
"Adi campuri Dinda, pas Dinda belum habis masa nifas. Mungkin karena itu juga Dinda bisa langsung hamil lagi. Dinda itu setia, Kak. Tak mungkin dia hamil sama orang, terus ngakunya sama Adi. Lagian Adi kan suaminya, Dinda istri Adi. Masa iya Dinda hamil anak orang, kan mustahil betul." ungkap Adi, membuat Ayu membulatkan matanya mendadak.
"Astaghfirullah… istri belum siap nifas, kau gauli? Hana utak kah kau, Di?" sahut Ayu, dengan suara yang membuat bayi yang berada di dekapannya menangis kencang. Ghifar terkejut, karena mendengar suara yang tiba-tiba meninggi itu.
Adi langsung mengambil alih Ghifar, "Cep, cep, cep. Anak Papah kaget ya? Kasian betul anak Papah, cep ah jangan nangis." ucap Adi mencoba menenangkan anaknya dengan pelukannya tersebut.
"Anak kau doyan nangis betul, mana suaranya nyaring kali itu bayi." timpal Ayu, dengan memperhatikan wajah Ghifar yang tengah bersandar manja pada dada ayahnya.
"Senyaring-nyaringnya suara Ghifar, dia tetap kaget dengar suara Akak." sahut Adi yang membuat Ayu terkekeh geli.
"Jadi, Dinda masih nyusuin Ghifar Di?" balas Ayu mengalihkan pembicaraan.
Adi menganggukkan kepalanya, "He'em, Kak. Makanya Adi mau ajak Dinda cek lagi, soalnya mau nanyain juga masalah ASI untuk Ghifar. Kelihatannya tuh, Dinda kurusan. Jadi Adi pikir, malah Dinda kekurangan nutrisi untuk dirinya sendiri. Takut kenapa-kenapa sama janinnya." ujar Adi setelah membuat Ghifar tenang.
Terlihat bayi itu tengah merespon gurauan dari Lestari tersebut, ia menyuarakan celotehannya dan menarik sudut bibirnya ke atas.
Membuat Adi terbawa suasana, ia pun ikut menarik sudut bibirnya. Melihat anaknya begitu senang, hanya karena gurauan kecil. Lalu mereka berlanjut mengobrolkan hal-hal ringan, tentang kesaharian keluarga tersebut.
~
~
Beberapa hari kemudian
Adinda sudah berada di rumah, ia tengah bergurau dengan bayinya. Adinda begitu merindukan suaminya, beberapa kali ia melirik pada Adi yang tengah berbaring di samping Ghifar.
Ia tak bisa memungkiri, akan hal yang ia rasakan. Ia membutuhkan suaminya, tapi entah mengapa ia merasa jijik jika membayangkan suaminya memasuki perempuan lain yang menjadi istri dari suaminya. Berakhir ia yang akhirnya menuntaskan sendiri gejolak yang ia rasakan. Tentu bukan hal aneh, jika hormon akan kondisinya membuatnya sering kali menginginkan hal tersebut.
"Dek… Abang migren terus. Minum obat sembuh, terus beberapa jam kemudian kumat lagi. Ini tuh sampek Abang tak pergi ke ladang-ladang, sakit betul kepalanya." ungkap Adi dengan memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah Ghifar. Tentu ia bisa melihat wajah istrinya juga.
__ADS_1
"Ya periksa! Bukan ngadu." sahut Adinda ketus.
"Pengen diperhatiin Adek Abang tuh. Abang betul-betul tak nyaman sakit kepala macam ini, Abang sakit Dek." balas Adi dengan mengulurkan tangannya melewati tubuh anaknya. Lalu ia memeluk perut istrinya yang masih rata.
Adinda menepis tangan suaminya, "Sana berobat!" ujarnya dengan bangkit dari posisinya. Lalu ia keluar dari kamarnya tersebut.
Adi menghela nafasnya, ia butuh istrinya dan perhatian dari istrinya. Kemudian Adi merogoh ponselnya, lalu ia menghubungi seseorang.
"Ris… aku migren terus udah beberapa hari, sembuh kalau minum obat warung aja. Terus lepas itu kambuh lagi." ucap Adi dengan telepon yang tersambung.
Sebelum Haris sempat menjawab, terdengar tangis Ghifar yang begitu menggema. Adi menaruh ponselnya asal, dengan fokusnya yang teralihkan pada Ghifar.
Adi langsung bangkit dari posisinya, kemudian membawa Ghifar dalam dekapannya.
"Yuk, ke mamah dulu yuk." ucap Adi pada anaknya. Ia melupakan bahwa panggilan teleponnya masih terhubung. Kemudian ia pergi begitu saja, meninggalkan ruang kamar tersebut.
"Sayang… Dek Dinda…" panggil Adi dengan menuruni anak tangga.
Terlihat Adinda tengah duduk di halaman belakang, dengan memeluk gitar miliknya.
"Dek, jangan ngelamun aja lah. Nih Ghifar nangis, pengen nyon-nyon keknya." ujar Adi dengan menyerahkan anaknya yang masih menyuarakan tangisnya.
Adinda menerima Ghifar, lalu ia langsung menyibakkan bajunya dan mulai menyusui Ghifar.
"Cerita sama Abang, jangan ngelamun aja. Adek banyak diem, Adek banyak ngelamun. Kalau memang masih marah sama Abang, coba tuntaskan permasalahannya. Abang mesti macam mana lagi? Jelasin pun Adek tak pernah mau dengar penjelasan Abang. Inget kandungan Adek, jangan banyak pikiran." ungkap Adi dengan memperhatikan Adinda yang tengah menyusui anaknya.
"Sampek kapan kita macam ini? Sampek kapan Adek harus keluar rumah, untuk nyenengin hati Adek? Sampek kapan lagi Adek digosipin jelek dengan suami orang? Coba bilang, Abang harus macam mana biar Adek seneng? Bilang apa yang Adek butuhin dari Abang, jangan sampek tuntasin sendiri. Dosa, Dek. Kalau memang Adek jijik akan kelam*n Abang, kan bisa dengan cara lain Abang tuntasin Adek." lanjut Adi yang membuat Adinda menatap wajah suaminya, dengan mata yang terbuka lebar.
"Abang tau… Abang tau Adek ngapain di kamar sendirian. Abang paham macam mana kebutuhan Adek, saat hamil muda macam ini. Tapi Adek seolah tak anggap Abang ada, ini itu Adek lakuin sendiri. Jadi fungsi Abang ini apa? Untuk nafkah lahir dan batin pun, Adek usahain sendiri. Abang mampu kasih makan Adek, penuhi kebutuhan dapur Adek, atau kebutuhan lainnya. Tapi Adek pergi ke luar rumah, untuk cari uang sendiri. Ada Abang di rumah, Adek minta pindah ranjang, terus keluarin sendiri. Gimana rumah tangga kita? Abang udah coba jadi yang terbaik untuk Adek, ngasih yang terbaik untuk Adek. Abang udah tinggalin Maya, Naya pun Abang biarkan sama Maya dulu. Setidaknya, secara agama Abang udah bercerai sama Maya." lanjut Adi mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
Tentu membuat Adinda merasa malu, karena kegiatannya diketahui oleh sang suami. Ia membuang pandangannya, memperhatikan taman yang begitu terawat.
"Aku mau kita cerai. Harusnya aku yang Abang talak, bukan Maya." sahut Adinda lirih, tapi terdengar sampai ke telinga Adi.
"Adek cinta tak sama Abang? Sayang tak sama anak-anak? Abang mohon, pertahankan pernikahan kita. Kembali macam Adinda yang Abang kenal, bukan Adinda yang tak berperasaan macam itu." ujar Adi dengan menghapus air mata istrinya, yang tak disadari oleh Adinda.
"Kasih Ghifar dulu ke Zuhra. Aku mau dengar semuanya." putus Adinda cepat, membuat Adi langsung mengangguk dengan tersenyum lebar.
Adi mengambil alih Ghifar yang sudah tertidur pulas, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Zuhra… temani Ghifar." ucap Adi, setelah dirinya membuka pintu kamar adiknya.
Terlihat Zuhra dengan Givan tengah bermain ponsel, dengan bungkus cemilan yang berserakan di lantai kamarnya.
"Aku lagi posisi wenak." ujar Givan dengan tersenyum lebar. Terlihat empat gigi depan anak itu sudah hilang, sejak dirinya kembali ke rumah dengan ibunya.
"Ok, jagain ya Adeknya. Papah mau ngobrol sama mamah." sahut Adi dengan menaruh Ghifar di atas tempat tidur, dengan sangat hati-hati sekali.
Kemudian Adi keluar dari kamar adiknya, lalu i berjalan untuk menemui istrinya kembali.
"Dek… Ghifar udah di kasur Zuhra. Givan lagi main hp sambil ngemil di kamar Zuhra." ucap Adi dengan duduk di sebelah istrinya.
Adinda menoleh ke arah suaminya, lalu ia hanya mengangguk saja.
"Sebelumnya Abang minta maaf sama Adek, Abang mohon jangan jijik dan jangan benci Abang." ujar Adi dengan menggenggam tangan istrinya.
Adinda mengarahkan pandangannya pada tangannya, lalu ia menaikkan pandangan untuk melihat wajah suaminya.
TBC.
__ADS_1
Tanggung kan?
Sudah kuduga 😝