Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP75. Ada sesuatu


__ADS_3

Aku tak menyangka ternyata adik bungsuku seperti ini.


Aku berjalan menuju pintu samping kanannya. Dan mengetuk jendela mobilnya berulang kali. Aku menggedor-gedor pintu tersebut, dan berakhir dengan aku menendang pintunya. Karena ia tak kunjung membukakan pintunya.


Emosiku mengumpul di kepalaku. Apa-apaan ini? Setelah Zulfa yang ditiduri oleh Jefri. Sekarang giliran Zuhra yang ternyata perokok, dan pembalap juga. Apa umi dan ayah tak tau kalau ternyata putri kecilnya seperti ini?


Seseorang menepuk bahuku, saat mobil itu maju ke depan dengan perlahan.


"Hei, kau kenapa?" tanya Nova keheranan.


"Berapa putaran ini. Finis di mana?" tanyaku cepat.


Lalu Nova bertanya pada orang-orang yang berada di sekitar sini.


"Katanya cuma satu putar. Nanti mereka putar balik di lampu merah depan sana. Dan finis di titik itu tuh." jawab Nova, dengan menunjukkan dua pohon yang berukuran besar. Mungkin ia mendapatkan informasinya dari orang-orang yang berada di sini.


"Dapat apa mereka nanti?" tanyaku kembali.


"Anak muda, Di. Golongan orang kaya juga, nampak dari mobilnya. Paling juga cuma buat seru-seruan aja." jawab Nova kemudian.


Awas saja kau Zuhra, kusered kau sampai ke provinsi A. Lepas ini sepertinya bukan Zulfa yang akan kubawa, melainkan Zuhra. Biar kudidik dia baik-baik. Bila perlu aku pesantrenkan dia. Disekolahkan sampai lulus SMA, bukannya fokus pada pendidikan lanjutannya. Ia malah ogah kuliah, dan menjadi pembalap liar macam ini. Mana itu mobil sepertinya ia minta dari umi dan ayah lagi. Dasar, anak tak tau diuntung! Diberi fasilitas, malah disalah gunakan macam ini.


Sampai sana kubuat kau jadi pengasuh anak-anak aku kau, Zuhra. Geram betul aku padanya!


Aku menunggu dua mobil mewah itu muncul kembali. Rasanya aku ingin memaki anak itu habis-habisan. Apa ia juga menjadi mainan laki-laki yang berada di sini? Apa ia juga pamakai barang haram?


Rasanya, dua mobil itu lama sekali kembali. Aku sudah tak sabar ingin membawa Zuhra pergi.


Tak lama para penonton bersorak riuh, dan mobil Zuhra berada diurutan kedua. Sukur, kau tak menang!


"Nov, kau bawalah mobil aku. Minta Seila simpan di rumahnya, atau kau bawa aja." ucapku dengan menyerahkan kunci mobilku.


"Kau mau ke mana?" tanya Nova bingung. Namun ia tetap menerima kunci mobilku.


Aku tak mau memberitahunya, aku tak mau kawan-kawanku meledekku dengan urusan yang bersifat internal ini. Aku tak mau keluargaku dipermalukan.


"Udah kau bawa aja." jawabku. Lalu aku melangkah terburu-buru menuju ke mobil Zuhra.


Terlihat Zuhra keluar dari mobil dengan wajah kacau. Dan ia langsung disambut dengan kawan-kawan sebayanya.


Zuhra terlihat begitu gelagapan, saat aku mendekat ke arahnya.


"Mana kuncinya?" ucapku pelan. Agar ia tak malu dengan kawan-kawannya.


"Abang… aku, aku…" sahutnya yang mungkin berniat menjelaskan padaku.


"Mana kuncinya? Biar Abang yang bawa. Kau ikut Abang." balasku kemudian. Lalu ia memberikan kunci mobilnya, dan ia berlari ke sisi sebelah kemudi.


Tanpa menjawab pertanyaan kawan-kawannya, ia langsung masuk. Dan duduk manis di kursi depan.

__ADS_1


Aku pun berbicara halus, dan tak membentaknya. Aku paham bagaimana malunya ia, jika ia kepergok dengan keluarganya sendiri di depan kawan-kawannya. Karena aku tahu rasanya, saat dulu aku kepergok oleh pamanku. Dan aku dimarahi habis-habisan oleh pamanku, di depan kawan-kawanku.


Aku menjalankan mobil ini, dengan suara sorakan yang menyeruiku. Biarlah apa yang mereka pikirkan, aku sudah tak peduli.


Zuhra terdiam menunduk dengan memainkan ponselnya. Aku cepat merampas ponselnya, akan aku sita ponselnya. Aku ingin mengetahui ia sudah sejauh mana.


"Bang…." ucapnya tak berani melanjutkan ucapannya.


Aku hanya fokus pada jalanan, aku takut kecelakaan lalu lintas. Karena aku yang sudah dikuasai kemarahan ini.


Terlihat Zuhra berpindah ke kursi belakang. Aku memperhatikannya sekilas dari kaca tengah. Ternyata ia tengah mengenakan celana panjang, dan sweater. Lalu ia memakai kerudungnya.


Dasar, bunglon! Dia lebih buruk dari pada istriku, yang umi maki-maki waktu itu.


"Bang, jangan kasih tau umi sama ayah." ungkap Zuhra dengan takut.


"Tak, asal kau ikut Abang ke provinsi A." sahutku kemudian.


"Hah? Aku gak mau, Bang. Aku mau di sini aja sama umi sama ayah." tolaknya.


"Mau Abang bagi tau ke mereka atau mau ikut Abang?" tegasku langsung. Lalu aku menariknya keluar dari mobil. Karena kami sudah sampai di kediaman umi.


Aku langsung menyambar selang air, yang kerannya sudah aku putar. Aku langsung mengarahkannya pada Zuhra. Ia mencoba menghindar, namun aku langsung mencekal tangannya. Agar ia tak kabur.


"Abang…….."


"Dingin, Bang…………"


"ABANG………."


Seru Zuhra berkali-kali. Aku ingin dia sadar. Aku ingin ia paham bahwa aku marah padanya, aku kecewa padanya. Boro-boro untuk membahagiakan orang tua. Untuk menjaga pergaulannya saja ia tak bisa.


"Hei, Di….."


"Adi!!!"


"ADI!!!!!"


Bentak ayah dengan langsung mengambil alih selang air yang aku pegang.


Zuhra langsung mendekap erat ayah. Dan aku mendapatkan pelototan tajam dari ayahku.


"Kau kenapa? Adik kau sendiri kenapa kau semprot air macam itu?" seru ayah memarahiku.


"Ada apa ini?" tanya umi yang baru muncul. Lalu saat ia melihat Zuhra yang basah kuyup, umi langsung mendekati anaknya dan memeluknya.


"Kau kenapa, Bang? Ada masalah apa? Zuhra salah apa memang?" tanya ayah yang sepertinya tak menerima perlakuanku pada anak bungsunya.


"Coba tanyakan langsung ke gadis baik-baik itu! Coba tanyakan langsung pada anak alim dan sholehah itu!" jawabku dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Lalu aku berlalu masuk ke dalam, dengan ponsel Zuhra yang masih aku kantongi.


Sebelum masuk ke kamar, aku menyempatkan diri untuk ke dapur. Untuk mengambil air minum, dan meneguknya hingga tandas. Karena aku merasa kerongkonganku begitu kering.


Lalu aku langsung menaiki anak tangga, dan masuk ke dalam kamarku.


Aku membuka kemejaku, dan mengganti celanaku dengan sarung. Lalu aku naik ke atas tempat tidur, dan langsung merebahkan tubuhku.


Inilah pentingnya berperilaku baik pada diri sendiri dan berkata baik pada orang lain. Karena kelakuan buruk kita, akan menjadi bumerang sendiri untuk kehidupan kita. Dan jagalah ucapan, karena khawatir segala sesuatu yang diucapkan buruk pada orang lain. Malah berbalik pada keluarga kita sendiri. Tak perlu jauh-jauh untuk dijadikan contoh. Dengan Dinda yang umi hina habis-habisan, dan umi sangkakan Dinda seburuk j*lang. Nyatanya berbalik pada anak-anaknya sendiri. Tak perlu aku sebutkan siapa anaknya. Karena kalian pasti tahu sendiri, siapa korban dari hasil kedzaliman umi.


Aku mengecek aplikasi chat Zuhra, untungnya ponselnya tak dikunci dengan sidik jari atau pola dan sandi.


Jadi aku bisa melihat jejak-jejak bekas chatnya. Ternyata ia juga seburuk aku dulu.


Ya Allah, Zuhra. Bisa-bisa umi dan ayah mati mendadak, kalau mengetahui kau sehancur ini.


Aku harus mulai dari mana untuk mengembalikannya ke jalan yang benar? Namun, aku yakin ia pun tak mau berubah. Karena jelas, ia baru memulainya satu tahun terakhir ini.


Aku kira ia tak punya sosial media apa pun. Nyatanya, sosial medianya berisikan dengan dirinya yang berpakaian seksi dan menggoda. Belum lagi dengan bangganya ia berfoto dengan rokok yang terselip di antara jarinya, dan mempertontonkan tatonya yang berada di tengah-tengah dadanya.


Jadi hijab dan sifat alimnya hanya ia gunakan di rumah? Kecewa betul aku padanya, bisa-bisanya ia menyembunyikan keburukannya sejauh ini.


Dan apa ini? Chat terakhirnya, ia akan bertemu seseorang jam dua belas malam nanti. Siapa dia? Kenapa orang itu sudah terlihat begitu berumur? Apa Zuhra menjual dirinya juga?


Kenapa kehidupanku begitu rumit? Masalah hidupku begitu besar.


TBC.


Bukan sekedar bacaan aja.


Wawasan dan ilmu yang aku punya juga, aku bagi di sini.


Terus, pandai-pandailah kalian ambil sisi positif dari kisah ini.


Dengan Adi terus-terusan berbohong dan serapih itu dalam menyembunyikan sesuatu, bukan maksud author untuk ngajarin kalian bohong. Tapi, aku cuma ngasih gambaran kurang lebihnya seperti Adi. Kalau laki-laki tengah bermain serong. Bukan untuk mencurigai suami masing-masing juga, tapi kita perlu waspada aja.


Dan sekali lagi, sisi negatif di kisah ini tak perlu ditiru ya. Cukup untuk pengetahuan dan pembelajaran aja.


Buat yang masih belum menikah, aku harap kalian bijak dalam memilih bacaan dewasa. Dan untuk para emak-emak, bolehlah kita referensiin scene Adi dan Adinda untuk pasangan masing-masing 😆😆😆 biar tak monoton begitu 🤭


Nah, sedihnya aku di sini. Padahal ada referensi bagus untuk para emak-emak, pas di episode BSP71. Hak Adi.


Sayang sekali udah 5x revisi, episode itu tak bisa rilis. Jadi langsung loncat di episode BSP72. Rencana Adi pulang. Kan harus berurutan, makanya BSP71. Hak Adi itu dihapus. Terus langsung loncat ke Rencana Adi pulang itu.


Yang episode dihapus itu, isinya full adegan dewasa semua 😆 mungkin karena itu makanya ditolak reviewnya 🤭


Ya sudahlah, sekian dan terima kasih.


Sehat-sehat ya, Mak. Jangan lupa ngosek WC, biar anak-anak tak kepleset. 😉

__ADS_1


__ADS_2