
"Abang tak tau Dinda ada di provinsi A. Memang tepatnya dia di mana sekarang?" tanyaku ingin tahu, umi mengetahui tentang Dinda sejauh mana dan dari siapa.
"Yang betul tak tau?" tanya umi memastikan.
"Ya, Umi. Abang tak tau." jawabku tentu saja tidak benar. Bahkan barusan aku keluar dari rumah yang menjadi tempat tinggal sementarku dengan Dinda dan juga Givan.
"Tak tau pasti. Tapi fotonya di tempat wisata terus. Makin berisi juga dia badannya. Atau mungkin ia udah berkeluarga sekarang." sahut umi. Umi mengatakan ini, karena ia adalah wanita yang pada umumnya suka ghibah. Tentu saja wanitaku pun seperti itu. Bahkan ia sering mengajakku berghibah tentang Haris, Jefri dan beberapa tetangga rumah. Mau bagaimana lagi, memang perempuan identik dengan ghibah.
"Hm, macam itu ya. Abang tak tau juga." balas pada umi.
"Ya udah. Lupain Dinda, ingat istri Abang yang lagi ngandung. Sering-sering telepon Maya, hubungi Maya. Suami istri kalau komunikasinya kurang baik, pasti tak sampai lama rumah tangganya. Abang sama Maya kan dulu pernah pacaran kan. Biasanya kalau sama mantan gampang timbul rasa kembali." lanjut umi yang menasehatiku kembali.
"Ya Umi. Udah dulu ya. Abang sibuk ini." ucapku agar umi cepat menyelesaikan ucapannya. Karena aku belum mengurus Givan. Ia belum mandi dan belum sarapan juga.
Mana aku ada kerjaan di ladang baru. Dinda memintaku untuk membeli ladang baru, karena katanya. Jika uang tak cepat diarahkan, takut nanti malah habis tak jelas. Jadi aku sekarang memiliki lahan kopi baru, yang berjumlah tiga hektar. Tapi memang tak menyatu dengan lahanku yang empat belas hektar itu. Eh, ralat. Lahan milik Dinda maksudku. Dan lahan kopi atas namaku memang hanya tiga hektar ini, lahan yang baru kubeli ini. Jaraknya lumayan jauh dari kampungku. Tapi masih satu daerah juga.
Aku jadi teringat ucapan bohongku pada Farah. Aku mengatakan lahanku sudah berpindah hak waris. Aku mengatakan demikian, agar ia menjauhiku. Memang dia langsung menjauhiku. Tapi malah benar menjadi kenyataan, bahwa sekarang aku bukan pemilik lahan kopi 14 hektar itu lagi. Lahan kopiku sudah berpindah nama menjadi milik istriku.
"Oh, ya udah. Ingat pesan Umi. Sering-sering telepon Umi juga, Bang." ucap umi kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya, setelah mengucapkan salam.
Lalu aku membujuk Givan untuk pulang. Memang benar apa yang dikatakan ibu mertuaku, 'Kalau pintu rumah gak dikunci. Givan pasti langsung kabur.' dan nyata memang macam itu kejadiannya.
~
Aku sudah memandikan dan menyuapi Givan. Dan Dinda terlihat sudah rapih, dan tengah menjemur pakaiannya. Dinda juga tengah hamil. Tapi ia mampu menyuci pakaian dengan cara manual. Sedangkan Maya, yang hanya menggunakan mesin cuci saja malas sekali nampaknya.
__ADS_1
Bukan aku membandingkan istri-istriku, tapi kenapa mereka sangat bertolak belakang macam ini. Maya sangat cantik, dengan bentuk wajah yang seperti barbie. Namun ia tak bisa mengurus tubuhnya. Badannya sedikit gempal, dengan pay*da*a yang terasa kendor. Padahal ia belum pernah melahirkan sebelumnya. Apa lagi menyusui. Belum lagi jika ia melepas korsetnya, pasti perutnya berlipat-lipat. Aku mengetahui ini semua sejak dari masa pacaran. Dan lebih-lebih, ia ternyata begitu malas mandi dan bau badan juga.
Sedangkan Dinda wajahnya memang nampak biasa saja. Tapi tetap saja ia begitu menarik untukku. Mata yang sipit, hidung yang minimalis, dan bibir tipis dengan garis sobekan mulut yang kecil. Ia lebih cenderung ke imut, daripada cantik. Tapi aku sangat menggilainya. Belum lagi dadanya yang padat dan cukup besar untuk ukuran badannya. Perut yang rata, dan pinggul yang membentuk seperti cekungan angka delapan. Dan dia tidak gemuk, tidak kurus juga. Tapi memang ia jauh lebih pendek dari Maya. Tingginya hanya kisaran 155cm. Sedangkan Maya, ia hampir setara denganku. Mungkin sekitar 168cm, dan tinggiku yang 170cm.
Dinda begitu pas menurutku. Begitu menggoda untukku. Belum lagi ia rajin menjaga kebersihan. Ia anti makan dan minum sebelum bersikat gigi, jika ia bangun tidur. Ia juga begitu bisa menjaga bentuk tubuhnya, dengan melakukan senam dan olahraga rutin. Dan ia juga paham akan kebutuhan gizi. Namun ia tetap bisa mengurus anaknya. Mengurus rumah pun tetap ia handle sendiri.
"Kita liburan ke mana, Bang?" tanya Dinda yang masih menjemur pakaian.
Aku langsung menoleh padanya, perasaan aku tak menjanjikannya untuk berlibur.
"Papah minta uang." ucap anakku yang meninggalkan mainannya, dan berlari ke arahku yang hendak berjalan mendekati istriku.
"Mau jajan apa? Papah nyetok susu kotak sama jajanan di kulkas. Coba tengok sana, ambil yang Abang mau." sahutku dengan menyetarakan tinggiku dengannya.
"Mau beli sticker tempel-tempel. Itu yang serba dua ribu." balas anakku.
"Nih, balik lagi Bang. Jangan main." ujarku pada Givan, dengan memberinya uang pas. Karena seberapa banyak pun ia diberi uang. Pasti ia habiskan saat itu juga. Ia mengangguk mengerti dan berlari pergi dari halaman rumah. Itulah anakku, nampaknya ia tak bisa berjalan santai. Di mana pun ia hendak pergi, pasti ia melajukan kakinya begitu cepat. Di dalam rumah pun tak jarang ia menabrak tembok, pintu atau barang-barang lainnya. Karena larinya terlalu cepat, dan ia tak bisa mengeremnya.
"Bang, ke mana kita?" ucap Dinda dengan berjalan menenteng ember, yang ia pakai untuk menaruh pakaian tadi.
"Ke mana ya? Adek mau ke mana?" tanyaku dengan memperhatikannya yang memang nampak terlihat kurusan.
"Ke tempat yang belum pernah kita datangi aja." jawab Dinda duduk di sebelahku. Dan menyandarkan kepalanya pada lenganku.
"Eh, Abang lupa Dek. Mau ke ladang baru, mau bikin lubang untuk benih barunya dulu." ungkapku yang teringat kembali dengan lahan kosong itu. Bahkan ilalang yang di sana belum ditebas habis oleh orang-orang yang aku suruh. Aku juga tak mungkin mengerjakan pekerjaan di ladang seorang diri. Hanya saja aku memang perlu ke sana. Untuk mengatur dan juga membantu mereka.
__ADS_1
Dinda menegekan kepalanya, dan ia menoleh padaku.
"Jadi kita tak jadi jalan-jalannya? Abang tak mau liburan bareng aku?" tutur Dinda yang mulai rewel lagi.
"Jadi, jadi. Ayo siap-siap. Biar Abang siapin mobil dulu. Terus mau bilang ke orang-orang yang di ladang baru dulu." tukasku mengambil keputusan cepat. Agar ia tak menangis hanya karena hal ini.
Dinda mengembangkan senyumnya, dan langsung masuk ke dalam rumah.
Aku menyusul anakku dulu, dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Untuk mengarahkan orang-orang yang berada di ladang baruku, agar mereka tetap melanjutkan pekerjaannya. Sementara aku akan pergi berlibur bersama keluarga kecilku.
Padahal aku sering mengajaknya jalan-jalan ke tempat wisata. Tapi rupanya tak bosan-bosannya dia jalan-jalan. Ya sudahlah, Itung-itung refreshing juga. Dari pada pusing mikirin istriku yang berjumlah dua biji ini.
"Papah, mau ke ladang baru ya?" tanya anakku yang asik menempelkan sticker pada dashboard mobilku.
"Iya, tapi nanti pulang lagi. Terus kita jalan-jalan sama mamah juga." jawabku kemudian. Givan terlihat begitu bahagia, tawa renyahnya terdengar memenuhi mobilku. Untung saja ia mirip dengan ibunya. Aku tak bisa membayangkan jika Givan mirip dengan Mahendra itu. Bisa-bisa setiap kali aku melihatnya, hatiku terasa berdenyut.
Memang aku sudah terbiasa dengan Givan, dan menganggapnya seperti anak sendiri. Tapi entah bagaimana juga rasanya punya anak sendiri. Intinya aku begitu menyayanginya, saat ia dimarahi ibunya pun rasanya aku tak terima. Bisa-bisanya ibunya memarahi anaknya sendiri hanya karena masalah kecil. Lebih-lebih jika Dinda mulai berbuat sedikit kasar karena begitu kesal. Aku sungguh tak menerima perlakuannya pada Givan. Putranya sendiri, yang menjadi putraku juga.
"Papah, aku sekolahnya di mana? Aku udah pengen sekolah terus diantar sama becak motor macam itu." ucap Givan, dengan menunjuk pada becak motor yang baru saja kudahului.
"Nanti kalau udah buka pendaftaran murid baru. Abang nanti Papah sekolahin di TK dulu. Nanti tahun depannya baru masuk SD." sahutku dengan mengelus kepalanya sekilas. Ia mengangguk dan tak mengeluarkan suaranya lagi.
Aku malah memikirkan akte lahir anakku kelak. Givan jelas memiliki akte lahir. Dokumen yang cukup penting untuk mendaftar sekolah. Nanti bagaimana jika anakku besar, dan sudah waktunya sekolah. Sedangkan ia belum memiliki akte lahir. Karena entah mengapa, aku malah tak memikirkan lagi tentang peresmian pernikahanku dan Dinda. Yang menurutku, pernikahan ini sudah cukup membahagiakanku. Dan akan bertambah rumit, jika harus diresmikan.
Aku yakin peresmian pernikahanku malah akan menjadi lebih sulit, karena harus meminta izin pada Maya. Dan tentu membutuhkan tanda tangan Maya juga. Karena jika nanti aku menikahi Dinda secara resmi. Posisinya akan menjadi istri keduaku. Mesti kenyataannya, ia adalah istri pertamaku.
__ADS_1
TBC.
Rumit dibikin sendiri. Tak tegas nih Adi, gemes betul aku sama dia 😫