Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP190. Musyawarah 2


__ADS_3

"Aku pun baru tau waktu itu, kalau bang Adi punya istri lain." jawab Adinda dengan suara menurun.


Sontak ucapannya tersebut langsung mendapat perhatian semua orang. Apa lagi Maya yang sampai membulatkan mata besarnya, karena ia pun baru mengetahui akan hal itu.


"Jangan bilang kamu sama bang Adi menikah?" tanya Maya dengan berpindah duduk di sebelah Zulfa, agar bisa dengan jelas mendengar jawaban dari Adinda.


"Ya, aku nikah siri. Aku dinikahinya lebih dulu, sebelum dia nikahin kau." ungkap Adinda yang membuat semua orang menggeleng tak percaya.


"Kan Ayah udah ada bilang, Mi. Semakin Adi dilarang, anak itu semakin nekat. Begini kan jadinya." ucap pak Dodi dengan menepuk punggung istrinya pelan.


"Umi tak tau, kalau akhirnya sampek macam ini. Yang Umi paham, Adi itu penurut." ujar ibu Meutia dengan terisak.


"Tak usah ditangisi, Umi. Bang Adi masih penurut sampek sekarang. Kita nikah pun, karena pernikahan yang tak disengaja. Makanya bang Adi sampek maharin aku dengan ladangnya, karena memang tak ada persiapan sama sekali. Juga posisi keuangan kita saat itu lagi kacau, jadi mungkin ia tak ada pilihan lain selain ngorbanin ladangnya." ungkap Adinda, dengan memperhatikan wajah anaknya yang basah karena keringat. Lalu Adinda menatap orang-orang yang berada di ruang keluarga ini, berakhir ia menatap Maya yang masih terlihat begitu syok tersebut.


"Jadi??? Bang Adi udah gak punya ladang yang berhektar-hektar lagi?" tanya Maya dengan menatap tak percaya pada Adinda.


"Masih ada, cuma tiga hektar. Dua hektar ladang kopi, satu hektar ladang jahe setau aku. Tapi mungkin kopi baru bisa panen 3 tahun lagi, macam itu bang Adi kata. Kalau jahe, aku kurang tau juga. Soalnya ladangnya di provinsi L, bang Adi cuma cerita dia ada ladang baru di provinsi L." jelas Adinda membuat Maya geleng-geleng kepala.


"Memang kau tak tau apa-apa?" lanjut Adinda dengan memperhatikan reaksi wajah istri resmi Adi tersebut.


Maya langsung menggelengkan kepalanya, "Dia begitu ke aku juga kan, itu pasti gara-gara kamu!" sahut Maya dengan nada tinggi.


"Kenapa tak ada bilang ke Umi?" tanya ibu Meutia, yang mengalihkan perhatian Adinda.


"Waktu nikah, keuangan kita lagi tak bagus. Waktu itu, aku sama bang Adi cuma megang uang berapa juta aja. Pas keuangan udah membaik, bang Adi fokus bangun rumah sama buka usaha lain dan beli ladang juga. Udah selesai itu semua, ia sering murung sendirian. Tak taunya, mungkin saat itu bang Adi punya masalah sama Maya. Bang Adi pun kata, dia tak ada bilang sama siapapun. Karena keadaan aku dan Maya saat itu, sama-sama lagi hamil. Aku hamil Ghifar, anak pertama dari pernikahan aku dan bang Adi. Juga mungkin Maya lagi hamil Naya." ungkap Adinda menjelaskan secara singkat.

__ADS_1


Lalu ia menghela nafasnya, "Tapi tenang aja Maya, Umi dan Ayah. Aku beberapa hari lagi juga bakal ditalak sama bang Adi. Itu keputusan akhir dari cerita cinta kita, kita coba pahami keadaan. Kita coba mengerti, kalau memang kesalahan ini berawal dari kita sendiri." lanjut Adinda membuat ibu Meutia terguncang dalam tangisannya.


"Jangan cerai, Nak. Anak kalian udah sebanyak itu, mau di kemanakan mereka? Adi pun nampak bahagia, bisa berumah tangga dengan kau. Dia pun bahagia, dengan anak-anaknya. Kau tega, Dek? Kau tega lepas kebahagiaan ini? Kau tak kasian sama Ghifar yang suka nangisin suami kau? Dia butuh ayahnya, anak-anak kau butuh Adi." ungkap ibu Meutia, dengan menggenggam tangan kanan Adinda yang terbebas.


Adinda dan semua orang menoleh ke suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali.


"Mana yang selanjutnya, Dek?" tanya Adi dengan mengenakan kembali kaosnya.


"Udah pada tidur semua, tapi Ghavi belum nyon-nyon." jawab Adinda yang fokusnya teralihkan.


"Ya udah di pindah ke kamar aja. Ghavi suka bangun malam, nanti juga dia pasti begadang sambil minta nyon-nyon. Adek tidur gih, persiapan nanti malam melek nyusuin Ghavi." ucap Adi dengan mengambil alih Ghavi yang berada di dekapan Zulfa.


"Apa mau dipump aja? Biar nanti Abang yang urus. Kasian Adek dalem betul matanya." lanjut Adi, dengan mengayun pelan Ghavi yang sempat menggeliatkan tubuhnya.


"Ya udah nanti gampang, ini masih ngobrol." sahut Adinda, dengan Adi yang mengangguk dan berlalu pergi untuk memindahkan Ghavi ke kamar.


"He'em, di sana tak ada yang bantu. Apa lagi sekarang mak cek udah punya menantu, jadi jarang main ke rumah. Kak ayu juga punya anak bayi, jadi repot sendiri. Kita di rumah cuma gantian tugas aja, kadang Zuhra, kadang aku atau bang Adi yang urus anak-anak. Kadang bagi tugas, biar kerjaan cepet selesai. Tapi sejak Zuhra buka usaha warnet, aku nyuruh asisten rumah tangga paruh waktu. Cuma buat beresin rumah aja, kalau anak-anak memang aku sama bang Adi sendiri yang handle." jelas Adinda membuat pandangan Maya semakin benci pada Adinda.


"Kok Akak betah?" pertanyaan yang keluar dari mulut Edi.


Semua orang langsung menoleh ke arah Edi, dengan Edi yang langsung menutup mulutnya.


"Yaaa… betah tak betah. Kewajiban dan tanggung jawab." jawab Adinda kemudian.


Adi muncul kembali dari balik pintu kamar yang anak-anak tempati, "Ghavanya, Dek?" tanya Adi dengan bersiap mengambil alih Ghava dari dekapan istrinya.

__ADS_1


"Tau tak, Dek? Ghifar mentil rambutnya Zuhra, makanya dia cepat tidur. Kirain mau ngapain dia deketin Zuhra, eh tak taunya di rebahan di sebelah Zuhra yang lagi main HP. Terus jari tangannya gulungin rambut Zuhra, eh tak lama dia pulas di sebelah Zuhra. Sempet curiga kan awalnya, karena Ghifar selalu neriakin Zuhra." ungkap Adi bercerita, sembari diperhatikan oleh istrinya dan anggota keluarganya.


"Pasti Abang juga abis tidur juga kan?" tanya Adinda setelah menyimak cerita suaminya.


Adi tertawa tertahan, "Iya, Dek. Udah pules, malah dibangunin Givan. Katanya itu guling aku, terus molor lagi dia abis rebut guling yang dipakek Abang." jawab Adi cengengesan.


"Pantas aja. Udah cepet pindahin Ghava dulu, terus duduk di sini." balas Adinda yang langsung diangguki oleh suaminya.


"Macam abinya dulu. Dulu abinya yang selalu ngelonin Adi kecil, dia yang selalu punya cara untuk nyenengin hati anaknya." ucap ibu Meutia, dengan memperhatikan punggung Adi yang semakin menjauh.


Tak lama kemudian, Adi sudah berada di sebelah Adinda. Ia menatap satu persatu manusia yang tengah memperhatikannya tersebut.


"Maaf untuk semuanya, terutama buat Dinda dan Maya. Maya, ini istri pertama Abang. Dia bukan pelakor, dia juga bukan simpanan Abang. Seluruh orang provinsi A, tau bahwa Dinda dan Abang ini suami istri. Kawan-kawan Abang taunya ya Dinda ini sebagai istri Abang, bukan kau. Abang saat itu tak mau nikahin kau, bukan karena Abang ingin lari dari tanggung jawab. Tapi karena saat itu Abang udah beristri, lepas Abang balik pun Abang dapat kejutan dari Dinda. Bahwa dirinya tengah hamil. Kau paham kan posisi Abang saat itu? Jujur salah, tak jujur juga salah. Karena kau pun lagi hamil." ungkap Adi dengan pandangan matanya tertuju pada Maya.


"Pantas aku dijatah, cuma sekian juta untuk satu bulan. Ternyata keuangan dan usahanya dikuasai istri tuanya. Harusnya Abang ambil keputusan dari dulu, bukan saat semuanya udah terlanjur begini." sahut Maya dengan nada marahnya. Matanya tak terlihat basah, atau lembab. Terlihat jelas kilatan amarah, dari sorot matanya.


Adi menoleh pada Adinda, ia menaikkan dagunya. Adi menggunakan isyarat saja, untuk memahami situasi sekarang.


Adinda mendekatkan mulutnya pada telinga suaminya, "Aku ada bilang, kita nikah buru-buru. Sampek mahar pun ladang, karena keuangan saat itu lagi kacau." bisik Adinda yang hanya bisa didengar oleh Adi dan Author.


Adi tersenyum masam pada Maya, "Hmm… macam itu ternyata. Abang paham sekarang, ternyata……


TBC.


Tanggung gak?

__ADS_1


Tanggung gak?


Biasalah!!! Dasar Author! 😆


__ADS_2