Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP52. Mencari hutang


__ADS_3

Janda kembang itu, istri resmiku. Maya Renawati, yang sekarang tengah mengandung anakku.


Aduh, aku tiba-tiba pusing. Aku malah memikirkan dana untuk tujuh bulanan Maya. Bagaimana Maya mengatasinya? Aku seolah lepas tangan pada tanggung jawabku.


"Hei Bang. Kenapa ngelamun?" seru dinda dengan melambaikan tangan, tepat di depan wajahku.


"Ehh, Dek. Sampek mana kita tadi?" sahutku cepat.


"Kak Shasha kah yang terakhir Abang pakek?" ucap Dinda mengulang pertanyaannya kembali.


"Iya, Dek. Oh iya, gimana kabar dia? Terakhir kali Adek cerita katanya dia cerai itu kan?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Dibawa suaminya, Bang. Mungkin dia lahiran di sana. Udah turun talak, mungkin proses cerainya setelah ia lahiran." jawabnya. Terkadang semudah ini mengalihkan pembicaraannya.


"Tapi keknya udah lahiran ya, Dek?" sahutku. Sebetulnya aku tak ingin tahu, dan tak peduli juga. Aku hanya berniat mengalihkan topik pembicaraan saja tadi.


"He'em. Kita kalau cerai gampang ya, Bang?" balasnya kemudian. Apa lagi ini? Kenapa dia mengatakan hal itu?


"Kok ngomongnya macam itu sih, Sayang?" ujarku dengan membingkai wajahnya, dan mencium bibirnya sekilas.


"Ya iya kan? Kan kita belum nikah resmi. Udah telat juga keknya harus cerita ke umi. Kandungan aku udah besar. Aku tak mungkin akad ulang dalam kondisi hamil besar. Abang keknya udah nyaman di posisi ini. Keknya Abang lebih suka dicap bujang. Sampek-sampek enggan resmiin aku. Omongan Abang macam angin lalu aja." ungkapnya kemudian. Ia membahas hal itu lagi. Aku bingung untuk menjawabnya.


"Abang tak mikirin macam mana nanti kalau anak Abang udah waktunya sekolah. Dia tak punya akte lahir. Jaman sekarang tak macam jaman dulu, yang daftar sekolah pakek surat keterangan lahir dari bidan aja udah cukup." lanjutnya membuatku bertambah kacau.


"Dengerin Abang dulu, Dek." balasku menahannya, yang ingin masuk ke dalam rumah.


"Aku udah capek minta buat diresmikan. Terserah Abang aja udah. Anak Abang ini, yang repot juga Abang nanti. Aku jadi janda lagi juga tak masalah. Malah lebih cepat prosesnya." ujarnya, dengan menghempaskan tanganku. Dan berlalu pergi memasuki rumah.


Beginilah kalau sudah mengobrol. Bisa merembet ke mana-mana. Dari hal gurauan, berghibah, sampai membahas diri kita lagi.


Aku tak mengejarnya, aku bingung harus mengatakan apa padanya.


Aku memainkan ponselku, mengirim pesan pada umi. Untuk meminjamkan Maya uang dulu, untuk acara tujuh bulanannya.


[Umi, Abang butuh dana untuk acara Maya. Abang lagi tak ada uang. Tolong pinjamkan dulu, terus kasihkan ke Maya.] tulisku pada isi pesan tersebut. Lalu aku mengirimnya.


Setelah terkirim, aku langsung menghapus isi pesan tersebut. Agar tak meninggalkan jejak mencurigakan untuk Dinda.

__ADS_1


Namun umi malah meneleponku. Aku memastikan dulu bahwa Dinda aman di dalam sana. Dan aku menutup pintu rumah. Dan berjalan sedikit, ke halaman rumahku yang cukup luas ini.


"Ya, Umi." ucapku, setelah mengangkat panggilan telepon dari umi.


"Macam mana keadaan ladang? Sampek-sampek minta pinjaman macam itu." tanya umi to the poin.


"Abang lagi butuh modal buat ladang baru. Dan Abang juga nambah seribu ekor puyuh lagi di peternakan. Jadi keuangan Abang lagi kurang stabil aja, Umi." jawabku berbohong. Semua hal itu sudah terinci dengan baik oleh Dinda. Dinda adalah menteri keuangan terbaik, untuk rumah dan usahaku.


"Oh, macam itu. Umi kira ada masalah apa di ladang. Sampek-sampek Abang tak ada uang macam itu." sahut umi kemudian.


"Tak Umi, tak ada masalah. Aman aja." balasku meyakinkan.


"Ya udah tak usah minjam. Biar Umi yang biayain tujuh bulanan Maya." putus umi kemudian. Aku jadi merasa tak enak pada umi.


"Tak usah lah, Umi. Abang pinjam aja. Waktu nikahan Abang, Umi yang biayain. Sampek mas kawin pun dari Umi." jelasku pada umi. Karena saat pernikahanku dengan Maya, umi semua yang membiayai dan mengatur semuanya.


"Bukan masalah. Lagian kan untuk anak sendiri juga." sahut umi menanggapi ucapanku.


"Ya udah, Umi. Abang minta maaf juga, Abang betul-betul tak bisa balik. Biar nanti Maya lahiran aja Abang baliknya." balasku kemudian.


"Abang serius? Kalau tak ada buat ongkosnya, biar Umi kirimin buat ongkos pulang pergi Abang." ujar umi.


"Ya udah, deh. Tapi tolong itu dibuka blokirannya. Maya bilang, Abang masih blokir nomornya. Waktu itu bilangnya sorenya mau dibuka. Ngomongnya aja!" tukas umi membahas kembali. Aduh, bagaimana ini?


"Iya nanti besok aja, Umi. Abang lagi malas debat sama Maya. Pasti dia ngajakin debat terus kerjaannya." ucapku kemudian.


"Oh ya udah. Sering-sering kabarin Umi ya, Bang?" ujar umi kemudian.


"Ya Umi. Assalamualaikum." sahutku dengan membalikkan tubuhku, untuk melihat ambang pintu kembali.


"Wa'alaikum salam." balas umi kemudian. Lalu aku langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Ternyata pintu masih aman. Maksudnya, tak ada Givan ataupun Dinda yang mengawasiku di sana. Tapi aku serasa diawasi terus. Aku merasa seolah salah satu dari mereka tengah memperhatikanku dari sana.


Lalu aku berjalan memasuki rumah, dan langsung mengunci pintunya.


Aku mengecek kamar kami. Tapi ternyata Dinda tak berada di kamar kami.

__ADS_1


Lalu aku beralih ke kamar anakku. Aku berdiri di ambang pintu kamar Givan. Terlihat Dinda tengah menemani Givan tidur. Dengan ia melantunkan surat pendek, sembari mengelus punggung Givan.


Kurang apa dia? Sampai hati aku memadunya. Aku memang baj*ngan untuk Dinda.


Dan tentunya bukan laki-laki yang tak bertanggung jawab untuk Maya. Hanya statusku saja sebagai suaminya. Bahkan nafkah lahir pun aku tak bisa mencukupinya, sampai-sampai ibuku yang harus menanggungnya.


Aku merasakan seseorang melewatiku, ternyata Dinda yang baru keluar dari kamar Givan. Ia melewatiku begitu saja. Masih marah kah dia?


"Lamunin aja terus yang tadi diteleponnya." sindirnya halus, dengan berjalan masuk ke kamarnya.


Oh, jadi dia melihatku teleponan tadi. Pantaslah bertambah amarahnya. Sudah masalah resmikan pernikahan itu, aku tak memberi alasan yang jelas. Ditambah tadi aku teleponan di halaman, mungkin itu mengundang kecurigaan untuknya.


Aku merogoh ponselku, dan membuka history panggilan. Aku berencana memberitahunya, bahwa aku tadi teleponan dengan umi. Tapi akan kuganti ceritanya, saat ia memintaku bercerita apa yang aku obrolkan dengan umi.


Aku berjalan menuju kamarku, dan masuk tanpa menguncinya. Aku khawatir Givan menangis malam nanti, dan ia mencari keberadaan kami di kamar.


"Dek, Dindaโ€ฆ" panggilku halus.


"Hmm." sahutnya malas-malasan. Ia tengah menarik selimutnya.


Aku menghampirinya, dan mendekapnya mesra.


"Aku lagi tak pengen." ujarnya kemudian. Ia menolakku, sebelum aku mengutarakannya.


"Abang tak ngajakin Ng W." ucapku agar ia tak berpikiran macam-macam. Padahal kalau ia tak langsung menolak tadi, mungkin bakal langsung kejadian kegiatan rutin itu.


"Terus Abang butuh apa?" ketusnya begitu dingin.


"Adek kira, Abang deketin Adek kalau ada butuhnya aja? Tak macam itu Sayang. Abang lagi pengen manjain istri Abang. Abang lagi pengen sayang-sayang istri Abang." sahutku berusaha menenangkannya. Berusaha mendinginkan amarahnya.


"Istri yang mana?" tanyanya yang menurutku cukup ambigu.


Maksudnya macam mana? Dia mengetahui tentang Maya? Atau bagaimana? Kenapa dia bertanya demikian? Tapi ia tahu dari siapa? Beberapa rentetan pertanyaan yang bermunculan di benakku.


TBC.


Udah pusing aku ๐Ÿ˜’

__ADS_1


makasih, sama yang udah mau baca ๐Ÿ˜Œ


__ADS_2