Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP25. Gempa lokal


__ADS_3

Sebagian teks telah dihapus.


"Papah lagi ngapain?" suara khas bangun tidur, dari anak laki-lakiku.


Membuatku langsung menutupi tubuh telanjang kami, dengan selimut tebal.


Aduh bagaimana ini? Mana nanggung betul.


"Pah?" ucap Givan dengan tatapan aneh.


Aku menoleh padanya, dengan tersenyum canggung.


"Papah lagi sayang-sayang Mamah." jawabku dengan senyum yang kubuat-buat.


"Memang Mamah aku kenapa? Kenapa ditindihin Papah?" tanyanya dengan menegakkan tubuhnya, dan mencoba menoleh pada Dinda.


"Huppp, stop stop." ujar Dinda dengan menahan kepala anaknya.


Givan menjatuhkan tubuhnya kembali di tempat tidur. Dengan posisi berbaring menghadap kami.


"Lepas, Abang pindah ke belakang aku." tutur Dinda berbisik.


Aku langsung melepaskan penyatuan kami, dan beringsut pindah ke belakang tubuh Dinda. Dengan Dinda yang langsung menarik selimut sebatas lehernya.

__ADS_1


"Ada apa, Mah?" tanya Givan dengan memeluk bantal yang menjadi pembatas. Dan kakinya menjuntai ke paha istriku.


Bagaimana caranya aku menuntaskan ini? Apa lagi pakaian kami yang tergolek di lantai.


"Tak ada apa-apa. Abang masih ngantuk tak?" jawab Dinda, lalu bertanya kembali.


"Aku udah bobonya." sahut Givan lalu menggeliatkan tubuhnya.


"Bang, ambil minum sama hp aku. Tuh di nakas." ucap Dinda sedikit menoleh padaku.


Tanpa menjawabnya, aku langsung mengambil apa yang ia minta. Dan memberikannya pada Dinda.


"Nih Bang, minum dulu." tutur Dinda pada anaknya, dengan memberikan botol air mineral.


"Dek, Abang masukin ya. Nanggung betul, Sayang." ungkapku dengan berbisik padanya.


Perlahan aku mencari sumber kenikmatan istriku. Berniat memasukinya kembali.


"Kenapa dilanjut? Givan udah bangun." ucap Dinda berbisik.


"Bang, main H*y day tuh. Udah pada minta dipanen ladang gandumnya." seruku pada Givan. Agar perhatiannya teralihkan.


Givan mengangguk, dan menggapai ponsel ibunya. Lalu ia mulai memainkan game tersebut.

__ADS_1


Givan sudah fokus pada ponsel ibunya. Aku mengacak goyanganku, mencoba menikmati ini dengan rasa takut ketahuan oleh anak.


"Ada apa ini Pah? Ayo turun ke bawah. Aku takut ketindihan gedung ini." ucap Givan kalap. Dengan seenaknya nyempil di antara aku dan Dinda yang tengah menyatu. Untungnya ia tak masuk ke dalam selimut juga.


Terpaksa Adi's bird harus terlepas dari cengkeraman maut Dinda.


"Tak ada apa-apa. Tak bakal roboh." ujarku kesal. Dinda cekikikan melihat aku menahan kesal, sekaligus menahan nafsu.


"Tadi ada gempa. Aku harus berlindung." sahut anakku, yang langsung menyingkap selimut tebal pelindung tubuh kami.


"JANGAN… GIVAN!" pekik Dinda, membuat Givan mengurungkan niatnya.


Ekspresi Givan terlihat begitu kebingungan. Ia menoleh padaku dan pada ibunya, secara bergantian.


"Abang pindah dulu gih." tuturku halus. Baiklah, sepertinya aku yang harus mengalah.


Givan menuruti perintahku. Aku meraih celanaku. Tanpa ****** *****, aku memakainya di balik selimut. Dan bangkit, lalu mengajak anakku ke kamar mandi.


Aku akan memandikannya dulu, sementara waktu Dinda memakai pakaian. Dan selepas aku memandikan Givan, biar nanti ibunya yang melanjutkan untuk menyalini Givan. Dengan aku yang harus menuntaskan sendiri di kamar mandi. Tentu saja dengan alasan pada anakku, aku ingin mandi.


Aku harus sabar. Sabar, sabar Di. Namanya juga resiko punya anak. Pasti diganggu anak. Aku menguatkan hatiku, untuk menenangkan diriku yang sebetulnya kesal setengah mati.


Tak mungkin juga aku harus memarahi anakku, gara-gara ia bangun lebih awal. Dan mengganggu aktifitasku dengan ibunya.

__ADS_1


TBC.


Yang udah punya anak, pasti semuanya pernah ngerasain hal ini 🤭


__ADS_2