Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP231. Angan-angan Zuhra


__ADS_3

Memang Zuhra demikian, mungkin nasehat dari istriku lagi ini. Pasalnya pun, Zuhra pernah mengurung diri di kamar terus. Juga hanya mengurus anak-anakku dan Dinda, tanpa mau keluar bersama kawan-kawannya lagi. Di provinsi A pun, dia memiliki kawan yang sering mengajaknya keluar. Mereka mengenal Zuhra, tentu karena diajak Adindaku main ke tetangga.


"Kau udah istri-istri aja ngomongnya, udah kebelet rupanya kau!" tuduh umi pada Zuhra dengan pandangan kesalnya. Pasti umi tengah pusing, bingung dan kaget mendengar ucapan Zuhra yang minta nikah tersebut.


Aku dan Dinda menahan tawa kami, dengan Zuhra yang terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Akak udah males ngumpul sama temen, mereka cuma butuh sama kita. Tapi gak ada, saat kita butuh bantuan." ucap Zuhra lirih, dengan pandangan menunduk. Sebenarnya masalah hidup apa, sampai membuatnya demikian?


"Berarti Akak kurang royal sama kawan. Coba royal macam Kak Dinda, dari kawan lamanya Abang sampek ke mantannya Abang pada pengen berkawan sama Kak Dinda." sahut Zuhra dengan nada ceria. Sudah kutebak, Dinda berpengaruh dalam kehidupan Zuhra.


"Kalau kau malas ngumpul sama kawan, ya ngumpul lah sama saudara. Kak Dinda kau juga jadi bingung, kalau mau belanjain kau. Karena kau ngurung diri di kamar terus, jadi kak Bena sama Umi kau yang kebagian terus." timpal ayah dengan tersenyum samar pada Zulfa. Aku paham, ayah tengah mencoba membujuk Zulfa agar mau berbaur dengan keluarganya. Sejak mengenal cinta dari Jefri, Zulfa sudah bukan Zulfa yang kami kenal lagi. Entah apa yang Jefri torehkan di hati dan pikirannya, membuat Zulfa kami berubah menjadi pendiam seperti ini.


Zulfa menoleh ke arah Dinda yang tengah mengusap punggung Ghifar, anak laki-lakiku tengah tak ceria.


"Aku masih dapat dari Kak Dinda." jawab Zulfa kemudian.


"Ya kan itu cuma sebagian, yang lainnya kan kau tak dapat." sahut Dinda dengan senyum menyebalkan.


Zulfa mengerucutkan bibirnya, dengan beralih ke sebelah istriku.


Entah Zulfa membisikkan apa pada telinga istriku, karena Dinda manggut-manggut saja saat Zulfa mengatakan sesuatu di dekat telinganya.


"Kak… boleh tak kalau aku nikah duluan?" ucap Zuhra dengan memperhatikan Zulfa yang berada di sebelah Dinda.


Terlihat Zulfa terdiam sejenak, dengan pandangan menerawang. Lalu ia beralih menatapku, dengan tatapan yang tak aku mengerti.


"Is, kau ini!" ketus umi dengan menggelengkan kepalanya, juga pandangannya mengarah ke Zuhra.


"Tak apa kok, Mi. Zulfa juga belum pengen berumah tangga, masih pengen nabung untuk masa depan Zulfa. Biar aja Zuhra nikah duluan, kalau udah mantap di hati sih." ucap Zulfa yang mengalihkan perhatian kami semua. Betulkah apa yang diucapkannya barusan? Aku pernah mendengar dari Jefri, tentang Zulfa yang meminta Jefri cepat melamarnya.


"Tuh kan, Mi. Tak apa kata Kak Zulfa, jadi aku habis Bang Adi nikahan ya Mi." sahut Zuhra dengan nada bahagianya. Tak mengerti kah dia? Bahwa sekarang tengah berada di situasi yang membuat cengeng.


"Biar Abang telpon dulu Naharnya, Abang jotosin kau. Kalau kau ketauan tak pandai jaga marwah kau!" ancamku dengan merogoh ponselku. Namun, Icut malah mengambil alih ponselku. Kesalnya aku pada Icut di sini, ia terlalu beringas jika melihat ponsel.

__ADS_1


"Jangan main HP, Cut. Jangan ambil HP Papah." suara Dinda yang membuat Icut mengembalikan ponselku dengan cepat.


Lalu gadis kecilku ini langsung memelukku, aku paham ia takut akan bentakan ibu sambungnya itu. Dinda galak, jelas galak. Denganku dan anak kandungnya saja tak tau kira, jika sudah memarahi kami.


"Halo, Har…" ucapku, setelah meloudspeaker panggilan yang sudah tersambung ini.


"Ya, Bang. Ada apa?" tanya Nahar yang suaranya terdengar putus-putus.


"Lagi kerja kah kau? Coba cari sinyal yang bagus." jawabku kemudian.


"Lagi di ladang, Bang. Anginnya lagi besar, bentar Bang aku cari tempat yang enak dulu." sahutnya. Aku membiarkan panggilan telepon ini tersambung, dengan suara kresek-kresek yang cukup mengganggu.


"Gimana, gimana Bang?" suara Nahar, setelah beberapa waktu detik berjalan.


"Kau terakhir kapan ketemu Zuhra?" tanyaku langsung, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Hmm… lepas subuh, Bang. Soalnya ditawari buat ngantar dia ke bandara, dia tak mau Bang." jawabnya yang membuatku menoleh cepat ke arahnya. Lepas subuh mereka bertemu? Untuk hal apa?


"Kau ngapain lepas subuh ketemu dia?" sahutku kemudian.


"Apa sebelumnya sempat keluar?" ujarku dengan memperhatikan reaksi wajah umi dan ayah. Aku merasakan tanganku diremas oleh seseorang, saat aku menoleh terlihat Zuhra tengah memasang wajah kesalnya.


"Iya, memang kita ada keluar bareng Bang. Lepas ba'da isya, aku ajak dia ke pasar malam. Terus aku belikan jajanan, biasa Bang macam telor gulung, sosis telor, bakaran dua ribuan gitu-gitu Bang. Soalnya kalau jajan sama Givan, pasti dapatnya itu-itu aja. Ditawarin jajan apa, dia macam malu-malu kucing. Udah beli sih, habis juga Bang. Terus aku ada belikan dia kerudung juga, sempat mampir ke rumah cek juga Bang."


"Memang kenapa, Bang? Zuhra sakit kah?"


Suara Nahar berulang, Dinda menahan tawanya. Dengan wajah Zuhra yang merah pias, karena pengakuan Nahar.


"Besok kau sama orang tua kau ikut rombongan ke kota J, sama cek dan keluarga besar Abang yang lain." ucapku kemudian.


"Hah? Memang ada apa, Bang? Kok bawa-bawa orang tua segala? Betulkah Zuhra sakit abis aku jajanin itu? Tapi lepas subuhan itu, dia masih baik-baik aja." sahut Nahar dengan nada yang terdengar kaget bercampur khawatir.


"Sekalian nanti siapin minimal 15 mayam." balasku, tanpa menyahuti ucapannya.

__ADS_1


"Hah?" suara Nahar, tanpa lanjutan lain. Apa ini maksudnya?


"Sialan kau, Bang! Bikin aku mules aja, aku kira ada apaan." lanjutnya setelah terdiam beberapa detik. Dengan aku yang tergelak karena reaksi Nahar barusan. Dia seperti mamak-mamak, yang mendadak mules ketika mendengar kabar yang membuatnya panik.


"Sanggup tak?" tanyaku memastikan.


"Rencananya mau 17 mayam, malah ditawar 15 pulak. It's ok, Bang. Aku sanggupi, insyaa Allah. Tapi kalau boleh, acara di sini aja lah Bang. Di rumah Abang macam itu, biar aku bisa bagi-bagi buat biayanya." jawabnya kemudian.


"Bisa diatur, asal orang tua kau ada bilang. Bawa dulu mereka ke sini, nginep beberapa hari buat ngomongin masalah pernikahan kau. Soalnya lusa nanti, Abang sama kak Dinda baru mau isbat pernikahan." jelasku yang diiyakan olehnya.


"Ya udah ya, bilang ke cek kau ikut rombongan." ujarku sebelum menutup panggilan.


"Ya, Bang. Assalamualaikum." sahutnya, dengan aku langsung menjawab salamnya.


"Diajakin ke pasar malam aja kau langsung minta nikah, Dek? Ya ampun, Zuhra! Ganteng betul kah itu laki-laki, sampek buat kau mabok macam itu?" ucap umi yang membuat kami semua langsung bergantian memperhatikan umi dan Zuhra.


"Ganteng lah, Bang Adi tak ada setengah-setengahnya. Mana dia muadzin musholla, lima waktu tiada tandingannya. Ladang ada, pendidikan juga sarjana. Insyaa Allah, aku sejahtera nanti. Pokoknya tiada tandingannya, bang Nahar terbaik." sungguh kami semua melongo seperti orang bingung, saat Zuhra memuji Nahar sedemikian rupa.


"Nanti aku masuk surga, bareng sama bang Nahar. Nanti aku nanya tiketnya ke Kak Dinda, nanya perihal transportasinya ke Bang Adi."


"Pokoknya Bang Adi harus ajarin bang Nahar nanti betul-betul ya? Aku tak mau bang Nahar salah haluan, atau salah naik angkotnya."


"Nanti juga anak aku banyak kali. Aku sama bang Nahar udah rencana, mau punya anak tujuh."


"Nani juga aku mau pisah rumah, aku takut punya mertua galak. Nanti kalau di rumah sendiri kan, bisa bebas macam Bang Adi sama Kak Dinda."


"Uh, bahagianya aku."


Celotehan Zuhra yang membuat kami saling memandang satu sama lain. Waras kah dia?


Dengan tanpa rasa malu, ia berlalu pergi ke dalam kamarnya. Sembari memasang senyum bahagianya, juga pandangan yang menerawang jauh.


"Gila kah adik kau itu?" tanya ayah dengan menoleh ke arah Zulfa.

__ADS_1


Zulfa terlihat masih terheran-heran melihat tingkah Zuhra, lalu ia menggeleng cepat untuk menyahuti ucapan ayah.


TBC.


__ADS_2