
Sore harinya, Adi dengan anak istrinya kembali ke kediaman mereka. Di dalam perjalanan pulang, Givan banyak bertanya tentang apa yang ia lihat. Mulai dari papan spanduk yang menarik perhatiannya. Sampai ke rambu-rambu lalu lintas yang mereka lewati.
Dan beberapa jam kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah. Adinda langsung memberesi beberapa pakaian kotor mereka. Lalu mengajak anaknya untuk mandi.
Dengan Adi yang memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Karena ia merasa cukup lelah mengendarai mobil.
Ia memainkan ponselnya, membuka pesan chat. Dari salah satu kontak, yang Adi beri nama Furqon.
[Aku habis dari dokter kemarin. Aku ngeflek ringan. Untungnya gak sampai keguguran.]
Tulis pesan tersebut, yang membuat Adi langsung merasa khawatir. Ia berjalan menuju kamar mandi, di mana tempat istri dan anaknya tengah mandi.
"Dek, Abang keluar sebentar ya. Ada perlu sama yang kerja di ladang baru." ungkap Adi berbohong. Ia hanya beralasan untuk bisa keluar dari rumah.
"Ya Bang." Adinda menyahuti suaminya.
Lalu Adi berjalan keluar dari rumah, dan langsung menuju mobilnya. Tentu dengan telepon genggam, dan dompet yang sengaja ia bawa.
Ia menjalankan mobilnya, sambil mencoba menghubungi istri keduanya. Ia sengaja meloudspeaker panggilan teleponnya. Agar ia bisa mengendarai mobil, sambil bercakap dengan seseorang di seberang telepon.
"Hallo assalamualaikum, Bang." ucap Maya terdengar oleh Adi.
"Wa'alaikum salam. Gimana keadaan anak Abang sekarang?" tanya Adi cepat. Ia merasa sangat khawatir dengan anak yang Maya kandung.
"Dia baik-baik aja. Kalau aku bisa menjaga pikiranku." jawab Maya lirih.
"Memang kau mikirin apa? Atau kau masih kerja, May?" sahut Adi menemukan tempat ATM terdekat. Karena seingatnya, di rekening ini masih ada sisa tabungan. Ia tak berani meminta ATM yang Adinda pegang. Ia khawatir transferannya, membuat Adinda curiga.
Lalu ia mengambil ponselnya, dan mematikan loud speaker panggilannya. Dan menempatkan ponselnya tepat di telinganya.
"Siapa perempuan yang waktu itu angkat telepon dari aku? Kenapa perempuan itu pagi-pagi banget udah ada di tempat Abang. Dan dia seenaknya ngangkat telepon dari hp Abang." ungkap Maya, agar ia bisa merasa puas dengan rasa penasarannya beberapa hari ini.
"Itu… rekan kerja Abang." sahut Adi berpikir sejenak.
"Apa Abang masih berhubungan sama pacar Abang. Sampai-sampai Abang larang aku, untuk hubungi Abang." balas Maya kemudian.
__ADS_1
Adi menghela nafasnya, bagaimana ia menjawabnya. Karena ia mengetahui kandungan Maya yang tengah tak baik-baik saja itu. Membuat Adi berpikir dua kali, untuk menjawab semua pertanyaan dari Maya. Ia tak mau Maya mengalami hal buruk dalam kandungannya.
"Tak macam itu juga. Abang di sini sibuk kerja. Abang ngeladang setiap hari. Belum lagi Abang harus awasi pembangunan rumah Abang. Dan lahan lain yang lagi pembibitan baru. Karena pembibitan baru, cukup membutuhkan perhatian lebih." jelas Adi halus.
"Kan malam hari Abang masih bisa hubungi aku." sahut Maya menimpali.
"Abang capek, May. Malam ya waktunya istirahat." balas Adi beralasan.
"Aku hanya minta sedikit waktu Abang. Tolong sempetin untuk bisa ngabarin aku. Aku butuh perhatian Abang." ujar Maya penuh harap. Terdengar dari suaranya yang begitu serius.
"Iya May. Abang usahain. Kirim nomor rekening kau. Abang mau transfer uang buat pegangan kau. Berapa kira-kira sebulan? Tiga juta cukup tak?" ucap Adi, sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di tempat sekitar.
"Setara dengan gaji aku itu sih, Bang." sahut Maya.
"Memang kenapa kalau setara dengan gaji kau?" tanya Adi bingung.
"Ladang Abang banyak. Dengar-dengar juga katanya Abang udah merambah ke dunia peternakan. Kenapa jatah istri sebulan cuma tiga juta?" jelas Maya tak habis pikir dengan pernyataan Adi. Pasalnya, Adi bertanya berapa kira-kira untuk pengeluaran sebulan? Namun ia menanyakan kembali, apa tiga juta cukup untuk Maya.
"Oh jadi kau pengen ngatur keuangan Abang?" jawab Adi tak suka. Adi menebak, pasti Maya tahu tentang peternakan itu dari Zulfa.
"Itu kau ngidam apa memang kesempatan, May?" tukas Adi, membuat Maya tak habis pikir dengan pemikiran suaminya.
Adi bertanya seperti itu, karena Adinda sendiri tak begitu menuntut ini itu. Mood Adinda saja yang selalu cepat berubah. Selain sikapnya juga yang sedikit emosional, Adinda juga begitu sensitif. Dan juga, Adinda sering muntah-muntah. Hanya itu perbedaan hamilnya Adinda.
"Ya ampun, Bang. Aku hamil, wajar orang lagi hamil itu banyak kepengenanya. Kok malah dibilang kesempatan." ujar Maya sedikit sewot.
"Ya udah, empat juta sebulan. Kirim nomor rekening kau. Abang tungguin, cepat!" ucap Adi, lalu mengakhiri perbincangannya dalam telepon.
'Perasaan Dinda hamil malah tak doyan makan. Bisanya Maya yang lancar ngunyah aja?' gumam Adi, sembari menunggu Maya mengirimkan nomor rekeningnya.
Tak lama, Adi mendapatkan notifikasi pesan masuk dari kontak yang bernama Furqon.
Lalu Adi keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju tempat ATM tersebut.
Setelah urusannya selesai. Ia langsung bergegas pulang. Tak lupa juga, ia menghapus pesan dari Maya.
__ADS_1
Adi memarkirkan mobilnya, tepat di halaman rumah yang ia tempati. Ia merasa sedikit gugup, untuk menyapa istrinya. Yang tengah menyuapi anaknya makan. Ia khawatir ditanya oleh Adinda, dan ia harus berbohong lagi untuk menjawabnya.
'Bismillah…' gumam Adi, lalu ia keluar dari mobilnya. Dengan senyum yang terpatri di wajahnya.
"Kok cepat kali, Bang?" sapa Adinda dengan memperhatikan suaminya, yang berjalan ke arahnya.
"Iya, Dek. Cuma masalah bayaran aja." sahut Adi, lalu ia mencium pipi istrinya sekilas. Dan ia melanjutkan langkahnya, untuk memasuki rumah.
Lalu Adi mematikan ponselnya, dan menyambungkan pada charger. Ia khawatir Maya akan menelpon, saat ia tengah mandi. Dan akan diangkat oleh Adinda.
Kemudian Adi langsung menyambar handuknya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Dan malam harinya, mereka tertidur lebih awal. Karena mereka cukup lelah, ditambah waktu istirahat yang berkurang. Mereka bertiga terlelap dalam mimpi masing-masing, dalam satu ranjang berukuran king size itu.
~
~
Dua minggu sudah terlewati. Dengan Adi yang sering mencuri waktu, untuk bisa memberi perhatian pada Maya.
Ia lakukan disela pekerjaannya. Agar sampai rumah ia tak dicurigai oleh Adinda. Dan sejauh ini berhasil, Adi bisa bermain rapih. Tanpa sepengetahuan Adinda.
Namun ia sekarang malah tengah kebingungan, pasalnya Maya meminta untuk Adi segera pulang. Karena beberapa hari lagi, akan diadakan acara syukuran empat bulan kandungan Maya.
Ia tak tahu harus beralasan apa pada Adinda. Di sisi lain, ia tak tega meninggalkan Adinda dan Givan. Apa lagi kondisi Adinda yang tengah hamil. Adi khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan, pada dua orang yang menjadi dunianya itu.
"Bang, bapak tadi telpon. Katanya Adi udah ada ngomong belum? Apa mau dijemput aja katanya?" ucap Adinda yang menghampiri Adi, yang tengah menonton televisi bersama anaknya.
Adi langsung menoleh dengan tatapan kaget. Ia melupakan satu hal. Ia melupakan bahwa keluarga Adinda sudah mengetahui, bahwa dirinya sudah menikah lagi.
TBC.
Udah pandai alesan, pandai bohong juga kau Bang.
masih untung keluarga Dinda belum buka suara.. mereka sadar Dinda cinta sama kau, mereka masih punya harapan untuk kau..
__ADS_1