
"Macam mana keadaannya bang Adi? Tadi ada pekerja yang ke rumah, dia ngasih tau kalau bang Adi digigit ular." sela Adinda, sebelum Jefri menuntaskan kalimatnya.
"Adi berdarah, Dek. Darahnya banyak kali, sampek lemes Adi dibuat luka sama ular itu." ungkap Jefri, yang memang sepenuhnya ia tak berbohong.
"Haduh… macam mana ini? Aku ke sana kah? Tapi anak-anak sama siapa? Zuhra di warnet, di rumah tak ada orang. Kak Yusniar udah balik tadi, pas sebelum dzuhur." sahut Adinda dengan suara bergetar, menandakan ia tengah terguncang sekarang.
"Tak apa, Dek. Adi udah diberi tindakan, cuma keadaannya memang perlu pengobatan lanjutan. Nanti dia udah boleh pulang, ini lagi diobservasi juga nunggu obat." jelas Jefri, seolah ia tengah menjelaskan sesuatu pada keluarga pasien.
"Ya udah, aku tunggu di rumah aja kali ya?" balas Adinda kemudian.
"Ya, Dek. Jangan panik ya, kasian s*su kau." tutur Jefri yang langsung mendapat sikutan dari Adi.
"Ehh… maksud aku kasian nanti produksi ASI kau terganggu." jelas Jefri dengan cengengesan pada Adi, karena ia merasa salah mengucapkan kalimatnya.
"Ya, Bang. Tolong jagain bang Adi ya, aku khawatir betul sama dia." balas Adinda, kemudian setelah diiyakan oleh Jefri. Adinda memutuskan sambungan teleponnya.
"Permisi, ini untuk administrasinya." ucap perawat yang menyibakkan tirai tempat Adi tersebut.
"Oh, ya." sahut Adi dengan memakai sandalnya kembali.
"Aduh, aduh. Nyeri betul lukanya." lanjut Adi menengaduh.
"Cengeng betul kau! Apa mau aku gendong ala bridal style, biar romantis?" sahut Jefri yang langsung mendapat gelengan kepala dari Adi.
Lalu Adi dan Jefri keluar dari ruangan tersebut, dengan Adi yang menyodorkan kartu ATM-nya pada Jefri. Untuk membayar biaya administrasi rumah sakit tersebut.
~
Malam harinya, saat anak-anak sudah tertidur pulas. Adinda menemui suaminya, yang tengah menonton televisi di sofa santai. Adi duduk bersandar, dengan meluruskan kedua kakinya.
Adi memicingkan matanya, saat melihat pemandangan yang menggoda imannya. Terlihat istrinya hanya mengenakan baju over size, tanpa menggunakan bawahan.
"Maaf ya, tadi tak bantu angkat-angkat catering." ucap Adi, saat Adinda membelai pelipisnya sebelum wanita tersebut duduk di sebelahnya.
"Tak apa, tadi udah sekalian dibawa masuk sama orangnya." sahut Adinda dengan menyandarkan kepala suaminya, pada bahu kecilnya.
__ADS_1
"Bang… tau tak?" tanya Adinda, setelah mereka terdiam sejenak.
"Tak, memang apa hal?" sahut Adi dengan tangannya berada di paha istrinya. Tangannya tak tinggal diam, Adi meraba-raba paha mulus istrinya yang terekspos jelas di depan matanya.
"Aku ngelecehin Abang, pas Abang mabuk di bar waktu itu." ungkap Adinda, membuat Adi langsung menegakkan lehernya. Kemudian menatap keget pada istrinya.
"Pantesan kaos Abang lenyap entah ke mana. Tak taunya, Abang diper*o*a betina gatal!" sahut Adi dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.
Adinda terkekeh geli, dengan menepuk pelan paha suaminya. Dengan Adi yang terbawa tawa dari istrinya.
"Aku mau minta maaf karena hal itu, aku dulu suka nyosorin Abang." ungkap Adinda kemudian.
Adi membelai surai istrinya, "Tak apa, Abang suka. Bikin terngiang-ngiang." balas Adi yang membuat tawa keduanya terdengar kembali.
"Tapi Abang waktu itu… belum cukur bulu, seingat Abang. Abang kepikirannya di situ, Dek." ucap Adi setelah tawanya mereda.
"Aku tak tengok-tengok ke Adi's bird Abang. Pas di bar aja itu juga, terus Abang bangun sebentar. Abang bilang tadi diajak tak mau, tapi cium-cium grepe-grepe terus. Macam itu Abang kata." sahut Adinda membuat Adi mengingat kembali kejadian itu.
"Iya kah? Abang tak tau kalau Abang ngomong macam itu, mungkin udah ngefly Abang waktu itu." balas Adi dengan mengamati wajah istrinya sedari tadi.
"Tapi kalau diingat lagi, aku macam perempuan gatal kalau ke Abang. Kalau udah nampak dada lebar Abang, rasanya aku udah bi*ahi aja." tutur Adinda dengan mengalihkan pandangannya ke arah suaminya.
Adi tertawa terbahak-bahak, karena mendengar pengakuan dari istrinya.
"Pantes anaknya banyak! Perempuan itu kalau tak ngeluarin lendir bir*hinya, butuh usaha lebih biar bisa hamil. Yang bikin s*e*ma lebih cepat menuju ke rahim itu, karena lendir bi*ahi perempuannya sama karena perempuan itu terang*ang hebat." tukas Adi kemudian.
"Kalau soal bi*ahi aja, Abang sampek paham ilmunya." ucap Adinda dengan tersenyum simpul.
Adi terkekeh kecil, "Paham lah, itu kan ilmu basic laki-laki dewasa." balas Adi dengan mencuri ciuman cepat di pipi kanan istrinya.
"Aku besok mau pergi perawatan, aku mau treatment perut aku. Terus aku juga mau ke dokter gigi, crown gigi aku keknya yang ini perlu diganti." ujar Adinda dengan membuka mulutnya, kemudian menunjukkan giginya dengan lidahnya.
"Hmmm, pantesan deketin Abang. Tak taunya ada maunya." tutur Adi dengan menggelengkan kepalanya dan melirik pada istrinya.
Adinda cengengesan pada suaminya, "Abang sehatan belum? Ular apa yang gigit?" tukas Adinda dengan merengkuh tubuh suaminya, untuk ia peluk mesra.
__ADS_1
"Ya macam ini keadaannya, ular kopi Dek. Naik sini, Sayang." ucap Adi dengan menepuk pahanya.
"Hm, untungnya ularnya tak berbisa. Yakin? Besok lusa yakin Abang mampu talak aku?" tanya Adinda tiba-tiba, membuat Adi teringat perjanjiannya kembali.
Adi menghela nafas beratnya, "Yakin mau cerai? Adek cinta Abang, Abang pun cinta Adek." jawab Adi yang membuat Adinda memeluk erat suaminya.
"Jangan ngomongin ini dulu dong, biar besok aja diomonginnya. Aku sekarang lagi pengen." sahut Adinda sembari menyesapi wangi suaminya.
Adi mendongakkan wajah istrinya, "Jari Abang sakit, Abang tak bisa gerak cepat." aku Adi jujur. Karena ia merasakan hal demikian, dengan jari kelingking kakinya.
"Biar aku yang naik deh, keknya udah basah dari tadi." ungkap Adinda membuat Adi terkekeh geli.
"Abang dua hari lalu abis main sabun, jadi tak begitu pening di kepala. Tapi yakin mau Adek yang goyang? Nanti Adek capek lagi." sahut Adi setelah mengecup bibir istrinya. Hanya kecupan kecil, tanpa permainan lidah atau bertukar saliva.
Adinda mengangguk mengiyakan, "Aku ambil k*nd*m dulu ya, Bang?" balas Adinda dengan melepaskan pelukannya, kemudian ia berlalu pergi menuju kamarnya.
Adi menghela nafasnya, "K*nd*m lagi, k*nd*m lagi. Bikin tersinggung aja." gerutu Adi lirih, yang hanya bisa didengar oleh Adi sendiri.
Tak lama Adinda muncul kembali, dengan senyum manisnya yang menghiasi wajahnya. Ia langsung naik ke pangkuan suaminya, dengan mendongakan kepala Adi dan memberikan ciuman di seluruh wajah suaminya.
"Pintu dikunci belum, Sayang?" tanya Adi dengan melepaskan segitiga tipis milik istrinya.
"Belum. Udah gampang nanti lah, yang penting aku dikeluarin dulu." jawab Adinda dengan meloloskan kaos yang dikenakan suaminya.
"Nanti ada yang masuk, ini kita main bukan di kamar loh Dek. Resiko kepergok Zuhra juga pasti ada ini." ujar Adi mengingatkan istrinya, saat Adinda berdiri untuk melepaskan segitiganya yang sudah mencapai lututnya tersebut.
"Zuhra pasti balik lagi ke kamar, kalau udah terlanjur tengok kita olahraga di sini. Udah coba, jangan banyakan ngomong ini itu. Aku 40 hari tak dikeluarkan loh, Bang. Aku udah tak tahan." ungkap Adinda dengan naik kembali ke pangkuan suaminya.
Adi terdiam, tak menyahuti ucapan istrinya lagi. Tangannya sibuk menggapai bagian sensitif istrinya. Bermaksud agar istrinya terangsang, saat ia sudah siap untuk menyatukan rasa cintanya.
"Lepas tak, Bang?" tanya Adinda dengan menarik ujung baju over size-nya.
......................
Hmmm, maaf ya.. ini dibuatnya jauh sebelum bulan puasa 😟
__ADS_1