Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP44. Givan dan rumah sakit


__ADS_3

Adinda menyibakan tirai di tempat anaknya, yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Dengan bertelanjang dada. Lukanya telah dibersihkan, pecahan beling yang sedari tadi menancap pun sudah tak terlihat lagi di sana.


Terlihat dokter sedang mencoba memberikan suntikan, di bagian pangkal lengan kirinya yang terluka. Agar saat lukanya dijahit, Givan tak merasakan begitu sakit.


"Mamah, tengok Om dokter ini. Dia tak pandai kali jadi dokter. Aku disakiti terus sama Om ini." adu Givan pada ibunya. Adinda tersenyum mendengar suara anaknya. Ini menandakan anaknya baik-baik saja. Hanya saja, ia merasa sedikit geli melihat tingkah Givan.


"Macam mana memang? Tadi diapain aja sama om dokternya?" tanya Dinda yang berada di sebelah kanan anaknya.


Ia mencoba mengalihkan perhatian anaknya. Dengan mengajak Givan mengobrol. Dokter itu pun mengerti, perlahan ia langsung menyuntikkan Givan obat bius lokal pada bagian tersebut. Efek obat tersebut hanya terasa pada bagian yang ingin dijahit. Agar rasa sakit dari tindakan dokter, tak terasa untuk anak laki-laki Adi tersebut.


"AWWW, DASAR DOKTER TAK SOPAN!" teriak Givan memaki dokter tersebut. Ternyata ia merasakan saat jarum kecil itu menusuk kulitnya.


Bukannya marah, dokter itu malah menahan tawanya.


"Om dokter tak macam ayah dan abi aku. Ayah Jefri, dan abi Haris tak pernah kasar kalau obatin aku. Tak pernah bikin aku nambah sakit, pas lagi obatin aku." ungkap Givan marah.


"Wow, banyak juga papahnya. Hebat dong ayah sama abi Adek. Bisa obatin tapi tak bikin sakit." sahut dokter tersebut, sembari menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk menjahit luka Givan.


"Aku Abang, bukan Adek." jelas Givan ngotot.


"Ok, Abang. Jadi macam mana kalau abi sama ayah ngobatin Abang?" tanya dokter tersebut, sengaja berbasa-basi pada Givan.


"Tak di cabut-cabut macam tadi. Tak dibagi obat merah. Mereka pakek setetes kop, pakek termograf. Oh iya, mereka itu bukan papah aku. Ayah Jefri dan abi Haris, cuma papah bohongan aja. Bukan papah betulan. Papah aku aslinya cuma dua. Papah Hendra, papah kandung aku. Sama papah Adi, papah sambung aku. Aku tinggal sama papah Adi di sini. Papah Adi aku bos ladang loh, Om dokter. Ladangnya banyak kali, pohon kopinya berbuah lebat. Aku mesti naik mobil off-road, untuk sampai di ladang yang berhektar-hektar itu. Aku mesti pegangan kuat-kuat, biar tak nepluk dari mobil. Soalnya mobilnya macam odong-odong, tak beratap. Mana gitu, pegasnya kek mati. Tak empuk kali pas jrot macam itu." ungkap Givan yang mulai bercerita. Semudah itu ia akrab dengan orang. Ocehannya cukup ampuh menghalau rasa sakit, saat jarum jahit dan benangnya ditarik dari dalam lapisan kulitnya. Meski sudah diberi suntik bahal, tapi tetap saja rasa sakit itu pasti masih terasa.


"Wah hebat ya papah Adi. Namanya stetoskop, dan termometer kali. Bukan termograf. Apa itu nepluk dan jrot?" tanya dokter, sembari menunaikan tugasnya. Ia menyimak celoteh anak itu. Karena ocehannya cukup mencuri perhatiannya, karena terdengar begitu lucu. Apa lagi saat Givan menyebutkan kata isyarat, yang dimengerti dirinya sendiri.


"Apa tuh, Mah?" tanya Givan, menoleh pada ibunya.


"Nepluk tuh jatuh, kan? Jrot itu… p*n*atnya kehentak kursi macam itu, kan?" ucap Adinda menebak. Ia pun sebetulnya tidak tahu pasti maksud anaknya. Namun nepluk, seperti bahasa dari kota C. Saat menirukan suara benda ringan yang jatuh.

__ADS_1


Adi langsung menatap tajam pada istrinya. Ia merasa kata-kata yang Adinda ucapkan, terdengar fulgar di telinganya.


"Apa tadi Adek cakap? Tak sopan betul!" komentar Adi yang berada di sebelah dokter tersebut.


"Yang mana, Bang?" sahut Adinda bingung.


"P*n*atnya kehentak." balas Adi pelan. Dengan tatapan yang tak pernah lepas dari istrinya.


"Tuh kan, mau berantem. Memang mamah sama papah aku suka berisik kalau di rumah. Tak siang, tak malam. Kerjaannya cuma berisik aja, Om." tutur Givan menengahi.


Dokter tersebut menahan tawanya, mendengar perdebatan kecil di keluarga kecil ini.


"Dah siap." tukas dokter tersebut. Lalu ia memasangkan kain kasa, dan plester yang perawat berikan. Pada luka yang telah disterilkan itu.


"Aku udah sembuh kah, Om?" tanya Givan, pada dokter yang terlihat seumuran dengan papah sambungnya itu.


"Belum lagi. Harus nunggu beberapa hari lagi. Terus lain kali, jangan main lari-lari kalau lagi rame orang. Apa lagi di rumah Abang lagi ada acara, ok?" jelas dokter memberikan pengertian pada Givan. Anak itu mengangguk paham.


"Ya, Om. Om juga lain kali jangan liatin mamah aku aja, ok?" sahut Givan, membuat dokter tersebut merasa malu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyamarkan rasa malu yang ia rasakan sekarang.


"Tak boleh ngomong macam itu." ucap Adinda pada Givan.


Dengan rasa malunya, dokter itu pun pamit pergi. Beralasan untuk menangani pasien yang lain.


"Anak kami tak perlu rawat inap kah, Bu?" tanya Adinda, pada perawat yang tengah membereskan alat-alat tadi.


"Tak, Bu. Alhamdulillahnya, lukanya tak berakibat buruk pada jaringan dalamnya. Tapi kalau ada gejala lain, seperti bengkak, kejang, atau muntah disertai dengan darah. Langsung aja dirujuk kembali ya, Bu." jelas perawat wanita dengan ramahnya.


"Silahkan, Bu. Bisa langsung diurus administrasinya. Lalu pasien sudah boleh dibawa pulang." lanjut perawat tersebut. Adinda mengangguk mengerti. Dan ia kembali ke tempat, saat dirinya mengurus data diri anaknya.

__ADS_1


Tak lama, mereka berdua sudah berada dalam perjalanan pulang menuju kedamaian mereka kembali.


"Memang tadi om dokter liatin mamah terus kah, Bang?" tanya Adi, ditengah fokusnya mengemudikan kendaraannya.


"He'em. Mamah aku cantik kali soalnya. Mana auranya kuat sekali." jawab Givan yang berada di pangkuan ibunya.


"Gantengan Papah atau om dokter itu?" sahut Adi kemudian. Ia mendapatkan sentuhan lembut di lengan kirinya. Bukan lain pelakunya adalah istrinya.


Adi menoleh sekilas pada istrinya. Lalu pandangannya fokus ke depan kembali.


"Gantengan aku lah." balas Givan dengan percaya dirinya.


Lalu mereka semua tertawa renyah. Berlanjut dengan candaan ringan, dari dua orang dewasa dan seorang anak kecil tersebut.


Di hari ini, mereka diajarkan untuk tidak teledor. Dalam menjaga anak sulungnya. Bagaimana pun keadaannya. Givan adalah anak yang sebelumnya diidam-idamkan oleh semua pasangan. Yaitu anak sulung dalam keluarganya. Dialah yang pertama dari kedudukannya sebagai anak.


~


Malam harinya, Adinda tertidur lebih awal. Namun Givan masih merengek, ditemani dengan Adi. Ia baru merasakan lukanya yang telah dijahit tersebut. Mungkin pengaruh obat bius lokalnya, baru hilang sekarang.


"Papah, coba telepon ayah Jefri atau Abi Haris. Aku takut aku mati." ucap Givan dengan tatapan takutnya.


"Ish, tak boleh ngomong jelek." ujar Adi kemudian.


"Ya cepat. Telepon ayah Jefri." sahut Givan merengek.


TBC.


Wah, trio jantan segera menunjukkan eksistensinya 😆

__ADS_1


Eh dengerin tuh mamak-mamak, kalau punya anak lagi. Anak sulungnya jangan dimarahin terus.


__ADS_2