
"Males!" jawab Adinda yang membuat Adi merasa kecewa. Adi menghela nafasnya, dengan melepaskan anaknya di lantai kamar. Dengan dirinya berlanjut mengunci jendela, juga pintu kamarnya yang menghubungkan dengan balkon lantai atas.
Ia khawatir Ghifar lolos dari penjagaannya, saat ia sedang mengajak istrinya mengobrol.
Adi duduk di atas tempat tidur, dengan bersandar di kepala ranjang. Dengan matanya yang memperhatikan pergerakan Ghifar, yang mencoba berdiri dengan berpegangan pada ranjang tempat tidur.
"Anak kita cepet betul tumbuhnya, mamahnya hebat betul ngurusnya." ucap Adi dengan membelai rambut istrinya.
"Ghifar itu saking tak terurusnya, sampek dia punya inisiatif buat ngesot dan berdiri sendiri. Dia pengen gapai sesuatu, tapi tak ada yang peduli sama dia untuk ngambilin yang dia mau. Sedangkan mamahnya dan orang-orang di sekitarnya juga cuma perhatikan aja, tanpa ada pergerakan buat bantuin dia. Beda sama Naya yang ngerengek sedikit, langsung datang pemadam kebakaran buat bantuin dia ambil barang yang dimauinya." sahut Adinda yang membuat Adi tersenyum geli.
"Itukan artinya Ghifar anak yang punya inisiatif sendiri. Sepuluh bulan, dia udah bisa rambatan. Si kembar, dua bulan udah tegakin lehernya. Udah tak mau digendong macam bayi lagi, udah maunya disangga aja. Keturunan Adek kan ajaib semuanya. Givan ya anak yang aktif, cepet nangkap pelajaran, pandai cakap juga. Abang inget Givan dulu naik-naik ke meja bar kedai kopi, pas Adek titipin Givan ke Abang. Untungnya Jefri datang, untuk bujuk Givan turun." balas Adi mencoba mencairkan suasana.
"Terus mau bandingin Naya sama anak-anak aku? Aku paling tak suka ya, Bang. Kalau dibanding-bandingkan, apa lagi anak yang diperbandingkan." seru Adinda membuat Ghifar yang tengah berusaha naik ke atas tempat tidur, menarik sudut bibirnya ke bawah. Anak itu sudah bersiap akan menyuarakan tangisnya, karena suara meninggi dari ibunya tersebut.
Adi menyadari perubahan wajah pada anaknya, ia langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Ghifar. Dengan ia memasang senyum yang meyakinkan anaknya tersebut.
Hingga Ghifar menarik sudut bibirnya ke atas, dengan diikuti dengan celotehannya kembali. Anak ia langsung menggerakkan kakinya, agar ia berhasil untuk menaiki tempat tidur orang tuanya tersebut.
"Makkk…." seru Ghifar begitu ceria, dengan ia langsung dalam posisi tiarap dengan gerakan tangan dan kaki seolah tengah berenang. Dengan cepat ia bergerak, untuk bisa menghampiri ibunya tersebut. Ia selalu punya ide, saat tumpuan duduknya tak berfungsi dengan baik untuk berpindah tempat di atas tempat tidur ini.
__ADS_1
"M A M A H, bisa tak? Mak, Mak, Mak… tak asik betul kau, Nak." sahut Adinda dengan memeluk tubuh anaknya yang sudah berada dalam jangkauannya tersebut, dengan ponselnya yang ia letakkan di bawah bantalnya.
Adinda tersenyum lebar, dengan mata yang tertuju pada darah dagingnya tersebut. Dengan Adi yang mengulurkan tangannya, untuk membelai kedua orang yang sangat berarti dalam kehidupannya tersebut.
Adi ikut merebahkan tubuhnya di samping Ghifar, dengan posisi Ghifar yang diapit di antara Adi dan Adinda.
"Besok kita ke rumah nenek, bang Ghifar ikut tak?" tanya Adi pada anaknya. Ghifar langsung membalikkan badannya, dengan beralih mengusik ayahnya.
Adinda memperhatikan interaksi ayah dan anak tersebut, ada rasa yang bercampur aduk melihat pemandangan seperti ini. Ia bahagia, melihat Adi yang begitu menyayangi putra pertamanya tersebut. Namun, ia merasa khawatir pada suaminya. Ia khawatir, Adi tak bisa membagi rasa kasih dan sayangnya pada anak-anaknya yang lain. Karena begitu terlihat jelas, bahwa hanya Ghifar yang lebih sering Adi ajak ketimbang anak-anaknya yang lain.
"Adek ikut ya? Nanti kita tinggal di rumah Adek, kalau umi sama ayah udah balik lagi ke kota J. Soalnya nanti besok umi sama ayah juga mau ngunjungin orang tua Adek, biar sopan katanya Dek." lanjut Adi dengan mengalihkan pandangannya.
"Maaf ya, kalau Abang tak paham sama yang Adek rasain. Karena menurut pemikiran Abang, Adek dienakin di sini. Anak ada yang bantu urus, anak-anak pun ada yang jagain. Untuk masalah kita… Abang minta maaf juga, kalau bikin Adek tersinggung terus. Abang bakal coba perbaiki hubungan kita, biar tetap harmonis. Yang penting jangan sampek Adek minta pisah lagi, yang inget Dek perjuangan kita sampek di titik ini. Masalah ekonomi, masalah orang ketiga, masalah tugas, juga masalah lainnya yang silih berganti di rumah tangga kita, udah kita lewati sama-sama. Jangan sampek hanya karena jenuh aja, bikin kita renggang ini. Bilang Abang, kalau Adek jenuh sama Abang. Abang pun coba bikin hubungan kita tak jenuh lagi, kita cari solusinya sama-sama." ungkap Adi yang membuat Adinda meneteskan air matanya.
"Makkkk… Makkk…" seru Ghifar, yang melihat ibunya meneteskan air matanya.
Ia bangkit dari posisinya, dengan langsung menepuk pelan kepala ibunya. Ia mendaratkan beberapa kecupan kecil, tepat di mata ibunya yang tengah mengeluarkan air mata tersebut.
"Sini rebahan Abangnya, sambil dipeluk Mamahnya." pinta Adi dengan menggeser bantalnya, agar Ghifar bisa merebahkan kepalanya tepat di atas bantal yang ia siapkan tersebut.
__ADS_1
"Mak… bu bu." celoteh Ghifar, setelah kepalanya tepat di bantal yang ayahnya siapkan.
"Sok Bang Ghifar bu bu. Nanti bangun, terus mam siang ya?" sahut Adinda dengan Ghifar yang mengangguk, seolah dirinya mengerti ucapan ibunya tersebut.
"Dih…" suara Ghifar terdengar kembali, sembari ia menoleh ke arah ayahnya. Dengan ia langsung meraih tangan ayahnya, lalu ia tempatkan di atas alas duduknya tersebut.
"Puk-puk?" tanya Adi yang langsung diangguki anaknya.
"Baca doa dulu, Bang Ghifar ikutin Mamah. Bismillahirrahmanirrahim… bismika allahumma ahyaa, wa bismika, amuut." ujar Adinda yang diikuti Ghifar, meskipun ia tak jelas mengucapkannya.
Ghifar langsung memejamkan matanya, ia berusaha terlelap di antara ayah dan ibunya.
Hingga beberapa saat kemudian, sampai akhirnya Ghifar bisa terlelap dalam dekapan hangat orang tuanya.
"Givan sekolahnya macam mana, Bang? Kasian dia sekolahnya pindah-pindah terus. Mana Zuhra mau ke provinsi A lagi, dia harus urus usahanya. Dia bilang, dia mau tinggal di sana terus. Mungkin dia balik, pas kita mau nikah aja." ucap Adinda, setelah ia meyakini bahwa putranya sudah terlelap tidur.
"Nah itu, Dek. Umi kata, biar Givan sama Naya di sini aja. Kasian katanya, dia baru kenal dengan sekolah barunya. Masa harus pindah sekolah lagi, gara-gara kita pindah ke kota C. Kalau masalah Naya, keknya belum bener-bener clear Dek. Umi masih keberatan sama keputusan Adek, umi masih pengennya nuntut Maya lebih jauh. Kalau Zuhra biarin aja, Abang yakin orang sana segan sama Zuhra karena tau Zuhra adik Abang. Dia juga udah waktunya cari pendamping hidup, biar nikah tak ketuaan macam Abang." sahut Adi dengan mengatur suhu ruangan. Ia melihat anaknya bermandikan keringat, karena cuaca di kota ini cukup panas. Meski pendingin ruangan terasa cukup menyejukkan kulit, tetapi masih kurang begitu terasa untuk anak laki-laki tersebut.
"Hmm… kalau menurut aku………
__ADS_1
TBC.