
"Aku masih ingat, pas kamu bilang. Aku bakal nikahin kau, kau tenang aja. Ternyata yang kamu nikahin itu, pilihan bibi aku untuk anaknya. Aku gak nyangka kamu udah nikah dan punya banyak anak gitu, karena dari kabar yang aku dengar. Kamu itu baru keluar dari penjara, juga kamu masih bujangan." ucap Salma memecahkan keheningan di dalam mobil ini.
"Ya berapa bulan setelah keluar dari penjara, aku nikah. Memang belum sempat resepsi, insyaa Allah bulan depan." sahutku yang memang sengaja tak memberitahunya, bahwa aku menikah siri dengan Dinda.
"Kenapa kamu gak konfirmasi akun aku, udah lama loh ini." balasnya dengan menunjukkan layar ponselnya. Memang aku mengetahui hal itu, aku sengaja menghindari mantan. Karena aku dan rumah tanggaku, takut diusik oleh masa laluku.
"Lama tak buka sosmed, sibuk sama anak-anak. Soalnya si kakak baru sembilan bulan, udah punya adik kembar. Jadi bisa dibilang agak rewel, cari perhatian terus." ujarku dengan memelankan laju kendaraanku, karena jalanan tengah padat merayap.
"Katanya yang di dalam itu baru sepuluh bulan, Di." tanyanya dengan menyerongkan posisi duduknya.
"Ya memang, adiknya yang di dalam itu baru sembilan bulan." jawabku kemudian.
"Loh, kok bisa? Kembar apa bagaimana itu?" sahut Salma. Saat aku menoleh ke arahnya, terlihat ia seperti terheran-heran.
"Iya, kembar." balasku cepat. Namun, Salma malah memukul manja lenganku.
"Gak jelas banget kamu ditanya! Ehh, Dinda itu udah jauh loh sama Rozi. Pernah umrah bareng, terus juga pernah mereka liburan ke Turki. Nih, aku punya fotonya." ujarnya dengan menunjukkan layar ponselnya.
"Jadi tuh mereka ngakunya abis umrah, terus ambil penerbangan ke Turki. Baru deh baliknya mampir ke rumah aku."
"Oh, iya. Depan itu ambil kiri, Di."
"Belok kiri?" tanyaku memastikan. Dengan ia yang langsung mengangguk mengiyakan.
Aku sempat menoleh ke layar ponselnya, memang Dinda tengah berfoto bersama Rozi. Mereka terlihat dekat, Dinda pun terlihat sangat cantik dan montok di foto ini. Menurut pengamatanku, Dinda sejak hamil si kembar sampai sekarang terlihat kurusan. Padahal saat ia hamil Ghifar, ia kurus hanya di masa ngidamnya saja. Hingga bertambah trimester, sampai melahirkan Dinda malah bertambah gemuk. Kalau tutup teko memang besar, karena ia menyusui. Hanya saja keseluruhan tubuhnya, memang terlihat lebih kurusan dari awal aku mengenalnya.
Apakah rumah tangga ini membuatnya tersiksa kah? Apakah aturanku yang mewajibkan dirinya masak, itu cukup memberatkannya kah? Apa jangan-jangan, Adindaku tak bahagia hidup bersamaku? Apa materi yang aku beri, tak sebanding dengan jumlah yang ia hasilkan dulu kah? Kenapa pertanyaan itu yang langsung muncul, saat melihat foto Dinda tadi?
__ADS_1
"Ya udah, biarin. Udah kelewat juga, ngapain dibahas lagi. Yang ada nanti aku sama Dinda berantem, gara-gara hal sepele itu." tuturku menyahuti tentang liburan Dinda bersama orang lain.
"Ih, sepele apanya Di? Itu waktunya belum lama loh. Terus anak kamu sama Dinda itu, kamu yakin itu anak kamu? Laki-laki sama perempuan liburan bareng itu, gak mungkin gak ngapa-ngapain. Apa lagi di negara orang, Dinda pasti takut dan butuh teman di kamarnya." tukasnya nyolot. Ini kenapa lagi dengan Salma ini?
"Anak orang kek, anak mantannya kek. Nyatanya Dinda istri aku, berarti anaknya ya anak aku juga. Dia paham agama, dia tau tentang nashab anak-anaknya. Kalaupun memang Dinda sekamar sama Rozi itu, terus mereka dulu main. Ya udah, biarin aja. Itukan dulu, sebelum kenal sama aku. Yang penting Dinda tak hamil, karena kebutuhan biologisnya itu. Yang jelas, aku nikahin Dinda itu. Dia belum hamil, bulan berikutnya itu dia masih haid. Jadi stop kompor-komporin aku! Rasanya, kau niat betul komporin aku. Karena kau tau kan, kalau aku ini cemburuan. Segala kau bahas, kejadian yang udah-udah dan yang tak aku tau. Biar apa coba untungnya? Kalau tak buat aku sama Dinda berantakan gara-gara itu."
"Udahlah, kau turun di sini aja! Udah terlanjur kesel aku!"
"Makasih untuk donor darahnya."
Ungkapku, dengan menepikan mobilku dan langsung membuka pintu untuknya. Tanpa aku keluar dari mobil, dengan hanya membukakan itu dari dalam. Dengan tanganku melewati tubuh Salma.
Salma tersenyum lebar, lalu aku merasa tangannya menyentuh bahuku. Namun, saat ia keluar. Ia menunjukkan minyak wangi yang tengah ditutupnya kembali.
Aku langsung mendengus bau yang ada di bajuku. Benar saja, wangi parfum Salma menempel kuat di kemejaku. Bisa habis aku, karena Dinda salah paham.
Eh, tunggu dulu. Kenapa malah terlintas di pikiranku, bahwa Salma mengingatkan tentang kesalahanku dulu?
Aku pernah meninggalkannya, karena wangi bajunya tercium seperti aroma parfum laki-laki. Ia mengatakan, bahwa ia baru selesai mengantri untuk membeli sesuatu. Dengan seseorang yang di belakangnya, yang menggunakan parfum dengan berlebih.
Aku langsung menjalankan kembali mobilku, dengan membukakan pintu kembali untuk Salma.
"Cepet masuk! Aku antar kau sampek depan rumah. Cepet!!" seruku yang langsung mendapat senyuman teduhnya.
"Kamu masih aja kaya dulu sih, Di. Isengin segitu aja, wajah kamu udah merah banget." sahutnya setelah berada di dalam mobil kembali.
"Masalahnya istri aku galak. Meletup dia, kalau baju aku bau parfum perempuan lain macam ini. Makanya aku sih lebih baik bau minyak telon, dari pada bau parfum perempuan lain. Dinda tak mungkin marah kalau aku bau minyak telon, karena paham siapa yang pakek itu minyak telon." balasku dengan melanjutkan perjalananku kembali.
__ADS_1
Salma menepuk pahaku, "Dinda kecil aja kau takutin, gimana aku yang tinggi berisi kaya gini." ujarnya dengan sangat pedenya.
"Nyatanya cabai rawit lebih pedas, dari pada cabai hijau. Udah ini terus ke mana lagi? Perasaan tak sampek-sampek." tukasku kemudian.
"Tuh, masuk ke gerbang perumahan itu. Nanti aku tunjukkin jalannya lagi." sahutnya dengan menunjuk gapura yang berada di sebelah kananku.
Lalu aku mengikuti arahan darinya. Kemudian ia minta diturunkan di depan rumah sederhana miliknya, dengan nomor rumah yang bertuliskan M.12 itu.
"Makasih, Di." ucapnya yang kubalas dengan dekheman saja. Berlanjut aku langsung memutar mobilku, menuju ke rumah sakit kembali.
~
~
~
Alhamdulillaah. Lelahku selama delapan hari belakangan ini, akhirnya membuahkan hasil juga. Naya sembuh, anak perempuan itu bisa tersenyum dan tertawa riang kembali. Meski tak seheboh keriangan Ghifar, tapi suaranya mampu menambah ramai rumah umiku ini.
Sejak tadi pagi aku melihat Dinda, ia seperti tengah memiliki beban pikiran. Apa karena lama tak dikeluarkan kah?
"Bos… bagi 10 ribunya dong ah. Abang pengen jajan, beli seafood bakar macam Givan jajan itu." ucapku bernada riang, agar Dinda terbawa suasana hatiku yang tengah bahagia ini. Tentu aku bahagia, melihat anak-anakku tumbuh dengan sehat dan gempal seperti itu.
"Berapaan itu, Bang? Bagi Papah satu tusuk aja itu." pinta Dinda dengan mendekati anaknya, yang tengah melahap makanan yang dibakar tersebut.
"Tusukkannya aja? Minta sama si mbak aja, kemarin hari kan masak kentang tusuk. Mana tau tusukannya masih banyak."
......................
__ADS_1