Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP180. Makan bakso


__ADS_3

"Buka mulutnya, Bang. Nih aku suapin, aaaaa…." ucapnya dengan satu sendok bakso bercampur mie, yang sudah berada di depan mulutku.


Aku langsung membuka mulutku, kemudian mengunyah makanan yang Dinda suapkan padaku.


Demi apa pun, aku terharu sekarang. Selama ini, aku tak pernah makan romantis bersamanya. Dinda tak terlalu suka akan hal yang romantis, dia lebih suka makan dengan porsi penuh tanpa gangguan dari siapa pun. Hanya ketika aku atau dia sakit saja, kami baru menyuapi makanan.


"Jangan nangis, Bang. Malu heh, banyak orang loh di sini." ucapnya dengan memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar kami.


Aku langsung mengucek mataku yang sedikit membasah, kemudian lanjut mengunyah makananku lagi. Aku tengah berusaha menahan rasa yang memuncak ini, aku tengah mencoba menguatkan hati dan pikiranku.


Beberapa saat kemudian, kami sudah selesai menyantap bakso langganan kami. Aku akan mengingat ini selalu, di mana tempat ini dan kursi ini yang selalu ditempati oleh Dinda.


Biasanya kami makan dengan Givan juga, anak itu lebih suka makan di tempat ketimbang dibungkus untuk makan di rumah. Sejak ada Zuhra pun, kami selalu mengajak Zuhra untuk makan di tempat ini juga.


Hanya kedai sederhana, tapi rasanya begitu nikmat menurut Dinda. Cekres-cekres, itu yang Dinda katakan tentang tekstur dari bakso di tempat ini.


"Bikin dua lagi. Dibungkus ya, Cek. Saos, sambel pisah aja." ujar Dinda pada bapak-bapak seumuran ayahnya, yang mengantarkan sop buah di meja ini.


Yah, Dinda memesan satu porsi sop buah juga di kedai ini. Karena memang seperti itu, setelah ia selesai makan bakso. Pasti dilanjutkan dengan makan sop buah. Kalau masalah makanan, istriku ini memang jagonya makan. Dia kuat makan banyak, jajan pun tak kalah pentingnya dari makanan pokok. Tapi badannya tetap segitu-segitu saja. Hanya kehamilan saja, yang mampu mengubahnya menjadi gemuk. Tapi beberapa hari setelah ia melahirkan, ia bertahap kembali ke berat badan semula. Sekitar 47-50 kilogram, itu cukup ideal untuk ukuran seorang Dinda. Karena dirinya tak begitu tinggi, hanya sekitar 155 cm saja.


"Nih aku suapin. Sengaja pesan satu, biar romantis macam di film-film." ucapnya dengan cekikikan sendiri. Aku tersenyum samar dengan menggelengkan kepalaku, ada-ada saja wanitaku ini.


"Heh, Bang…" panggilnya, sesaat aku mengalihkan pandanganku pada ponsel yang mengeluarkan bunyi notifikasi.

__ADS_1


"Hmm, apa Dek?" tanyaku dengan kembali menatapnya.


"Kita macam orang tak mampu aja ya? Semangkuk es berdua, macam uang Abang ngepas aja." ungkapnya dengan tawa tertahan.


"Biarin, katanya biar romantis." sahutku yang langsung diangguki olehnya.


"Gimana kabar Maya? Abang tak pernah pulang ke dia lagi." tanyanya tiba-tiba. Membuat buah yang baru ia suapkan, langsung menuju ke kerongkonganku. Dengan reflek aku terbatuk, sampai buah itu keluar lagi dari mulutku. Bukannya menolongku, Dinda malah tertawa puas sampai memukul-mukul meja.


"Maya udah Abang talak di lampu merah P*****, pas sebelum Abang balik ke provinsi A." jawabku kemudian, agar Dinda bisa berpikir ulang tentang perpisahan kami.


Mata Dinda terbuka lebar, ia menatapku dengan tatapan anehnya. Ada apa dengannya? Kenapa ekspresinya seolah lidahnya tergigit, atau sariawannya tertabrak makanan.


"Kenapa, Dek?" tanyaku dengan menyenggol tangannya, yang tengah memegang sendok tersebut.


"Naya sama Maya. Tapi denger dari Zuhra sih, katanya Maya sama Naya tinggal sama umi di kota J dari empat bulan yang lalu. Abang tak tau pasti juga, karena Abang lost kontak udah lama. Ngasih uang juga udah berhenti, cuma ngirim uang sampek dia selesai masa idha aja." balasku jujur, aku sekarang ingin terbuka pada Dinda. Meski aku tahu, mungkin ia akan merasa sakit mendengar kejujuranku sekarang.


"Mungkin karena dia udah tak ada yang ngasih nafkah lagi kali, Bang. Terus juga kan Abang sama dia nikah resmi, sedangkan yang turun cuma talak dari mulut Abang aja. Jadi statusnya masih istri Abang, sedangkan Abang lepas tangan. Jadi mungkin umi merasa bertanggung jawab, atas cucunya." ungkap Dinda dengan raut wajah biasa saja.


Tapi kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga ucapannya itu. Namun, kenapa Dinda tak cemburu atau marah?


"Apa Abang udah turunin talak secara tertulis juga? Ke pengadilan macam itu." lanjutnya kemudian.


"Abang kurang paham juga, tapi Abang udah pernah nurunin surat cerai yang harus ditanda tangani dia aja. Pas Abang mau ngajuin surat cerai baru, tapi kendala surat-surat yang dipegang Maya. Menurut Abang, dengan Abang tak gauli dia selama pernikahan pun. Itu udah termasuknya talak juga, Dek." ungkapku menurut pendapat yang aku pahami.

__ADS_1


Wajahnya terlihat begitu terkejut, "Hah? Memang betul tak pernah gauli dia? Dosa besar loh." sahutnya setelah menyeka mulutnya, dengan punggung tangannya. Dinda layaknya seorang teman, yang tengah mendengarkan cerita temannya. Ada apa dengan istriku setelah melahirkan ini? Kenapa ia tak marah? Apa ia benar sudah hambar sekarang? Padahal saat ia selesai mengeluarkan si kembar, ia mengatakan i love you dengan menyebutkan namaku.


Aku mengangguk cepat, "Dari pada rumah tangga kita hancur, pikir Abang mending sekalian tak usah gauli dia. Karena menurut Abang, bisa lebih fatal kesalahan Abang sama Adek saat Abang gauli dia. Dengan Abang nikah lagi tanpa izin dari Adek pun, udah termasuknya Abang dzolim ke Adek. Abang dosa besar, karena hal itu. Menurut Abang juga, pernikahan Abang dan Maya tak sah. Karena tanpa restu dari Adek juga." balasku menekankan nada suaraku. Aku sadar, kami sekarang berada di tempat umum.


"Iya juga sih. Tak taulah, aku juga bingung. Rumit betul hidup Abang, malah ditambah rumit karena rumah tangga kita juga." ujarnya dengan lanjut menyedot air sop buah tersebut.


"Ya… Abang macam itu juga kan, karena berpikir rumah tangga kita bisa dipertahankan." tuturku dengan mengambil alih sendok yang tergeletak tersebut, lalu mengambil buah dan menyuapkan langsung ke mulutku sendiri.


"Nyatanya kan tak bisa juga." tukasnya lirih, dengan fokus pada sop buahnya saja.


Setelah itu, tak ada percakapan lagi. Lalu aku langsung membayar makanan tersebut, kemudian pergi dengan Dinda mencangking kantong kresek berisikan dua bungkus bakso di dalamnya.


Lima menit kemudian, kami sudah berada di halaman rumah. Dinda berjalan mendahuluiku, cara berjalannya sangat berhati-hati sekali. Karena ia memiliki luka jahit di intinya, tentu terasa perih saat ia melakukan aktivitas kecil seperti berjalan.


Aku menggendong ransel, berisikan pakaian kotorku dan pakaian kotor milik Dinda juga. Saat aku masuk ke dalam rumah, terlihat bayi delapan bulanku tengah berada di dekapan istriku. Dengan tangan bayiku berada di kedua pipi istriku, terlihat Ghifar tengah memperhatikan wajah ibunya dengan seksama.


"Yey, Ghifar punya adik baru. Hebat juga Bang jago, adiknya sekarang ada tiga." seruku dengan berjalan ke arah mereka semua.


Givan langsung berlari ke arahku, ia langsung meminta gendong padaku.


"Papah, kembar laki-laki kan? Namanya siapa aja?" tanyanya dengan begitu semangat.


"Hmm, siapa ya? Siapa kira-kira? Abang mau bantu Papah kasih nama untuk mereka tak?" tanyaku dengan membawanya duduk di sofa ruang keluarga, di mana Dinda, Ghifar dan Zuhra berada.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2