
"Aku lagi haid, Bang. Terus juga… tadi aku mau tanya soal Naya. Aku ikhlas sih ikhlas, masalah uang itu. Tapi aku pengen tau pasti dari mulut Maya sendiri, bahwa memang Naya bukan hasil perkawinan Abang sama dia." ungkapnya terdengar ragu, dengan beberapa kali ia menjeda ucapannya.
Aku membelokkan mobilku ke arah rumah Seila, karena aku ingin berdiskusi masalah perhiasan untuk pernikahanku dengan Dinda.
"Kita omongin sama orang rumah ya? Abang yakin dengan penjelasan Adek. Cuma ya itu, Abang ngerasa Naya macam orang lain di kehidupan Abang. Entah karena belum terbiasa, atau memang Abang keberatan. Tapi ya… entahlah, Dek. Intinya Abang ragu, Abang bingung. Abang tak tau mesti macam mana, karena dokumen yang tertulis kan Naya anak Abang. Maya pun kabur entah ke mana, jadi susah mau dirundingkan juga. Menurut Adek macam mana?" sahutku dengan sesekali menoleh ke arah Dinda, yang tengah menatap kosong jalanan luar.
"Kapan kita ke ibu?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan kami.
"Siapin ini dulu tentang perhiasan, masalah pelaminan sama make up. Terus kita ramai-ramai ke ibu, macam itu Dek. Kemarin kan Naya baru balik rumah sakit, makanya Abang baru ada mikirin tentang ini. Nanti kalau kita udah resmi kan, nanti baru kita pindah alamat KK ke provinsi A. Masalahnya kemarin Abang nikah sama Maya, alamatnya kota A. Karena KK Abang waktu masih bujang kan ikut umi, dengan alamat kota A. Jadi dengan status duda, ya alamatnya kota A juga." jelasku yang hanya diangguki oleh Dinda. Sepertinya Dinda tengah berpikir keras, tentang nasib Naya.
Aku merasa sangat tertipu dengan Maya, bisa-bisanya ia sejahat itu? Sejujurnya, aku tak ikhlas uang Dinda melayang begitu saja. Itu uang yang diberikan pada Maya, adalah hasil ladang dari mahar Dinda. Meski ladang kami cukup stabil sekarang, tapi pengeluaran semakin bertambah. Karena anak-anakku banyak, tentu resiko bulanan yang bertambah besar. Untungnya, ladang yang awalnya diminta oleh Maya. Tak jadi di balik namakan, jadi tak menambah pengeluaran uang kami.
"Diem aja, Sayang. Kenapa, Dek?" tanyaku dengan menarik dagunya, dengan tersenyum manis padanya. Lalu aku kembali fokus pada jalanan di depanku.
"Aku pengen nangis, aku kasian sama Abang." jawab Dinda dengan mulai mengeluarkan suara isakannya.
Aku menepikan mobilku, karena Ghifar juga merengek karena melihat ibunya menangis.
__ADS_1
"Yuk ke hotel aja, Dek." ucapku setelah menepikan mobilku, kemudian langsung mengambil alih Ghifar.
Aku mendapat pukulan ringan di lenganku, "Orang tuh! Ngajakin mesum aja, dibilang aku lagi pengen nangis." seru Dinda dengan wajah buruknya.
"Biar mobil kita tak diperhatikan orang, Dek. Biar Adek nangisnya puas." jelasku meluruskan maksudku.
"Lepas itu aku disuruh ngocokin Abang. Tak mau aku!" sahutnya yang menangis sambil berbicara. Lucu sekali Adindaku jika sudah seperti ini.
"Ya udah, ya udah. Ngocok di sini aja." balasku dengan menggeser posisiku. Dinda langsung menghadiahiku pukulan di paha dan lenganku, dengan Ghifar yang histeris karena ibunya yang terlihat menakutkan tersebut. Sungguh, aku terbahak-bahak karena Dinda dan Ghifar.
"Kasian kenapa coba? Segini Abang bahagianya, karena mau nambah anak lagi." tanyaku dengan merangkul pundaknya, mencoba menenangkan istriku dengan cara sederhana.
"Abang tak paham tentang Adek. Adek berubah drastis, sejak siap melahirkan kembar. Pas awal minta cerai, pas sekarang malah macam itu bilangnya. Sejak makan bakso bareng itu, Abang udah naruh curiga sama Adek. Adek macam bukan Adek, beda betul. Jangan-jangan raga Adek tertukar, pas tidur dua hari itu?" tuduhku yang membuat matanya melebar seketika.
Setelah dengan ekspresi kagetnya, Dinda malah tersenyum kuda. Kenapa lagi dengan wanitaku ini?
"Aku maen siasat sebetulnya. Aku sama Zuhra udah rencanain ini, aku sekongkol sama Zuhra." aku Dinda dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Jangan tanyakan bagaimana ekspresiku saat ini. Mataku melotot, lubang hidungku melebar. Aku terkejut mendengar pengakuannya barusan. Sepertinya Author kurang jelas, dalam menentukan peran antagonisnya. Sebetulnya yang jahat di sini siapa? Dinda atau Maya?
"Macam mana, Dek?" tanyaku dengan memberikan Ghifar ponselku, agar Ghifar anteng dengan tontonannya.
"Aku ngerasain sakit bukan main, pas lahiran kembar itu. Aku ngerasa nyawa aku bakal lepas dari badan aku, lepas ngeluarin Ghavi itu. Terus… aku mau lepasin Abang gitu aja, macam itu? Setelah aku berkorban sejauh itu? Aku udah cukup ngalahnya. Aku tak mau ngalah lagi sekarang, dari perusak rumah tangga aku. Udah aku rugi besar karena nikah siri, terus harus ngalah lagi macam itu? Tak mungkin ya, Bang. Itu bukan aku betul. Ditambah lagi aduan Zuhra tentang Maya di rumah umi, bikin aku tambah yakin kalau dia punya niat terselubung. Karena dia terang-terangan tanpa malu, minta sekitar 20 juta untuk satu bulan. Dia bilang ke umi, kalau Abang ngasih segitu ke dia tiap bulannya. Padahal setau aku, dari mutasi rekening. Abang cuma ngeluarin tujuh jutaan untuk Maya? Betul tak? Aku cari tau tentang Maya, lewat Mahendra. Dia ngasih gambaran Maya di mata tetangga, dia ceritakan semua sama aku. Dari kesimpulan yang aku pahami, Maya berjuang untuk ngincar harta Abang. Pas aku disidang umi sama ayah, aku memang sengaja bilang aku dimaharin pakek ladang. Terus… aku juga pemilik ladang Abang. Maya kaget pas itu juga, pokoknya aku inget betul ekspresinya saat itu. Dengan beberapa hari aku tinggal bareng Maya, aku paham macam mana Maya. Terus macam mana juga dia perlakuan Naya. Aslinya, dia ini belum pengen hamil. Dia sengaja hamil, biar dia tak susah kerja biar keinginannya terpenuhi. Dia ini… orang kaya yang tiba-tiba harus cari kerja dan hidup sederhana. Karena ayahnya udah meninggal, sedangkan tak ada usaha yang dilanjutkan. Mantan suami Maya itu pejabat, dia itu istri keduanya bupati kota tetangga. Jelas hidupnya tak tenang, karena meski segala sesuatunya tercukupi. Tapi dia kena teror anak dari istri pertamanya, mana anaknya itu seumuran dirinya lagi. Awal-awal sih kata Mahendra itu, bupatinya sering nginap di situ. Tapi beberapa bulan kemudian, udah tak pernah datangin Maya lagi." ungkap Dinda yang membuatku seperti orang bodoh. Aku mengambil kesimpulan, bahwa istriku ini adalah seorang intel.
"Udah pernah nyelesaiin berapa kasus, Dek? Udah pernah ngebongkar sindikat pengedar narkoba belum, Dek?" tanyaku dengan menatapnya serius.
"Heh, maksudnya?" sahutnya yang melah kebingungan. Terlihat ia menggaruk kepalanya yang dilapisi hijab, padahal ia tak kutuan.
"Pantas Abang kalah betul sama Adek, sekali stalking orang langsung mission completed. Jadi macam mana ini Belenggu Sang Pemuda? Mau tamat kah rupanya, Dek?" balasku yang membuatnya terkekeh geli.
"Namanya juga janda, Bang. Janda juga aku bukan sembarang janda. Banyak sertifikat pendukung lainnya, makanya Abang beli mahal juga tak rugi kan? Tergantung reader aja, Bang. Biasanya kalau novel kan, udah tamat eh ada season barunya lagi. Tentang kehidupan setelah tamat, atau berlanjut ke kehidupan anak-anaknya. Tapi fix, Bang. Keknya cerita kita bakal tamat deh, jangan sedih ya Bang. Karena cerita cinta yang sesungguhnya, belum selesai sampai di sini." ujarnya dengan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dengan Ghifar yang berada di antara kita, tanpa canggungnya Dinda ******* bibirku dengan buasnya.
"Aaarrrrggggggg…." teriak Ghifar yang sepertinya terjepit di antara kami.
"Dasar, B*nal!!" ucapku pada Dinda, yang membuat tawanya pecah.
__ADS_1
......................