Belenggu Sang Pemuda

Belenggu Sang Pemuda
BSP130. Teuku Ghifar


__ADS_3

Setelah Dinda sudah rapi, aku membantunya berjalan menuju ruang keluarga. Lalu aku pamit untuk mencuci pakaian di sungai.


"Heh, kau tak cepat belikan perlengkapan anak kau kah Di? Masa iya dia telanjang terus, cuma pakek jarik aja." ucap mak cek, saat aku pamit untuk pergi ke sungai.


"Lepas ini, Mak cek. Atau bisa suruh Zuhra tuh, tinggal catat aja. Nanti Zuhra yang carikan." usulku dengan tersenyum penuh harap pada Zuhra.


Zuhra hanya memanyunkan bibirnya, untuk meresponku.


"Ya udah sama Mak cek aja, biar tak perlu catat-catat." sahut mak cek. Dia sudah seperti ibuku di sini dan ibu untuk Dinda juga.


"Jangan pilihkan warna pink ya. Pokoknya beli warna selain pink." timpal Dinda kemudian.


"Akak di sini sama siapa nanti? Aku di sini aja deh, temenin Akak dan si hitam ini." ujar Zuhra dengan mendekati anakku, lalu ia menciuminya dengan gemas.


Terlihat sekali, ia sangat menyukai anakku. Mungkin ia merasa senang juga, atas kelahiran keponakan barunya.


"Ya udah Akak aja. Kau jagain anak laki-laki, yang kau bilang sihitam dari gua hantu ini." ucap Dinda membuat kami semua melongo.


"Gilak memang kau!" seru mak cek dengan menonyor pelan kepala Dinda, lalu Dinda terkekeh geli.


"Mak cek beli yang dibutuhkan sekarang aja, yang Mak cek tau. Urusan stroller baby atau bounce itu nanti sama kau aja. Sekarang aja udah cengengesan, besok apa lusa juga kau pasti udah mulai aerobik lagi." ujar mak cek yang membuat kami semua tertawa bersama.


Lalu aku segera pamit untuk pergi ke sungai, dengan membawa jarik bekas persalinan Dinda. Dengan mak cek pergi untuk membeli perlengkapan bayi, yang diantar oleh Safar.


Sedangkan Zuhra diminta untuk menemani Dinda, juga mengurus Givan. Zuhra juga, menjamu tamu-tamu yang datang untuk melihat keadaan Dinda dan bayinya.


~


Malam harinya, anakku baru bisa mengenakan pakaian yang sudah mak cek beli. Itupun sudah melalui proses rendam, jemur dan setrika juga. Maklum, mamaknya bawel.


Tangis anakku selalu mengejutkan dan sangat kencang. Alhasil, kami selalu dibuatnya panik saat mendengar tangisnya.


"Jadi mau dikasih nama siapa, Bang? Masa iya udah tak punya akte, dia tak punya nama juga." ucap Dinda dengan menyusui anaknya. Aku tengah berada di dalam kamar, dengan Givan, Zuhra, Liana dan juga dek Ning.

__ADS_1


Karena pada malam ini, aku akan mengadakan acara melekan untuk anak laki-lakiku ini.


Jujur aku merasa tersindir, dengan ucapan Dinda barusan. Aku pun tak ingin seperti ini, tapi apa boleh buat. Aku masih belum berani untuk langsung membawa mereka, untuk dikenalkan pada umi dan Maya.


"Teuku Abizar Al-Ghifari, Dek." sahutku kemudian.


"Aku tak suka, aku pernah punya mantan namanya Abizar. Lepas putus pun, aku sama dia masih sukangejek satu sama lain kalau lagi ketemu. Jangan Abizar lah, Bang." jelasnya membuat gadis-gadis di sini menahan tawanya.


Aku tengah berpikir, namun Dinda mengeluarkan pendapatnya kembali.


"Teuku Ghifar aja. Biar dia tak terlalu lama, buat buletin nama pas ujian nasional nanti." ungkapnya mengundang atensi semua yang ada di sini.


Aku mengangguk reflek, karena merasa cocok dengan usulan Dinda. Aku dan Givan pun hanya memiliki dua rangkaian nama, anakku pun hanya dua rangkaian nama. Tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek.


"Ok sip, Teuku Ghifar ya. Nanti lepas tali pusar nanti, sambil aqiqah dan ngumunin nama anak kita Dek." putusku langsung.


Dinda sedikit cerewet dalam masalah nama anak, tak seperti Maya yang semuanya terserah padaku. Cut Naya Maulida pun, itu hasil dari pemikiranku sendiri.


Masalah nama sudah selesai, tinggal nanti untuk aqiqah saja. Jika nanti sudah beres, aku akan meminta izin pada Dinda untuk bertolak ke kota C. Untuk mencari jalan keluar pernikahan aku dan Maya.


Memang Safar berada di sini, dia tengah membahas masalah ladang denganku. Tapi karena anakku menangis kejar, aku langsung berlari ke kamar. Aku pikir Dinda tengah di kamar mandi dan yang lain tengah berada di ruang keluarga. Ternyata mereka semua ngumpul di kamar, dasar memang anakku saja yang tipe menangisnya selalu mengangetkan.


Aku berjalan cepat, menuju ke ruang tamu. Terlihat Jefri dan juga ibu mertuaku, yang tengah dipersilahkan masuk oleh Safar.


Aku langsung tersenyum, kemudian mencium tangan ibu mertuaku.


"Jauh pisan, Di. Rasanya mata sampai kunang-kunangan, telinga sampai budeg. Karena terlalu lama naik pesawat." ungkap ibu mertuaku, sambil duduk di sofa ruang tamu. Menurut yang aku tahu, pisan bisa berarti dengan sesuatu yang dilebihkan. Atau sama halnya dengan banget, tapi tentu untuk daerahku. Kata banget tak pernah diucapkan, karena biasanya kami menggunakan kata kali atau sekali.


"Bapak tak ikut kah, Bu? Memang perjalanan dari jam berapa?" tanyaku dengan duduk di sofa yang berhadapan, dengan sofa yang diduduki ibu mertuaku.


"Dari pagi. Bapak tuh gak mau ikut, dengar nama pulau Sumatera aja katanya udah ngebayangin jaraknya. Apa lagi kalau harus ke provinsi A-nya katanya, pasti jauh banget." jawab ibu mertuaku jelas. Aku hanya tersenyum samar menganggapnya.


"Ayo Bu, masuk aja ke kamar. Dinda lagi nyusuin di kamar." ajakku pada ibu mertuaku.

__ADS_1


"Anti megang bayi, kalau habis dari luar. Ibu mau ke kamar mandi dulu, mau bersih-bersih dulu." ujar ibu mertuaku. Lalu aku mengantarkannya ke kamar kosong, yang terletak di sebelah kamar Zuhra.


Lalu aku memberitahu Dinda, bahwa ibunya telah datang ke sini. Ia begitu bahagia, ia langsung berdiri dan hendak menemui ibunya. Namun, langsung aku tahan. Karena ibunya mengatakan, ia akan membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Tunggu aja di sini. Abang udah kasih tau, bahwa kamar Adek di sini. Nanti juga ibu ke sini, kalau udah selesai mandi. Abang mau ke depan dulu ya, di depan ada Jefri." tuturku yang langsung diangguki Dinda.


Terlihat Jefri tengah merokok di teras rumah, dengan Safar dan dua cangkir kopi yang menemani mereka berdua.


Saat aku keluar, Jefri menoleh ke arahku. Ia memperhatikan aku, lalu menggelengkan kepalanya.


"Juragan kopi, rumah bak istana. Tapi cuma sarungan aja, mana cuma pakek singlet putih lagi. Kau macam bapak-bapak yang suka ngelus-ngelus ayam aduan." ucapnya membuatku dan Safar tertawa renyah.


"Dia cuma kacung, yang juragan kan betinanya." timpal Safar kemudian. Jelas ucapannya itu fakta.


Tapi sejak kejadian salah paham itu. Dinda memberikan semua kartu ATM, juga jenis kartu lainnya padaku. Entahlah, ada apa di balik itu semua. Apa dia marah, atau memang dia tak ingin repot untuk mengurusi keuangan lagi.


"Jadi, udah beres urusan tugas kau di kota C?" tanyaku dengan duduk di emperan rumah, dengan bersandar pada beton penyangga.


"Udah, udah dua harian nganggur." jawabnya kemudian. Aku mengangguk mengerti, sepertinya Jefri aku ajari dulu di sini. Atau dia di sini saja, biar orang lain yang aku tugaskan untuk mengelola ladangku yang berada di provinsi L?


"Besok ikut sama Safar, Jef." ucapku dengan memperhatikan wajah Jefri, Jefri hanya mengangguk menanggapiku. Mungkin ia sudah pasrah dengan nasibnya, karena sedari sekolah ia paling tak mau jika disuruh olehku.


"Besok carikan tempat tinggal untuk Jefri juga, Far." ujarku pada Safar.


Safar beralih dari layar ponselnya, "Kenapa tak di sini aja? Rumah Abang kan besar." sahut Safar kemudian.


"Nanti menantu incaran mak bapak kau, malah dimakannya pulak." balasku dengan melirik pada Jefri sekilas.


Sebelah alis Jefri terangkat, mungkin ia merasa bingung dengan ucapanku. Dengan Safar yang hanya terkekeh kecil saja.


Entah dari kapan mulainya, yang aku pahami memang Sukma dan Safar sudah cukup jauh. Bahkan, kemarin hari Safar pernah bertanya padaku. Jelas, pertanyaannya mengandung pernyataan yang nyata. Bahwa ia sudah jauh dengan Sukma, ya meski memang orang tuanya melarang. Bukan karena status jandanya yang dipermasalahkan, karena mak cek dan pak cek adalah orang tua yang punya pikiran luas. Mereka paham, bahkan banyak gadis yang rasa janda di jaman sekarang.


Yang mereka permasalahkan adalah perbedaan umur. Ia khawatir Sukma lebih dominan untuk mengatur rumah tangganya, ketimbang dengan Safar. Apa lagi jelas Sukma lebih berpengalaman dari pada Safar.

__ADS_1


TBC.


Sukma itu mantan istrinya Haris, tuh aku ingatkan biar kalian tak lupa 🤭


__ADS_2