Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP100. Salah paham


__ADS_3

AUTHOR POV


Rahang Adi mengeras, sorot matanya begitu tajam mematikan. Terlihat dari netranya yang memancarkan emosi begitu kuat, membuat Adinda menyadari sesuatu.


Saat Adi tepat berada di depan laki-laki tersebut, dengan cepat Adinda memposisikan dirinya persis di antara Adi dan laki-laki tersebut.


Adinda langsung memeluk Adi, kemudian berjinjit untuk bisa meraup bibir Adi. Namun, sayangnya Adinda hanya mampu meraih dagu suaminya.


"Tenang dulu lah, Bang. Jangan macam ini." ucap Adinda dengan masih memeluk tubuh suaminya.


"Saya, bisa jelaskan Bang." ujar laki-laki yang berada di belakang Adinda.


"Lepasin Abang, Dek." tutur Adi datar, namun terdengar begitu menyeramkan.


"Asal jangan berantem, kita omongin baik-baik." tukas Adinda dengan menarik dagu Adi, agar bisa memandang wajahnya.


Adi mengangguk samar. Namun, saat Adinda melepaskan pelukan pada suaminya. Dengan cepat Adi langsung menarik kerah baju laki-laki tersebut, lalu menariknya untuk menyingkir dari jangkauan Adinda.


Adinda begitu panik, melihat Adi yang bersikap demikian. Ia tak mau jatuh korban atas kesalahan pahaman pagi ini.


"Kau punya otak, heh? Dia lagi hamil, jelas dia bersuami. Tak bisa kah kau berpikir sejauh itu?" ucap Adi yang langsung memberikan hujaman kepalan tangannya, pada perut laki-laki yang kerah bajunya Adi cengkram tersebut.


"ABANG….." seru Adinda dengan berjalan cepat ke arah mereka.


"Bukan aku tak punya otak. Hanya saja… memang aku yang sepertinya lebih pantas jadi suaminya." jawab laki-laki tersebut tanpa rasa takut sedikitpun.


"SIALAN KAU!!!" pekik Adi, dengan melayangkan beberapa tinjuan pada tubuh laki-laki tersebut. Dengan kerah baju yang masih ia cengkram kuat, malah membuat Adi lebih leluasa untuk menghajar seseorang yang membuatnya murka pagi ini.


Laki-laki tersebut diam tanpa perlawanan, membiarkan Adi menuntaskan amarahnya.


"Suami yang baik tak akan membiarkan istrinya kesusahan." ucap laki-laki tersebut, dengan meloloskan diri dari cengkraman Adi.


Lalu ia mundur satu langkah dan merapikan pakaiannya.


"Aku langsung balik aja ya, Din." ucap laki-laki tersebut dengan tersenyum pada Adinda.


"Kau beneran tak apa? Ada luka tak? Biar aku obati." ujar Adinda dengan menatap prihatin pada laki-laki tersebut. Pastilah Adinda merasa tak enak hati padanya, karena perlakuan dari Adi sungguh di luar dugaan.


"Tak apa, tenang aja. Aku pamit dulu, assalamualaikum." sahutnya kemudian. Setelah mendapat jawaban dari Adinda, laki-laki tersebut berlalu pergi dengan mobilnya yang perlahan ke luar dari halaman rumah mereka.

__ADS_1


Adi menatap tajam pada istrinya, lalu Adi berlalu masuk ke dalam rumah.


Adinda menghela nafasnya, lalu ia berjalan untuk mengambil koper kecil yang suaminya tinggalkan.


'Baru segitu kau udah naik pitam, bang. Padahal apa yang abang perbuat jauh menyakiti aku. Entah siapa yang rutin kau kunjungi, tapi aku yakin kau nyembunyiin sesuatu bang.' gumam Adinda dalam hatinya.


Naluri seorang istri lebih peka dari yang Adi kira. Jelas Adinda mencurigai sesuatu, apa lagi saat ia menyadari bahwa akun sosial medianya diutak-atik oleh suaminya. Dengan mengubah modenya, menjadi akun pribadi. Dan memblokir sosial media milik adik-adik Adi, pada akun milik Adinda.


Adinda berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian menaruh koper milik suaminya di dalam kamarnya. Lalu ia mencari keberadaan suaminya, ternyata Adi tengah berada di dalam kamar mandi. Dengan terdengar shower kamar mandi yang menyala.


"Lagi mainan apa, Bang?" tanya Adinda pada Givan yang tengah menyusun rel kereta api mainan.


"Lagi bikin rel, terus mau bangun kota." jawab Givan dengan tersenyum pada ibunya.


"Ok semangat, Mamah tinggal dulu ya." sahut Adinda, Givan hanya mengangguk kepalanya saja.


Tak lama kemudian, ponsel milik Adinda berdering. Dengan nama Haris yang tertera di sana.


Adinda mengambil ponselnya, lalu ia duduk di sofa yang paling dekat dengan posisinya.


"Hallo, Bang." ucap Adinda, setelah menyentuh ikon terima. Lalu menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Wa'alaikum salam." sahut Adinda dengan memperhatikan Adi yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Abang mau nikah sama Alvi. Tapi… Abang kurang dana. Soalnya keluarga Alvi minta pakek adat daerahnya, belum lagi uang panai yang tinggi betul. Abang tak mampu sebetulnya, tapi Alvi maksa. Dia kata, biar uang panai dia bantu juga. Tapi ya, Abang ngerasa tak enak ya. Masa buat nikahin dia, ibarat kata beli dia gitu kan. Tapi uangnya patungan, masa orang yang mau Abang beli, dia ikut bantu dananya juga. Jadi kek maksa kali harus ada segitu. Dari pada patungan kan, lebih baik panainnya turunin aja gitu kan? Biar tak susah-susah harus patungan." ungkap Haris bercerita pada Adinda, lewat sambungan telepon.


"Bukannya Alvi orang kota C, Bang?" tanya Adinda, setelah menyimak cerita Haris.


"Bukan, Dek. Dia anak rantau juga. Cuma karena ada modal, dia buka usaha di kota C. Ternyata sambutannya bagus di kota C, usahanya bisa bertahan sampai sekarang." jawab Haris menjelaskan.


"Orang mana Alvi, Bang?" sahut Adinda bertanya kembali.


"Bon* provinsi SS." balas Haris memberitahu Adinda.


"Waduh, Bugis ya? Mahal mereka, Bang." ujar Adinda dengan memperhatikan Adi yang hanya lewat saja di depannya.


"Itulah, Dek. Mereka minta 170 juta, untuk panainnya aja. Untuk maharnya, seperangkat perhiasan yang katanya kira-kira sampai setengah kilogram." tutur Haris membuat mata Adinda membulat, karena tak percaya dengan kata-kata yang didengarnya lewat telepon.


"Ya ampun, mahal betul dia. Udahlah tak usah nikah aja." tukas Adinda mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


"Kau aja maharnya ladang sembilan hektar. Lagian kau kaya, dipinjamin uang aja malah bilang tak usah nikah." ucap Haris membuat Adinda terkekeh geli.


"Kan bang Adi udah kasih pinjam." ujar Adinda kemudian. Adi yang tengah berada di dapur, langsung berjalan menuju sumber suara. Ia mendengar dengan jelas apa yang istrinya ucapkan.


"Mana ada, suami kau belum menjamin Abang uang." sahut Haris mengelak ucapan Adinda, pasalnya memang tak seperti yang Adinda katakan barusan.


"Terus uang 150 juta yang dikirim ke rekening kau buat apa, Bang?" tanya Adinda, membuat Adi yang berada di belakang Adinda semakin merasa cemas.


"Tak tau, coba tanyakan ke suami kau aja." jawab Haris yang sebetulnya mengetahui sesuatu, namun enggan memberitahukan pada Adinda.


"Ada tak, Dek. Abang pinjam buat panai aja, 170 juta." lanjut Haris kemudian.


Adi yang semakin penasaran pun, akhirnya menurunkan gengsinya dan mengambil tempat di sebelah istrinya. Dengan beberapa potong buah di atas piring yang ia bawa.


Adinda menoleh sekilas pada Adi, kemudian melanjutkan obrolannya dengan Haris.


"Di rekening aku, yang kau pegang ada berapa?" ujar Adinda dengan menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.


"Berapa ya… Mungkin sekitar 80 atau 90an, Dek." sahut Haris.


"Ya udah kau pakek itu. Tak usah pinjam, aku bagi aja. Kasian, niat baik harus disegerakan. Takut-takut nanti keburu hamil." balas Adinda, yang tentu membuat Haris di seberang telepon pasti tersenyum lebar.


"Nanti sisanya aku bilang ke bang Adi dulu. Aku tak mungkin maen kirim aja tanpa bilang ke suami dulu." lanjut Adinda kemudian.


"Makasih, Dek. Doain usaha Abang lancar, pernikahan Abang lancar. Nanti Abang janji, lepas Abang udah di titik stabil nanti. Abang bagusin rumah kau yang di perumahan itu." ucap Haris dengan nada suara yang terdengar begitu gembira.


"Tak usah janji. Yang penting betulan uang kau pakek untuk nikah, bukan untuk hal lain." sahut Adinda kemudian.


"Iya, Dek. Ya udah ya, Abang tutup dulu. Assalamualaikum." balas Haris. Lalu Adinda langsung mematikan sambungan teleponnya, setelah menyahuti salam dari Haris.


Lalu ia menaruh ponselnya begitu saja dan beralih memeluk tubuh suaminya. Ia merasa Adi masih marah, terlihat dari Adi yang tak mengajaknya bicara sedari tadi.


"Laki-laki tadi itu, namanya Supriyatna. Dia……


TBC.


Oh, jadi Adinda tuh tau ya bahwa Adi ngirim ke Haris. Keknya sih itu uang yang dipakai buat nyuntikin modal usaha ke Haris dulu.


Siapa lagi itu Supriyatna?

__ADS_1


Ada yang pernah tau?


__ADS_2