
"Zuhra masuk rumah sakit. Edi kata, dokter bilang Zuhra over dosis." ungkap umi dengan meneteskan air matanya.
Aku langsung mendekap umi, dan membawanya masuk ke dalam rumahku.
"Yah…. Ayah…" seruku memanggil ayahku berulang kali.
"Ayah lagi di kamar mandi." jawab Zulfa yang tengah menonton siaran televisi.
"Zuhra masuk rumah sakit, Dek. Kau ikut umi sama Ayah pulang gih, nanti besok Abang susulin. Naik kereta aja, biar aman." ucapku dengan membawa umi duduk di sofa ruang keluarga.
"Ya, Bang. Aku angkat jemuran dulu." sahut Zulfa dengan terburu-buru.
Aku langsung mengutak-atik ponselku. Memesankan tiket kereta api untuk mereka bertiga.
Untungnya selepas maghrib nanti, masih ada kereta yang akan melakukan perjalanan ke kota J.
"Kenapa, Di?" tanya ayah yang baru muncul dengan rambut yang basah.
"Zuhra OD, masuk rumah sakit dia. Nanti abis maghrib Ayah, Umi, sama Zulfa naik kereta aja ke kota J. Adi takut Ayah tak fokus nyetirnya." jawabku menjelaskan.
"Apa? Over dosis? Minum obat apa? Perasaan waktu berangkat Zuhra tak sakit." ujar ayah dengan reaksi terkejut.
Aku segera membawa ayah untuk duduk. Aku khawatir ia kenapa-kenapa.
"Lebih baiknya Ayah nanti cek sendiri aja." sahutku kemudian. Yang ada di pikiranku adalah Zuhra over dosis ganja. Entah benar atau salah, tapi pikiranku mengarah ke sana.
Ayah termenung dengan pandangan kosong. Sudah pasti ia tengah memikirkan kemungkinan yang terjadi pada anaknya.
"Yang tenang, Yah." ucapku memecahkan keheningan.
"Ya, Di. Kau tau sesuatu?" tanya ayah, dengan memperhatikan wajahku dengan pandangan yang sulit diartikan. Kira-kira dia tengah memikirkan apa ya? Aku rasa tanda c*pang itu sudah memudar, tak mungkin juga dalam keadaan seperti ini. Ayah masih ingin membahas tentang aku.
"Apa, Yah?" tanyaku bingung. Aku tengah mendekap umi, sembari mengusap pelan punggungnya.
__ADS_1
"Tentang Zuhra. Kenapa waktu malam itu kau marah ke Zuhra? Sampek kau siram dia." tanya ayah serius.
"Ya udah aja, nanti Abang ceritain di sana. Ayah shalat dulu aja." sahutku kemudian. Aku enggan mengatakannya, aku khawatir akan membuat umi dan ayah lebih terguncang.
Meski yang aku ketahui, bahwa over dosis ganja tak sampai membuat orang tersebut meninggal. Tapi cukup bisa merusak jaringan dalam tubuh. Entah itu paru-paru atau otak, hanya itu yang aku ketahui.
Setelah umi sedikit tenang, aku membantu Zulfa untuk bersiap dan berniat akan mengantarkan mereka ke stasiun kereta api.
Beberapa saat kemudian, aku menemui ayah yang tengah duduk di luar rumah. Ia tengah mengamati mobil milik Dinda.
Aduh, aku khawatir ayah mengetahui siapa pemilik mobil itu.
"Mobil silver ayah. Kau simpan mana? Perasaan ayah tak punya mobil j*zz." ucap ayahku, dengan memperhatikan aku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ada di rumah temen Abang, di kota J. Ini mobil…." ujarku gagal menuntaskan kalimatku, karena ayah melihat sesuatu, yang pernah aku pasang setelah mencuci mobil ini kemarin. Waktu Maya masih berada di rumah sakit. Tujuanku hanya untuk iseng semata dan ingin memberikan sedikit kejutan untuk Dinda, agar ia bisa terbahak karena ulah isengku.
"Harta, tahta, Adinda?" tutur ayahku dengan menoleh padaku, dengan ekspresi wajah heran.
"Ini mobil dek Dinda?" lanjut ayahku bertanya. Lalu ayah bangkit berdiri dan mengitari mobil itu.
Sticker yang aku pasang di belakang body mobil ini, sebetulnya tak begitu mencolok. Karena warnanya hampir menyatu dengan warna mobil ini. Sticker yang berwarna abu-abu muda, dengan mobil Dinda yang berwarna putih. Hanya saja, mungkin mata ayahku begitu jeli.
Aku berjalan mendekati ayah, agar pembicaraan ini tak sampai terdengar ke telinga umi.
"Abang masih ada hubungan sama dia?" tanya ayah serius. Dengan menyentuh sticker itu, dan beralih menatap wajahku.
"Abang kan terakhir punya hubungan sama adiknya Haris." jawabku melenceng. Karena tiba-tiba teringat perkataan dusta Haris, saat aku berada di rumah sakit. Gara-gara dikeroyok mereka berempat. Siapa lagi kalau bukan Haris, Jefri, dan kedua kakak kandung Dinda.
Ayah terlihat tengah berpikir, lalu ia berkata kembali.
"Adiknya Haris itu… ibunya bayi perempuan itu kan? Soalnya Haris pernah ada bilang dulu." ungkap ayahku kemudian. Ternyata ayah juga sedikit mengetahui hal itu, membuatku bertambah bingung untuk beralasan apa lagi.
"Iya, ibunya Kin. Makanya Abang pernah bilang, Abang udah terlanjur dimabuk janda. Waktu Abang mau dijodohin sama Retno itu." jelasku, saat ayah masih memperhatikan sticker itu.
__ADS_1
"Jadi ini mobil siapa?" tanya ayah, mengembalikan atensiku pada topik pembicaraan awal.
"Ya, memang punya Dinda. Tapi ada di rumah Haris, dititipkan ke Haris." jawabku dengan berjalan ke sisi kiri mobil. Aku malah teringat akan Dinda yang menginginkan mobil j*zz untuk di sana. Namun, ia hanya sekali meminta dan ia tak pernah membahasnya kembali.
Aku memang cukup berada, tapi aku tak pernah hidup bermewah-mewah. Aku tak nyaman hidup dengan segala sesuatu yang serba wah, aku lebih suka hidup apa adanya. Mobilku saja hanya kisaran dua puluh jutaan, cuma memang sudah dimodifikasi habis-habisan. Kalau dilihat dari segi luar, memang nampak butut dan ketinggalan zaman. Tapi interiornya tak kalah dengan mobil keluaran terbaru.
"Oh, dia di mana memang?" sahut ayah dengan mengikuti langkah kakiku.
"Dinda ikut suaminya, udah hamil juga sekarang." balasku berkata jujur. Hanya saja memang aku tak mengatakan siapa itu suaminya.
"Tapi itu hamil anak suaminya kan? Bukan anak Abang?" ujar ayahku yang membuatku terhenyak mendengarnya. Aku langsung menoleh ke arah belakang, di mana ayahku tengah tersenyum tipis padaku.
Andai saja aku bisa mengatakan bahwa suaminya Dinda adalah aku, bahwa anak yang tengah Dinda kandung adalah anakku.
"Liat aja nanti, anaknya mirip siapa. Kalau anak Abang, pasti anaknya mirip Abang. Hitam-hitamnya, hidung besar macam ini, senyum dan warna rambutnya juga." ungkapku membuat ayah terkekeh geli.
"Itu sih maunya kau!" timpal ayah dengan kekehan yang masih terdengar. Lalu aku melanjutkan langkah kakiku, menuju bangku panjang yang berada di teras rumah.
"Ehh…." suara ayahku, sebelum aku menduduki bangku tersebut.
"Kenapa, Yah?" tanyaku, dengan pergerakan yang terhenti.
"Kata umi, Abang nyindir Maya ya? Tentang Naya yang tak mirip Abang." ucap ayahku, lalu ia menyerobot tempat dudukku. Yang hendak kududuki tadi.
"Bukan nyindir, Yah. Cuma Abang heran aja, ditambah lagi kan Maya ketahuan ada main sama laki-laki lain." tuturku dengan pandangan lurus ke depan. Memperhatikan beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
"Heran kenapa? Wajar, Di… bayi itu mukanya masih berubah-ubah. Ada yang tak mirip ibu bapaknya. Ada yang dominan bapaknya, ada juga yang dominan ibunya. Ada pulak yang campuran orang tuanya." jelas ayah, dengan menepuk bahuku pelan.
"Udahlah, Yah. Tak perlu bela Maya, Abang udah mau beresin ini semua. Semua bukti udah ada, tinggal nunggu Maya lepas nifas." ungkapku mencoba membicarakan tentang hal ini. Agar ayah dan umi tak kaget mendengar ini semua.
TBC.
Sabar ya, mohon author jangan dibikin down dong 😔
__ADS_1
Bukan drama, author emang orangnya baperan. Makanya anti nonton sinetron, karena kalau lagi scene sedih. Author malah ikutan nangisnya aja 😌
Adi bakal ketahuan Dinda itu pasti kok. Pasti ada titik terang hubungan Maya dan Adi juga. Ada kejelasan untuk Adinda juga nanti. Tentunya bakal dibikin seru dan tak bisa ditebak 😉