat kakeknya, bahwa ia harus tetap tenang dan jangan terlalu banyak bergerak jika ia tergigit ular. Ia juga mengingat tentang posisi jantungnya harus lebih tinggi, dari luka yang ia dapatkan dari gigitan ular.
"Mana kunci J*epnya?" tanya Jefri dengan menyodorkan tangannya.
Adi memberikan kunci tersebut pada Jefri, detik itu juga Jefri langsung berlari ke arah mobil Adi yang terparkir tak jauh dari posisinya sekarang.
Lalu dengan terburu-buru, Jefri melarikan Adi ke rumah sakit. Ia mendadak menjadi pembalap, karena ia mendengar kata ular. Yang ada di pikirannya adalah, ular berbisa yang mengancam nyawa Adi. Tentu Adi harus mendapat antibisa yang tepat, makanya ia langsung bergerak cepat untuk membawa Adi ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas yang lengkap.
"Di… jangan mati lah! Ini belum akhir cerita. Ini bukan akhir, rumah tangga kau masih kacau. Kau tau kan, cerita ini harus happy ending. Jangan mati gara-gara kepatok ular, tak seru nanti ceritanya Di!" ungkap Jefri dengan menepuk-nepuk pipi Adi.
"Cepet, cepet. Aku takut mati dalam lima belas menit loh." ujar Adi dengan memperhatikan kelingking kaki kirinya yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Ciri-ciri ularnya macam apa? Ukurannya kira-kira berapa?" tanya Jefri dengan tetap fokus pada jalanan.
"Warna tubuhnya kuning kecoklatan, ada garis kuning emas di atasnya. Garis kuning itu diapit garis hitam. Terus panjangnya sekitar 30 cm." jawab Adi dengan mengingat kembali binatang yang melukai kakinya tersebut.
Jefri menghela nafasnya, "Itu ular b*bi, sering disebut juga ular kopi. Dia ular sawah yang tak berbisa. Bisa-bisanya kau panik dan heboh macam itu? Sialan kau memang! Bikin aku lupa taruh korek aku di mana." balas Jefri dengan menginjak pedal rem secara tiba-tiba.
Adi menoleh dengan tatapan tak berdosanya, "Eh, iya kah? Kau kan dokter asal, kau mana tau pasti. Rumah sakit juga udah nampak depan mata, udah aja langsung bawa aku ke sana. Aku tak mau Dinda jadi janda, karena aku mati." sahut Adi kemudian.
"Serah kau!!" kesal Jefri dengan langsung menjalankan kembali mobil khusus berladang tersebut.
Ia langsung memberhentikan mobil yang ia kendarai di depan pintu ruangan UGD, "Sana turun! Bilang kau kepatuk ular dan tak tau arah jalan pulang, lepas itu kau jadi butiran debu." ketus Jefri dengan menunjuk ruangan tersebut dengan dagunya.
"15 menit aku bisa mati, Jef." ujar Adi dengan membuka pintu mobilnya.
"Nyatanya ini kau udah 20 menit, tapi kau masih lancar ngomong aja!" tutur Jefri yang hendak menjalankan mobil milik Adi untuk diparkirkan di tempatnya.
"Darahnya banyak kali, Jef. Ya Allah, lemas betul aku tengok." tukas Adi sebelum Jefri menginjak pedal gasnya.
"Ular bayi, tak tau ada gigi atau tak. Aku malah curiga kau kena beling, bukan dipatuk ular. Kau kan suka ngada-ngada." ucap Jefri, lalu ia langsung melajukan mobil itu secara perlahan.
Saat Jefri menyibakkan tirai tempat Adi diberi tindakan, Adi langsung menyunggingkan senyum kuda pada Jefri.
"Udah 30 menit sekarang, kau ada gejala mau mati tak Di?" tanya Jefri malas.
Adi tertawa puas, "Tadi udah dijelasin sama dokternya. Tapi tetap lah, nyeri betul aku rasa." sahut Adi, dengan memperhatikan perawat yang tengah membalut lukanya.
Jefri hanya berdekhem ringan, untuk merespon ucapan Adi.
"Ada gejala lain, Pak?" tanya perawat tersebut.
Adi langsung menggelengkan kepalanya, "Tak ada, aku lapar aja Sus. Soalnya udah waktunya makan siang." jawab Adi yang membuat perawat tersebut tersenyum simpul.
"Sus, ngomong-ngomong namanya siapa? Nampaknya masih muda betul." lanjut Adi, saat perawat tersebut tengah mengecek kembali tensi darahnya.
"Kenapa memang? Kau udah persiapan untuk jadi duda?" timpal Jefri sinis.
__ADS_1
"Ngetes aja, mana tau aku masih diminati perawan." sahut Adi dengan menaikkan satu alisnya pada perawat yang tengah melakukan tugasnya di lengannya tersebut.
"Aku yang segan, Pak. Kak Dinda kan punya nama, nanti malah aku viral karena ganggu rumah tangganya." balas perawat tersebut yang membuat rahang Adi terjatuh.
Sejujurnya, Adi tak mengetahui seberapa tenarnya istrinya di provinsi A tersebut. Tentu Adinda dikenal banyak orang, karena ia tampil sebagai model video klip dari soundtrack film yang diangkat dari novelnya itu.
"Kau tau Sus, bahwa dia suami Dinda?" tanya Jefri pada perawat yang tengah merapikan alat-alat medis, yang sebelumnya digunakan untuk mengobati luka Adi.
Perawat tersebut mengangguk, "Bang Adi kan? Bapak empat anak, dengan anak bungsunya yang kembar itu? Suami siri dari kak Dinda, yang jadi modelnya bang Fanji itu kan?" ungkap perawat tersebut, yang membuat Jefri dan Adi mengangguk secara bersamaan.
"Tapi ngomong-ngomong, jangan bilang kak Dinda ya tadi aku tanya nama kau! Bisa hilang nanti jakun aku." ujar Adi yang membuat dua orang tersebut terkekeh tertahan.
"Kau tau betina kau galak! Segala kau iseng pulak." timpal Jefri kemudian.
"Gurau aja, aku tegang betul tadi pas tau digigit ular." sahut Adi dengan memperhatikan Jefri.
"Kan ularnya tak berbisa, Pak. Bapak pun tak memiliki gejala lain." balas suster tersebut, dengan ia bersiap mendorong meja dengan peralatan medis tersebut.
"Ya… karena yang gigitnya ular, makanya aku takut. Aku mana paham, itu ular berbisa atau tak. Yang jelas kan itu sejenis ular, binatang yang melata dan agresif." ungkap Adi dengan duduk tegak.
"Tapi Dinda tak takut ya, Di. Padahal dia ketemu king kobra tiap hari, mana agresif dan berbisa betul. Ngeri pulak itu bisanya, bisa bikin perutnya buncit sampek sembilan bulan." tutur Jefri yang membuat tempat tersebut menjadi suasana yang penuh dengan tawa.
"Saya permisi dulu, Pak. Nanti administrasinya diurus di depan aja, tapi tunggu resep dari dokter dulu." ungkap perawat tersebut, dengan ia keluar dari ruang yang hanya ditutupi tirai tersebut.
"Jef, coba kabarin Dinda. Aku mau tau, dia khawatir tak sama aku." ucap Adi dengan mencolek lengan Jefri.
Jefri menoleh ke arah Adi, "Ish, colek-colek macam aku laki-laki murahan aja!" sahut Jefri, membuat Adi tertawa geli.
"Tapi boleh deh, aku coba kerjain Dinda." lanjut Jefri kemudian.
Jefri merogoh ponselnya, lalu ia mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Hallo, Dek. Adi…..
......................
__ADS_1