
"Arshaka, Arzhanka." jawabku penuh keyakinan, karena aku meniru dari nama anak author yang menulis ceritaku ini. Tapi memang sebelumnya, aku dan Dinda belum merundingkan nama anak kembar kami.
"Teuku." timpal Dinda dengan melirik ke arahku.
"Teuku Ghava, Teuku Ghavi. Artinya keturunan bangsawan berhati lembut, Ghavi juga sama artinya. Cuma bentuk lain dari Ghava aja." jelasku yang langsung mendapat anggukan kepala dari Dinda.
"Bukannya Teuku itu artinya kehormatan, kebahagiaan rumah tangga ya Bang?" tanya Zuhra dengan duduk di sandaran tangan, yang berada di sebelahku.
"Teuku menurut bahasa Indonesia, artinya kehormatan dan kebahagiaan rumah tangga. Tapi dalam bahasa sini kan, artinya keturunan bangsawan. Tapi jaman sekarang, tak cuma anak bangsawan aja namanya Teuku. Anak tukang ladang macam Abang pun namanya Teuku juga, macam Ghifar." ungkapku yang membuat mereka semua terkekeh.
Aku lebih suka menyebut diriku tukang ladang, karena memang juragan ladangnya istriku. Aku hanya kacungnya saja, yang selalu menuruti dan memberikan kemajuan untuk usaha biji kopi ini.
"Kenapa sih, adik-adik aku mesti huruf G semua?" tanya anakku dengan memperhatikan wajahku. Aku gemas betul pada Givan, tambah pandai saja dia setelah bersekolah.
"Ya… karena abangnya awalan namanya huruf G. Biar kalau Mamah atau Papah udah tua, udah pikun. Tinggal nyebut G, nanti merasa terpanggil semua anak-anaknya." jawabku sekenanya. Karena memang aku tak sengaja memberi nama anak-anakku dengan awalan huruf G.
"Aku Givan, Ananda Givan. Adik aku yang hitam ini, Ghifar. Nama panjangnya Teuku Ghifar. Nanti adik kembar aku, bakal dikasih nama Teuku Ghava sama Teuku Ghavi. Dipanggilnya pasti, Ghava dan Ghavi. Aku sebaiknya pindah nama aja deh, Mah. Aku mau Teuku juga, Teuku Givan Abimanyu kan keren tuh. Atau Teuku Givan Ali Akbar." ungkap Givan yang mulai mengasah lidahnya kembali.
"Ali itu nama kakek kau!" seruku dengan membingkai wajahnya.
Ia tertawa geli, "Kakek yang dipanggil pak cek sama Papah pun, namanya Akbar." sahutnya yang bisa saja menimpali ucapanku.
"Eh, Bang. Aku cuma tau keluarga Abang dari abi Ali aja. Aku tak tau keluarga Abang dari pihak umi, kakek nenek Abang dari pihak umi juga di mana sekarang?" tanya Dinda dengan menepuk tanganku.
__ADS_1
"Itu sih, Dek. Kena bencana waktu 2004 dulu, kan umi asalnya dari daerah U*ee L*eue. Kawasan U*ee L*eue yang di tepi laut kan, jadi tempat yang paling parah kena dampaknya. Hampir semua bangunan yang ada di daerah itu rata dengan tanah, kebawa gelombang ke arah pusat kota B*nda A***." jawabku dengan memperhatikan Ghifar yang asik sendiri saja. Ia tengah menciumi pipi ibunya, tapi tepatnya bukan mencium tapi menjilat.
"Yang waktu itu kita liburan terus ada gempa ringan? Pelabuhan itu bukan?" sahut Dinda dengan menyeka liur anaknya. Aku suka sekali memperhatikan interaksi ibu dan anak ini, Ghifar yang selalu mencari perhatian ibunya dan Dinda yang selalu gampang marah dengan aksi Ghifar ini.
"He'em, tapi waktu dulu ramai masuk berita dengan judul B*nda A*** aja. Jadi ya cuma umi yang masih ada, karena umi kan tak tinggal di sana lagi." balasku dengan langsung mengangkat tubuh Ghifar, lalu aku tempatkan dia di antara aku dan Givan. Luar biasa, teriakan si hitam mameh ini cukup membuat tuli telinga.
"Tapi umi di rumah punya album foto keluarga umi, Bang. Ada Abang juga di foto itu, ada foto aku kecil juga." timpal Zuhra yang sepertinya ingin tahu lebih.
"Hmmmm… Abang kan lahir tahun 91an. Awal tahun 95 tuh, abi wafat. 96 tuh umi udah nikah lagi, ditahun yang sama juga Edi lahir. Makanya Edi sama Abang cuma beda lima tahun aja. Kau kan kelahiran 2002, jadi bayi kau masih sempat ketemu mereka semua." jelasku, dengan Zuhra hanya mengangguk saja.
"Udah ah, aku bayanginnya udah ngeri betul. Tak usah bahas itu lah." ujar Dinda dengan bersandar pada lenganku.
"Kapan kembar balik?" tanya Zuhra mengalihkan pembicaraan.
"Dua sampek empat minggu, tergantung macam mana keadaan si kembar." jawabku dengan menahan Ghifar yang tengah gemas pada kakaknya, ia menjambaki rambut Givan dengan begitu kuat. Sontak abangnya memekik keras, juga minta dilepaskan. Padahal masih kecil, tapi sudah begini kelakuan mereka berdua.
"Pisahin tuh, Abang bawa keluar itu Givan. Nakal betul kau sama abang sendiri, Nak." ujar Dinda dengan mengambil alih Ghifar dengan paksa.
Ghifar langsung memberikan pekikan nyaringnya, ia meronta dari pangkuan ibunya. Anak itu melepaskan tangis merdunya, drama sekali keluarga kecilku ini. Suatu saat aku pasti merindukan suasana seperti ini.
Aku langsung memisahkan mereka berdua, dengan Givan yang aku bawa masuk ke dalam kamar. Aku lelah ingin beristirahat, biar dia juga aku keloni agar bisa tidur bersama.
"Kenapa sih, adek kok nakal betul sama aku? Selama ini aku diam, karena aku ngerasa besar sedangkan dia masih bayi. Kalau aja aku tak ingat itu, bisa boncor-boncor dia kubuat Pah." ungkap Givan dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Maklum, adek belum ngerti. Dia kira dijambak itu tak sakit, dia nganggapnya itu bercanda. Jangan marah ya, dimaklumi aja namanya juga anak bayi." sahutku dengan memeluk sulungku dari belakang.
"Tapi aku tak terima, kalau adek sampek besar macam itu aja. Papah harus kasih paham adek yang betul-betul, jangan bercanda macam itu." balasnya yang kubalas dengan dekheman saja.
Rasanya mataku amat berat sekali, aku ingin segera tidur. Tak lama kemudian, aku merasa begitu nyaman dengan posisiku sekarang. Aku terlelap tidur dengan memeluk sulungku.
~
~
Dua minggu kemudian
Hari ini, anak-anakku sudah diperbolehkan untuk pulang. Mereka sudah sehat dan sudah siap untuk melihat dunia luar.
Tanpa memberitahu Dinda, aku membawa pulang kedua bayi kembarku. Tentunya dengan kereta dorong bayi khusus anak kembar, yang sebelumnya sudah aku beli dan aku siapkan di dalam mobil. Karena aku sadar, aku pasti kesusahan untuk menggendong dua bayi sekaligus.
Aku memperhatikan kedua anakku, yang aku taruh di bangku belakang. Mereka terlihat begitu berbeda, tak begitu identik seperti dua plontos.
Kakaknya memiliki bentuk kepala bulat, dengan adiknya memiliki bentuk kepala yang lonjong. Rambutnya pun berbeda, rambut kakaknya begitu lebat sedangkan adiknya biasa saja.
Padahal dokter mengatakan mereka kembar identik, karena satu placenta. Tapi tidak menurutku, mereka seperti kakak beradik yang berbeda.
"Bismillah, ketemu mamah sama abang juga tante Zuhra kita Nak." ucapku dengan menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar, melihat anakku saling berpegangan tangan. Mereka begitu menggemaskan, tentu karena mereka mirip denganku.
......................