Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP175. Resepsi Safar


__ADS_3

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Ternyata Haris dan Alvi, juga kedua anaknya hadir di sini. Terlihat Haris tengah menggendong Kin, dengan Alvi yang menggandeng tangan Ken.


"Woy, Bang. Aku di sini." seru Givan, saat melihat Ken yang tengah celingukan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


Lalu kami berjalan ke arah mereka, "Abang tak nyari kau! Kau ngapain di sini? Nanti kue sama makanannya pada habis lagi, karena ada kau di sini." sahut Ken dengan nada judesnya. Seperti biasa, memang seperti itulah mulut anak Haris.


"Aku mau foto sama om aku, dia di dalam nikah sama umi Sukma. Aku iri sama Abang, Abang punya dua mamah juga dua papah. Aku cuma satu mamah dan satu papah, karena papah Hendra tak ketemu-ketemu. Macam cari jarum, ditumpukkan jerami." balas Givan dengan langsung mendekati Ken.


"Kau cari jarum jangan ditumpukkan jerami, coba cari di tepak jahit. Biasanya ada benang jahit, terus jarumnya nancep di benang itu." ujar Ken yang membuat kami tertawa geli.


Dasar anak-anak! Mengobrol seperti yang iya saja. Givan pandai berbicara, terkadang ucapannya terdengar seperti orang dewasa. Menurut Dinda, Givan seperti itu karena selalu dibawanya ke manapun ia pergi. Ia menongkrong dengan kawan, ataupun ia bekerja pun terkadang membawa Givan. Jadi anak itu seperti merekam ucapan-ucapan, yang biasa orang dewasa lontarkan.


"Balik nanti, mampir dulu ke rumah. Jangan langsung balik." ucap Dinda kemudian.


Haris mengangguk, "He'em, Abang juga pengen merem sebentar. Capek dari semalam di perjalanan, cek in dapatnya satu kamar. Kau tau kan, macam mana posisi anak-anak kalau tidur? Jadi pinggang pada sakit, karena tidur di bawah." sahut Haris dengan memperhatikan wajah Dinda.


"Kurusan, Vi. Lagi ngidam kah?" tanyaku pada Alvi, karena ia terlihat semakin kurus. Entah kenapa, aku malah berpikir bahwa Alvi tengah mengidam. Seperti Dinda waktu dulu, ia begitu kurus saat trimester pertama kehamilan Ghifar.


"Lagi masa pemulihan, satu bulan yang lalu abis operasi pengangkatan kista." sahut Haris dengan merangkul istrinya. Lalu ia menoleh pada Alvi, dengan menyunggingkan senyumnya.


Yang subur ya subur, macam Dinda. Sekali tetes, langsung jadi anak. Yang butuh perjuangan ya ada, tapi di balik itu semua pasti ada hikmahnya.


"Semangat, wanita hebat." ujar Dinda dengan menepuk pundak Alvi pelan.


Lalu kami melangkah masuk, menuju ke tempat yang sudah dibooking oleh Safar. Pernikahan yang bertema out door, semoga saja hari ini tidak hujan.


Akad nikah sudah dilaksanakan seminggu yang lalu, di kota L. Di tempat orang tua Sukma. Hari ini hanya resepsinya saja, tentu untuk keluarga besar dari Safar dan kerabat dekat saja. Bisa disebut seperti resepsi ngunduh mantu, jika di pulau J. Tapi untuk di daerahku, bisa juga disebut dengan dara baro. Tentu setiap orang berbeda-beda menyebutkannya dan melaksanakannya, tergantung keinginan dan kesanggupan masing-masing.


Ken terlihat memanyunkan bibirnya, saat kami semua naik ke atas tempat pelaminan untuk memberikan selamat pada Sukma dan Safar. Bahkan, Ken tak mengucapkan sepatah katapun saat ia berada di hadapan ibunya.


Lalu setelah memberi selamat, kami duduk di meja yang melingkar. Ada aku, Dinda, Zuhra dan kedua anakku dengan Dinda. Ada Haris, Alvi dan kedua anaknya juga. Juga ada Jefri yang tengah menikmati makanannya yang tersaji.

__ADS_1


"Mana gandengan kau?" tanya Haris pada Jefri.


"Kabur, dibungkus duda berpangkat." jawab Jefri santai, dengan masih menikmati santapannya.


"Memang macam itu, Di?" tanya Haris padaku.


Aku terdiam sambil mengingat kembali, setahuku Zulfa memang tengah dekat dengan seorang laki-laki. Namun, aku tak tahu pasti ia duda atau perjaka.


"Wahyu?" ujarku dengan menoleh pada Jefri.


Jefri langsung mengangguk mengiyakan, "Kau kata aku biarkan aja, kalau Zulfa dekat sama laki-laki lain." tutur Jefri setelah meminum air mineral yang tersedia.


Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku saja, lalu aku meladeni Ghifar yang melengkingkan suaranya itu. Anak itu mudah bosan, baru juga duduk sebentar. Ia sudah teriak-teriak minta berjalan-jalan kembali.


Hingga sudah beranjak tengah hari, kami semua memutuskan untuk beranjak meninggalkan pesta ini. Dengan Haris yang mengikuti mobilku di belakang. Berbeda dengan Jefri yang masih berada di sana, karena ia diminta untuk stay di situ oleh pak cekku.


Beberapa saat kemudian, kami sampai di rumahku. Lalu Haris dengan keluarganya dipersilahkan untuk masuk dan beristirahat, karena mereka terlihat begitu lelah. Dengan Ken yang ikut masuk ke dalam kamar, sedangkan Kin yang selalu mengekori Dinda. Kini anak itu tengah berada di dalam kamar kami, dengan ponsel milik Alvi di tangannya.


"Sabar, dua bulan lagi lahiran. Semoga Adek belum ngerasain kontraksi, pas mau disesar." sahutku dengan menggenggam tangannya.


Pintu kamarku terbuka, dengan menampilkan Zuhra yang tengah menggendong Ghifar yang sudah tertidur.


"Eh, balik lagi aja deh. Ada anak orang, nanti dia berisik bisa-bisa Ghifar kebangun lagi." ujar Zuhra dengan memutar tubuhnya kembali, lalu ia keluar dari kamar kami.


"Aku udah capek, Bang." ucap Dinda dengan memiringkan posisi tubuhnya, lalu setetes air mata membasahi pipinya.


Sungguh aku takut, saat Dinda mengeluh capek. Aku khawatir ia akan beristirahat selamanya.


"Sini Abang sayang, kasian betul ngandung anak Abang sampek tak berdaya macam ini." ucapku dengan mengusap-usap punggungnya, agar ia merasa nyaman.


"Aku mau pipis, Bang." ujarnya dengan mencoba bangkit dari posisinya.

__ADS_1


"Gih, pelan-pelan jalannya. Awas licin, Dek. Tapi kemarin sore, udah Abang sikat bersih lantainya. Tapi ati-ati aja." pesanku dengan membantunya bangkit.


Memang kandungannya baru beranjak tujuh bulan, bahkan tiga hari yang lalu di rumahku sempat mengadakan syukuran untuk kandungan Dinda. Tapi perutnya sudah begitu besar, seperti hamil sembilan bulan. Begitu penuh dan terlihat sangat turun, ia seperti menahan berat dari perutnya ketika sedang berjalan.


Kin menepuk-nepuk kakiku, lalu ia mengulurkan tangannya untuk meminta gendong padaku.


"Pah… jajan." ucapnya manja. Ia sudah bisa mengucapkan kalimat dengan jelas.


"Bentar ya, mamah lagi pipis. Kita tungguin dulu, Papah khawatir mamah kepeleset." sahutku dengan memangkunya di pahaku.


Tak lama Dinda keluar dari kamar mandi, ia berjalan dengan memegangi pinggangnya. Kasihan betul wanitaku ini, ia sampai seperti itu.


"Istirahat, Sayang. Abang mau ladenin anak-anak dulu ya, Givan juga mana tau minta makan atau lainnya." ucapku dengan menepuk tempat tidur kami.


"Sore nanti kita ke dokter kandungan lagi deh, Bang. Aku ngerasa tak baik-baik aja, perasaan bayi aku gerakannya heboh betul." sahut Dinda, dengan meringis saat ia menduduki tepian tempat tidur.


"Ok, Abang nanti buat janji. Nanti cerita aja ke dokternya, bila perlu USG ulang juga." balasku yang langsung diangguki olehnya.


Aku menggendong Kin, lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya. Aku tersenyum padanya, kemudian keluar dari kamar kami. Biarkan Dinda berisitirahat sebentar, aku rasa ia lelah karena perjalanan tadi.


Aku membawa Kin ke toko bibinya Shasha, karena di situ terdapat makanan ringan yang menarik perhatian anak-anak.


Saat aku menemui anakku di kamarnya tadi, ternyata ia tengah tertidur pulas dengan sepatu yang masih terpasang. Zuhra pun tertidur di kamarnya, dengan Ghifar yang tidur bersembunyi dalam ketiak bibinya. Untungnya Zuhra tak bau badan, karena posisi favorit anakku saat tertidur ya bersembunyi dalam lekukan ketiak.


Terdengar suara ponselku, dengan cepat aku merogoh kantong celanaku.


Adindaku, nama yang tertera di layar ponsel. Ada apa dengannya? Kenapa sampai ia meneleponku? Apa karena aku tak memberitahunya, bahwa aku keluar sebentar dengan Kin?


"Ya hallo, kenapa Sayang?" tanyaku setelah menggeser ikon terima.


"Lagi di mana? Cepat pulang, aku…..

__ADS_1


......................


__ADS_2