
"Tarik nafas dari hidung, keluarkan lewat mulut. Yaa… terus. Tahan." ucap dokter yang menginterupsi istriku.
"ALLAHU AKBAR!" seru Dinda dengan meremas tanganku.
Ada apa dengannya? Dari wajahnya ia begitu terkejut dengan menahan sesuatu.
"Pintu lahirnya kita sobek, biar nanti sobekannya beraturan dan tak merambat." ujar dokter tersebut.
Pantas saja mata istriku hampir lepas, tak tahunya kewanitaannya disobek dengan sengaja.
"Dinda kuat, semangat ya Sayang." ucapku dengan mendaratkan kecupan manis di pelipisnya.
Belum juga anakku keluar, tapi suaraku sudah bergetar karena aku menahan isakanku.
Dinda mengangguk lemah, "Doain ya, Bang." ujarnya dengan menatap mataku.
Dengan ia seperti ini, aku malah tak yakin bahwa ia kuat.
"Ada rasa ingin mengejan, Bu? Tarik nafas dan tundukin kepalanya ya."
"Bismillahirrahmanirrahim… tarik nafas, Bu. Keluarkan perlahan. Ayo diulang lagi, tarik lagi Bu."
interupsi dokter tersebut, dengan terus meminta Dinda untuk menarik dan membuang nafasnya.
Pada tarikan nafas yang ketiga, Dinda mulai mengejan. Dengan aku reflek menundukkan kepalanya.
"Sakit, Bang…" ucap Dinda lirih, dengan meneteskan air matanya.
"Sabar, Sayang. Dinda pasti kuat." ujarku dengan menghapus air matanya.
"Tarik dan buang nafas terus ya, Bu. Ayo semangat, Bu. Biasanya yang kedua tak sesusah yang pertama ya, Bu." ungkap dokter tersebut, dengan memperhatikan inti Dinda dan wajah Dinda secara bergantian.
Dinda terus mengatur nafasnya, dengan sesekali ia mengejan kembali. Ia terlihat sedikit tenang, tak seperti pada kelahiran Ghifar.
Tak lama kemudian, terdengar tangis bayi yang begitu melengking.
Lalu seorang perawat langsung mengambil alih bayi yang baru keluar tersebut, dengan langsung membersihkannya dan menyelimutinya.
"Alhamdulillah… satu lagi, Bu. Tapi silahkan istirahat dulu, atau tunggu rasa ingin mengejan kembali." ucap dokter tersebut, yang tengah memberesi inti Dinda.
Aku gak bisa melihat dengan jelas, karena aku berada di atas kepala Dinda.
"Udah pengen ngejan lagi." sahut Dinda dengan otot yang mengencang.
__ADS_1
"Tarik nafas, Bu. Terus buang nafasnya, berulang ya Bu. Jangan ditahan rasanya, jangan ditahan." balas dokter tersebut, dengan ia fokus kembali pada inti istriku.
Dinda menuruti interupsi dokter, dengan ia yang sesekali melihat ke arah bayinya yang tengah dipasangkan alat-alat medis.
"Bang… aku minta maaf, sering ngomong kasar sama Abang." ucapnya setelah ia mengatur nafasnya, karena ia selepas mengejan hebat.
"Jangan ngomong macam itu! Jangan bikin Abang takut, Dek. Adek bilang mau normal, Abang turutin. Abang tanda tangani dokumen tadi. Jangan bikin Abang ngerasa bersalah, Dek. Adek yang kuat, jangan ngaco macam itu." seruku dengan sesenggukan.
Perasaanku bercampur aduk. Aku bahagia, karena salah satu anak kembar kami sudah lahir. Namun, aku begitu terguncang melihat kondisi Dinda dan bayi kami yang terpasang alat-alat medis.
"Udah kelihatan rambutnya, Bu." ujar dokter tersebut.
Dinda mengatur nafasnya kembali, lalu ia mengejan dengan menggenggam kuat tanganku.
Ia mengatur nafasnya beberapa kali, kemudian terdengar tangis bayi yang kedua.
Aku tersenyum bahagia, melihat bayi itu tengah dipotong tali pusarnya. Dengan langsung dibersihkan dari selaput yang menyelimutinya.
"I love you, Adi Riyana.." ucap Dinda lirih tepat di telingaku.
Namun, saat aku menolehkan kepalaku. Kepalanya tergeletak miring, dengan linangan air mata yang turun dari matanya.
"DINDA……. SAYANG…. DEK…." panggilku histeris. Aku mengguncangkan tubuhnya, sungguh aku takut ditinggalkannya.
Seorang perawat langsung memintaku untuk mundur, dengan mereka yang langsung memberikan pertolongan untuk Dinda.
"Diambil aja, dari pada nanti serviknya keburu kuncup." saran petugas yang tengah memasangkan alat-alat medis pada adik dari kakak kembarnya.
"Mending kalau cuma kuncup, malah ada yang pendarahan juga." timpal petugas lainnya.
"Tindakan aja, soalnya ibunya tak sadarkan diri. Diberi suntikan oksitosin juga macam mana? Ibunya tak mungkin bangun untuk ngejan." saran yang dokter berikan.
"Gimana ini istri saya?" tanyaku dengan mendekati Dinda kembali.
"Kelelahan sepertinya, Pak. Stabil kok detak jantungnya, cuma butuh bantuan oksigen aja." jawab dokter yang tengah mengatur tabung oksigen.
"Tekanan darahnya turun, Bu." timpal seorang perawat.
"Bapak keluar aja dulu. Nanti kalau semuanya udah selesai, ibu Dinda nanti kami pindahan ke ruangan lain." pinta dokter tersebut. Dengan aku langsung dipersilahkan untuk keluar dari ruangan.
Sebetulnya bagaimana kondisi yang sebenarnya? Ari-ari anakku terjebak, Dinda tak sadarkan diri, juga anak-anakku yang langsung diberi tindakan.
Aku ingin marah, tapi marah pada siapa? Aku paham, mereka di dalam pun tengah mengusahakan. Tapi kenapa, mereka membuatku ragu bahwa Dinda dan anak-anakku baik-baik saja?
__ADS_1
Saat aku keluar, Haris langsung berdiri dan menghampiriku.
"Macam mana keadaannya?" tanyanya kemudian.
"Dinda tak sadar, ari-arinya belum keluar, anak-anakku dipasang alat-alat medis." jawabku dengan menundukkan kepalaku.
Namun, saat itu juga aku tak bisa menahan tangisku. Tangisku pecah pada bahu Haris, dengan ia menepuk pundakku beberapa kali.
"Tenang. Dinda pasti kuat, Di. Dari di pesta aja dia bilang capek, mungkin dia cuma istirahat bentar karena kecapekan." ujar Haris kemudian.
"Tapi kenapa dia bilang I love you segala? Aku takut, Ris." sahutku dengan duduk di kursi yang tersedia.
"Lah, mending dong. Dari pada dia bilang laa illaaha illallaah, nanti langsung masuk surga dia." balas Haris kemudian.
Aku langsung mendongak menatapnya dengan tajam, ia malah tertawa geli merespon reaksi marahku.
"Gurau, Di. Kita tunggu kabar selanjutnya, kau tenang dulu. Pasti diusahakan." ujarnya dengan duduk di sebelahku.
Hingga tak lama kemudian, kedua bayi kembarku di dorong ke luar ruangan dengan menggunakan kotak seperti aquarium. Seperti yang Naya kenakalan, waktu ia berada di rumah sakit.
Disusul dengan Dinda yang keluar dari ruangan. Ia tergolek tak berdaya di atas ranjang, dengan peralatan medis terpasang di wajah, tangan dan kakinya.
"Sini, Pak. Diadzanin dulu bayinya, terus selanjutnya Bapak tak boleh jenguk mereka." ujar dokter yang berjalan mengikuti bayi kembarku.
"Aku mau ngobrol sama mereka, nanti aku ceritakan sama kau." ujar Haris dengan berbelok ke arah lain. Dengan aku yang mengikuti bayi kembarku yang dipindahkan ke ruangan khusus.
"Cepat ya, Pak adzaninnya." ucap dokter yang berada di ruangan khusus tersebut. Sudah berganti dokter, mungkin dia adalah dokter spesialis anak.
Aku mengambil alih bayi mungil ini. Tarikan nafasnya begitu dalam, terlihat dari dadanya yang kembang kempis itu. Ia begitu kecil, ukurannya jauh dari bayi Ghifar dulu. Aku pun belum mengetahui berapa kilogram si kakak.
Ia begitu terlihat mirip dengan Ghifar, hanya saja tulangnya begitu tercetak jelas dibalik kulit tipisnya.
Dengan cepat aku mengumandangkan adzan di telinga kanannya, kemudian iqomah di telinga kirinya. Berlanjut mengadzani si adik, kemudian mengiqomahkannya juga.
Tak ada yang berbeda dari kedua bayi kembarku ini, hanya warna kulit yang sedikit membedakannya. Kakaknya lebih hitam, dengan adiknya yang cenderung merah. Biasanya bayi merah, akan putih jika besar nanti.
Lalu aku langsung diminta ke luar dari ruangan ini, dengan alat-alat yang terpasang pada tubuh kembar dibenahi kembali.
Sungguh aku teriris, melihat keadaan anak-anakku yang begitu ringkih seperti itu.
Ini semua salahku, yang membuat Dinda menjadi lemah karena pikirannya.
......................
__ADS_1
Panik gak?
Panik gak?