Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP214. Masalah tengah malam


__ADS_3

"Umi sama Ayah juga kenapa? Kok malah nyambut kita? Dari awal aku tutup-tutupi Dinda, karena aku takut Dinda dimaki kalian." tanya Adi setelah terdiam beberapa saat.


"Pas keluar dari taksi, pada gendong anak yang masih kecil. Belum lagi Givan sama Ghifar berantem, rebutan gendong sama papahnya. Di situ Umi paham, bahwa itu anak-anak kalian. Mana muka cucu kita mirip papahnya semua ya, Yah?" jawab ibu Meutia dengan menoleh pada suaminya.


Pak Dodi mengangguk, "Ayah juga pahamnya dari situ. Ayah pas denger cerita dari Umi, langsung keinget anak Dinda yang di pesta Haris. Pas itu tuh, Ayah ngerasa pernah liat muka anak itu. Kek dejavu, macam itu. Bayi waktu itu, bayi Ghifar kan?" sahut pak Dodi kemudian.


Adi dan Adinda mengangguk secara bersamaan, "Abang sama Dinda waktu itu lagi renggang. Yang Abang punya luka di pelipis itu, Yah. Itu hasil buah dari kebohongan Abang ke Dek Dinda, tanpa ba-bi-bu langsung aja hantam. Menantunya rawan nih, Yah. Harus jaga-jaga, jangan sampek lengah." balas Adi yang mendapat cubitan di beberapa bagian tubuhnya.


Adi menahan tangan istrinya, "Ampun, Sayang. Gurau aja, Dek." ujar Adi dengan memeluk istrinya.


"Udah sore, bawa kembar masuk." pinta ibu Meutia, dengan dirinya membereskan gelas kosong yang berada di atas meja teras.


Lalu Adi dan Adinda membawa masing-masing satu, dari dua bersaudara sejak di rahim tersebut.


~


~


Lima hari kemudian


Adinda terlihat beberapa kali menghela nafas beratnya, ia begitu kelelahan untuk bergantian menyusui si kembar sedari tadi.


"Bang… bangun. Aku capek, pinggang aku sakit betul." ucap Adinda dengan menggoyangkan tangan suaminya.

__ADS_1


Adi menggeliatkan tubuhnya, lalu ia mengucek matanya beberapa kali. Netra Adi terbuka perlahan, dengan menghadap pada istrinya. Pemandangan wajah Adinda yang lelah, dengan bibir mengerucut begitu jelas di mata Adi. Sesaat Adi terfokus pada kedua bayi yang berada di depan dada istrinya, bayi tersebut terlihat tengah menikmati makanan eklusifnya.


"Aku capek… dari jam dua mereka nyon-nyon." ujar Adinda dengan menarik sudut bibirnya ke bawah.


Adi memahami karakter istrinya, ia yakin setelah ini istrinya akan merengek seperti anaknya. Adi bergegas bangkit dari posisinya, lalu ia menggapai busana bagian bawahnya.


"Bentar ya, Abang cuci dulu." ucap Adi dengan memakai segitiga berkaret bertuliskan Rider sport dan celana rib pendeknya. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Adi sudah berada di atas tempat tidur. Ia tengah mengambil alih Ghava, dengan dot botol yang berisi ASIP yang sudah direndam air hangat.


"Adek cuci belum tadi?" tanya Adi dengan memperhatikan Adinda yang perlahan merebahkan tubuhnya, dengan Ghavi yang sudah memiringkan tubuhnya untuk melahap pucuk dada ibunya.


"Udah." jawab Adinda singkat. Wajahnya begitu tak bersahabat, ia memejamkan matanya saat suaminya menatap wajahnya dengan begitu intens.


Adi bangkit dari duduknya, ia mengayunkan anaknya yang tengah menikmati ASIP dari botol tersebut.


Adi menggelengkan kepalanya berkali-kali, saat melihat istrinya mengusap bulir bening dari matanya.


Kemudian Adi duduk bersandar pada kepala ranjang, dengan tangannya terulur untuk membelai surai istrinya.


"Dinikmati aja, jangan nangis Dek. Kalau anak-anak udah pada besar nanti, malah kita rindu saat-saat macam ini." ungkap Adi dengan tangan yang masih membelai rambut istrinya.


"Abang tuh bilang, kalau aku udah tak enak lagi. Terus modalin aku, biar Abang bisa lahap lagi nikmatin santapannya. Aku harus macam mana? Olahraga aku tak, ngerawat tubuh aja cuma waktu itu aja. Gitu kan jadinya, Abang jadi tak berselera. Ngelakuin karena sadar kewajiban aja. Mulai langsung tancap, selesai langsung tidur. Aku tersinggung, Abang perlakukan aku macam itu. Kalau diajak ngobrol masalah ini, cuma bilang Adek begini karena anak Abang. Nah terus Abang tak mau cari solusi macam itu? Aku yakin rumah tangga kita tak lama, kalau Abang tak bisa pelihara aku baik-baik. Istri cuma dijadikan ibu dari anak-anaknya, tapi kepuasan Abang udah pindah ke imajinasinya sendiri. Itu baru sebentar, belum lagi kalau udah ngelewatin tahun terus ketemu perawan segelan." ucap Adinda lirih, dengan suara yang terisak.

__ADS_1


Adi tak menyadari kesalahannya, ia malah beranggapan bahwa istrinya kelelahan menyusui anaknya. Apa lagi beberapa jam yang lalu, percintaannya dengan istrinya baru selesai dinikmati.


"Maaf kalau Adek tersinggung. Bukan maksud Abang, buat maen cepet tadi. Kan Adek baru selesai haid, Abang ngebet itu. Abang udah tak sabaran, udah nahan dua mingguan. Seminggu awal libur, karena di rumah sakit nunggu Naya. Minggu berikutnya, Adek haid. Maaf lah, Dek. Adek jangan nangis, bukan maksud hati macam itu. Coba nanti kita ulangi lagi, Abang panasin Adek sampek banjir keringat." sahut Adi dengan memperhatikan wajah istrinya yang masih basah karena air mata tersebut.


Adinda menggeleng samar, "Abang tak paham." balas Adinda dengan semakin terisak.


"Capek ngurus anak, marah malah ngerambatnya ke mana-mana. Segala bawa-bawa kepuasan Abang, kepuasan Adek. Tak usah disusuin itu Ghavi, biar Abang dot-in. Adek tidur, pagi bangun. Capek boleh, ngambek boleh. Marah sewajarnya, jangan nambahin masalah. Abang udah jelasin, Abang pun tak permasalahkan itu. Minta maaf udah, ngusahain melihara Adek udah. Terus Abang mesti macam mana lagi? Kewajiban ibu ya ngurus anak-anak, jangan pengennya bebas aja. Adek udah punya tanggung jawab, Abang pun udah coba bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Harus macam mana lagi? Jangan bikin Abang kepancing emosi, Dek. Sebetulnya kita ini baik-baik aja, tak ada masalah. Jangan terlalu menyikapi segala sesuatu dengan berlebihan! Tinggal bilang, Adek capek pengen istirahat. Jangan bawa-bawa inilah, itulah." tegas Adi yang membuat Adinda menahan isakannya, ia takut suaminya mendengar tangisnya dan membuat Adi semakin marah.


"Sok tidur!" ucap Adi dengan memindahkan Ghavi yang masih setia menghisap sumber makanannya.


Tangis anak itu terdengar memenuhi ruangan, tapi sepertinya Adi sengaja menghiraukan suara tangis itu.


Adi mengenakan kain jarik, untuk mendekap Ghava yang mulai menyelami alam mimpinya. Setelah ia merasa Ghava aman dalam kain jarik, yang cukup membebani pundaknya. Adi langsung mengangkat tubuh Ghavi, yang masih menyuarakan tangisnya tersebut.


Tanpa menoleh ke arah istrinya, Adi membawa kedua anaknya keluar dari kamar. Ia bermaksud agar Adinda bisa beristirahat, juga melupakan tangisnya. Ia amat bingung, menyikapi sikap Adinda. Adi memahami istrinya lelah dan butuh istirahat, tetapi ia tak mengerti mengapa Adinda malah mencari masalah baru. Padahal jelas, sudah beberapa kali Adi menjelaskan bahwa memang dirinya tak bermasalah dengan kenikmatan yang istrinya berikan.


'Tak menggigit bukan berarti tak nikmat lagi. Dinda ada-ada aja, tengah malam pengennya berantem terus.' gumam Adi dengan menuruni anak tangga.


"Sabar coba, Nak. Kau kenapa sih? Abang Ghava aja udah lelap, kau masih mau nyon-nyon aja. Kasian itu mamah ngamuk-ngamuk, Papah lagi kan yang jadi sasarannya." ucap Adi dengan memperhatikan Ghavi yang menggosok wajahnya dengan tangan mungilnya.


"Kenapa, Bang…..


TBC.

__ADS_1


__ADS_2