
"Ya hallo, Bang. Aku lagi bantuin akak. Akak lagi bagi-bagi beberapa sembako ke lansia." ungkap Liana kemudian.
Adi menghela nafas leganya, Adi kira terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada anak istrinya.
"Kok sampai malam macam ini?" tanya Adi lebih santai.
"Dadakan, Bang. Soalnya kata kak Dinda, tadi dompetnya sempat ketinggalan di atas mesin ATM. Terus tak lama, katanya ada yang balikin ke rumah. Yang balikinnya tak mau dikasih uang terima kasih. Katanya sodaqohin aja ke tetangga." jelas Liana menjawab pertanyaan kakak sepupunya.
"Terus?" tanya Adi meminta kelanjutan ceritanya.
"Ya, tak terus-terus. Kak Dinda ngasih amplop dan sembako ke lansia, sama ke anak yatim." sahut Liana kemudian.
Adi manggut-manggut, meskipun ia hanya mendengarkan cerita tersebut lewat telepon.
"Dermawan kali kak Dinda kau itu, Li. Tiap bulan pasti ngasih aja ke lansia." balas Adi, sesaat dirinya terdiam.
"Iya, Bang. Katanya dia ikut senang, kalau yang dikasihnya sumringah ke kak Dinda. Suaminya pelit, untungnya istrinya royal betul. Kalau tak, sama-sama kena hisab semua nanti di akhirat." ujar Liana, membuat Adi terkekeh kecil.
"Alhamdulillah, Li. Punya kak Dinda, usaha Abang lebih berkah. Rejekinya naik berkali-kali lipat, meski pengeluaran pun berkali-kali lipat juga. Tapi rasanya, kek damai sejahtera macam itu. Tak panasan tengok tetangga punya barang baru." tutur Adi, lalu dua bersaudara itu tertawa kecil setelahnya.
"Ya udah, ya Bang. Nanti aku bilangin ke kak Dinda. Tadi Abang telepon macam itu ya, soalnya aku baru selesaiin juga ini. Terus disuruh kak Dinda ke minimarket, beli nuget ayam sama saos tomat. Disuruh beli pasta, sama spaghetti, dan bumbu pelengkapnya juga. Pengen makan enak katanya, Bang. Tapi sayang, di sini tak ada restoran mewah." tukas Liana dengan kekehannya.
"Oh, ya udah. Kau juga beli aja apa yang kau mau. Di kasih kan uangnya sama kak Dinda?" tanya Adi.
"Iya, Bang. Kak Dinda juga bilang macam itu. Ya udah ya, Bang. Assalamualaikum…" jawab Liana, lalu ia memberi Adi salam penutup untuk percakapannya.
"Wa'alaikum salam." sahut Adi. Lalu ia memutuskan panggilan teleponnya.
'Magnet penarik rejeki kau, Dek. Berkah terus, Dinda. Bahagia selalu.' gumam Adi, saat dirinya merasakan cukup teharu. Atas tindakan istrinya.
Awalnya, Adi sedikit keberatan. Saat Adinda membeli tujuh belas karung beras, berisikan sepuluh kilogram beras perkarungnya. Dengan ikan kalengan, dan minyak goreng, beserta mie instan berbagai varian. Dengan uang senilai satu juta rupiah. Untuk dibagikan pada tujuh belas lansia yang diputus kerjakan oleh Adinda sendiri. Karena menurut Adinda, para lansia itu benar-benar sudah tak bisa melakukan pekerjaan berat lagi. Dengan keadaannya yang lemah dan terlihat begitu mengiris hati, setiap kali Adinda melihatnya.
Adinda pun meyakini, anak-anak mereka pasti berusaha menghidupi orang tuanya. Hanya saja para lansia itu, berinsiatif untuk mencari uang jajan untuknya sendiri.
__ADS_1
Namun, lama kelamaan Adi sudah terbiasa. Dengan Adinda yang menebarkan sembako ke kampung halamannya. Bukan hanya pada lansia yang diputus kerjakan oleh Adinda. Namun pada seluruh warga kampungnya, yang mengalami ekonomi rendah, lansia, dan anak yatim.
Namun, dengan nominal uang yang hanya berkisar puluhan ribu dengan pembagian merata.
Tok, tok, tok.
"Di, Adi…" ucap seorang laki-laki. Yang rupanya masih berada di dalam rumahnya.
Adi bangkit, dan membukakan pintu kamarnya.
"Aduh! Tak pulang-pulang kau rupanya. Apa hal?" tanya Adi kemudian.
"Coba pastiin keadaan Zulfa dulu, aku takut dia nekat. Lepas itu ayo cari angin ke luar." ucap Jefri.
Adi menghela nafasnya, lalu ia berjalan ke kamar Zulfa.
Ceklek...
"Dek, tidur di kak Maya gih. Takut nanti malam dia berasa, soalnya Abang mau keluar dulu bentar." pinta Adi.
Zulfa mengangguk mengerti, dan mengambil hijabnya. Dan ia berjalan ke luar, menuju ke rumah ibu Rokhayah.
"Tidurnya di kamar, Dek. Bareng kak Maya." seru Adi, saat langkah kaki Zulfa semakin dekat dengan rumah ibu Rokhayah.
"Memang kau tak pengen makan dia dulu? Sebelum nanti puasa 40 hari." tanya Jefri, dengan berjalan ke arah mobilnya.
"Udah sangu banyak dari sana. Enaknya sama kenyangnya masih terasa sampai sekarang." jawab Adi dengan mengunci pintu rumahnya.
Lalu mereka tertawa cekikikan, mendengar ungkapan Adi tadi.
Setelahnya mereka masuk dalam mobil, dan mobil itu pun mulai menjauhi pekarangan rumah tersebut.
"Mau ke mana ini? Jangan ke club lah, bisa-bisa aku nanti diper*osa j*lang." ucap Adi dengan menoleh ke arah Jefri sekilas.
__ADS_1
"Kau mau ke mana? J*lang pun ogah mer*osa kau. Mereka pasti udah pada tau, kalau juragan kopi ini udah tanda tangan surat kuasa." sahut Jefri, membuat Adi tertawa renyah.
"Tinggal bilang aja, aku ini sekarang miskin. Apa-apa serba minta. Pakek acara kau perhalus segala ucapan kau tadi." balas Adi kemudian.
"Biar kau tak sakit hati sama aku. Kata Dinda kan, ada hablum minannas selain hablum minallah." ujar Jefri, "Eh, makan kerang aja kali ya. Kau doyan kerang ijo tak?" lanjut Jefri bertanya.
"Aku pemakan segala sebetulnya. Kenapa tak sate kambing muda aja? Rencananya nanti kalau anak aku aqiqah. Sekalian beli kambing muda, buat nyate bareng-bareng. Umuran enam bulan, enak kali ya di sate. Pasti dagingnya lembut betul." tutur Adi dengan membayangkan sate kambing muda favoritnya.
"Kan nanti nyatenya, kalau anak kau aqiqah. Sekarang kan anak kau masih di dalam perut. Sekarang kerang ijo aja dulu, Di. Nih, aku ada tempat kerang ijo yang paling enak. Ada rasa pedasnya juga, macam ciri khas makanan daerah kau. Pedasnya gila-gilaan." tukas Jefri antusias.
"Tapi aku udah tak terlalu kuat makan pedas, pasti berakhir bolak-balik kamar mandi nantinya." sahut Adi menimpali.
"Ya lah, kau udah tua sekarang. Anak aja udah berapa? Tiga ya, Di?" balas Jefri, sengaja mengejek Adi dengan pertanyaannya.
Adi menoleh dengan pandangan sengit, "Anak aku banyak, kalau jadi. Nih kan yang jadi cuma dua. Yang anak sulung, tinggal besarin aja. Beli indukan, dapat anakannya juga." tukas Adi kemudian.
Jefri terkekeh geli mendengar balasan dari sahabatnya itu.
"Coba telepon Haris, Di. Ajak dia juga. Mana tau dia lagi tak sibuk." ucap Jefri, dengan memarkirkan mobilnya pada trotoar jalanan. Dan tak jauh dari tempat mereka, terlihat gerobak pedagang kerang ijo. Yang ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan.
Adi menepuk tangannya, membuat Jefri memusatkan perhatiannya pada Adi.
"Kau tau tak, Sukma ternyata…." ujar Adi berniat memberikan informasi pada Jefri.
"Sukma belum nikah. Terus dia jadinya mulus betul, mana bahenol lagi dia sekarang." sela Jefri, yang ternyata sudah mengetahui tentang itu.
"Lah, kok kau tau?" tanya Adi kecewa.
......................
Ternyata bukan cuma perempuan yang doyan ghibah 😂
Laki-laki pun sama 😆
__ADS_1