Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP119. Penjelasan Adinda


__ADS_3

"Intinya Supriyatna itu, mau aku sama dia. Dia bilang tak akan cabut tuntutannya, sebelum aku pulang ke orang tua. Aku paham, saat itu aku lagi diprovokasi. Aku minta dia dalam waktu satu minggu, untuk cabut tuntutannya. Tapi sampai kelima belas hari, dia tak ada niatan untuk cabut tuntutannya. Jadi aku inisiatif untuk datangin dia. Tapi pas aku sampai di rumahnya, dia sengaja naruh hp di angin-angin pintu. Entah kenapa, pikiran aku ngarahnya ke pengadilan. Memang tadinya, aku mau kasih uang aja. Tapi jelas, pasti dia sengaja ngerekam itu video. Bisa jadi untuk meberatkan hukuman Abang, karena aku berusaha nyuap si penuntut. Apa lagi ada buktinya macam itu kan. Jadi aku ambil opsi kedua, aku paham kelemahan laki-laki. Meski aku lagi hamil besar pun, keknya okelah. Lumayan, layak pakek." ungkapnya jelas. Tentu membuat tanganku yang berada di pahanya, langsung mencengkeram kuat. Jadi betul apa yang ia ucapkan tadi pagi? Tapi kenapa Supriyatna tak mengakuinya?


Ia hanya memajang senyum puas, saat mataku sudah memanas dan otot rahangku mengeras.


"Belum apa-apa juga, udah naik pitam. Suruh cerita, tapi main fisik segala. Sakit loh…" ujarnya langsung dengan menepuk tanganku yang masih berada di pahanya.


"Maaf, Sayang. Sok lanjut." sahutku kemudian. Aku menyandarkan punggungku dan mengatur nafasku, agar amarahku kembali surut.


"Terus ngobrol-ngobrol sedikit. Terus aku buka kemejanya…" ungkapnya membuatku langsung menoleh dengan menatapnya tajam.


Ia mengambil sesuatu dari bawah sofa ini, memang ada sedikit ruang. Tapi aku tak menyangka, jika ruang kolong sofa ia jadikan untuk tempat penyimpanan.


"Pakek ini." lanjutnya kemudian dengan menodongkan aku senjata tajam.


Sontak membuatku terkejut setengah mati, kemudian aku langsung berpindah menjauhinya.


Ia terbahak-bahak, sampai perutnya terguncang. Mungkin ekspresi tegang bercampur kagetku, mengundang tawa untuknya.


"Psikolog kah kau, Dek?" tanyaku dengan masih menjaga jarak dengannya.


"Hah?" ucapnya dengan mata membulat, ia seperti kebingungan dengan pertanyaanku barusan.


"Kenapa tak sekalian psikiater aja? Biar Zuhra berobat sama aku aja." jawabnya kemudian.


Aku mengingat kembali pertanyaanku dan... betul saja. Ternyata aku salah mengucapkannya. Maksudku tadi psikopat, tapi malah mengucapkan psikolog.


Aku pun menyuarakan tawa renyahku, bersamaan dengan Dinda yang tertawa kembali.


Ok, aku paham. Pantas saja Supriyatna mengatai bahwa istriku gila dan menyarankan untuk memasungnya.


"Dari mana itu badik?" tanyaku kemudian, dengan meminta badik itu dari tangan istriku. Sebaiknya aku mengamankannya saja, takut-takut malah aku yang dibadiknya.

__ADS_1


"Punya aku dulu. Dulu aku, bang Haris, bang Jefri, kak Sukma, sama pacar lama bang Jefri pernah liburan bareng. Terus pacar bang Jefri yang orang dari provinsi L itu, ngasih ini pas lagi berburu." jawab Dinda memberitahuku.


"Oh, Ganis itu orang provinsi L?" sahutku penasaran, aku sedikit ingin tahu tentang pacar dari adikku itu.


"Bukan, ada lagi. Sebelum Ganis, Bang. Dia dokter juga, tapi hobinya berburu. Pas itu putus, karena kak Fiqoh lanjut pendidikan. Biar lepas nanti jadi dokter spesialis katanya, Bang." balas Dinda, dengan menutup kembali badik tersebut. Lalu memberikannya padaku.


"Namanya Fiqoh?" ujarnya kemudian.


"Siti Rofiqoh, lebih tua tiga tahun dari bang Jefri." tuturnya, saat aku menerima barang tersebut.


Gila memang si Jefri ini, dia main juga sama yang lebih tua darinya. Ke mana ilmu pesantrennya pergi? Pacaran dia dengan berbagai macam wanita, sosor sana-sini tak tau kira.


"Kok masih sama Adek? Kan dipenerbangan tak boleh bawa sajam macam ini." tukasku lebih lanjut, dengan kembali memperhatikan wajahnya.


"Pas liburan itu kan aku tinggal di rumah orang tuanya kak Husna. Nah pas ketemu kak Husna itu, dia sekalian ngasihin barang-barang aku yang ketinggalan di tempatnya dulu. Makanya waktu itu kan aku banyak bawaan." jelasnya kemudian, aku manggut-manggut mengerti.


"Oh, Husna sama Sukma waktu itu tak pakek pesawat kah?" ucapku dengan mengamankan badik tersebut, dengan cara kugulung dengan beberapa helai tisu. Meski memang memiliki sarung penutup, tapi aku tetap takut juga dengan racunnya.


Aku menyimpan barang tersebut di laci nakas, mungkin nanti setelah selesai Dinda menjelaskan semuanya. Akan kubawa badik itu keluar dari rumah. Ngeri-ngeri sedap aku membayangkan, jika tengah tertidur pulas. Tiba-tiba langsung kena badik istriku.


"Terus… masalah produser film itu macam mana?" tanyaku kemudian, dengan berjalan kembali ke arahnya.


"Ya… cuma gitu aja, Bang. Sebelumnya kan memang dia yang dulu filmin novel aku, yang waktu aku sama Mahendra lagi renggang. Pas hamil anak kedua itu nah." terangnya mencoba membuatku mengingat kembali pada sesuatu, yang pernah ia ceritakan.


"Yang katanya Adek sengaja ikut pembuatan filmnya, biar jadi alasan untuk tak cepat pulang dan selesaikan rumah tangga Adek sama Mahendra itu?" tanyaku memastikan, karena aku masih mengingat bagian itu.


Dinda langsung mengangguk dan tersenyum manis, "Dia mau filmkan novel aku, yang diperankan oleh laki-laki tuh tokoh utamanya. Nanti katanya yang jadi tokoh utamanya bang Fanji itu." jelasnya kemudian, saat aku duduk di tempat tadi. Dinda sedikit menyerongkan tubuhnya, untuk bisa bertatap muka denganku.


Aku memperhatikan wajahnya, terlihat ia begitu bahagia mengucapkan hal tadi. Jadi, segila itu kah dia dengan idolanya? Padahal jelas, fisikku lebih unggul dari idolanya tersebut.


Dinda mengecek ponselnya, yang ia ambil dari dalam saku dress-nya. Senyumnya mengembang, saat melihat layar ponselnya. Notifikasi apa yang masuk? Sampai membuatnya bahagia macam itu.

__ADS_1


"Bang Fanji, sama bang Radit mau ke sini Bang." ujarnya dengan menoleh padaku sekilas.


"APA?" pekikku cepat, membuatnya terhenyak karena kaget akan seruanku.


"Terkejut loh aku, Bang. Ngomong kuat-kuat kali, macam aku tuli aja." sahutnya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Biar apa mereka ke rumah? Radit siapa lagi itu?" tanyaku beruntun, dengan raut wajah yang tentu tak sedap dipandang. Jujur aku tak menyukai Adindaku dikunjungi oleh laki-laki. Cukup Haris dan Jefri saja, yang selalu membuatku cemburu akan kedekatannya. Meskipun aku mengetahui sendiri, kedekatannya tak melampaui batas.


"Bang Radit itu produser filmnya. Dia bilang, ya udah kalau tak boleh keluar sama suaminya. Biar dia yang datang ke sini, untuk obrolin tentang filmnya. Terus aku bilang kan, sekalian ajak bang Fanji juga. Aku mau kenalan sama dia. Terus kata bang Raditnya, share lokasi aja. Bang Fanji pasti mau kok untuk kenalan sama yang bening-bening katanya." ungkapnya dengan membacakan pesan teks dalam ponselnya, tentu dengan senyum bahagianya yang selalu ia pasang.


Dia tak punya otak atau bagaimana? Dia menceritakan hal itu pada suaminya? Atau memang sejujur itukah istriku? Atau dia sengaja ingin membuatku kebakaran jenggot?


"Dek, Abang cemburu." ucapku jujur, dengan memperhatikan wajahnya dari samping.


Ia tengah fokus pada ponselnya, dengan jari-jari tangannya yang fokus mengetik. Sepertinya ia tengah membalas pesan chat dari Radit itu.


"Halah… lebay!" sahutnya begitu enteng, dengan melirik sekilas. Lalu ia fokus kembali pada ponselnya.


"Dek, Abang tak main-main loh. Abang tak suka Adek dikunjungi dan akrab sama laki-laki lain." balasku dengan merebut ponselnya, lalu menaruhnya di belakangku. Aku ingin ia fokus saat diajak bicara olehku.


"Jangan terlalu berlebihan! Aku udah dewasa, aku paham batasannya. Lagi pulak, mereka berkunjung pun, ada Abang di rumah. Sekalipun status kita berpacaran, aku pastikan cuma Abang laki-laki aku. Apa lagi jelas sekarang udah nikah, Abang bisa tanya langsung ke Mahendra kalau Abang raguin itu. Jelas-jelas Mahendra yang nyebrang pulau aja dia percaya, aku tak pernah main serong. Malahan dia kebukti yang main-main di belakang aku. Apa lagi sama Abang, yang jelas ada di depan mata aku. Setiap hari, setiap waktu, setiap kejadian ada di sisi aku. Masa iya masih kurang kenal aku aja? Apa kurang pembuktian? Coba tanyakan ke Reno sana? Putus pun, Abang tau sendiri karena apa kan? Bukan karena aku maen serong, atau hal lainnya yang berbau dengan laki-laki lain. Padahal jelas waktu itu aku udah akrab sama Abang. Tapi tetap dia aku pertahankan, padahal aku udah tertarik sama Abang." ungkapnya berbalik sewot padaku.


"Cemburu, cemburu… klasik betul alasan Abang. Bilang aja memang tak mau dukung aku!" lanjutnya dengan bersedekap tangan dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bukan tak mau dukung……" tuturku disela olehnya.


"Tapi apa? Nyatanya begitu kok. Tiap kali aku lagi maen laptop atau hp, ada aja yang diminta. Bikin mie rebus kek, bikin teh manis kek, ambilin jemuran kering kek, terus sini dibantuin lipet. Ada aja begini begitunya… dikira aku lagi stalking media sosial Abang kah? Tenang, aku orangnya tak kepoan, selagi tak bisa kujangkau. Dan Abang tak mau bagi tau, ya udah… aku tak ambil pusing, aku jalani kehidupan macam biasanya. Tapi kan nyatanya aku maen laptop, maen hp pun lagi coba nuangin apa yang ada dipikiran aku. Aku tau nih, aku dosa marah-marah ke suami, apa lagi sampek bikin suami sakit hati. Nyatanya Abang tak ada pahamnya. Biasanya dua bulan paling lama, aku bisa bikin satu cerita sampai end. Sekarang sampek empat, lima bulan sendiri. Bukan aku pengen cari uang sendiri. Aku tak masalah, meski tak dipinang penerbit juga. Yang penting apa yang dipikirkan aku, aku curahkan ke tulisan. Karena dosa nih yang begini macamnya. Marah-marah macam ini, mending anteng nulis. Amarah teredam, tak nambah dosa pulak." ungkapnya dengan suara tinggi.


Jadi Dinda……….


......................

__ADS_1


__ADS_2