Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP123. Hana peng, Hana inong


__ADS_3

Sore harinya, aku tengah bersantai di teras rumah. Dengan seluruh penghuni rumah ini. Zuhra begitu akrab dengan Dinda. Sejauh ini ia bisa menjaga rahasia abangnya, memang adik yang baik. Aku tak yakin, kalau Zulfa yang berada di sini. Mungkin semua rahasiaku sudah bocor ke umi dan Maya. Aku tau karakternya yang memang sangat polos dan jujur tersebut, tentu berbeda sekali dengan Zuhra. Kadang berpikir, pantas saja ia segampang itu ditelan*angi oleh Jefri.


"Mamah, aku mau ambil kue." ucap Givan meminta izin pada ibunya. Dinda mengangguk, kemudian Givan langsung berlari ke dalam rumah. Memang anak itu tak bisa berjalan kalem.


Aku merebahkan tubuhku, dengan kepala berbantal paha istriku.


Tentu aku berhadapan langsung dengan Zuhra, karena posisinya tengah tengkurap dengan memeluk bantal sofa.


Aku mencolek dagunya, aku ingin mengisenginya.


"Apa sih, Bang? Rese betul!" serunya dengan wajah sewot.


"Kau masih perawan tak sih, Dek?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.


Dinda menarik telingaku pelan, aku hanya terkekeh kecil meresponnya.


"Nanya apa coba, Bang? Tak ada pertanyaan lain kah? Tak sopan kali pertanyaannya!" jawabnya begitu tidak suka.


Benar memang aku kakak yang tidak sopan, tapi aku ingin mengetahui kondisi adikku. Bukan tanpa alasan, ada muadzin di sini yang mengatakan langsung padaku. Bahwa ia tertarik dengan Zuhra, tentu saja karena wajah alimnya. Belum lagi ia selalu ramah, seperti Dinda. Ditambah dengan wajah yang cantik, bersih. Seperti layaknya anak pesantren. Putihnya alami dan selalu nampak segar.


"Nifsyu Nahar suka sama kau. Kalau kau memang betul-betul perawan, lebih baik Abang cepat nikahkan kau sama dia aja. Karena dia kata, kalau Zuhranya udah boleh menikah. Nanti sama Nahar aja ya, Bang. Bilang macam itu dia sama Abang." jelasku yang membuat matanya bulat sempurna. Dengan mulut sedikit menganga, mungkin ia terkejut mendengar ucapanku barusan.


"Ya ampun, laki-laki di sini baperan betul. Cuma disapa aja langsung ngajak nikah." sahutnya cekikikan. Dasar memang didikannya Dinda, kenapa itu anak mulutnya jadi seperti istriku?

__ADS_1


"Mamah, aku mau ini." seru anakku yang baru keluar dari dalam rumah, dengan satu pack wafer roll dipelukannya.


Dinda mengangguk, kemudian menepuk tempat di sebelahnya. Lalu Givan menduduki tempat itu, dengan meminta untuk dibukakan bungkus makanan ringannya.


Ia sudah anteng, dengan beberapa wafer roll yang kemasannya sudah dibukakan oleh Dinda.


"Makanya Abang tanya kau perawan tak? Kalau iya masih perawan, Abang bilang ke dia bahwa kau udah siap nikah. Biar nanti dia langsung lamar, Abang nanti tinggal jelasin aja ke umi." balasku kemudian, dengan memperhatikan wajahnya yang tengah berpikir serius.


"Zuhra sama Abang tak satu bapak, mana bisa Abang walikan dia." timpal istriku, yang sedari tadi hanya menyimak obrolan kami.


"Diwalikan hakim aja, soalnya ayah lagi repot urus masalah di provinsi KS." tuturku dengan melihat wajah Dinda dari bawah, terlihat ia begitu besar dan menakutkan. Pipinya sampai bergelantungan, dengan dagunya juga montok. Naik berapa kilo lagi dia ini, sampai terlihat gemuk dari bawah macam ini.


Hidungku ditarik oleh seseorang yang sedari tadi aku perhatikan dari bawah, "Aku taulah, aku gemuk kali pasti." ketusnya kemudian. Aku hanya tertawa puas mendengar ucapannya tadi, inilah yang aku suka dari Dinda. Ia tak munafik, ia tau keadaannya sekarang dan ia mengakuinya. Tapi aku paham, Dinda demikian pun karena mengandung anakku. Anak yang sampai sekarang, aku tak mengetahui jenis kelaminnya. Ia selalu menutupi ***********, ketika sedang di USG. Setiap di USG pun, ia tengah asik menguap dan menggosok wajahnya.


Ngomong-ngomong, aku sudah menceritakan tentang permasalahan ayah pada Dinda. Ia pun mengizinkan aku untuk membantu ayah, dengan mengikhlaskan 25 M yang harus aku berikan pada ayah.


"Udah terlanjur masuk, Dek. Jadi tetap ada prosesnya, meski pasti ayah tak akan dipenjara." jawabku kemudian, Dinda hanya manggut-manggut mengerti.


Aku kembali mencolek dagu Zuhra, ia malahan asik bermain game dalam ponselnya.


"Ditanya tuh jawab! Tak sopan, tak sopan macam mana? Nanti Nahar yang langsung nanya ke kau, malah Abang yang malu kalau jawaban kau ternyata udah tak perawan." ungkapku dengan memusatkan perhatianku padanya.


"Aku udah ada pacar, Bang." jawabnya yang menurutku tidak tepat. Tapi aku paham, ia mengatakan hal itu berarti dia menolak untuk dijodohkan dengan Nahar.

__ADS_1


Menurutku Nifsyu Nahar cukup matang untuk berumah tangga, meskipun usianya baru sekitar 24 tahun. Ia tak terlalu jelek juga, ganteng pun tidak. Mungkin tingginya sekitar 168an saja, tapi yang jelas dia tak hitam sepertiku. Kulitnya kuning bersih, juga berkumis tipis. Karena ia keturunan dari provinsi JB juga, lebih tepatnya suku Sunda. Tapi memang, dia besar di sini.


Ia pun memiliki lahan kopi, mungkin hanya sekitar dua hektar. Tapi aku rasa cukup untuk memberi makan Zuhra, atau untuk mencukupi kebutuhan dapur maupun kebutuhan pribadi Zuhra.


"Orang mana, Dek?" tanya Dinda pada Zuhra.


"P*dang, P*riaman." jawab Zuhra dengan mantap.


"Heh, kau gila kah? Memang kau kerja apa? Lagak kau mau nikahin orang P*riaman." sahutku dengan bangkit dari posisiku, lalu duduk bersila di sebelah Dinda.


"Memang kenapa, Bang? Aku tak kerja, Abang bilang aku diminta bantu-bantu aja di sini." balasnya enteng. Apa ia tak tahukah? Bahwa adat orang sana, adalah laki-laki yang diberi seserahan. Apa ya sebutannya... intinya, seperti kita membeli pihak laki-laki. Sedangkan di daerah lain, biasanya pihak perempuan yang diberikan uang. Seperti membeli perempuan, tapi di sana kebalikannya.


"Laki-laki di sana mahal, apa lagi kalau pendidikannya tinggi dan punya pangkat." jelas Dinda, lalu ia menggeliatkan tubuhnya. Mungkin ia merasa lelah, karena terlalu lama duduk.


"Tuh dengerin. Udah aja sama Nahar, kalau kau perawan. Biar Abang yang maju untuk kau." ungkapku yang membuatnya garuk-garuk kepala.


"Nah itu masalahnya." ucap Zuhra dengan menggelengkan kepalanya. Ok, sampai di sini aku paham. Ia ternyata sudah tak virgin lagi. Sudah kuduga, dengan pergaulannya yang seperti itu. Kecil kemungkinan ia masih perawan.


"Ya udah kau sana nikahin orang pacar kai, kerja kau yang keras. Cari uang banyak-banyak, semangat!" ujarku dengan menepuk bahunya, lalu aku bangkit. Kemudian masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki istriku. Tinggal Zuhra dan Givan yang masih duduk di teras, dengan bungkus makanan ringan yang berserakan.


Setiap daerah tentu memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Aku hanya memahami itu tentang orang dari P*riaman, tentu masalah keuangan pasti dirundingkan terlebih dahulu. Pasti tak begitu memberatkan pihak perempuannya.


Tapi tetap saja, rasanya aku tak bisa membayangkan. Susahnya Zuhra mengumpulkan uang untuk pernikahannya. Tentu tak akan sulit, dan ia pun tak perlu mencari uang untuk pernikahannya. Jika ia menikah dengan orang daerahku. Karena jelas, wanita begitu mahal di sini. Bahkan ada peribahasa, "Hana peng, hana inong." Yang berarti, tidak ada uang, tidak ada perempuan.

__ADS_1


......................


__ADS_2