Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP137. Ada apa dengan Zulfa?


__ADS_3

ADI POV


Aku sudah berada di rumah kembali, dengan Dinda yang mulai mendiamkan aku. Sejak aku tak menjawab pertanyaan tentang dirinya yang dituduhkan sebagai pelakor, jika ia aku ceritakan pada umi sekarang. Atau mungkin karena ada Zuhra, jadi dia enggan untuk meninggikan suaranya.


"Dek, bikin teh manis dong." ucapku, saat Dinda melewatiku yang tengah duduk di karpet ruang keluarga.


Ia hanya melirikku sekilas sambil menganggukkan kepalanya. Hmm, aku sudah pasrah kalau Dinda diam seperti ini. Lebih baik ia mengeluarkan amarahnya, dari pada diam seribu bahasa seperti ini.


Tak lama ia muncul dengan segelas teh manis di tangannya, "Ini Bang." ucapnya dengan menaruh teh manis itu di atas meja, sembari duduk di sofa.


Aku memundurkan posisi dudukku, dengan punggung menempel pada sofa. Lalu kepalaku, aku miringkan, sehingga bersandar pada paha Dinda.


Aku mengambil alih ponselnya, yang tengah ia mainkan. Lalu aku menarik tangannya, kemudian menciuminya berkali-kali.


"Maaf, Dek." ucapku pelan, sambil masih menciumi tangannya.


"Zulfa nyayat tangannya di rumah Abang yang di kota C, Abang diminta balik tuh sama umi." ungkap Adinda yang membuatku langsung kalap.


"Terus macam mana keadaannya sekarang? Kok Adek bisa tau, kalau umi minta Abang balik?" tanyaku kemudian, dengan mendongak dan memperhatikan wajahnya.


"Bang Jefri yang bilang. Katanya Zulfa masuk rumah sakit, percobaan bunuh diri dengan nyayat tangannya. Tapi malah gagal, terus keadaannya kritis sekarang. Bang Jefri udah ada di rumah sakit kota J, katanya tolong sampekkan ke Abang soalnya dia bakal di kota C untuk beberapa hari. Terus juga dia ada bilang, katanya umi bilang Abang susah dihubungi. Terus katanya, Abang diminta buat balik ke sana. Ada masalah juga yang harus Abang selesaikan, sembari gantian nunggu Zulfa di rumah sakit katanya." jelas Dinda dengan wajah tanpa ekpresi.


"Kalau mau balik, tinggal balik aja sana. Bawa aja semua kartu-kartunya, mana tau diperluin nanti di sana." lanjutnya kemudian. Lalu ia menyandarkan punggungnya pada sofa.


Aku terdiam dengan mencerna ucapannya barusan. Perasaan ada yang aneh padanya, kenapa ia tak melarangku? Biasanya dia enggan aku tinggalkan, kenapa sekarang malah ia menyuruhku? Atau karena keadaannya berbeda, sekarang Zulfa tengah membutuhkan peran keluarga terdekatnya?


"Adek macam mana? Tak apa memang Abang tinggalin sebentar?" tanyaku kemudian.


Ia melirikku sekilas, "Biasanya juga aku dinomor duakan, aku tak apa Bang. Aku udah biasa juga ditinggal-tinggal." jawabnya ketus. Aku tau sebenarnya ia tengah marah sekarang. Mungkin ia menyuruhku pergi, karena ia ingin menenangkan diri tanpa diganggu olehku.

__ADS_1


"Zuhra nanti di sini aja ya, nemenin Adek. Terus suruh bantuin Adek bersih-bersih sama ngurus anak-anak." sahutku kemudian, dengan beralih duduk di sebelahnya. Dengan menandingi wajahnya yang masih terlihat tengah memendam amarahnya.


Dinda menganggukkan kepalanya, "Ya udah sana siap-siap, terus berangkat." balasnya dengan memencet tombol pada remote televisi.


"Kok Zulfa bisa ada di kota C lagi ya, Dek? Bukannya dia balik ke kota J, bareng sama umi dan ayah. Setelah nengok Naya lahir." ujarku dengan mendekatinya, kemudian menyandarkan kepalaku pada bahu kecil nan kokohnya.


"Naya siapa?" tanyanya dengan memberikan jarak padaku, membuat aku terjatuh ke sofa empuk ini. Karena yang menjadi sandaranku, malah duduk tegak dengan menghadapku.


Kenapa aku bisa terus-terusan keceplosan? Segala nama Naya aku sebutkan segala, tentu membuatnya semakin penasaran dengan teka-teki yang aku sembunyikan ini.


"Naya anak bayi tetangga depan rumah Abang itu, yang rumah di kota C. Jaraknya sekitar dua rumah dari rumah Abang, Dek. Kakeknya Naya itu, kerabat dekat ayah dulu. Tapi sekarang udah almarhum." jawabku menjelaskan. Karena memang benar Naya adalah cucu dari kerabat dekat ayahku, juga cucu ayahku sendiri.


Dinda mengangguk mengerti, "Ya udah sana siap-siap, biar aku carikan tiketnya" balasnya kemudian, sembari menyandarkan punggungnya lagi.


Aku mengangguk, lalu bergegas untuk bersiap. Aku masih berpikir, kenapa Zulfa bisa ada di kota C kembali? Kalau Jefri, karena ia kemarin baru mengantarkan ibu Risa. Tau begini, kemarin sekalian saja aku yang mengantar ibu Risa.


~


Tak butuh waktu lama, aku sudah berada di ruang inap Zulfa. Ia terbaring lemah, dengan alat-alat rumah sakit yang berbunyi.


Umi tengah tertidur di sofa panjang. Dengan Jefri yang tertidur dalam posisi duduk di kursi, dengan memegangi tangan Zulfa.


Permasalah apa sebetulnya? Sampai Zulfa berniat bunuh diri seperti ini.


Aku duduk di sofa single, yang terdapat di sebelah sofa panjang yang menjadi tempat tidur umi.


Kemana Edi dan Edo? Sampai aku yang berada di ujung pulau Sumatera diminta untuk datang.


Aku memainkan ponselku, mengetikkan pesan untuk Dinda.

__ADS_1


[Dek, Abang udah di rumah sakit. Tengok Jefri, sampek tidur sambil megangin tangan Zulfa.] tulisku pada pesan chat tersebut, dengan menyertakan foto Zulfa yang terbaring di ranjang dengan Jefri yang tertidur dengan menggenggam tangan Zulfa.


Namun, Dinda malah melakukan panggilan video. Jelas aku tak mungkin mengangkatnya. Saat aku membiarkan nada panggilan telepon ini berulang kali terdengar, umi malah terganggu dari tidurnya.


Aku sengaja tak mengangkat telepon dari Dinda, tapi aku tak berani menolak panggilan teleponnya. Aku takut ia malah marah, tapi dengan aku tak mengangkatnya. Dinda pasti berasumsi bahwa aku tengah mengobrol, atau tengah melakukan kegiatan lain.


"Bang, kapan datang?" ucap umi, setelah nyawanya terkumpul sempurna. Lalu umi duduk dengan menyerongkan tubuhnya, agar bisa menghadapku.


Aku menoleh pada umi, "Baru, Mi. Tadi turun dari bandara, Abang langsung cari bus. Soalnya jadwal kereta api adanya lepas subuh, jadi Abang cari bus aja yang nonstop." jawabku dengan tersenyum.


Umi meneteskan air matanya, reflek aku beralih ke sebelahnya dan memeluk umi erat. Kenapa ujian pada keluargaku begitu banyak, ayah yang tiba-tiba terjerat kasus hukum dengan adik kandungnya sendiri. Edi yang menikah karena pacarnya hamil duluan, belum lagi dirinya yang kekurangan dalam hal ekonomi. Zulfa yang direnggut kesuciannya, juga lika-liku perjalanan cintanya dengan Jefri yang penuh dengan air mata. Zuhra yang tak jauh beda denganku, bahkan aku lebih buruk lagi karena melakukan pernikahan rahasia dengan wanita yang aku cintai. Cuma Edo yang menjadi harapan keluarga kami, semoga ia benar-benar bisa menjaga nama baik keluarga.


"Kenapa Zulfa bisa ada di kota C? Kan Abang udah bilang, dia stay di kota J aja sama umi dan ayah." ucapku dengan mengelus punggung umi, agar umi teralihkan dari rasa sedihnya.


"Dia nyusulin Jefri. Adik kau itu tergila-gila betul sama mantan dokter itu, Bang. Umi aja tak tau, kapan dia pergi dari rumah yang di kota J." jelas umi yang membuatku tak percaya. Di depanku, seolah Zulfa kuat dan terlihat mencintai dengan wajar. Namun, ternyata ia mencintai laki-laki baji*gan itu dengan luar biasa.


"Kau kenapa bawa Jefri untuk mengelola ladang kau? Zulfa tak bisa jauh-jauh sama Jefri itu." lanjut umi dengan melepaskan pelukannya.


Aku berpikir sejenak. Aku masih teringat akan Jefri yang bertanya tentang nomor telepon Zulfa, juga keputusan asaan Jefri pada hubungannya dengan Zulfa. Bukan aku ingin menjauhkan mereka berdua, tapi aku membawa Jefri agar Zulfa kelak hidup dengan berkecukupan nanti.


"Aku gak mau putus… aku bakal nekat, kalau Abang tetep pengen kita putus." suara Zulfa yang menarik perhatian aku dan umi.


Lalu aku dan umi, bergegas mendekati Zulfa untuk bisa melihat keadaannya.


Jefri baru terbangun, dengan terlihat bingung ia memperhatikan Zulfa dan alat-alat yang berbunyi dengan bersahutan itu.


......................


Nih, bantu jawab. Kan ada yang nanya masalah selisih Maya dan Dinda.

__ADS_1


Jadi tuh, setelah nikah kan si Dinda kosong satu bulan. Makanya anaknya dan anak Maya beda dua bulan. Terus karena Dinda melahirkan lebih dini, jadi si Naya sama Ghifar cuma beda sekitar satu bulanan aja.


Pas Maya hamil udah tiga bulan, Dinda baru satu bulan hamilnya.


__ADS_2