Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP182. Kejutan untuk Adinda


__ADS_3

Dinda tengah duduk di bangku panjang, yang berada di bawah pohon mangga di halaman rumahku. Dengan Ghifar yang berada di kereta dorong, terlihat ia tengah disuapi makanan oleh Dinda. Jam-jam segini, biasanya Givan masih berada di TK. Sepertinya juga, Zuhra tengah keluar untuk membeli sayur. Karena saat aku akan berangkat ke rumah sakit tadi, Zuhra tengah mencatat barang yang akan ia beli.


"Kok cepet betul, Bang? Biasanya dzuhur baru balik." tanya Dinda, setelah aku keluar dari dalam mobil.


"Iya dong." sahutku dengan tersenyum lebar. Lalu aku membuka pintu belakang, dengan langsung mengangkat jok bayi kembar yang bisa diubah menjadi kereta dorong ini.


Dinda melongo melihat aku mendorong kereta bayi berisikan dua anak kembar kami, "Haaaaah, Abang tak bilang-bilang!" serunya dengan langsung mengambil alih mereka.


"Masuk yuk, Nak. Kalian harus tetap hangat." ucap Dinda dengan mendorong kereta bayi menuju pintu utama rumah kami.


Bisanya Ghifar ia tinggal? Sampai suara nyaring Ghifar ia hiraukan.


Aku mendekati Ghifar, kemudian mendorong keretanya untuk memasuki rumah.


"Emak kau itu, Nak? Ada yang baru, jadi lupa sama kau!" ujarku pada Ghifar.


Suaranya langsung melengking tinggi, kemudian tangisnya langsung terdengar begitu memekakan telinga.


"BAWA MASUK, BANG!!" seru Dinda dari dalam rumah.


"Eh tak, Nak. Mak kau tak lupa sama kau, dia masih ingat ternyata." ujarku pada Ghifar kembali. Namun, sayang tangisnya tak mau reda juga. Akhirnya, aku menggendongnya dan mendekapnya agar ia tenang.


Lalu Ghifar memukul-mukul mulutku dengan telapak tangannya, terlihat ia begitu marah padaku.


"Papah iseng ya? Maaf ya? Jangan ambek dong." tuturku dengan mencium pipi gembulnya. Putraku ini memang darah tinggian, dia suka marah-marah tak jelas. Pak cekku bilang, aku kecil sepertinya. Tangisnya kuat, lengkingannya kuat, rewel dan tak betah basah. Juga selalu minta digendong, persis seperti Ghifar.


"Sayang, Ghifar butuh dirimu ini. Dia menangis mencari indukannya, dia membutuhkan dekapan hangat dari kasih sayangmu." seruku dengan berjalan menuju kamar.


Tak sia-sia juga ideku, Ghifar berhenti menangis dan malah memperhatikan wajahku. Terlihat lucu sekali ekspresi melongonya saat ini, gemas betul pada benihku yang satu ini.


Ghifar memukul kembali mulutku, saat aku tertawa geli dengan memperhatikannya.

__ADS_1


"Darah tinggian kau, Nak. Papah jenggot nih, biar Adek ketawa." tuturku dengan menaruhnya di atas sofa ruang keluarga. Lalu menggesekan daguku pada leher, juga area ketiaknya.


Benar juga, tawanya lepas dengan bahagia. Ia mendorong kepalaku, agar kepalaku menjauh dari tubuh gembulnya. Meski memang, dorongan darinya tak berarti untukku.


"Mau kenalan tak sama adek-adek baru yang Papah bawa tadi? Mereka mirip Abang Ghifar juga loh. Oh iya, hari ini Adek Ghifar berubah menjadi Abang Ghifar." ucapku setelah puas membuatnya terbahak.


Ia mengeluarkan suara yang tak aku mengerti artinya, mungkin artinya ada di bawah ini. Seperti tayangan film yang menggunakan bahasa asing.


Terlihat Dinda tengah menyusui salah satu di antara mereka, ia begitu bahagia bisa dipersatukan dengan bayi yang ia kandung kemarin.


Arrggggggg……


Bukan, bukan suara Godzila. Melainkan suara bocah yang tengah aku gendong ini. Ia tak terima dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


Dan saat itu juga, owa…… . Tangis terkejut dari si kembar, mereka menyuarakan tangisnya secara bersamaan.


"Bang, macam mana ini? Kita harus ngapain?" ucap Dinda panik, dengan menggendong salah satu di antara mereka.


Tak sampai di situ saja, Ghifar menyuarakan tangisnya juga. Membuat suasana kamar ini menjadi semakin riuh, ia pun mengesot dan memeluk kakiku.


Ketika aku menundukkan pandanganku, aku menemukannya tengah mendongak menatapku dengan tatapan sedihnya. Belum lagi bibir bawahnya yang maju, karena ia tengah mewek sekarang. Membuatku merasa geli dengan pemandangan sekarang.


Aku menoleh ke arah Dinda, ternyata istriku tengah tertawa tertahan melihat pemandangan ini.


"Paa…. Arghhhhhh, Pah…." suara Ghifar ditengah tangisnya.


"Heh, Nak! Apa kau sebut barusan? Kau sebut Papah? Kenapa bukan Mamah, orang yang kau sebut pertama kali?" seru Dinda yang membuat Ghifar terhenti dari tangisnya. Lalu ia lebih kencang menangis, saat Dinda selesai berbicara.


Aku membenarkan posisi bayi Ghava yang mulai reda dalam tangisnya. Lalu aku sedikit berjongkok, untuk menggapai Ghifar yang masih setia memeluk satu kakiku. Kasihan sekali dengannya? Ia seperti anak orang yang dititipkan saja.


Dengan tangan kiriku menggendong Ghava, tangan kananku menyangga tubuh Ghifar. Kemudian, aku membawanya ke tengah tempat tidur. Karena aku tak merasa aman dengan posisi seperti ini, aku takut salah satu di antara mereka malah terjatuh.

__ADS_1


"Abang bahagia, Dek. Adek sehat terus ya, bahagia terus ya." ucapku dengan mencondongkan tubuhku, kemudian mengambil satu kecupan ringan di bibir istriku.


"Pah… Paaaaaa…...aaargh…." pekik Ghifar yang melihat adegan barusan.


"Apa? Mau dicium juga? Boleh, sini Papah kasih cium. Tapi jangan teriak-teriak terus, Adek Abang kan jadi kaget. Kasian ya sama mereka, kasian sama Mamah juga. Tuh keringatnya sampek macam orang mandi." ujarku dengan memperhatikan wajah Ghifar.


Ghifar mengangguk, meski aku yakin dia tak paham akan ucapanku barusan. Dinda bermandikan keringat karena ia merasa panik, dengan tangis ketiga anaknya secara bersamaan itu. Tentu karena itu adalah hal baru untuknya.


Aku mencium Ghifar, lalu memperlihatkan Ghava yang tengah memakan sarung tangannya. Ia sudah tak sabar ingin langsung menghisap pucuk dada ibunya, pasti ia tengah lapar sekarang.


"Ini Ghava, adiknya Abang Ghifar. Jagain Adeknya, jangan dinakalin." ucapku padanya, anak itu hanya mengangguk saja. Ia seolah mengerti akan ucapanku itu.


Aku menoleh ke arah ibunya anak-anak, "Bisa tak nyusuin dua, Dek? Keknya Ghava udah tak tahan, dia lapar keknya." ujarku kemudian.


Dinda mengangguk, "Aku tengok di buku KIA sih bisa, Bang. Ada caranya, silang macam itu Bang. Bisa juga, salah satunya disangga bantal." sahutnya dengan mulai mengatur posisi Ghavi.


Aku beralih pada Ghifar yang tengah menarik-narik kain Ghava, "Diam dulu, Nak. Papah mau bantu Mamah dulu." tuturku membuatnya melongo tanpa ekspresi.


Aku mengambil satu buah bantal, lalu aku tempatkan di atas paha Dinda. Dengan posisi menempel ke perutnya. Lalu, dengan perlahan aku menaruh Ghava di atas bantal tersebut. Kemudian aku memposisikan ujung dada Dinda, untuk diarahkan ke mulut Ghava.


"Awww… Sakit, sakit." pekikan tertahan dari sang pemilik dada.


"Abang… kuat kali hisapannya, sakit betul p*t*ng aku." rengeknya dengan meremas lenganku.


"ASTAGHFIRULLAH… ADI? DINDA BARU DUA MINGGU NIFAS, DI!!!" teriak seseorang dari luar kamar.


Dinda melongo sesaat, kemudian ia tertawa geli bersama denganku juga.


"Arghhhhhh…." teriak Ghifar dengan memandang kami berdua. Ia memang tersinggungan, jika kami tengah tertawa tanpa mengajaknya.


"Bukan ngetawain Bang Ghifar. Tuh, ada …..

__ADS_1


......................


__ADS_2