Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP17. Fantasi Adinda


__ADS_3

"Maya itu… siapa ya?" ucapku bingung akan menjawab apa.


"Siapa Pah?" tanya Givan lagi.


"Temennya Papah." jawabku sekenanya. Aku malah gugup, hanya karena ditanya Givan. Apa lagi nanti jika Dinda bertanya.


Lalu aku menggendong Givan, dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut.


Saat aku memasuki ruangan Dinda. Terlihat ia tengah duduk bersandar, dengan memainkan ponselnya.


Kenapa pikiranku selalu buruk. Aku khawatir foto-foto pernikahanku dengan Maya tersebar di sosial media.


Padahal waktu itu aku sudah berusaha menolak untuk difoto. Tapi bagaimana lagi, anggota keluarga memaksaku untuk berfoto bersama.


"Lagi liat apa, Sayang?" tanyaku memasang senyum lebar dengan berjalan ke arahnya.


Dinda menoleh padaku, dan membalas senyumku sekilas. Aku duduk di sampingnya, dan melirik pada layar ponselnya. Ternyata ia tengah mengetik naskah untuk novelnya.


"Mamah aku kurus kali. Adek bayi pasti nyusahin Mamah terus di dalam sana." ungkap Givan memanyunkan bibirnya. Lalu ia berpindah untuk duduk di tengah ranjang.


"Abang udah sembuh belum?" tanya Dinda dengan mengusap rambut Givan sekilas.


"Belum. Aku masih sakit kepala, masih ingusan juga." jawab Givan dengan menggosok hidungnya.


Lalu ia berpindah pada pangkuan ibunya. Dan mereka saling bergurau ringan, dengan tawa renyah menyertainya.


Sehangat ini keluarga kecilku. Sebahagia ini kami bertiga. Namun aku malah menyembunyikan pernikahanku dengan Dinda dari keluargaku. Aku dan Dinda pun tak pernah mengunggah foto kami di sosial media. Jika kami berlibur bersama. Foto yang kami posting, hanya foto diri masing-masing. Tapi memang banyak juga foto kami bertiga, yang aku simpan di ponselku.


Dunia luar, dan negara hanya mengakui pernikahanku dengan Maya saja. Aku malah merasa sedih macam ini, saat anakku dan istriku tengah tertawa bahagia. Aku begitu takut, kebahagiaan ini tak pernah kurasakan lagi.

__ADS_1


Givan meminta susu kotaknya. Setelah menghabiskannya, ia langsung merebahkan diri di tengah-tengah ranjang. Mungkin ia masih mengantuk, karena ia hanya tertidur di perjalanan tadi saja.


Givan tak mau lagi dengan susu formulanya. Ia lebih suka susu kotak varian strawberry. Dan ia sudah tak pernah mengompol lagi sekarang. Hanya saja memang ia masih begitu malas untuk makan sendiri.


Dinda menarik daguku, dan langsung menyesapi bibirku. Ini membuatku terkejut bukan main, sampai hampir terjatuh. Karena posisi p*n*atku, hanya setengah yang menempel pada tepian ranjang.


Hanya sebatas bibir saja. Lalu ia langsung melepaskan daguku, begitu menyadari aku akan terjatuh. Ia terkekeh pelan, dan berkata, "Cepat bawa aku balik. Aku udah pengen kali. Apa kita main di sini aja?" ucapnya membuatku langsung menoleh padanya.


Ia semakin terkekeh, dengan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ekspresi Abang lucu betul." ujarnya kemudian.


"Apa sih kok tengok aku aneh macam itu? Abang udah bosan sama aku? Apa udah nemu lobang yang lebih enak?" tuduhnya yang terlihat sudah tersulut emosi lagi.


"Bukan macam itu, Sayang. Abang juga udah pengen betul. Apa lagi pas Abang tidur di kamar Adek yang di rumah ibu. Abang masih ingat Adek waktu Adek gigit-gigit bantal. Biar suaranya tak kedengaran. Malam itu kita main sampai tiga ronde josss. Hebat kan Abang waktu itu?" ucapku dengan tersenyum sombong. Mungkin Dinda mengingat kembali masa itu. Terlihat dari rona wajahnya yang terlihat merah pias.


"Tapi Abang mentok cuma empat ronde sehari, itu juga tak nyambung. Kenapa tak mampu sampai delapan ronde?" ujarnya yang membuatku melongo. Apa dia kata? Delapan kali sehari? Tiga ronde nyambung saja, keringatku sampai ke p*n*at-p*n*at. Apa lagi delapan kali nyambung. Bisa-bisa langsung pekok aku dibuatnya.


"Tapi di novel-novel laki-laki pada kuat lama. Abang padahal pemuda yang staminanya masih ok. Tapi letoy betul. Mana pas malam pertama Abang keluar duluan lagi." ungkapnya kemudian. Sungguh aku paling tak suka sifatnya yang suka mengungkit yang sudah-sudah ini. Aku jadi malu sendiri karena mengingat kejadian itu kembali.


"Di novel laki-laki macam itu semua kan, karena itu harapan semua wanita. Kehaluan, dan mimpi-mimpi para wanita pengen dapat laki-laki yang sekuat itu." jawabku mengambil nafas sejenak.


"Bukan Abang letoy. Adek bayangin aja, kalau Ng W sampai terkoyak-koyak macam di novel. Bisa-bisa nanti pas jalan. Kaki kiri di Sabang, kaki kanan di Marauke." lanjutku kemudian. Sungguh aku tak terima dikatakannya letoy. Memang aku akui aku pernah selemah itu di hadapannya. Tapi itu kan karena aku lama tak berhubungan badan kembali. Terus juga waktu itu, aku baru sembuh dari sakitku. Belum lagi badanku yang kurus kering. Tak segagah sekarang. Harap dimaklumi sajalah, aku keluar cepat. Ini malah dijadikan sebagai bahan ejekannya pada suaminya sendiri.


"Mahendra pun sama macam Abang. Tak begitu perkasa. Lebih-lebih aku dulu selalu minta duluan padanya. Tapi seringnya aku ditolak. Kira-kira kalau laki-laki macam itu dosa tak ya, Bang? Katanya istri kalau nolak suami, dosa besar. Terus suami kalau nolak istri, dosa tak? Terus tiket surgaku di cancel apa hangus jadinya?" tanyanya yang membuatku terkejut. Kenapa ia masih sering membahas mantan suaminya itu padaku? Apa ia tak paham, kalau aku tak menyukai hal itu.


"Mahendra kuat berapa kali sehari? Biasanya nyambung berapa ronde sekali main?" tanyaku penasaran. Aku ingin tahu sedikit, tentang laki-laki yang menitipkan benihnya pada rahim Dinda dulu.


"Pas pacaran sih paling cuma nyambung dua ronde. Tapi pas satu tahun mau nikah. Dia ada masalah sama senjatanya. Kadang tak bisa keras betul. Terus juga cepat keluar. Aku kalau tak ikutan mainan sendiri, bisa-bisa tak bisa bikin aku kl*maks." jawab Dinda yang menginginkanku pada malam pertamaku dan dia. Waktu itu, Dinda sempat menggosok daging kecilnya juga. Ok sampai di sini, aku paham.

__ADS_1


"Setau Abang, suami juga sama dosanya. Kalau tak bisa menuhin kebutuhan batin istrinya. Malah kan untuk suami, memberi nafkah batin ini hukumnya wajib. Karena Abang pernah dengar dari Jefri, kalau tak salah. Perempuan pasti bermasalah kalau kekurangan uang, atau kekurangan nafkah batinnya. Jadi tak balance hidupnya macam itu." sahutku menimpalinya.


Dinda mengangguk-anggukan kepalanya, "Pantas aku macam ini ya, Bang? Aku dulu kurang uang, kurang nafkah batin juga. Malah beberapa kali aku pernah main sendiri, hanya untuk menuhin rasa yang memuncak itu." balas Dinda kemudian. Aku tak menyangka, ternyata istriku dulu bermain se*s solo juga. Berarti bukan hanya aku saja yang suka bersolo ria dengan busa sabun.


"Sekarang kan udah balance hidup Adek. Udah Abang penuhi semuanya. Asal nurut aja sama Abang. Jangan khawatir bakal kurang satu apa pun." tukasku dengan menyunggingkan senyum lebarku.


Dinda membalas senyumku sekilas, "Tapi aku masih penasaran." ucapnya dengan pandangan lurus ke depan.


"Penasaran apa lagi, Dek?" tanyaku dengan memperhatikan wajahnya.


"Rasanya main delapan kali sehari. Pasti enak kali. Aku bisa tidur nyenyak keknya." jawabnya dengan tersenyum lebar.


Gila memang istriku. Fantasi se*snya terlalu berlebihan. Tiga kali nyambung pun, ia sudah lemah tak berdaya. Wajah sampai pucat pasi. Badan sampai basah keringat. Belum lagi gel rubricant yang harus ditambahkan ke gawangnya. Karena aku khawatir nanti ia akan lecet. Masih saja berangan-angan delapan kali sehari.


"Kalau Abang bisa menuhin nanti, janji loh besok-besok tak minta libur panjang. Lebih-lebih jangan minta libur tugas, alasan capek." sahutku kemudian. Dengan menunjuk padanya.


"Kan Abang udah dikasih enak-enak. Masa tak bagi aku libur." balasnya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Abang kan tak minta. Itu kan Adek yang mau. Ya udah nanti Abang jabanin. Asal janji ya itu, besoknya Abang tetap dapat. Terus Adek paginya tetap nyuci, masak macam biasa." ujarku padanya.


Namun Dinda terkekeh kecil dan menyubiti tubuhku. Aku menghindarinya, dan berpindah duduk ke kursi di dekat ranjangnya.


"Kesel aku sama Abang. Tak sayang istri. Istrinya macan pembantunya. Hari-hari aku disuruh buat cuci, masak, beres-beres terus. Lama-lama aku kabur juga macam kak Sukma." tuturnya sewot. Tuh kan, dia mulai lagi…


TBC.


Dinda tak pernah mau untuk cerita tentang kehidupannya. Tapi sedikit demi sedikit, pasti dia buka mulut tentang kehidupannya dulu. Nanti juga ada episode cerita tentang Dinda dan masa lalunya. Dan alasan kenapa ia bisa bercerai. Memang tak begitu penting sih, tapi Adi masih penasaran tentang itu. Yang ia tahu dari stalking sosial media Dinda, cuma klise-klise kehidupan Dinda yang samar. Jefri dan Haris pun tak bisa ngasih informasi lebih tentang masa lalu Dinda. karena memang Dinda tak mau cerita, dan dia bukan tipe orang yang terbuka dalam cerita kehidupannya. Dia lebih suka memendam, dan dituangkan dalam tulisan. Dia bukan orang yang gampang bercerita, atau curhat tentang masalah kehidupannya.


Sukma itu mantan istrinya Haris ya. Aku ingetin, biar tak lupa 🤭

__ADS_1


Ayo dukung author, LIKE, VOTEnya jangan lupa 😘


__ADS_2