Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP141. Daster midi


__ADS_3

"Ngomongin apa, Bang?" tanyanya setelah menegakkan punggungnya.


"Udah sana ambilin minum dulu!" pintaku kembali dengan meliriknya sekilas.


Kemudian Maya berjalan ke arah dapur, tubuhnya tetap saja gemuk. Namun, tutup tekonya terlihat begitu mangkal dan menggantung.


Tak lama ia kembali dengan air minum dingin di tangannya, "Ini Bang." ucapnya dengan menaruh air tersebut di atas meja.


"Lagi pakek korset, May?" tanyaku setelah meneguk air minum ini hingga tandas.


"Iya, Bang." jawabnya ringkas. Saat aku menoleh ke arahnya, ternyata ia tengah memainkan ponselnya.


Kenapa ya aku tersinggung? Jika pasanganku bermain ponsel saat tengah bersama denganku.


Entah Dinda, ataupun Maya tetap saja membuatku tersinggung saat aku dinomor duakan dengan ponsel.


"Taruh coba hpnya!" seruku dengan meliriknya dengan tatapan tajam.


Maya melihat ke arahku, kemudian langsung menyimpan ponselnya.


"Ibu mana?" tanyaku kemudian.


"Ibu lagi ke Zulfa, terus gak lama Abang datang." jawabnya dengan mencondongkan tubuhnya, agar bisa mengajak Naya bercanda. Sialnya, benda mangkal itu menempel tepat di tanganku.


Kuat-kuat, Di. Dinda punya lebih kencang dan ok, ingat Dinda di rumah nungguin aku pulang. Jangan sampai aku nyentuh Maya, karena bisa bikin Dinda semakin tak bisa maafin aku.


"Berarti ibu pergi, Abang datang?" sahutku dengan menggeser tubuhku ke sebelah kiri, agar lebih ada tempat untuk Maya.


"Iya, Bang. Mau makan apa? Biar aku pesanin dari g*food." balasnya dengan mengambil ponselnya kembali, lalu mengutak-atik benda pipih tersebut.

__ADS_1


"Kau tak bisa masak kah?" ujarku dengan memperhatikan pergerakannya. Jangan-jangan ia setiap hari seperti ini? Beli makanan lewat online terus.


"Kalau masak kan nanti tangan aku bau bumbu, aku kan harus nyebokin Naya terus ngurusin dia juga. Nanti kalau abis motong cabai, bisa-bisa Naya kepedasan kena tangan aku." tuturnya yang membuatku geleng-geleng kepala.


"Masak kan ada teknik dan caranya, May. Biar tangan kau tak pedas gara-gara cabai." tukasku dengan bangkit dari posisiku, lalu memberikan Naya pada Maya.


Kemudian aku pergi ke kamar, bermaksud untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Namun, saat aku baru masuk ke kamarnya. Aku menemukan diapers bekas yang tergeletak di dekat pintu dan bau lembab yang menyeruak ke hidungku.


Bagaimana aku tak marah-marah terus, kalau tengah berada di sini? Karena keadaannya seperti ini. Masa iya aku yang harus beres-beres terus? Di rumahku pun, aku hanya membantu Dinda ala kadarnya. Tak melulu aku yang mengerjakan tugasnya. Hanya saat dia baru melahirkan saja, aku mengerjakan semua pekerjaannya bersama Zuhra. Namun, tak sampai lama. Saat Dinda sudah pulih, ia sudah mengerjakan tugasnya seperti biasa. Cuma memang, aku sekarang memiliki tugas tambahan. Yaitu wajib mencuci pakaian bayi Ghifar. Karena pikiranku sekalian, aku mencuci pakaian semua anggota keluarga.


Aku menghela nafas panjangku, aku mencoba sabar melihat keadaan kamar yang seperti ini.


Aku mulai memunguti beberapa sampah kering seperti tisu, diapers dan bekas bungkus makanan ringan. Pendingin ruangan aku matikan, lalu aku membuka jendela kamar ini.


Setelahnya, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Tentu pakaianku yang aku bawa ke kamar mandi, aku takut kecolongan jika nanti ganti pakaian di kamar. Aku khawatir Maya masuk ke kamar begitu saja, saat aku tengah berganti pakaian. Kan bisa rugi besar aku nanti.


"Mandi, May. Pakek pakaian yang betul, aku tak suka tengok kau pakek baju itu." ucapku dengan membawa handuk yang kupakai tadi keluar, untuk ke jemur.


Namun, saat aku hendak berlalu Maya menjawab ucapanku seperti biasa. Dengan membantah apa yang aku suruh.


"Aku tuh nyaman pakek daster, Bang. Abang tuh banyak aturan banget sih!" sahutnya terdengar begitu ketus dengan melirikku sekilas.


"Bukan masalah dasternya, May. Tapi model dasternya, kan ada daster yang modelnya mudaan dikit. Kan ada daster midi kek gitu, yang cuma panjang sepaha terus modelnya lurus aja. Perempuan muda tuh lebih pantas pakek daster kek gitu, bukan daster macam kau pakek May. Bukannya apa-apa, aku sebagai laki-laki enak mandangnya May. Tak bikin mata aku sakit." jelasku dengan menaikkan suaraku.


Kesal betul aku padanya. Setiap kali disuruh, bisa saja membantahnya.


"Kok Abang tau ada model daster midi?" tanyanya dengan raut wajah heran.

__ADS_1


Aku pasti tau lah, karena Dinda selalu membeli daster model itu. Mana harganya sekitar 20 ribuan saja lagi. Tapi enak dipandang dan Dinda mengatakan juga, bahwa daster itu bahannya nyaman. Namun, memang masa pakai daster itu tak lama. Karena jahitannya mudah lepas, karena pencuciannya menggunakan mesin cuci. Mungkin akan lebih lama, jika dicuci hanya dikucek dengan tangan saja.


"Tau, lah. Daster itu kan jejeran paling depan di toko pakaian yang jual daster." jawabku kemudian, lalu aku berlalu untuk menjemur handuk yang barusan kupakai.


Lalu aku kembali lagi ke kamar, untuk membahas tentang perceraian itu.


"Simpan mana surat cerai itu?" tanyaku dengan duduk di tepian tempat tidur.


"Abang mau ambil lagi surat itu?" ucapnya dengan tersenyum sumringah.


"Tak, mau tengok kau udah tanda tangan belum." jawabku yang membuat senyumnya pudar seketika.


"Tuh di dalam lemari!" sahutnya dengan membuang mukanya kembali fokus pada Naya.


Aku berjalan ke arah lemari, lalu mencari keberadaan surat itu.


Aku menemukan surat itu dan mengambilnya dengan sangat hati-hati sekali.


Kemudian aku duduk di tepian tempat tidur, sembari membaca surat tersebut.


"Tinggal tanda tangan aja ini, May. Kenapa tak kau tanda tangani juga?" ujarku dengan memberikan surat itu pada Maya.


Namun, ia malah melelehkan air matanya. Hadeh, tambah panjang urusanku kalau begini caranya.


"Jangan nangis dong. Naya nanti akan tetap sama kau, sampek kau habis masa idha." ucapku lembut dengan menyentuh lengannya.


"Ini Abang ceraikan aku bener-bener keterlaluan. Aku gak bisa ngasih keterangan, biar pernikahan kita bisa ditangguhkan. Dengan aku cuma tanda tangan, terus masalah kita selesai. Sejahat itu Abang sama aku. Aku yang ngandung Naya, tapi malah hak anak jatuh ke Abang. Di mana hati nurani Abang?" ungkapnya dengan tangisan yang kuat. Pasti tetangga bisa mendengar suara Maya.


"Cuma itu yang terbaik untuk hubungan kita. Kau yang paham, bahwa rumah tangga kita ini terlalu dipaksakan karena keadaan. Nanti Abang janji, kau tetap bisa nengok Naya. Biar waktunya Abang usahakan nanti. Kau pun bakal tetap dapat jatah bulanan dari Abang, sampek masa idha kau selesai. Dengan begini, kau bakal bisa bebas tanpa ikatan dengan Abang. Kau bebas keluyuran dengan laki-laki manapun, kau bisa jalan-jalan ke mana pun kau mau tanpa direpotkan Naya." sahutku dengan duduk di dekatnya, lalu aku memeluknya. Mencoba membuatnya tenang, dengan caraku sendiri.

__ADS_1


"Bukan terbaik untuk kita, tapi terbaik untuk selingkuhan Abang. Iya kan?" serunya dengan memandangku penuh tuntutan.


......................


__ADS_2