
"Dinda aja mau, masa kau tak mau? Tapi mungkin kau bakal di rumah aku dulu sementara. Karena suratnya belum beres, mana aku belum dengar kabar selanjutnya lagi." jawabku dengan mengingat kembali pembicaraanku dengan pak cek waktu itu. Terakhir pak cek mengatakan, bahwa ladangnya tengah dibetulkan irigasinya. Coba biar nanti kutanya pak cek lagi.
"Memang dulu Dinda jadi pesuruh kau?" ujarnya dengan suara seperti keheranan.
"Iya, tapi kan sebutannya bukan pesuruh. Tapi pengelola, jadi dulu dia yang ngelola. Yang bikin beberapa perubahan, sampek aku bisa dapat hasil panen stabil di musim kemarau. Yang bikin jalan di tengah ladang, sampek ke luar ke jalan besar. Awalnya pun aku tak setuju, karena beberapa pohon kopiku dipangkas. Tapi ternyata fungsinya betul-betul efektif. Jadi pas panen itu kan, mobil yang bawa barang bisa tembus langsung ke jalan besar. Tanpa muter-muter di desa aku dulu, kan jadi lebih irit bahan bakar dan waktunya juga. Nah kau bisa tak bikin inovasi macam Dinda? Tapi apa-apa kau harus obrolkan dulu sama aku, tak maen langsung ambil tindakan aja." jelasku padanya, agar ia tak benar-benar berpikir bahwa aku akan selalu menyuruh-nyuruhnya terus.
"Aku kira aku nyangkul-nyangkul macam itu, Di. Terus ikut panen, ikut manggulin hasil panen." tanyanya kemudian. Sudah kuduga, ia betul salah paham.
"Tak, untuk kerjaan macam itu. Kau tinggal arahkan orang-orang yang memang kerja di lapangan aja. Ya memang, kau pun ikut turun ke lapangan. Tapi tak macam itu cara kerja kau. Gini aja deh, kau tinggal ke sini aja. Biar nanti kau paham sendiri." jawabku memperjelas. Rasanya Jefri ini setengah hati ingin ikut denganku, apa karena terpaksa tak ada uang kah?
"Kok kau bisa bayar mahal orang yang kau sebut pengelola itu?" sahutnya kemudian, sepertinya banyak pertanyaan di otaknya. Dia butuh uang, tapi dia ragu untuk mengambil resiko.
"Karena resikonya besar, tugasnya juga bukan yang aku sebutin aja. Masih banyak lagi. Kau pun harus lancar ngomong, untuk komunikasi sama berbagai pihak. Kau pun harus sering ngobrol sama yang punya ladang-ladang lain. Biar kau bisa tau misal ada perubahan harga jual, atau perubahan harga bibit muda. Kau pun yang ngurus masalah stok pupuk, kau pun harus paham dengan kondisi pekerja. Ada beberapa pekerja yang sistemnya bulanan, tergantung posisi dan tanggung jawabnya juga. Ada yang buruh harian juga, macam dibutuhkan saat masa panen besar tiba." ungkapku mencoba menjelaskan lebih detail. Rasanya rahangku terasa pegal, terlalu banyak bicara ngebut macam ini.
"Ngeri-ngeri sedap, Di. Pantas aja kau gaji mahal. Tak taunya kerjaannya 24 jam. Itu sih macam kerjaan kau, terus kau limpahkan ke orang lain." sahutnya yang membuatku heran. Aku kan yang punya, masa ia aku juga yang harus mengurusi segala prosesnya. Aku bayar mereka pun, karena sadar tak mampu menghandle semuanya.
"Suka-suka akulah, kan aku yang punya. Macam mana kau ini?" ketusku yang sudah merasa capek pada Jefri ini.
"Berarti macam tangan kanan kau ya, Di?" apa lagi ini? Dia bertanya kembali?
"Terserah kau sebut, Jef!!! Tangan kanan kek, tangan kiri kek, kepala, pundak, lutut, kaki kek. Suka-suka kau sebut aja." sahutku teramat kesal. Ia terbahak-bahak di seberang sana.
__ADS_1
"Ya udah, aku siapin surat pengunduran diri aku. Kau serius kan? Apa cuma gurauan aja?" ucapnya kemudian.
"Serius aku. Sampek lupa kan aku mau bahas apa tadi. Ya udah lah, udah keburu palak aku. Aku tutup teleponnya, assalamualaikum." putusku lanjut, aku tak mau memperpanjang obrolan lagi. Aku udah terlanjur kesal pada Jefri itu.
"Wa'alaikum salam." sahutnya, lalu aku langsung memutuskan panggilan telepon ini. Kemudian aku berjalan masuk ke dalam rumah.
Terdengar beberapa tawa renyah dari ruang tamu, mungkin tamu itu sudah datang.
Aku berkaca sejenak pada furniture yang berkilauan ini. Lalu setelah aku yakin dengan penampilanku, aku berjalan ke arah mereka. Aku tak mau kalah dengan idola Dinda, si Fanji itu. Memang apa kurangku, yang minus tak bisa main gitar aja udah. Nyanyi pun aku bisa, jelas suaraku merdu karena sering mengaji dulu.
"Ada siapa, Dek?" tanyaku pura-pura tak tau. Saat aku sampai di hadapan mereka semua.
"Oh, iya. Kenalin, Bang. Ini suami aku, Bang Adi." ucapnya dengan bangkit dan mengajakku untuk berjabat tangan pada kedua laki-laki tersebut. Lalu mereka menyebutkan nama satu persatu, dengan aku hanya menyunggingkan senyum seikhlasku saja.
"Betul ini suaminya? KTP masih sengketa ini." ucap Radit, si produser film itu. Dengan memperhatikan kembali KTP Dinda, yang ternyata berada di tangannya.
"Memang nampak?" tanya istriku kemudian.
"Janda atau memang udah bersuami?" ujar Fanji tersebut. Bahkan hitamnya pun sama denganku, padahal jelas ia tak mungkin berladang sepertiku juga. Dinda... Dinda, ada-ada saja kau ini. Apa yang dilihatnya?
"Jadi… sebetulnya itu bukan asli. Nembak itu, Bang." ungkap Dinda yang membuat semua orang itu berekspresi serius, demikian juga aku
__ADS_1
Aku masih mengingat saat Dinda mengatakan bahwa kartu keluarga dirinya masih belum dibereskan. Alias, ia masih menggunakan data lama. Yaitu, dia adalah istri dari Mahendra.
Aku pun baru sadar, saat Radit meletakkan KTP milik istriku di meja. Karena jarak yang tak begitu jauh, aku bisa melihat status dalam KTP milik Dinda tersebut. Yaitu janda, padahal jelas seharusnya statusnya kawin.
"Kenapa tak buat asli?" tanya sang artis dengan memperhatikan istriku begitu lekat. Jangan bilang dia pun tertarik, padahal jelas dia nampak sekali sudah memiliki anak. Ya… setahuku dia sudah memiliki dua anak.
"Waktu lepas cerai, terlalu nyaman dengan keadaan saat itu. Jadi boro-boro mikirin kartu keluarga atau KTP. Paspor pun belum pernah diperbaharui kembali, nanti aja lepas habis berlakunya pikirku." jawab Dinda dengan tersenyum samar.
"Jadi ini siri?" ujar Radit, yang ternyata bisa memahami keadaan saat ini.
"Bukan hal aneh, kan memang banyak terjadi di Indonesia." timpal Fanji santai.
"Jadi kau tak bisa maju ya?" sahut Radit dengan menoleh pada artisnya.
"Jangan di depan abangnya lah." balas sang artis. Lalu mereka semua tertawa bersama, termasuk Dinda juga Zuhra.
Dia pikir ini lucu? Jangan di depan abangnya, tapi dia ngomong di depanku. Rupanya pengen disleding ini laki-laki. Awas aja kalau dia terlalu jauh dengan Dinda, kupenggal dua-duanya sekalian.
Lalu aku pamit ke luar rumah, dengan mengajak Givan. Aku sudah amat kepanasan, biar nanti kusidang Dinda di dalam kamar. Aku tak bisa melihat Dinda bergurau dengan begitu bahagianya dengan laki-laki lain. Aku hanya mau cuma aku sumber kebahagiaan Dinda, bukan yang lain.
TBC.
__ADS_1