
Apa lagi itu KB laki-laki? Masa iya aku yang diminta untuk ikut KB? Dirinya saja takut untuk KB, apa lagi aku yang jelas tak pernah menginginkan KB untuk diriku sendiri.
"Tak apa lah, Dek. Waktunya hamil sih, pasti hamil juga meski ikut KB juga. Nanti Abang cabut singkong deh, macam KB Adek sama Mahendra dulu. Tak apa lah, Abang rela buang luar. Tapi itu juga kalau tak kelupaan." sahutku setelah mendengar ucapannya, yang memintaku untuk ikut KB.
Dinda memukul lenganku, yang tengah menggenggam perseneling ini. Saat aku menoleh, terlihat ia tengah mengerucutkan bibirnya.
"Ehh, Bang. Ngomong-ngomong, rasa aku beda tak sih? Sejak melahirkan kembar ini. Soalnya aku sadar, aku jarang senam dari masa hamil. Gara-gara aku lemah, pas hamil kembar kemarin. Lepas melahirkan pun, aku belum sempat senam lagi sampek sekarang. Jadi macam mana rasa aku, pas kemarin aku WOT?" tanyanya yang membuat suaraku tercekik di leher.
Bagaimana aku harus menjawabnya? Jujur pasti menyakitinya, tak jujur bisa bertambah rumit masalahnya seperti halnya kemarin.
Aku menoleh padanya, saat itu juga Dinda tengah memandang penuh harap padaku.
Aku tersenyum canggung, "Enak kok, Dek. Macam biasanya aja, buktinya Abang sampek keenakan kan kemarin?" jawabku dengan beralih fokus pada jalanan kembali. Aku takut ketahuan, bahwa aku tengah berdalih.
Terdengar helaan nafasnya. Saat aku menoleh ke arahnya kembali, terlihat ia tengah memperhatikan jalanan dengan tatapan kosong.
Hmm… harus bagaimana aku menyikapinya? Aku tak bermasalah dengan rasanya sekarang, yang penting aku melakukannya dengan dirinya. Tapi ia sepertinya tak mengerti sekarang.
"Besok aku mau olahraga. Minta jadwal satu atau dua jam, untuk aku fokus olahraga. Aku tak mau ada Maya-Maya yang lain lepas ini, apa lagi masalahnya hanya gara-gara selang*angan aja." ungkapnya dengan nada yang menurun.
Ia tengah bersedih hati, sudah kuduga. Padahal tadi aku tak mengatakannya dengan jujur, bahwa ia sudah tak menggigit lagi. Tapi aku paham, ia seperti itu karena melahirkan keturunanku. Sampai membuatnya terbaring dengan mata tertutup selama dua hari, sampai membuatnya merasakan sakitnya pintu lahir disobek dengan gunting. Itu semua perjuangannya, untuk melahirkan keturunanku ke dunia ini.
"Nanti Abang temani olahraganya di sini. Kita sama-sama, ok? Jangan sedih dong, Sayang. Kan Abang tak kecewa, tak ngeluh juga. Abang paham, Adek macam itu juga karena lahirin keturunan Abang. Tak usah dipikirkan, Abang nerima kok. Yang penting Adek tetap di sisi Abang, tetap jadi istri Abang. Abang tak nuntut apapun dari Adek, Abang nerima bagaimana pun keadaan Adek. Dari dulu sampek sekarang, Abang nerima Adek apa adanya." ungkapku dengan menggenggam tangannya dan menciumnya, setelah menepikan mobilku di bahu jalan. Untuk membeli beberapa makanan yang Zuhra dan anak-anak inginkan.
"Tapi aku nuntut Abang jadi hot Daddy ya, Bang." sahutnya dengan cengengesan. Menandakan moodnya kembali membaik, atas ucapanku barusan.
"Sugar Daddy, Dek. He love me, he give me all his money. That Gucci, Prada comfy. My sugar daddy… uhh, ha-ha-ha, ha-ha." balasku yang membuat tawanya pecah.
"Yuk, beli makanan dulu." ajakku setelah selesai menyuarakan tawaku. Lalu kami berdua keluar dari mobil, menyusuri jalanan yang terdapat beberapa gerobak pedagang di sini.
__ADS_1
~
Malam harinya
Ini yang aku inginkan, di dalam kamar berdua bersama istriku. Givan tidur di kamar sebelah, Ghava dan Ghavi bersama umi dan Ghifar bersama Zuhra. Dengan Naya yang diurus oleh Bena, ternyata perempuan itu penyayang anak-anak juga. Aku masih merayu istriku karena ia masih enggan untuk melakukannya.
"Aku tuh… takut nanti Abang kabur, lepas terus-terusin nikmatin aku yang tak enak ini." ungkapnya dengan memeluk guling, dengan menghadap padaku.
Tanganku masih setia memeluk pinggangnya, dengan pandangan yang tertuju pada kedua bola matanya itu.
"Adek tak percaya sama Abang? Kemarin ada Maya aja, Abang tak pindah ke lain hati. Tetap Adek yang ada di hati, pikiran dan bayangan Abang." sahutku dengan membelai wajahnya.
"Masalahnya ini tentang ****. Laki-laki tuh lain di mulut, lain di hati. Kalau udah menyangkut tentang selang*angan tuh, Bang. Mana kemarin, kedengarannya aku becek betul lagi." balasnya dengan murung.
"Abang tak macam itu, Dek. Ayolah, Dek. Abang tak tahan, udah ng*ceng ini Adi's bird." bujukku kembali, dengan meraba punggung tanpa lemaknya itu.
"Janji jangan buang aku, lepas Abang tau rasa tak enak aku? Janji modalin aku sampek enak lagi? Janji ada orang ketiga, hanya karena masalah **** aja?" ungkapnya dengan menahan dadaku. Karena aku mulai mendorong tubuhnya, kemudian mulai mengunci pergerakannya.
Dinda mengangguk, kemudian dengan cepat aku langsung membuatnya melenguh. Hanya dengan sentuhan dan mulutku saja.
Akhirnya, aku bisa menikmati istriku tanpa penghalang karet berpelumas lagi. Aku bisa menjejakkan lidahku kembali, untuk menikmati rasa dan bau khas dari inti istriku. Juga tak luput, dari hisapan mulutnya dan sapuan lidahnya pada Adi's bird beserta perangkatnya.
Sungguh, bukan hanya nafsu aja. Aku sungguh menikmati percintaanku dengan istriku, aku merasakan perasaan yang tersalur melewati hubungan ini. Aku mencintai Adindaku, dengan Adindaku pun tak kalah besarnya rasa cintanya padaku.
"I love you, Adinda istri Abang."
"Love you too, Adi Riyana."
~
__ADS_1
~
~
Ini adalah hari ketiga Naya sakit, ia demam tinggi sampai 40 derajat celcius.
"Coba sini aku yang urus dia, Mi. Aku megang dia cuma nyuapin, terus paling nidurin aja." ucap Adinda yang membuat kami semua terdiam. Pasalnya tak hanya satu kali, Dinda mengatakan ia menolak Naya untuk diurusnya.
"Aku mau bawa dia bilas air hangat dulu." lanjutnya setelah mengambil alih Naya.
"Umi… Naya nanti Abang bawa, kalau Dinda memang udah mau nerima Naya." ucapku yang memecahkan keheningan di ruang tamu ini.
Ruang tamu ini sudah seperti ruang bermain, karena dua orang anakku yang hiperaktif ini. Belum lagi Novi, yang ikut hebohnya saja karena temannya banyak.
"Atur aja, macam mana baiknya. Kalau dia bisa ngelukain suaminya sendiri, kemungkinan besar dia juga bisa ngelukain anak dari suaminya." sahut umi dengan memperhatikan anak-anak.
"Dinda macam itu, karena Abang nyakitin dia. Tapi Dinda tak pernah gigit-gigit lagi, lepas dia bersalin dari hamil Ghifar. Udah bisa ngontrol emosinya, tapi malah berdampak ke pikirannya. Banyak diem, ngelamun. Tiba-tiba langsung drop aja." balasku dengan mengingat bagaimana Dinda menyikapi amarahnya.
"Ya udah, kau kenal Dinda lebih baik dari pada Umi. Kau atur aja, macam mana untuk keluarga kecil kau. Yang penting yang rukun, jangan ada cerai-cerai lagi. Kasian anak-anak kau itu, coba perhatikan si kembar juga itu. Dia udah mulai angkat-angkat kepala, bentar lagi juga lehernya tegak terus bisa tengkurap mereka." ujar umiku dengan beralih menatap kembar yang berada di bouncer bayi, yang berada di sebelahku.
"Mau punya adik lagi kembar tuh, Mi." timpal Zuhra dengan santainya.
Apa ia tak tahu, abangnya ini mendapatkan pelototan tajam dari omahnya anak-anakku.
"Kan Umi udah bilang, minta Dinda ikut KB dulu. Kau kenapa sih pengen betul anak banyak? Anak kau udah lima, Di. Mana masih kecil-kecil semua pulak!" sewot umi dengan suara yang lepas.
"BANG…"
"SIAPIN MOBIL! KE RUMAH SAKIT SEKARANG, NAYA….
__ADS_1
......................