Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP60. Cerita persalinan


__ADS_3

"Kalau dua jam belum reda, coba ke bidan setempat apa langsung ke rumah sakit aja." ujar Haris yang membuat suami istri itu merasa panik.


"Anak aku kenapa, Bang? Aku kenapa, Bang?" tanya Adinda dengan kekhawatiran yang memuncak.


"Setau Abang, usia segitu paling baru keraba aja. Atau diisikan di kolom itu, dengan ball+ atau ball-. Kalau U itu biasanya untuk yang udah 30 minggu, Dek." jawab Haris sedikit menjelaskan.


"Seingat aku pun, waktu Givan tujuh bulanan baru dapat simbol U deh, Bang." sahut Adinda dengan berpikir.


"Mungkin memang bidannya mau ngasihnya U, Dek. Mungkin bayi jaman sekarang tak pakek ball+ lagi." balas Adi menyahuti istrinya.


"Mana bisa macam itu? Semua itu harus sesuai dengan pemeriksaan. Terus macam mana, Dek? Apa pesan dari bidan?" ucap Haris.


"Jangan angkat berat. Banyak minum air putih, makan sedikit tapi sesering mungkin. Obatnya dihabiskan." jawab Adinda sembari mengingat-ingat kembali.


"Ya coba USG ulang aja. Usia kandungan segitu udah bisa nampak jenis kelamin, Dek. Sekalian kan kalian tanya itu ke dokter, biar tak penasaran." sahut Haris memberi saran.


"Memang kenapa kalau U di coret garis macam itu?" tanya Adinda, ia merasa penasaran dengan pernyataan dari Haris. Dan kenapa Haris bisa sepanik itu, terdengar dari nada suaranya.


"Artinya kepala janin udah masuk panggul, Dek. Ball+ itu artinya teraba, ball- janin tak teraba, U artinya kepala janin udah di bawah, dan U garis bawah berarti kepala janin udah di bawah tapi belum masuk panggul, U di coret atau U dengan garis di tengah artinya kepala janin udah masuk panggul. Kasus kau yang terakhir ini nih, Dek. Itu sebuah simbol aja, ball+, ball-, U, U garis bawah, U coret tengah, W coret tengah, SU, Li, puka, puki. Abang cuma sekedar paham aja, paham secara teori. Lebih tepatnya coba tanyakan langsung ke dokter kandungan, karena mereka lebih ahli dalam hal macam itu." jelas Haris, "Kan rasanya tak baik kalau lima bulan udan masuk panggul. Takut-takut nanti lahiran lebih dini, kan jangan sampek." lanjut Haris kemudian.


"Aku jadi takut lah, Bang." sahut Adinda dengan nada suara yang menurun.


"Jangan dipikirkan! Kau jangan banyak aktifitas dulu, duduk di tempat yang bisa buat kau nyaman. Tidur miring kiri, dengan kaki menjepit bantal." saran Haris pada Adinda.


"Ingat ya, Dek. Besok USG. Udah dulu, ya? Ada pasien yang lagi tak stabil." ujar Haris, lalu ia mematikan sambungan teleponnya sepihak.

__ADS_1


Adinda menghela nafas gusar. Adi menggaruk kepalanya, mereka merasa pusing bercampur khawatir.


"Adek kan pernah hamil. Macam mana rasanya kalau dicampurin suami? Sakit macam ini tak?" tanya Adi, dengan merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


"Aku udah ditinggal-tinggal terus sejak hamil. Mahendra pergi merantau ke provinsi KS, dia kerja di pertambangan batu bara. Seminggu setelah dia pergi, aku baru tau kalau aku ngandung. Makanya Givan disangkanya bukan anaknya Mahendra, sama keluarga Mahendranya. Dia macam dicucu tirikan, pihak dari sana kek risih kalau didatangi Givan." jawab Adinda. Adi tak menyangka ternyata rumah tangga istrinya dulu begitu rumit.


"Terus Mahendra percaya tak? Jadi tak pernah dicampuri pas lagi hamil?" sahut Adi menyimak cerita tentang rumah tangga istrinya dulu.


"Percayalah, Bang. Dia tau aku tak mungkin maen serong, dia tau pasti sifat aku macam mana. Ya tak pernah dicampuri pas hamil. Pas udah di minggu waktunya melahirkan, dia baru balik dari merantau itu jam sembilan malam. Tak sempat hubungan badan, karena dia capek habis perjalanan jauh. Apa lagi dia naeknya kapal laut, bukan pesawat. Butuh waktu berhari-hari untuk sampek di rumah. Terus jam dua dini harinya, aku pecah ketuban. Lahiran normal, Givan keluar jam tujuh pagi. Tanpa mules, cuma sakit pinggang aja aku waktu itu. Sampek di rangsang bagian pucuk dada aku, biar ada kontraksi katanya. Termasuknya juga cepat, jam empat pagi baru pembukaan dua, terus jam enam pagi udah pembukaan komplit. Cuma itu, tak mules juga tapi sakit pinggangnya nauzubillah. Macam di bentangkan paksa, tulang pinggul kek remuk." ungkap Adinda bercerita dengan jelas, tentang proses persalinan yang ia alami.


"Biasanya kalau baru itu kan lama ya, Dek? Abang ingetnya waktu kak Ayu lahiran Hafis, tiga hari tiga malam di rumah sakit. Nyabarin nunggu pembukaan komplit, eh ujung-ujungnya di vacum. Karena kema*uan kak Ayu bengkak." sahut Adi menimpali. Ia pun sedikit menceritakan pengalamannya, waktu menemani saudara sepupunya itu melahirkan.


"Kenapa bisa bengkak, Bang?" tanya Adinda dengan mengernyitkan keningnya.


"Katanya sih mengejan sebelum waktunya." jawab Adi. Karena itulah alasan yang diberikan suster saat itu. Adi masih mengingat dengan jelas, khawatirnya Ridho. Dan ia masih mengingat ekspresi kesakitan dan pasrahnya saudara sepupunya itu


"Adek dulu bisa lahiran normal sih macam mana? Apa resepnya?" balas Adi, dengan merapihkan anak rambut istrinya. Yang menutupi wajah istrinya.


"Aku ngepel jongkok dua hari sekali. Minum jamu tradisional juga, karena waktu itu aku sampek mau sepuluh bulan tapi tak cepat lahiran juga. Kontraksi palsu udah dari tujuh bulan. Tapi pas lahiran malah tak ada kontraksi. Terus juga aku rajin lap-lap ranjang, kusen pintu, macam itu. Dilapnya pakek minyak, biar cepat proses persalinannya. Macam itu saran dari orang tua jaman dulu. Aku minum minyak kelapa murni juga, makan belut goreng kering. Aku tiga hari sekali minum jamu kunci. Terus apa lagi ya…" ucap Adinda dengan dirinya mengingat kembali pengalamannya.


"Kunci apa, Dek?" tanya Adi tak mengerti.


"Umbi-umbian. Kek macam kunyit, jahe. Rempah yang tumbuh buahnya dalam tanah macam itu. Tapi aku di sini tak pernah dibuatkan. Jelas karena tak ada ibu di sini." jawab Adinda, berakhir dengan ia murung di akhir kalimat.


"Nanti Abang buatkan, ok?" ujar Adi yang merasa ada perubahan suara dari istrinya.

__ADS_1


"Betul ya, Bang?" sahut Adinda memastikan.


"He'em, memang enak kah minum jamu itu?" tanya Adi.


"Kalau lagi sakit pinggang atau pinggul aku kek mau pecah macam ini. Biasanya ibu sering buatkan jamu itu, terus tak lama sakitnya hilang." jawab Adinda menjelaskan manfaat dari jamu tradisional tersebut.


"Berarti Adek sering dong sakit pinggul macam ini? Cara buatnya kek mana, Dek?" balas Adi menimpali.


"Sering, tapi pas kandungan udah tujuh bulan. Kalau masih trimester kedua macam ini, aku masih biasa aja. Tak ada keluhan macam ini, Bang. Kunci itu ditumbuk, terus disiram air hangat. Terus disaring, tunggu adem terus langsung aku minum." jelas Adinda. Adi manggut-manggut mengerti.


"Terus sekarang masih sakit tak?" tanya Adi kemudian. Adinda mengangguk, dan mulai merengek manja kembali.


Adi menggelengkan kepalanya samar, tau bagini. Ia tadi tak usah bertanya tentang sakit pinggangnya istrinya, ini malah mengingatkan kembali istrinya pada rasa sakit itu.


"Sini Abang elus-elus, Adek sambil merem. Tidur, udah malam." ucap Adi dengan mulai menyibakan baju istrinya. Dan mulai meraba naik turun pada bagian yang Adinda tunjuk.


Tak berselang lama, nafas Adinda mulai teratur. Bertanda Adinda sudah terlalap dalam tidurnya.


Adi bangkit dan menuju ke kamar mandi, sambil membawa ponselnya. Ia duduk di kloset yang telah tertutup. Dan mulai memutar video yang sengaja ia buat dengan istrinya tersebut. Ia ingin mengeluarkan cairan putih, yang membuat kepalanya berdenyut nyeri itu.


'Col* teros ya ampun. Padahal istri sampek dua, tapi co*i tetap jadi pelarian.' gerutu Adi dengan menggelengkan kepalanya.


TBC.


Kasih hadiah dong, bunga atau kopi... sukur-sukur dapat yang lebih banyak 😆

__ADS_1


votenya bagi juga ya, 😁


__ADS_2