Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP204. Penantian Salma


__ADS_3

"Salma?" panggilku begitu saja. Dengan ia langsung menoleh ke arahku, kemudian ia berdada ria padaku.


"Mau ke mana, Bu. Tolong ambilkan minuman aku dulu, haus banget ini." ucapnya pada ibu warung.


"Ini mau nukerin uangnya Masnya, soalnya gak ada kembaliannya." jawab ibu warung dengan mengambilkan barang yang Salma butuhkan.


"Ohh… kasihin lagi aja ke Masnya, Bu. Biar Masnya bayarnya digabung ke saya aja." ujar Salma yang langsung diangguki ibu warung tersebut.


"Ini, Mas." ucap ibu warung, dengan mengembalikan uangku kembali.


"Ngapain, Di?" tanya Salma dengan duduk di sebelahku, lalu ia meneguk minumannya.


"Abis nyari darah O di dalam tadi, eh katanya habis diambil buat orang lahiran." ungkapku jujur.


"Ohh, buat siapa memang?" tanyanya kemudian.


"Anak yang nomor dua, kena DB." jawabku dengan meneguk air mineralku kembali.


"Memang golongan darah kamu gak sama?" tanyanya yang langsung kugelengi.


"Ibunya aja atuh, apa neneknya atau keluarga yang lain." ujarnya dengan menyeka keringat dengan tisu saku, yang baru ia beli.


Aku sedikit kaget, saat mendengarnya menyebutkan atuh. Karena asalnya dari provinsi A, tepatnya di kota L. Kenapa ia bisa berbicara layaknya suku Sunda?


"Hmm… lagi di luar kota." jawabku dengan memperhatikan mobil kembali.


"Oh, ya udah yuk." ajaknya dengan berdiri dari duduknya. Aku mendongak menatap wajahnya? Dia ingin pamit atau bagaimana?


"Ho neu jak?" tanyaku bingung. Kurang lebih artinya seperti, pergi ke mana?


Salma terkekeh kecil, "Ini kota J, Di. Kamu ngomong pakek logat kamu aja, orang-orang pada heran. Apa lagi ngomong pakek bahasa sana." sahut Salma kemudian.


Aku baru ingat sesuatu. Ya… Salma begitu ingin menjadi pendatang di kota metropolitan ini. Waktu masa sekolah pun, Salma jarang menggunakan bahasa daerah. Meski aku selalu berbicara dengan bahasa daerah.


"Tak peduli aku. Malah aku wajibkan anak-anak aku bisa bahasa daerah, ya minimal tempat kami tinggal aja. Anak yang pertama, faseh bahasa kota C dan bahasa daerah provinsi A juga." jelasku yang dianggukinya saja.


"Golongan darahku O. Mana tau cocok sama golongan darah anak kamu." ucapnya dengan tersenyum manis padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk, kemudian langsung membawanya ke rumah sakit. Semoga Dinda tak cemburu, jika nanti aku menceritakannya pada Dinda.


~


Alhamdulillah, semoga keadaan Naya bisa tertolong. Berkat bantuan dari Salma.


Aku tengah duduk di kursi, yang terdapat di depan kamar Naya. Salma pun masih berada di sini, ia masih mencoba meredahkan rasa pusing di kepalanya. Memang seperti itu, jika setelah donor darah.


Dari arah kanan, aku mendapat kecupan di pipiku. Seingatku, Salma tengah duduk di sebelah kananku. Dengan cepat aku menoleh ke arahnya, dengan memegangi pipiku yang kena sosor tadi.


Tapi Salma malah menahan tawanya, dengan menutup mulutnya. Sembari menunjuk ke arah sebelahku.


"Apa? Kau ini betul-betul ya, Bang!! Kau bilang di chat, kau pusing cari golongan darah Naya. Tak taunya kau pusing, karena benih kau tak kunjung dikeluarkan dengan mantan kau itu!" ucapnya lirih, dengan suara ditekan. Sembari telunjuknya, menunjuk tepat di depan wajahku dengan ekspresi marahnya.


Aku langsung menarik dagunya, kemudian mengecup bibirnya yang tengah mengerucut itu.


Namun, tanpa diduga. Dinda malah menepuk mulutku setelahnya. Membuat tawa Salma sampai terdengar di telingaku.


"Dia itu, yang donorin darahnya buat Naya. Tadi di bank darah tak ada darah O, kan tadi Abang chat ke Adek." jelasku sebelum Dinda meletup saat ini juga.


Tumben ia cemburu, apa karena ia menyangka aku membohonginya?


"Katanya lagi di luar kota, Din?" tanya Salma dengan menoleh ke arah kami.


"Kata siapa?" Dinda bertanya balik, dengan mencondongkan kepalanya ke arah Salma.


"Kata Adi." balas Salma dengan beralih menatapku.


Pandangan mata Dinda langsung beralih ke arahku, ia memicingkan matanya dengan wajah judesnya.


"Kau bilang aku di luar kota? Biar Abang bisa bikin dia ikut Abang?" tuduhnya kemudian.


Aku tersenyum manis padanya, "Ibunya Naya kan lagi di luar kota. Bukan ibunya keempat putra Abang itu." jelasku lirih, karena aku tak ingin Salma mendengar hal itu.


Dinda mengangguk mengiyakan, kemudian bersandar di bahuku. Apa Dinda hamil lagi kah? Kenapa moodnya naik turun? Tapi perasaan kemarin malam, aku mengeluarkan saudara anakku di atas perutnya.


"Lah, aku kok malah dicuekin?" ucap Salma dengan mencolek tanganku. Semoga Dinda tak melihat hal tadi.

__ADS_1


Dinda menegakkan punggungnya, lalu pandangannya tertuju ke arah Salma.


"Memang tak ngajar, Kak?" tanya Dinda kemudian.


"Udah pulang ngajar. Kok kamu enggak nengokin keadaan anak kamu, Din?" jawab Salma dengan memperhatikan wajah Dinda.


"Biar nanti. Mau diantar kah pulangnya?"


"Sana Bang! Anterin Kak Salma dulu." pinta Dinda dengan beralih menatapku.


"Gampang, Din. Eh, ngomong-ngomong kapan sih tepatnya kalian nikah? Aku tanya ke Rozi, katanya kalian belum terlalu lama nikah. Rozi juga cuma tau kalian punya dua anak, bukan lima anak." sahut Salma yang membuatku bingung ingin menjelaskan apa.


"Yang kembar kan memang belum pernah di bawa pulang ke kota C, soalnya Dinda juga baru siap nifas. Lepas lahiran kakaknya kembar itu, Dinda langsung hamil lagi." jelasku yang dianggukinya.


"Tetep aja, aku masih bingung." ujar Salma dengan menahan tawanya.


"Aku janda, bawa anak." timpal Dinda, dengan Salma yang reflek berpindah ke sebelah Dinda. Dengan menutup mulutnya.


"Heh, Adi kan gak pernah mau sama janda." ucap Salma, yang bisa kudengar lirih.


Aku berdiri dari dudukku, "Ayo Salma, aku anterin pulang dulu. Barangkali kau mau istirahat." ajakku dengan memperhatikan Dinda dan Salma secara bergantian.


"Gih, Kak. Aku mau masuk, nemenin Naya." timpal Dinda yang langsung diangguki oleh Salma. Lalu ia mengikuti langkah kakiku, setelah Salma bercipika-cipiki ria dengan Dinda.


Tak berselang lama, aku sudah melajukan kendaraanku keluar dari parkiran rumah sakit tadi.


"Di… kok kamu mau sama Dinda yang janda? Jujur aku baru tau kalau Dinda janda, soalnya dia pernah main ke tempat aku dulu tanpa bawa anak. Cuma Rozi sama Dinda aja duaan." ucap Salma memecahkan keheningan ini.


Hmm, kalau bisa pun. Aku mau Dinda yang perawan, tapi aku tak keberatan juga dapat Dinda yang janda membawa anak. Karena aku pun seperti duda bawa anak, nyempil Naya yang tiba-tiba masuk sebagai anggota keluarga kecilku.


"Jandanya model Dinda, siapa laki-laki yang tak mau." sahutku dengan fokus pada jalanan saja.


"Macam itu ya, Di. Aku kira, pertemuan kita bisa bikin kamu tanggung jawab untuk penantianku." ungkapnya yang membuatku mengerem mendadak. Apa maksudnya? Tanggung jawab apa?


"Yang udah, ya udah. Bukannya dulu, kau yang pengen kita udahan? Jangan ungkit-ungkit lagi, aku udah berkeluarga. Badai dalam keluarga kecilku pun, baru surut kemarin hari." balasku dengan menginjak kembali pedal gasku. Untungnya jalanan ini cukup sepi, jadi tak menimbulkan masalah karena tindakan spontanku tadi.


TBC.

__ADS_1


Kenapa sih mantan tuh suka ungkit-ungkit? 😕


__ADS_2